Ilustrasi Kerajaan Demak | Foto sourch Joko-Tingkir.com

Asmarainjogja.id“Ayo bangsa Indonesia, dengan jiwa yang berseri-seri! Mari berjalan terus, jangan berhenti! Revolusimu belum selesai, jangan berhenti! Sebab siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah, dan siapa yang menentang corak dan araknya sejarah, tidak perduli tiada bangsa siapapun, dia akan digiling, digilas oleh sejarah,” kata Soekarno di salah satu pidatonya yang berapi-api.

Hal ini membuktikan betapa pentingnya sebuah sejarah pada suatu bangsa. Oleh karena itu pula sang proklamotor tersebut dengan lantang kepada segenap rakyatnya, dan wasiat ke generasi Indonesia selanjutnya agar tidak meninggalkan sejarah.

Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, begitulah yang diistilahkan Bung Besar tersebut. Sejarah apapun itu, karena dari sejarah sebuah bangsa bisa belajar banyak hal di sana. Belajar dari kesalahan, mengambil pelajaran yang benar, dan membuka kembali catatan yang salah pada sejarah itu sendiri.

Hijab

Nah, kali ini ada baiknya generasi muda mengingat kembali sejarah Kerajaan atau Kesultanan Demak. Sebuah Kerajaan Islam yang patut jadi pembelajaran bagi kita semua.

Dikutip dari berbagai sumber, ada 11 poin singkat mulai berdiri dan jatuhnya Kerajaan Demak yang bisa kita ingat kembali.

1. Kerajaan atau Kesulitanan Demak bermula dari kadipaten (suatu wilayah bagian dari kerajaan Hindu) Kerajaan Majapahit.

2. Sebagai pelopor penyebaran agama Islam di Jawa dan Nusantara.

3. Raja pertama dan pendirinya adalah Raden Patah (keturunan Majapahit, anak Prabu Brawijaya V) pada tahun 1478 masehi.

4. Kerajaan Demak menguasai pantai Utara Jawa sebagai jalur perdagangan Nusantara. Selain itu juga memiliki pelabuhan Bergota di Semarang, sebagai lokasi ekspor-impor perdagangan dari berbagai negara.

5. Budaya Islam semakin akrab ke rakyat yang sebelumnya beragama Hindu. Melalui para Wali Songo ajaran Islam disebarluaskan, secara berangsur-angsur penerapan nilai-nilai Islam menjadi pedoman hidup mereka.

6. Bukti corak sosial-budaya Kerajaan Jemak bisa dilihat dari Masjid Demak yang memiliki unsur Jawa dan Arab. Pada Masjid itu terdapat Surya Majapahit, dan Saka Tatal yang menyangga masjid.

7. Puncak kejayaan Kerajaan Demak saat dipimpin oleh Sultan Trenggono (Raja Demak ke-3), saat itu Sultan Trenggono berhasil menguasai Sunda Kelapa (1527), Tuban (1527), Surabaya dan Pasuruan (1527), Madiun (1529), dan Blambangan, Kerajaan Hindu terakhir di ujung Jawa (1527-1546)

8. Runtuhnya Kerajaan Demak karena perebutan tahta. Saat meninggalnya Sultan Trenggono, penerus tahta dipimpin oleh Pangeran Sedo Lapen (saudara Sultan Trenggono). Namun Sultan Sedo Lapen meninggal ditangan Pangeran Prawoto (anak Sultan Trenggono).

9. Kemudiann Sultan Prawoto meninggal ditangan Arya Penangsang atau Arya Jipang (anak dari Sultan Sedo Lapen)

10. Arya Penangsang tidak mendapat restu dari internal kerajaan Demak meneruskan tahta. Akhirnya Raja Demak ke-5 Arya Penangsang itu meninggal ditangan Sutawijaya (Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam) anak angkat Hadiwijoyo (Joko Tingkir), suami Ratu Mas Cempaka (putri Sultan Trenggono).

11. Meninggalnya Arya Penangsang pada tahun 1611, menandakan runtuhnya Kerajaan Demak di Nusantara. Meskipun kerajaan Islam itu sempat berpindah ke Pajang, namun di kemudian sisa-sisa Kerajaan Demak habis masa jayanya.

Apa yang bisa diambil dari sejarah Kerajaan Demak ini?

Ada tiga catatan yang sangat penting untuk direnungkan

Pertama, jangan pernah menganggap remeh suatu wilayah yang kecil. Sebab yang besar bermula dari hal kecil. Begitu pula dengan Kerajaan Demak, sebuah wilayah kecil, namun belakangan hari menjadi Kerajaan Islam yang tersebar luas ke Nusantara, dan dikenal pula ke penjuru dunia.

Kedua, pemimpin yang bijaksana, cerdas, tegas, mampu membawa kejayaan di pemerintahaannya, dan tentu pula berdampak kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ketiga, cara licik dan keji untuk merebutkan tahta, seperti membunuh raja yang sah, hukum alam akan berlaku. Seperti keturunan sultan yang saling dendam dan membunuh. Pada akhirnya yang membunuh juga terbunuh. [Amara Dewo]

Hijab

 

Baca juga:

Dengan Menulis Kartini Menggugah Dunia

Lima Fakta Pernikahan Mohammad Hatta yang Jarang Diketahui

Soekarno yang Mengamalkan 2 Wasiat Sang Guru

Mohammad Natsir, Mulai Jas Bertambal sampai Menolak Hadiah Mobil



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas