Foto Ilustrasi Flickr

Suatu ketika ngobrol sama teman. Bicara panjang lebar, tentang apa saja, termasuk juga urusan hubungan dia sama si doi.

“Udah berapa lama kamu sama dia?”

“Alhamdulillah, udah 5 tahun, Rino,” jawabnya tersenyum.

Iddihhh … pake “Alhamdulillah” segala. Emangnya Tuhan ridho apa?

“Hmm, lama juga. Terus kapan meridnya?” tanyaku lagi.

Diam. Dia membisu. Beberapa menit kemudian, dari bibirnya yang tidak begitu seksi terdengar suaranya yang lirih, “Katanya sih tahun depan.”

Keningku berkerut, alis tebal “keturunan” arab pun merapat bertautan.

“Kok gitu jawabnya, Neng? Harusnya kamu bahagia dong, tahun depan kan udah merid.”

“Seharusnya, tapi …” suaranya tercekat di tenggorokan. Ia palingkan wajahnya ke langit kelabu.

“Tapi  apa?!” aku mendesaknya.

“Ya, gitu deh!”

“Apaan sih? Nggak jelas gitu kamu ngomongnya? Helllo!” tuttt .. kupencet hidungnya yang setengah mancung.

“Ichhh … sakit tau!” Dia menggerutu kesal.

“Makanya kalau aku nanya itu dijawab. Huh …” kini aku yang sebal.

Dia diam. Aku diam. Dalam hitungan mundur, 10, 9, 8, 7, sampai 1. Akhirnya dia bicara lagi.

“Setiap tahun si   Romi itu begitu terus janjinya. Katanya: tahun depan kita merid, sekarang belum pas waktunya.”

“Ya udah, kalau gitu tinggalin aja tuh cowok! Cari cowok yang serius, yang langsung ngajak kawin.” Ucapku disusul tawa lebar.

“Enak aja main tinggal! Emang barang apa ditinggal sesuka hati!” Mata kucingnyanya nyalang menatapku.

Mungkin dia agak kesal sama aku. Tapi, apa boleh buat. Sebagai teman ya, aku nggak mau saja lihat dia dijanjiin terus begitu. Lho … dia kan cewek, punya perasaan yang mudah tersentuh, pengiba hati, kalau digituin terus, bisa-bisa  banjir rrumahnya.

Nangis, tiap malam, guys! Hihihihi

“Sekarang, Lisa, kalau dia anggap kamu cewek yang seharusnya dijaga perasaannya. Tentu dia nggak akan buat kamu begini terus. Dijanjiin terusss … dikasi harapan terusss, terussss, dan seterusnya. Memangnya kamu boneka apa? Yang Cuma ditimang-timang   and dininaboboin.”

Matanya tajam mendelikku. Mau copot, lalu menggelinding ke lantai.

“Maksud kamu apa, Rino?!” suaranya keras membentak.

Begitu  kalau cewek-cewek yang di-PHP-in, bawaaanya marah melulu. Sensitif amat. Kalau nggak teman dekat aja, nih, mungkin aku dijambak-jambak, digeret sepanjang jalan, terus jeburin ke kali.

“Gini, Lisa, kamu udah 5 tahun pacaran ama dia, tapi gitu-gitu aja. Nggak ada ikatan yang jelas, hubungan yag sah. Itu artinya 5 tahun pacaran, 5 kali berjanji, 5 kali kecewa. Nah, itu kecewa hitungan tahun. Belum lagi kecewa hitungan bulanan, dan harian.” Jawabku hati-hati.

Dia tak bergeming. Helaan napasnya begitu panjang. Dadanya turun naik.

“Bener yang kamu bilang, Rino.”

Nah, kan betul. Padahal aku juga asal-asalan bicara. Hahhhaaha. Haduh, dasar cewek.

Lanjutnya lagi, “Jadi aku harus gimana, Rin?”

Aku mengangguk takjim menyipitkan mata, seraya meminta wahyu dalam sekejab.

“Oke, Lisa, gini aja, ajak dia bulan depan merid.”

“Hah? Bulan depan, nggak kecepatan tuh?” mukanya melongo kayak orang bego.

“Aisssshh, kamu tu udah gedek nggak pintar-pintar juga, ya? Kalian pacaran 5 tahun itu, menurutmu lama nggak?” tanyaku balik.

“Lama sih,” jawabnya pelan.

“Nah, ya udah! Jadi, sebulan kasi waktu sama dia, uda lama banget tuh.”

“Kalau dia nggak sanggup gimana? Atau ngulurin waktu lagi?”

“Haduhhh … itu mah gampang, Lis. Buang aja tuh cowok ke laut! Cari yang serius,” jawabku sekenanya, lanjutku lagi, “sebenarnya di dunia ini banyak cowok yang serius mencari pendamping hidupnya. Hanya saja belum dapat.”

Lisa merapikan anak rambutya, matanya teduh menatap lekat mata cokelatku.

“Kenapa aku bilang begitu, Lis. Karena aku percaya hal itu, aku percaya pada cowok yang menunggu dan terus mencari. Menunggu tanpa ada kepastian pun, ia masih bisa menunggu,” ujarku serius sembari membalas tatapannya.

“Rin, kamu masih menyimpan perasaan itu?” matanya menyipit tajam.

Aku tersenyum puas, “Lis, aku bisa menyerah, jika orang yang kucinta sudah terikat janji suci. Oh ya, satu lagi, selalu ada harapan bagi  siapapun yang setia menunggu . Dan aku memilihnya, menjadi cowok yang menunggu.”

Hening …. Tak ada suara yang terucap. Entah apa yang ada di benak kami masing-masing. Entahlah … yang jelas, perempuan lugu kebegoan ini membuatku terus menunggu. [Asmarainjogja.id]

Penulis: Asmara Dewo








Custom Search



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas