Ketika smartphone lebih akrab di tangan daripada buku (Ilustrasi) | Foto Flickr

Asmarainjogja.id – Coba perhatikan di sekitar kita, baik itu di ruang istirahat, di angkutan umum, di tempat antrean, sampai di halte-halte bus. Orang-orang yang sibuk dalam kesehariannya lebih senang memegang smartphonenya dibandingkan sebuah buku.

Bahkan siswa, maupun mahasiswa, yang notabenenya seorang pelajar juga tidak akrab dengan buku di tangannya. Mereka lebih senang tertawa cekikikan saling berbalas chatting, dan mention, daripada menggunakan waktu untuk menambah wawasan dan kecerdasan.

Hei, tentunya Anda sendiri sudah paham betul gunanya membaca buku. Membaca juga cukup baik dari smarthpone, namun sayang sekali, handpone pintar tersebut lebih sering digunakan bukan untuk lebih mencerdaskan diri kita lagi.

Baca juga:  Sihir Kreativitas

Era sebelum smartphone membanjiri Indonesia, memang budaya bangsa ini sudah akrab dengan handphone di tangan pada waktu luang. Namun semakin parah lagi saat smartphone yang didukung ragam media sosial ini benar-benar menjadi kebutuhan gaya hidup primer.

Gaya hidup primer? Bisa dibilang begitu. Hanya saja kebutuhan primer yang masih awam bagi sebuah bangsa yang belum cerdas. Hanya segelintir orang saja yang bisa memanfaatkan smartphonenya menjadikan dirinya lebih baik lagi, lebih cerdas lagi, dan tentu saja sebagai alat pendukung profesinya.

Buku... lalu bagaimana jika dibandingkan antara buku dan smartphone? Mana yang lebih penting di antara kedua benda tersebut? Tentu saja itu tergantung kondisi kita saat itu. Jika memang smartphone merupakan alat untuk mencari rezeki kita, itu tidak masalah. Namun untuk mencari rezeki dalam sehari, masa iya hampir setiap jam kita melototi layar handphone. Itu tidak masuk akal tentunya.

Baca juga:  Ketika Buku Mengubah Kehidupan Manusia

Oleh sebab itulah di mana saat waktu senggang biasakanlah membaca buku, buku apa saja yang kita suka. Baik buku nonfiksi, maupun fiksi, dan tidak ada salahnya juga membaca buku-buku humor. Namun ditekankan bacalah buku-buku yang bergaris penting dalam kehidupan ini.

Mungkin ada juga yang berkomentar seperti ini: “Saya juga selalu membaca artikel yang bermanfaat kok di media online. Wawasan saya semakin bertambah, informasi juga update.”

Membaca itu memang baik, di media apa saja, baik media cetak, maupun media digital. Hanya saja membaca di media digital itu cepat lelah, membosankan, dan tidak bisa fokus dengan baik.

Baca juga:  5 Hobi Pembentuk Karakter Positif Bagi Sahabat Muda

Jauh berbeda sekali jika kita membaca dari sebuah media cetak, seperti: koran, majalah, atau buku. Kita lebih enjoye, fokus, tenang saat membaca media cetak di tangan. Tidak berkesan buru-buru membacanya. Nah membaca di media digital, ada perasaan terburu-buru saat membacanya. Itulah kenapa membaca di media cetak lebih nyaman.

Apalagi website-website di Indonesia ini, mereka menyajikan artikel tidak mengutamakan kemanfaatan bagi pembaca. Lebih cenderung hiburan semata, bahkan berita heboh-heboh yang sama sekali tidak penting. Perlahan jika budaya ini terus dinikmati bangsa ini, dampak besar negatifnya adalah bangsa ini bukan mencadi cerdas, tapi kritis-kritis yang tidak jelas.

Padahal kalau mau fair untuk membagikan waktu untuk membaca, jatah waktu kita dalam sehari bisa digunakan untuk membaca buku. Meskipun kita adalah salah satu manusia yang tersibuk di dunia. Oh ya, Apakah Anda tahu orang-orang yang terkaya di dunia ini juga meluangkan waktunya untuk membaca? Kita juga tahu orang-orang kaya di dunia ini sangat sibuk sekali, namun ia tetap memegang teguh budaya membaca. Salah satunya adalah bos facebook Mark Zukerberg, ia mempunya hobi membaca yang diatur waktunya secara rutin.

Baca juga:  7 Hal yang Membahagiakan Liburan Kamu di Rumah

Orang kaya dan jenius saja masih butuh bacaan. Nah, kita sudah sekaya dan sejenius apa, sih? Kok malas sekali membaca. Tidak akrab dengan buku. Malah alergi dengan buku-buku. Terutama bagi yang pelajar yang tidak suka membaca, sudah dipastikan ia bukan salah satu pelajar yang cerdas.

Sebab tak mungkin pelajar yang cerdas itu tidak suka membaca. Lain halnya jika semua pelajar di kelas itu tidak suka membaca. Ya, kemungkinan dia tercerdas di antara lainnya. Namun kita menilainya bukan dari itu, saat ia disandingkan dengan pelajar lainnya, kelas yang berbeda, sekolah atau kampus yang berbeda, bila perlu diuji dengan pelajar dari negara yang berbeda.

Baca juga:  Dapat Jatah Waktu yang Sama, Tapi Hasilnya Kenapa Berbeda?

Seorang pelajar juga cenderung mencontoh budaya pendidiknya. Dan seorang anak juga cenderung mencontoh budaya orangtuanya. Jika pendidik dan orangtua juga tidak memiliki budaya membaca, ya anak-anak kita pun mencontoh kita seperti itu.

Pendidik yang suka main handphone, si murid pun lebih suka lagi main handphone di kelas. Begitu juga orangtua di rumah, jika orangtua sibuk sekali bermain handphone di rumah, maka anak-anaknya pun tak kalah sibuknya mengotak-atik smartphonenya.

Jadi tinggal kita balikkan saja, budayakan membaca buku setiap waktu luang, agar orang-orang di sekitar kita pun meniru budaya membaca kita. Dengan begitu, secara tak langsung kita mendidik bangsa ini agar lebih cerdas lagi dengan cara yang begitu sederhana, yaitu budaya membaca buku. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas