Novel Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer | Foto asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Novel Anak Semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer adalah tetralogi Pulau Buru, sekuel dari novel sebelumnya, yaitu Bumi Manusia. Masih mengambil settingan tempat yang sama, yakni Surabaya kurun waktu 1898-1918.

Dalam novel Anak Semua Bangsa ini, Minke harus menerima kabar duka yang begitu dalam. Istri yang paling ia cintai, Annelies Mellema meninggal di tanah leluhurnya, Belanda. Kabar itu disampaaikan oleh Panji Darman, utusan Nyai Ontosoroh dan Minke agar selalu memberi kabar Annelies dari Belanda.

Meninggalnya Annelies membuat Nyai Ontosoroh bertambah geram terhadap Eropa. Ia mengutuk dan terus melawan pengadilan Belanda. Dengan sekuat-kuatnya, meskipun hanya dengan berbicara, dan segala apa yang dimiliki.

Di lain cerita, Minke dianggap tak mengenal bangsanya sendiri oleh dua sahabatnya, Jean Marais seorang pelukis, dan Kommer seorang Jurnalis. Menurut mereka Minke hanya mengenal Eropa saja, padahal Minke adalah pribumi asli. Karena merasa dianggap tak mengenal bangsanya, Minke mulai mendekatkan diri pada warga pribumi.

Bertemulah Minke dengan Trunodongso, seorang petani Sidoarjo yang jadi korban kebiadaban Administratur Belanda. Dengan parang di tangannya ia menantang siapa saja yang berani mendekatinya, semua yang dianggap musuh olehnya harus berhadapan dengan golok tajam di tangannya.

Tak terkecuali Minke, dengan mata garang menyala-nyala ia hunus golok itu di depan wajah Minke. Trunodongso mengira bahwa Minke adalah mata-mata Belanda atau mata-mata dari pabrik gula. Di sinilah Minke mulai mengenal bangsanya, meskipun awal jumpanya, pemuda berdarah ningrat itu dihadapkan dengan seorang bapak yang begitu sangar dan mengancam akan menebasnya batang lehernya.

Anak bupati itu berjanji akan membantu Trunodongso melalui tulisan, ia akan menyiarkan kejahatan pabrik gula yang menipu lahan milik warga, salah satunya lahan milik Trunodongso. Padahal sebelumnya lahannya juga sudah disewa oleh pabrik gula, dengan biaya yang sangat murah, dan berunsur penipuan. Hanya tinggal satu petak sawah lagi yang terus Trunodongso pertahankan, tidak mau digarap oleh Administratur Belanda, karena sumber penghidupan keluarganya yang terakhir.

Selanjutnya anak Herman Mellema di Belanda, Ir. Maurit Mellema menjumpai Nyai Ontosorsoh, Minke, dan para sahabat, Jean Marais dan Kommer, di Wonokromo.

Ia mengantarkan peninggalan adik tirinya berupa beberapa potong pakaian Annelies Mellema dan koper yang pernah dulu dipakai Nyai Ontosoroh saat digundik oleh Herman Mellema. Dan Maurits Mellema juga mencoba meminta maaf pada keluarga Nyai Ontosoroh. Namun yang terjadi adalah perwira Angkatan Laut Belanda itu dicecar habis-habisan oleh Nyai Ontosoroh dan sahabat lainnya. Mereka tahu bahwa Maurits Mellema hanya mencoba mengelabui dan cuci tangan atas kematian Annelies.

Nah, sekarang akan kami tulis quotes terbaik Pramoedya Ananta Toer di novel Anak Semua Bangsa:

1. “Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapapun! Ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apapun, tak ada modal? Berserikat, bentuk modal! Belajar bekerjasama! Bertekun dalam pekerjaan,” Minke, Anak Semua Bangsa, hal 59.

2. “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi yang tidak terpelajar, kau harus bikin mereka terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu,” Jean Marais, Anak Semua Bangsa, hal 72-73.

3. “Coba, mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran? Kau masih beruntung dapat tumpahkan isi hatimu dalam tulisan. Aku tidak,” Dokter Martinet, Anak Semua Bangsa, hal 78.

4. “Di langit ada surga, di bumi ada Hanchou, dan kami menambahkan: di hati ada kepercayaan,” Khou Ah Soe, Anak Semua Bangsa, hal 89.

5. “Nenek moyang kita menggunakan namanya yang hebat-hebat dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatan-kehebatan dalam kekosongan? Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya,” Nyai Ontosoroh, Anak Semua Bangsa, hal 102.

6. “Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di manapun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi: yang kolonial, dia selalu iblis,” Nyai Ontosoroh, Anak Semua Bangsa, hal110.

7. “Kau, Nak, paling sedikit bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari,” Nyai Ontosoroh, Anak Semua Bangsa, hal 112.

8. “Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu pengetahuan modern binatang-binatang yang sebuas-buasnya bisa ditundukkan,” Khouw Ah Soe, Anak Semua Bangsa, hal 119.

9. “Ilmu pengetahun modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai: alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu-pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi,” Minke teringat ucapan Khou Ah Soe, Anak Semua Bangsa, hal 123.

10. “Sebesar-besarnya ampun adalah yang diminta seorang anak pada ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya,” Robert Mellema.

11. “Boleh jadi dengan demikian segala kesulitan dianggapnya sebagai sebuah sport pelatih otak dan otot. Kesulitan justru memperkuat dirinya,” Minke, Anak Semua Bangsa, hal 146.

12. “Apa artinya pandai kalau tak berbahagia di rumah sendiri? Belajar bekerja juga penting--belajar membangun kehidupan sendiri. Sekolah kan cuma penyempurna saja?” Jean Marais, Anak Semua Bangsa, hal 150.

13. “Barangsiapa yang muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya—masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik. Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima angin, jangan jadi pohon tinggi!” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 155.

14. “Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang tak akan mengenal bangsanya sendiri,” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 158.

15. “Sekali Tuan menggauli bangsa Tuan sendiri, Tuan akan menemukan sumber tulisan yang takkan kering-keringnya, sumber tulisan abadi,” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 161.

16. “Karena perasaan itu sendiri tidak tumbuh dari hati, tapi dari pikiran,” Minke, Anak Semua Bangsa, hal 169.

17. “Cacing pun masih melata berusaha,” Djumilah, Anak Semua Bangsa, hal 212.

18. “Aku adalah bayi semua bangsa dari segala zaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat,” Minke, Anak Semua Bangsa, hal 248.

19. “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang keceriaan saja, dia orang gila. Barangsiapa yang memandang penderitaannya saja, dia sakit,” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 265.

20. “Selama pederitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia,” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 271.

21. “Dengan hanya memandang manusia dari satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaannya saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata…” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 272.

22. “Jelas menulis bukan hanya untuk kepuasan pribadi. Menulis harus juga mengisi hidup,” Minke, Anak Semua Bangsa, hal 280.

23. “Jarak sosial, boleh jadi juga jarak sejarah,” Minke, Anak Semua Bangsa, hal 361.

24. “Seperti pada kapal ini. Semua dibikin oleh tukang dan insinyur pandai. Mesin-mesinnya  oleh penemu-penemu mahapandai. Tapi semua itu milik sang modal. Yang tak bermodal hanya akan jadi kuli, tidak lebih, biar kepandainnya setinggi langit, lebih pandai daripada dewa-dewa Yunani dan Romawi sekaligus…” Ter Haar , Anak Semua Bangsa, hal 416.

25. “Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar dari panasnya permusuhan,” Nyai Ontosoroh, Anak Semua Bangsa, hal 484.

26. “Tingkah orang berumur yang jatuh-bangun cinta, sama saja dengan remaja. Orang jadi perlente dan heroik, segera menarik perhatian orang. Sepandai-pandai lelaki, kata bujang nenekku dulu semasa aku masih sangat muda, kalau sedang gandrung: dia sungguh sebodoh-bodoh si tolol,” Mingke, Anak Semua Bangsa, hal 504.

27. “Setiap yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap manusia yang berpikir,” Kommer, Anak Semua Bangsa, hal 522. [Asmara Dewo]

Baca juga:  30 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Bumi Manusia



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas