Seniman angklung | Doc. Bintang Inspirasi

Asmarainjogja.id--Angin sepoi-sepoi bertiup di  siang hari menjelang  sore. Kendaraan berlalu-lalang,  polusi udara dicampur panas yang terik memberikan semangat baru bagi petarung.    Sebab perjuangan haruslah punya tantangan.

Suara indah khas permainan bambu-bambu kecil yang dirangkaikan dengan beberapa instrumen alat musik lainnya terdengar merdu  di  sela-sela panas yang menyengat. Namun,  itulah nada pengiring   pengendara  di simpang jalan.

Angklung namanya,  alat musik sederhana nan berkelas ibarat grup band dunia, semisal Guns  And Roses, begitulah saya  menyebutnya.  Sebab penyanyi dan band sekelas Republik pun   tidak mau berpanas-panasan di pertigaan jalan untuk konser musiknya. Tapi pemain angklung itu  rela berpanas-panasan demi menghibur para pengguna jalan.

Alat musik yang didominasi oleh bambu-bambu itu terbilang unik, orang Yogyakarta sering menyebutnya dengan sebutan angklung.  Meskipun angklung adalah alat musik khas Jawa Barat, tapi tetap dilestarikan di kota budaya ini.

Angklung merupakan satu alat musik yang sering dilihat juga di kota Maram Islam,  yang menjadi alat  musik semakin digandrungi seniman jalanan. Dan seiring waktu  pula melekat juga pada seni budaya di sini. Instrumennya terdiri dari beberapa potong bambu kecil yang dipadukan dan dilubangi,  sehingga menghasilkan bunyi.

Juga beberapa elemen alat musik semisal drum  yang terdiri dari empat sampai lima buah, ditambah beberapa gendang yang terbuat dari karet  yang dipadukan. Sehingga menghasilkan instrumen nada-nada  yang  indah terdengar di telinga.

Umumnya permainan musik yang satu ini  cukup memberikan hiburan bagi para pendengarnya.  Saya  sendiri  misalnya,  ketika mendengarkan lantunan musik dari permainan alat musik yang didominasi oleh bambu ini, selalu ketagihan mendengar. Lagi.. lagi.. dan lagi tak sabar mendengar musik berikutnya.

Nah, ketika berada di seputaran lampu merah di Yogyakarta dengan adannya permainan seni budaya ini sering membuat senang dengan kemerduannya.

Angklung,  biasanya kita temukan di seputaran lampu-lampu merah di kota atau Malioboro.  Biasanya dimainkan oleh para seniman jalanan untuk menunjukan skil  seni dan sekaligus  mencari receh untuk sekedar jajan.  

Permainan musik tersebut  sangat diminati oleh para turis lokal maupun turis asing.  Bisa dilihat ketika beberapa kali saya berkunjung ke Malioboro.  Sering saya jumpai  permainan musik angklung melibatkan beberapa turis yang menikmatinya  sambil berjoget dan bernyanyi bersama-sama.

Tentunya ini menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan,  karena orang asing saja antusias mendengarkan dan menikmati alat musik angklung.  Alat  musik khas Jawa Barat ini pun terbilang praktis,  tidak telalu rumit untuk dipelajari,  karena hanya terdapat beberapa instrumen saja. Namun sangat disayangkan alat musik bertengger sebatas  di  lampu merah saja.

Pun hanya digunakan untuk mencari rupiah jalanan oleh para seniman jalan di Kota Mataram Islam  ini.  Dan itu dimainkan dengan berpanas-panasan hanya untuk mendapatkan receh demi kebutuhan hidup.

Padahal seni  musik ini seharusnya diperhatikan oleh pemerintah Kota Yogyakarta.  Karena seniman angklung  bisa meningkatkan citra Yogyakarta  sebagai ikon pariwisata pada sektor seni musik.

Alangkah baiknya para seniman   jalanan ini diberikan wadah semacam suatu tempat konser khas angklung.  Semata-mata dengan tujuan untuk menjaga kelestarian budaya musik  tradisional  yang perlahan-lahan mulai hilang  ditelan zaman.

Agar para seniman angklung tetap setia melestarikan musik tradisional tersebut,  harus pula mengikuti perkembangan zaman.  Agar bisa tetap bertahan dan mengimbangi arus seni musik modern,  yang bahkan menjadi ancaman  musik tradisional ini. Dan  juga  tidak mudah dicuri oleh pihak asing untuk dibawa  ke negara mereka.  Yang kemudian  diklaim  bahwa Angklung adalah budaya mereka.

Oleh sebab itu  pemerintah juga harus turut  andil untuk melestarikan budaya ini.  Tidak membiarkan para seniman mendapatkan penghargaan terhadap upaya mereka hanya dengan receh.  Sebab kita kaya akan adat dan budaya,  seharusnya itu menjadi rasa syukur  bagi bangsa ini agar tetap melestarikan budaya tersebut.  Sekadar mengingatkan  menjaga budaya itu mahal harganya walaupun dipandang murahan.

Angklung dan seniman adalah budaya mahal yang harus dihargai dengan setimpal.  Supaya keindahan kelestarian kultur Yogyakarta tetap terjaga.  Bagi saya sendiri  angklung adalah musik mahal, jadi  jangan direcehkan!

Menjaga kelestarian seni dan budaya, khususnya angklung memerlukan pengorbanan yang tidak cuma-cuma. Lihatlah  modernisasi saat   ini,  justru berpengaruh bagi kehidupan regenerasi untuk mencintai budayanya. Sayangnya kita  malah sibuk mengadopsi budaya asing yang notabenenya  hanya merusak bangsa ini.

Apalagi dengan perkembangan media yang terus mengkampanyekan tontonan-tontonan mengikis  moralitas generasi bangsa dengan budaya.  Salah satunya tontonan musik-musik Korea, akhirnya budaya tradisional dianggap kuno,  termasuk musik angklung tersebut.

Jangan hanya sibuk menonton Dilan dengan model tontonan yang tidak berfaedah dan amoral.  Maka peran masyarakat juga harus turut andil dalam melestarikan musik ini, tentunya harus dipelajari lalu dilestarikan.  Sebab fakta menunjukan bahwa penjajahan itu bisa dimainkan dari sektor budaya dan adat-istiadat.

Sesekali ketika berkunjung ke Yogyakarta jangan lupa untuk menyaksikan permainan angklung yang juga kaya akan literasi dan budaya.  Dan jangan lupa ketika berpapasan dengan permainan angklung di lampu-lampu merah  di daerah lainnya  untuk sedikit memberikan rezeki ke saudara-saudara seniman  angklung.  Supaya mereka kuat  menjaga keberadaan seni ini dengan kondisi keterbatasan dan pergeseran zaman seperti sekarang. 

Maka budaya kita harus tetap dijaga agar tak punah ditelan zaman. Cintai budaya, lestarikan bersama, dan dukung seniman jalanan angklung di seluruh nusantara!

Penulis: Faisal PS, anggota Komunitas Menulis Bintang Inspirasi. 

Baca juga artikel Faisal PS lainnya:

Super Daster di Pasar Beringharjo

Sisi Gelap Keindahan Nol Kilometer Yogyakarta 

Kampusku Kampusmu Kampus Kita

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas