Jelajah Sawah Pertanian Bowongan Yogyakarta | Asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Jelajah Sawah Pertanian Bowongan (JSPB) Yogyakarta saat ini lagi jadi perbincangan hangat oleh traveler, sebabnya wisata alam berpanorama sawah hijau menyajikan pemandangan yang sangat mempesona. Wisata penuh kreatif ini awalnya hanya persawahan seperti umumnya. Namun siapa sangka, di tangan kreatif warga Sukorame, Mangunan, Dlingo, Bantul itu disulap menjadi objek wisata yang tak kalah seru seperti wisata di sekitarnya.




Hal yang paling menarik pada objek wisata tersebut adalah jembatan bambu yang membentang berbentuk lingkaran di tengah hamparan sawah hijau. Tentu saja para ‘penggila’ selfie tak mau kelewatan untuk mengabadikan liburannya. Jepret sana, jepret sini, langkah-langkah cantik mundur ke belakang, begitulah gelagat para wisatawan yang begitu terpesona akan keindahan alam indah di sana.

Jelajah Sawah Pertanian Bowongan Yogyakarta

Pengunjung tampak berpose di atas jembatan  Jelajah Sawah Pertanian Bowongan Yogyakarta | Foto Asmarainjogja, Asmara Dewo

Minggu, 18 Februari 2018, waktu yang tepat kembali menelusuri Bumi Kesultanan Yogyakarta dengan kuda besi. Hari sangat cerah, langit membiru, sang surya tampak masih garang menghangati semesta. Perjalanan yang tidak jauh dari Kota Yogyakarta menuju JSPB, sekitar 1 jam lebih saja. Sembari menyaksikan lukisan Yang Maha Kuasa, tak terasa kami tiba setelah sekali mampir untuk menanyakan di mana letak lokasi wisata tersebut.

Menuju ke sana, kami dari Jln. Imogiri Barat, kemudian menuju ke Pemakaman Imogiri, selanjutnya menuju ke Hutan Pinus Mangunan. Tapi sebelum pendakian wisata Seribu Batu Songgo Langit, ada persimpangan tiga di sana. Di sebelah kanan jalan itulah menuju objek wisata JSPB, tinggal ikuti saja jalan aspal tersebut. Nanti di tepi jalan sudah terlihat wisata sawah yang saat ini lagi hits di kalangan netizen pecinta wisata.

Nah, untuk masuk di kawasan wisata, pengunjung hanya dikutip biaya parkir motor (jika mengendarai motor) hanya Rp 2.000, sedangkan retribusi masuk ke jembatan bambu per orangnya Rp 2.000. Di sana juga ada sewa payung dan caping (topi petani) Rp 2.000. Tentunya bagi kalian yang tidak mau tersengat matahari bisa menyewanya.

Rindangnya pepohonan mahoni yang menjulang tinggi memanjakan kami untuk duduk menikmati hamparan sawah hijau. Semakin menggodanya lagi mulai tampak bulir-bulir padi yang menguning. Mungkin saja dalam hitungan minggu, persawahan di sana sudah siap dipanen. Traveler jangan khawatir, wisata baru ini akan terus dikembangkan agar pengunjung tetap liburan di sana. Kabarnya jika di musim panen nanti, pihak pengelola akan menanam sayuran hijau sebagai pengganti sawah, tentunya pemandangan hijau khas sayur-mayur juga menarik untuk dijadikan background berfoto cantik.

Baca juga:

Berpadunya Keindahan Pantai Ngerumput dan Sunset dari Bukit Kosakora

Pantai Greweng, Surganya Lokasi Camping di Gunungkidul

Elok dan Menantangnya Pantai Siung

Pantai Cemara Sewu, Sunset dan Segala Keindahannya

Adalah suatu kebahagiaan jika kalian bisa menyaksikan bagaimana para petani menggarap sawahnya, memanen hasil sawahnya, dan melihat tawa riang anak petani di pinggiran hamparan padi yang menghijau. Semua itu bisa dilihat di sana, rasanya kecintaan terhadap negeri ini semakin tajam saja. Oh, inilah negeri kita, alam yang permai, warganya yang begitu ramah, membuat kita merasakan Yogyakarta yang selalu berhati nyaman. Gemah ripah loh jinawi, yang artinya kekayaan alam yang berlimpah.

Asyiknya Menelusuri Jembatan Bambu

Setelah membayar tiket, kami menjejakkan kaki di atas bambu yang saling bertautan itu. Bambu-bambu berukuran besar tersebut cukup kokoh, pada pondasinya terlihat cor semen di atas permukaan persawahan. Panjang jembatan itu sekitar 300 meter, hampir di setiap sisi pengunjung berswa foto atau mengambil foto pemandangan dengan latar sawah dan perbukitan. Tidak hanya berfoto, pengunjung juga tampak mengabadikan perjalanan mereka dengan video. Rizka sendiri tak mau kalah, begitu sumringah mengabadikan diri dari kamera.

Wisata sawah di Yogyakarta

Rizka seakan tak mau kehilangan momen liburannya dengan berswa foto | Foto Asmarainjogja, Asmara Dewo

Untuk menjaga kebersihan, pengelola juga menyediakan tempat sampah hampir di setiap sudut jembatan. Himbauan menjaga kebersihan ini sangat penting bagi pengunjung, mengingat wisata ini objeknya adalah sawah, bisa dibayangkan jika persawahan hijau itu dicemari oleh sampah dan sisa-sisa makanan. Pastinya akan mengurangi kesuburan sawah dan pemandangan tak sedap di kawasan JSPB.

Objek wisata yang bisa dinikmati oleh semua kalangan ini memang disambut sangat baik, tak hanya muda-mudi saja yang mengecap keindahan alam JSPB, namun juga anak-anak. Keluarga-keluarga kecil itu membawa buah hati mereka sembari mengenalkan keindahan persawahan di sana. Mengajak anak-anak di wisata ini memang cara terbaik untuk mendekatkan buah hati kita terhadap alam, agar kelak ia menjadi pengawal dan pembela lingkungan dari sifat rakus kaum pemodal yang merusak alam.




Sinar raja siang sudah lembut, perlahan ia tumbang di langit barat. Burung pipit bercicit menari-nari di rerumpunan padi yang mulai matang. Para petani yang masih menggarap sawahnya belum kalah oleh waktu, ada yang mencangkul, memanen padinya, menyemprot, menjaga burung, dan lain sebagainya. Banyak sekali hal yang bisa dilihat dari aktivitas-aktivitas warga di sana. Begitu menyenangkan, membuat hati tentram dan damai.

Untuk mengambil foto yang eksotik, saya menaiki gardu pandang. Dari atas inilah pemandangan di sana semakin jelas dan puas. Hamparan sawah dan perbukitan seakan begitu dekat dengan kita. Tak heranlah para pengunjung antre bergantian di atas gardu pandang. Tampaknya waktu yang paling menarik di sini adalah saat pagi dan sore hari, sedangkan jika di siang hari begitu panas.

Wisata sawah di Yogyakarta

Nyaris hampir di setiap sudut JSPB selalu eksotis untuk diabadikan | Foto Asmarainjogja, Asmara Dewo

Kenapa Kamu Harus ke JSPB?

Kamu bisa bandingkan wisata JSPB dengan wisata lainnya yang ada di Yogyakarta, atau daerah Indonesia lainnya. JSPB itu hanya lokasi persawahan biasa yang ada di desa-desa Indonesia pada umumnya. Tapi menariknya warga di sana bisa bahu-membahu menyulap area persawahan menjadi objek wisata, dengan tidak mengorbankan sawah itu sendiri. Kreatifitas  inilah yang sebaiknya bisa ditularkan ke warga lainnya di penjuru Indonesia agar bisa mengelola daerahnya yang bisa berpotensi menjadi daerah wisata juga.

Wisata sawah Yogyakarta

Menikmati hamparan hijau berpayung langit  biru JSPB | Foto Asmarainjogja, Asmara Dewo

Di JSPB itu juga melibatkan remaja-remaja tanggung yang mengelola parkir, ini membuktikan bahwa kehadiran JSPB menjadi kegiatan positif bagi remaja tanggung tersebut. Jika di daerah lain remaja tanggung itu sibuk bermain game, tawuran, balap liar, memakai narkoba, dan kegiatan negatif kenakalan remaja lainnya, namun remaja Sukorame malah mendapatkan pundi-pundi rupiah dari hasil mengelola parkir. Selain itu juga mendidik mereka lagi guna menguatkan rasa gotong royong untuk memajukan daerah mereka.

Yang tak kalah pentingnya lagi adalah wisata sejuta umat ini sangat murah meriah, hanya dengan tiket Rp 2.000, pengunjung bisa menikmati segala keeksotisan JSPB. Jika dibilang traveling itu butuh dana yang mahal, dengan mengunjungi JSPB ini membuktikan bahwa hobi traveling itu murah dan menyenangkan. [Asmara Dewo]


Hijab

 

Baca juga:

Berenang Asyik di Taman Sungai Mudal

Jumping Style di Air Terjun Kedung Pedut (Bagi yang Bernyali)

Air Terjun Kembang Soka, Mulai Mistisnya sampai Berenang Seru

Watu Lawang, Wisata Pintu Alam Gaib


style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-6u+cj+3m+y-34"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="4792202110">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas