Pramoedya Ananta Toer | Foto dokumen keluarga

Asmarainjogja.id – Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan terbaik di abad 20 yang pernah lahir di Indonesia. Novel-novel Pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer) diterterjamahkan ke berbagai Negara, setidaknya saja yang diketahui ada 42 negara asing yang menerjemahkannya.

Berbagai penghargaan dari dunia pun ia dapatkan, sayangnya, dari negeri sendiri ia malah tak menerima penghargaan sedikit pun. Meski begitu, bukunya juga cukup laris manis belakangan ini. Lebih-lebih bagi kaum muda yang memiliki rasa penasaran tinggi, cinta sejarah, berpikir revolusioner, dan sedang mendalami sastra.

Pria kelahiran 1925 di Blora itu banyak menghabiskan hidupnya di penjara. 3 tahun dalam masa kolonial, 1 tahun pada masa orde lama, dan 14 tahun pada masa orde baru (13 Oktober 1965-21 Desember 1979) tanpa proses pengadilan, dan terbukti tidak bersalah.

Meskipun ia dipenjara, ia tetap menulis. Bahkan dari balik jeruji besi itu pula lahir karya-karya terbaiknya, seperti Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca). Baik buku, maupun novel Pram, dilarang keras beredar di masa Soeharto. bahkan sebanyak 14 naskah dibakar bersama buku-bukup Pram lainnya oleh tentara yang menangkapnya waktu itu.

Atas pembakaran naskah itu, Pram tak bisa memaafkan. Meskipun Abdurrahmad Wahid alias Gusdur, saat itu ia menjabat menjadi Presiden ke-4 pernah meminta maaf secara pribadi kepada Pram, termasuk juga atas dipenjarakannya Pram di masa orde baru. Namun Pram tetap tak memaafkan, karena baginya buku merupakan anak ruhaninya. Harapan Pram adalah pemerintah yang langsung meminta maaf pada para korban di masa orde baru tersebut.

Di antara naskah novel pram yang dibakar adalah sekuel dari novel Gadis Pantai. Kalau pernah membaca novel Gadis Pantai, itu ada cerita sambungannya. Namun karena naskah kelanjutannya dibakar, maka novel Gadis Pantai itu terasa menggantung ceritanya. Dan sekarang novel-novel Pram bisa didapatkan di berbagai toko buku di Indonesia.

Novel Bumi Manusia menceritakan seorang siswa H.B.S yang bernama Minke dari keluarga ningrat dengan budaya Jawa yang sangat kental, dan ayahnya adalah seorang bupati. Latar belakang novel ini diambil di Surayaba, pada tahun 1898 hingga tahun 1918.

Minke yang sekolah Belanda, mendapatkan ilmu pengetahuan Eropa, dan memuji tinggi peradaban Eropa, dan menentang budaya keluarganya sendiri, yaitu Jawa. Karena budaya Jawa menurut Minke adalah budaya patuh dan budaya mudah kompromi pada Belanda. Itu sebabnya juga pulau Jawa dijajah sampai beratus-ratus tahun.

Dan sebaliknya Minke memuji-muji Aceh. Aceh di mata Minke adalah bangsa yang tidak mau dijajah. Terus melawan penjajah, meskipun kalah, dan tak mengenal istilah kompromi. Minke banyak tahu cerita-cerita di Aceh dari sahabatnya, Jean Marais, seorang bekas serdadu Belanda dan juga seorang pelukis, berusia lebih sepuluh tahun dari Minke.  

Suatu ketika Minke diajak teman sekolahnya, ke rumah seorang keluarga pengusaha besar pada masa itu. Keluarga yang kemudian membawa Minke dalam problema yang sangat pelik, yang tak sepatutnya di usia muda Mingke menghadapinya. Ayah Annelies seorang pengusah Belanda totok, sedangkan ibunya seorang nyai atau gundik. Nyai Ontosoroh panggilan Mama Annelis, dan nama aslinya adalah Sanikem.

Dari Nyai Ontosoh ini pula Minke mendapatkan banyak pelajaran kehidupan yang tak pernah sama sekali ia dapatkan di sekolah. Ia terkagum-kagum saat pertama kali menjumpai seorang wanita yang begitu cerdas, berpengetahuan luas, berbudaya Eropa, dan bisa mengatur perusahaan yang begitu besar. Walaupun Nyai Ontosoroh tidak sekolah, tapi ia diajari baca tulis, dan berbagai macam ilmu pengetahuan lainnya oleh “suaminya” Herman Mellema.

Minke yang sudah mulai menulis di koran, semakin semangat lagi menulis atas semangat yang diberikan oleh Nyai Ontosoroh. Bahkan sang Nyai juga menyuruh Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, jangan Bahasa Belanda seperti sebelumnya. Karena menurut Nyai Ontosoroh, dengan menulis Bahasa Melayu, rakyat pribumi pun bisa membaca dan memahaminya. Meskipun pada saat itu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membaca.

Rasa cinta Annelis dan Minke yang begitu dalam, dan dukungan Nyai Ontosoroh dan Bunda Minke, serta sahabat Minke, Jean Marais, akhirnya mereka menikah. Mereka menikah setelah Minke tamat sekolah hukumnya, dan nikah secara Islam.

Setelah meninggalnya Herman Mellema, anak dari istrinya yang ada di Belanda, Mauritz Mellema, menggugat harta kekayaan Herman Mellema yang saat itu dikembangkan oleh Nyai Ontosoroh. Hukum Belanda memutuskan bahwa harta kekayaan jatuh pada anak dan istri Herman Mellema yang sah.

Dan menurut hukum Belanda pula, Nyai Ontosoroh bukan istri yang sah. Namun anaknya, Annelies Mellema dan Robert Mellema, mendapatkan harta bagian juga. Berhubung usia Annelies masih di bawah umur, menurut hukum, warisannya harus dipegang dulu pada saudara tirinya yang ada di Belanda, yaitu Mauritz Mellema. Saudara tirinya pula yang berhak mengasuh Annelies. Hingga Akhirnya Annelies dibawa ke Belanda.

Minke yang selama ini mengagumi Eropa, belajar dari Belanda, akhirnya semakin sadar bahwa Belanda tidak seperti apa yang ada dipikirannya selama itu. Pernikahan sah Minke dan Annelis secara hukum Islam ternyata tak mampu mengalahkan hukum Belanda. Pengantin baru itu terpaksa dipisahkan oleh hukum, yang menurut Minke tidak adil, dan harus dilawan.

Nyai Ontosoroh dan Minke tetap melawan pada hukum Belanda, mereka benar-benar tidak terima. Terlebih lagi Nyai Ontosoroh yang masih menyimpan dendam di masa lalunya, sebab ia dijadikan Nyai oleh Herman Mellema itu karena ayahnya sendiri yang menjualnya, agar ayahnya yang bekerja di perusahaan Belanda bisa jadi juru tulis perusahaan.

Pada saat itu siapa yang perduli terhadap nasibnya? Di mana Pemerintah Hindia Belanda? Dan di mana hukum Belanda? Tidak ada yang perduli, bahkan orangtuanya sendiri tak perduli anaknya, dan tega sekali menjual anaknya dengan harga 25 gulden, dan jabatan.

Dan ketika ia sudah memiliki anak, Annelies dan Robert, usaha yang ia bangun berpuluh-puluh tahun maju berkembang, tiba-tiba hukum Belanda menarik apa yang sudah Nyai Ontosoroh perjuangkan selama ini.

Nah, sekarang akan kami tuliskan quotes terbaik Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, semoga memotivasi dan menginspirasi.

1. “Mama akan marah kalau aku tak menyayanginya. Kau harus berterimakasih pada segala hal yang memberimu kehidupan, kata mama, sekalipun ia seekor kuda,” Annelies, Bumi Manusia, hal 50.

2. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal 59.

3. “Koe kira, kalau sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap Monyet!” Herman Mellema, Bumi Manusia, hal 64.

4. “Kau terpelajar, Minke, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu,” Jean Marais, Bumi Manusia, hal 77.

5. “Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini,” Jean Marais, Bumi Manusia, hal 81.

6. “…kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya,” Jean Marais, Bumi Mansuia 83.

7. “Mereka membela apa yang mereka anggap menjadi haknya tanpa mengindahkan maut. Semua orang, sampai pun kanak-kanak! Mereka kalah, tapi tetap melawan. Melawan, Minke, dengan segala kemampuan dan ketakmampuan,” Jean Marais, Bumi Manusia, hal 87.

8. “Wanita hanya suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicengangkan oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu. Umur sungguh aniaya pada wanita,” Minke, Bumi Manusia, hal 89.

9. “Memerintah pekerja pun kau tak bisa karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri. Memerintah diri sendiri kau tak bisa karena kau tak tahu kerja,” Annelies, Bumi Manusia, hal 98.

10. “Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal 101.

11. “Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa dan pandai menerima,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal 105.

12. “Harus adil sejak dalam pikiran. Jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya,” Minke, Bumi Manusia, hal 105.

13. “Anggaplah aku sebagai telor yang telah jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal 132.

14. “Sedang ayam pun, terutama induknya, tentu membela anak-anaknya, terhadap elang dari langit pun,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal 132.

15. “Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut-berantakan, tak dapat dipercaya,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal133.

16. “Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biar pun yang ditampilkan itu hewan, raksasa, atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia. Itu sebabnya tak ada habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia hal 164.

17. “Tentu kau akan menulis tentang orang-orang yang kau kenal di dekat-dekatmu. Yang menarikmu. Yang menimbulkan simpati atau antipatimu,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, ha l164.

18. “Jangan anggap remeh si manusia, yang begitu kelihatan sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap music dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal kemput,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal165.    

19. “Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini,” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia, hal 165.

20. “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya,” Minke, Bumi Manusia, hal 186.

21. “Semua lelaki memang kucing berlagak kelinci. Sebagai kelinci dimakannya semua daun, sebagai kucing dimakannya semua daging,” Bunda Minke, Bumi Manusia, hal 189.

22. “Lelaki, Gus, soalnya makan, entah daun entah daging. Asal kau mengerti, Gus, semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin kenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit dipahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri,” Bunda Minke, Bumi Manusia, hal 189.

23. “Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan kau sakiti orangtuamu. Dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu,” Bunda Minke, Bumi Manusia, hal 194.

24. “Ah, Gus, begini mungkin kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya,” Bunda Minke, Bumi Manusia, hal 194.

25. “Kan baik belum tentu benar, juga belum tentu tepat? Malah bisa salah pada waktu tempat yang tidak cocok?” Miriam De La Croix, Bumi Manusia, hal 204.

26. “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apapun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua,” pesan Nenenda Minke, Bumi Manusia, hal 310.

27. “Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan,” Magda Peters, Bumi Manusia, hal 313.

28. “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai,” Magda Peters, Bumi Manusia, hal 313.

29. “Dalam kehidupan ilmu tak ada kata malu. Orang tidak malu kalah salah atau keliru. Kekeliruan dan kesalahan justru akan memperkuat kebenaran, jadi juga membantu penyelidikan,” Dokter Martinet, Bumi Manusia, hal 375.

30. “Tuan harus berani belajar dan belajar berani memandang diri sendiri sebagai orang ketiga. Maksudku bukan seperti yang diajaarkan dalam ilmu bahasa saja. Begini: sebagai orang pertama Tuan berpikir, merancang, memberi komando. Sebagai orangkedua, Tuan penimbang, Pembangkang, penolak, sebaliknya bisa juga jadi pembenar, penyambut. Tuan yang pertama. Tuan yang ketiga siapa dia? Itulah Tuan sebagai orang lain, sebagai soal,” Tuan Martinet, Bumi Manusia, hal 379. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas