Ilustrasi merindukan ayah | Foto Shutterstock

Oleh:  Dewi Sekar Rahayu

Gadis remaja cantik yang mengenakan hijab berwarna pastel dengan gaya yang kekinian, tengah sedih dan diam terpaku di meja kerja almarhum sang ayah. Tak sengaja pandangannya ke  sebuah bingkai kecil foto kecilnya bersama sang ayah, tanpa sadar ia meneteskan air mata dan teringat masa kecilnya, saat ia diajak pergi dengan ayah mendaki bukit.

Gadis kecil yang masih belia adalah putri kesayangan ayah, namun ayahnya tak pernah memanjakan peri kecilnya ini.

Pada suatu hari sang gadis diajak ayahnya pergi mendaki bukit dengan penuh semangat. Ia ikut mendaki bersama ayah, karena perjalanan yang licin akhirnya ia terpeleset.

“Awww… sakit, Yah.”

Namun ia kaget dan terdiam sebentar, lalu bertanya pada ayahnya, “Ayah siapa yang megikuti perkataanku? Ayah, kumohon gendong aku! Aku lelah, aku tak mau berjalan, nanti aku terpeleset lagi. Aku benci jalan yang licin, ayah, kumohon gendonglah aku,” sembari merengek.

Sang ayah yang iba menjawab, “Ayah tak ingin menggendongmu, kau harus berjalan sendiri, kau harus menanggung semua risikonya.”

Sang gadis berteriak, “Gendong aku, Ayaaaahhh!”

Sejenak ia terdiam sembari bertanya pada ayahnya, “Ayah siapa itu? Mengapa ia terus mengikuti perkataanku?”

“Hai, peri kecilku yang cantik itu adalah gema jika kau berteriak dan mengatakan sesuatu, maka perkataan itu akan berbalik padamu lagi. Makna gema adalah pelajaran hidup jika engkau berbuat baik maka kebaikann juga akan datang menghampiri hidupmu, tapi jika kau berbuat buruk maka hal buruk juga akan datang menghampirimu, walaupun kau tak akan pernah tau kapan hal baik atau buruk itu akan datang,” ucap ayah pada putrinya.

“Ayah tak ingin kau menjadi perempuan yang manja dan berpangku tangan untuk mendapatkan sesuatu. Kau harus menjadi perempuan yang memiliki pribadi yang kuat dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Kau juga harus bekerja keras untuk mendapatkan dan mencapai sesuatu yang kau inginkan, putri kecilku,” lanjut ayah lagi.

Sang putri kecil terdiam dan mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya, “Terimakasih, Ayah, telah mengajarkan hal-hal yang belum aku ketahui, walaupun terkadang itu adalah hal yang sering kusepelekan. Aku senang dan bangga memiliki ayah.”

Dan tiba-tiba suara telepon membuyarkan lamunan gadis cantik yang kini telah tumbuh remaja dan memiliki pribadi yang kuat, sama seperti apa yang ayahnya inginkan.

Tak sadar bahwa gadis itu telah berurai air mata sembari mengatakan, “Ayah, sungguh aku rindu akan nasihatmu, rindu pelukanmu, rindu akan sosok panutanku, Ayah.” [Asmarainjogja.id]

Baca juga cerita mini Dewi lainnya:

Memahami Arti Berjuang dari Perjalanan ke Danau

Gara-gara si Penyontek

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas