Ilustrasi ayah dan putrinya | Foto Shutterstock

Anak perempuan biasanya sering sekali manja dengan ibunya. Mereka akan sangat akrab satu sama lain. Sama halnya seperti gadis cantik berlesung pipi, yang mempunyai warna kulit kuning langsat yang eksotis itu. Namanya Airin.

Dia adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga yang mapan. Airin yang  kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang menawan. Ia sangat dekat dengan ibunya, bahkan ia tidak dapat pisah dengan ibunya. Sampai suatu hari Airin harus berpisah dengan ibunya karena ia harus melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Karena kedekatannya dengan sang ibu, Airin pun menceritakan semua keluh kesahnya. Sampai akhirnya ia teringat dan bertanya dalam hatinya,   “Lalu bagimana dengan ayah? Selama ini aku hanya memikirkan ibu, aku hanya dekat dengan ibu, sampai-sampai aku tak pernah sedikit pun untuk memikirkan ayah."

Saat libur kuliah Airin  pulang kerumah karena rindu dengan ibunya, apalagi masakan ibunya. Saat sampai di rumah ia langsung mengucapkan salam dan memanggil ibunya, “Assalammualaikum.. Ibuuuuk! Mbak pulang.”

Terdengarnya balasan suara dari balik pintu, “Wa’alaikum salam, Mbak. Loh, udah sampai rumah, toh? Kok nggak nelfon ibu atau ayah supaya dijemput di bandara?”

Airin  dengan riang menjawab “Mbak udah besar, buk, bisa pulang sendiri, kok, selagi masih ada ongkos, buk, hehehe.”

Sang ibu yang memang terbiasa mendengar celetukan anak gadisnya itu tersenyum senang sembari menyuruh anaknya mandi agar langsung makan bersama.

“Kamu ini! Ya, sudah sana mandi sholat Dzuhur! Setelah itu makan siang bareng ayah dan ibu, kami tunggu di meja makan, ya, sayang?!”

“Oke, Buuu!” sahut Airin.

Sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, tiba-tiba pikirannya dibayangi sosok sang ayah yang selama ini tak pernah ia ajak bersenda gurau seperti ibunya. Namun ia langsung bergegas menghilangkan pikiran itu dan langsung mandi, sholat, dan makan siang bersama orangtuanya.

Selesai makan siang, Airin  mendatangi ibunya yang sedang santai diruang keluarga sambil membaca buku yang sangat tebal.

“Ibu, sibuk, nggak? Mbak mau nanya sesuatu, nih,”  ucap sang gadis dengan wajah yang manis

Sang ibu menutup bukunya dan menjawab, “Nggak, Mbak, emang mau nanya apa, sih? Sampai serius begitu?”

“Ibu, bagaimana dengan ayah? Apakah ayah sayang padaku? Apakah ayah pernah memikirkan tentangku? Meluangkan waktu untukku? Atau jangan-jangan ayah hanya memikirkan perusahaannya saja, Bu?”  cecar Airin tak sabar ingin tahu perihal ayahnya.

Cecaran pertanyaan yang diajukan Airin  membuat ibunya tersenyum, dan dengan sabar menjawabnya satu persatu.

“Anakku sayang, gadis ibu yang cantik yang kini telah beranjak dewasa. Ayah itu sangat sayang padamu, ia bekerja keras sampai saat ini, itu semua demi kita, demi masa depan kamu. Ayah tak mau melihat gadis cantiknya harus bersusah payah mencari biaya pendidikannya,” ibu menatap lamat-lamat wajah Airin.

“Ayahmu adalah orang yang sangat mengkhawatirkanmu di saat kau jauh darinya. Ia yang tidak bisa tidur saat tahu bahwa anak gadisnya sedang sakit. Ayah orang yang selalu rewel menyuruh ibu untuk menelponmu hanya untuk menanyakan kabar putrinya. Ia akan mengerutkan kening dan berpikir keras untuk semua kebutuhan biaya hidupmu dan pendidikanmu saat jauh dari kami,” kata ibu lagi.

Gadis itu mendengarnya dengan takjim, sampai bola matanya pun tak berkedip.

“Ayahmu yang meneteskan airmatanya saat berpisah denganmu, tapi ia tetap tangguh dan tegar dihadapanmu. Sikapnya yang tegas itu bukan karena ia tak sayang padamu, melainkan rasa takut akan kehilanganmu dan takut jika anaknya jatuh dalam pergaulan yang salah. Ayah selalu mengintip dan mendengarkan pembicaraanmu bersama teman laki-lakimu, saat temanmu datang kerumah. Itu karena rasa khawatir terhadapmu.   Ayah hanya ingin memastikan bahwa kelak pendampingmu adalah orang yang benar-benar tepat dan dapat menggantikan posisi ayahmu suatu hari nanti, Nak,” ujar ibu sambil mengelus rambut si gadis kebanggaanya itu.

“Mbak, sadarlah sikap keras dan diamnya ayahmu itu tak seperti yang kau Pikirkan. Kasih sayang ayah tak pernah diucapkan, ia hanya akan memberikan contoh langsung padamu dan membimbingmu dari belakang. Ayah buktikan semua kasih sayangnya lewat tindakan, yang mungkin kau tak pernah menyadarinya selama ini. Sungguh ayah sangat sayang sayang padamu, Mbak. Dan Ayah sangat mengkhawatirkanmu.”

Mendengar jawaban dan penjelasan dari sang ibu, Airin langsung meneteskan air mata dan berlari mendatangi ayahnya yang berada diruang kerja. Ia langsung memeluk sang ayah.

“Ayah, maafin mbak. Mbak sayang sama ayah, terimakasih untuk selama ini, Yah. Mbak janji akan membahagiakan ayah dan ibu. Terima kasih juga untuk semuanya, Yah, dan telah menjdi ayah yang baik, tangguh dan hebat untuk Mbak. Love you, Ayah” serak suara itu keluar dari kerongkonangan si gadis.

Airin menangis dipelukan ayahnya. Akhirnya ia merasakan kehangatan kasih sayang ayah yang selama ini belum pernah ia dapatkan.

Ayahnya yang berwibawa dan tegas menjawab, “Iya, Mbak, teruslah kejar cita-citamu. Buatlah   ayah dan ibu bangga padamu, jangan menjadi anak yang manja. Karena ayah tak pernah mengajarkanmu untuk bermanja dan bermalas-malasan, dan hati-hati saat bergaul di luar sana. Sungguh ayah sangat sayang padamu, gadis cantikku. Love you too, sayang.”

Cerita mini ini kiriman dari Dewi Sekar Rahayu. Seorang siswi dari SMKN 1 Kandis, Riau. Bagi kamu juga hobi menulis, silahkan kirim karyanya ke asmaradewo707@yahoo.com  atau berkenalan langsung dengan pendiri sekaligus pembimbing asmarainjogja.id, Asmara Dewo.

Baca juga cermin Dewi lainnya:

Mawar untuk Rain

Rahasia Terbesar Cinta Ayah

Ayah, Sungguh Aku Merindukanmu

Memahami Arti Berjuang dari Perjalanan ke Danau

Wisata baru di Mangunan, Watu Goyang 

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas