Tokoh Muslim | Foto olah digital asmarainjogja

Asmarainjogja.id -- Di akhir abad 19, Hindia Belanda (nama Indonesia di pemerintahan Belanda) mulai menampakkan benih persatuan yang terbalut oleh nasionalisme dan Islamisme. Dan pada awal abad 20, pergerakan Islam sudah berkumandang di Pulau Jawa, perlahan kumandang itu menggetarkan bumi Nusantara. Awal mula pergerakan ini dipelopori oleh organsisasi SDI (Serikat Dagang Islam), salah satu tokoh paling fenomenal dalam pembentukannya adalah Tirtho Adhie Soerjo.

SDI itu berdiri pada tahun 1909 di Surakarta (Solo), diketuai oleh Samanhudi. Kemudian pada tahun 1912 SDI berganti nama menjadi SI (Serikat Islam), kepemimpinan SI dipegang oleh Oemar Said Tjokroaminoto di Surabaya. Perkumpulan sosok Islam inilah cikal bakalnya pembentukan negara Indonesia. Tjokroaminoto pada saat itu meneruskan cita-cita pendiri SDI, dan melalui kepemimpinannya SI semakin besar.

Apa latar belakang terbentukny SDI yang kemudian menjadi SI? Satu-satunya adalah karena kesadaran terhadap penjajahan Belanda yang sudah menjajah Indonesia beratus-ratus tahun lamanya. Selama itu hanya sosok-sosok tertentu saja yang berani pasang badan terhadap rakyat pribumi yang ditindas habis-habisan oleh Belanda. Dua di antaranya adalah Tirtho Adhie Soerjo dan Oemar Said Tjokroaminoto.

Dari dua tokoh nasionalis inilah lahir tokoh-tokoh nasional yang berdiri di depan melanjutkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, baik itu Belanda, maupun Jepang. Tirtho Adie Soerjo dari tulisan dan gerakan organisasinya menjadi pengobar semangat perlawanan terhadap Belanda. Terlebih lagi bagi kaum pribumi yang terpelajar, Tirtho Adie Soerjo disebut sebagai sang Inspirator kebangkitan nasional.

Sosok yang cerdas, pemberani, pandai menulis. Dan Indonesia tak salah jika menyematkan Tirtho Adie Soerjo sebagai Bapak Pers Nasional. Ya, karena ia merupakan orang pribumi yang pertama kali menerbitkan sebuah koran dengan bahasa pribumi, pekerjanya pribumi, dan operasionalnya dilakukan dengan sendiri. Tanpa campur tangan oleh Pemerintahan Belanda.

Bahkan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer menyebut Tirtho Adhie Soerjo sebagai sang pemula. Karena memang betul, Tirtho Adhie Soerjo yang memulai untuk menggerakkan kesadaran jiwa nasionalisme, melalui organisasinya, dan menancapkan surat kabar pribumi yang pertama.

Sedangkan Tjokroaminoto melahirkan tokoh-tokoh bangsa seperti Soekarno, Agus Salim, Kartosuwirjo, Semoen, Musso, bahkan Tan Malaka cukup banyak belajar dengan Tjokroaminoto. Kepemimpinan Tjokroaminoto dalam mengorganisir anggotanya dan mendidik rakyat pribumi dengan program SI, seperti mengajarkan persatuan, persaudaraan, berorganisasi, dan koperasi, mencemaskan pemerintahan Belanda.

Sudah menjadi watak Pemerintahan Belanda, yang diinginkan mereka adalah kecerdasan pribumi yang mendapatkan pendidikan dari Belanda harus menguntungkannya. Bukan malah sebaliknya, merugikannya. Namun dua tokoh bangsa berdarah biru ini sebaliknya, mengkritik keras Pemerintahan Belanda beserta perusahaan-perusahaanya. Dan menyadarkan rakyat pribumi agar bisa hidup lebih sejahtera lagi, dan tentu saja melindunginya dari beragam kejahatan Belanda.

Dan karena aksi-aksi seperti inilah Agus Tirtho Adhie Soerjo dan Tjokroaminoto dibendung perpolitikannya, dan dijebloskan ke penjara. Sudah menjadi budaya Belanda, sosok-sosok yang dianggap membahayakan kedaulatannya maka di penjara, di buang ke perasingan.

Segala macam akses ditutup. Surat-surat sebelum dikirim diperiksa dahulu. Jika cukup berbahaya menulis surat pun bagi tokoh yang dibuang itu sudah tak bisa lagi. Kemerdekaannya benar-benar dirampas oleh Belanda. Tak jauh berbeda dengan Soekarno, Presiden RI pertama ini pun kerap dibuang, karena aksi pergerakannya, sebuah jejak yang mengikuti dari sang guru, Tjokroaminoto.

Jika tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya tadi dianggap bisa mengusik kedaulatan Belanda dalam penjajahannya di tanah air ini, atau sederhananya dianggap makar. Karena sudah mulai berani menentang pemerintahan, maka apa bedanya dengan isu makar yang sekarang lagi heboh ini? Entahlah, sulit memahami makar itu, jika merunut hukum peninggalan Belanda.

Pada akhir tahun 2016, pergerakan Islam kembali mengukir sejarah Indonesia, bahkan dunia. Sejak aksi bela Islam jilid I, jilid II, dan jilid III, umat Islam dari penjuru tanah air melebur menyatu ke Jakarta. Sebuah tuntutan untuk si terduga penista agama agar dihukum seadil-adilnya. Aksi bela Islam ini dimobilisasi oleh FPI (Front Pembela Islam), imam besarnya adalah Rizieq Shihab. Pengaruh besarnya terhadap umat Islam di Indonesia mampu menyemangatkan persatuan pembelaan akidah. Dalam aksi super damai, jilid III, dari informasi yang didapat, peserta yang ikut hadir mencapai 7 juta jiwa.

Sebuah angka yang cukup mengejutkan. Tak heran dunia cukup serius menyorot aksi super damai, jilid III, pada tanggal 2 Desember 2016. Jika selama ini FPI dinilai anarkis, brutal, dan berbagai penilaian negatif tersemat pada organisasi tersebut, namun di aksi bela Islam jilid III mematahkan semua argumen negatif tentang FPI. Tentu saja, itu semua dipengaruhi oleh pemimpinya, Rizieq Shihab.

Baca juga:

Semaoen, Sosok Anak Muda Paling Bahaya bagi Pemerintahan Belanda

Marco Kartodikromo, Pencetus Sama Rasa Sama Rata yang Mengancam Kedaulatan Belanda

Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo yang Ditakuti Belanda

Tokoh Muslim Indonesia

Tokoh Muslim paling berpengaruh di abad 20 dan 21 | Foto olah digital asmarainjogja

Jika di awal abad 20 ada Tirtho Adhie Soerjo dan Omar Said Tjokroaminoto dalam menyadarkan umat Islam untuk persatuan dalam bingkai nasionalisme dan Islamisme. Maka di abad 21 ada Rizieq Shihab yang mampu mengerahkan seluruh elemen masyarakat Muslim untuk bersatu menuntut keadilan dalam aksi damai.  

Bukan hal yang mudah untuk menyadarkan suatu masyarakat. Jika di awal abad 20, tantangan Tirtho Adhie Soerjo dan Tjokroaminoto karena pribumi dulu buta huruf dan takut sekali terhadap Belanda, maka di abad 21 masyarakat sudah apatis. Baik itu tentang agama, maupun negara. Kalaupun bicara nasionalisme dan Islamisme, hanya sebatas ludah kering di bibir saja. Selanjutnya nihil. Apalagi dengan aksi, sungguh berat.

Namun tiga tokoh Muslim tersebut mampu menggalang kekuatan dari berbagai elemen masyarakat Indonesia. Seorang pemimpin yang suaranya didengar, seorang pemimpin yang dikuti segala ucapan dan tindakannya.  [Asmara Dewo]

Gabung di Twitter kami:   

Video populer:

 

Video terbaru:



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas