Ilustrasi Ayah | Foto Shuttestock

Jika mengingat masa kecilku, rasanya semua ini mustahil tanpa dukungan dan do’a dari mereka semua. Namaku Diandra Rahayu, gadis yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayah adalah seorang petani dan ibu penjual gorengan di sekolahku.

Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, ya, aku adalah si bungsu. Kakak pertamaku bernama Eron Prakasa, kini ia sudah bekerja sebagai kepala bagian laboratorium di salah satu rumah sakit swasta. Sedangkan kakak keduaku Naina Mustika menjadi apoteker, dan aku seorang pegawai di Bank Syari’ah.

Jika melihat pekerjaan orangtua kami mungkin semua ini mustahil untuk didengar. Karena untuk makan saja terkadang kami susah, apalagi untuk biaya hidup dan sekolah, hingga meraih gelar sarjana yang sudah kami raih.

Bagaimana semuanya ini bisa terjadi? Itu semua berkat kerja keras kedua orangtuaku dalam mendidik kami bertiga. Masa kecil kami tidaklah sebahagia sekarang.   Kami tidak pernah diajarkan untuk manja ataupun bermalas-malasan.

Kedua orangtua kami melarang untuk mengeluh, karena beliau mengajarkan hidup ini harus tetap dijalani bagaimanapun keadaannya. Kita harus tetap terima dengan lapang dada. Dari kecil kami sudah dibiasakan dengan pembagian tugas untuk membantu orangtua. Kami harus bangun cepat, pukul tiga, untuk menyiapkan semuanya.

Untuk apa kami bangun sepagi itu? Saat semua orang sedang lelap-lelapnya tertidur pulas, kami sudah harus berkutat dengan tugas masing-masing yang sudah diemban. Kak Eron harus mengangkut air dari sungai.

Kak Tika mencuci pakaian, membersihkan rumah dan membereskan pekerjaan rumah lainnya. Nah, tugasku adalah membantu ibu mengolah kue untuk dijual di sekolah nanti. Meskipun kami diberi tugas itu, ayah dan ibu tetap menanamkan nilai agama pada kami, yaitu sholat berjama’ah tepat waktu dengan keluarga.

Saat pulang sekolah kami juga ada tugas, nyaris tidak ada waktu untuk bermain dengan teman-teman sebaya. Ketika kami sudah sampai dirumah pekerjaan harus segera dilaksanakan. Kak eron membantu ayah di ladang. Aku dan Kak Tika membantu ibu dan ikut belanja kepasar membeli bahan untuk dagangan esok hari.

Begitulah rutinitas keseharian kami, namun semua berubah ketika ayah mulai sakit-sakitan. Kami harus lebih giat mencari uang karena biaya pengobatan ayah mahal. Keadaan semakin sulit, terkadang dalam sehari kami hanya makan sekali.

Kak Eron harus menggantikan posisi ayah di ladang, aku dan Kak Tika harus membantu ibu untuk berdagang agar mendapat uang tambahan. Beberapa tahun ayah sakit, pernah terbersit dalam benak kami untuk berhenti sekolah saja, namun ayah dan ibu tidak menyetujinya.

Kata Ayah ketika itu, “Mau jadi apa kalian jika tidak sekolah? Biarlah sekarang kita susah menjalaninya, tapi kalian harus tetap sekolah. Bahkan jika ayah dan ibu tidak dapat membiayai kalian, kalian harus tetap sekolah, bagaimanapun caranya. Kalian bisa berusaha, jangan malu! Karena sukses itu hak dan milik semua orang, hanya saja cara mencapainya yang berbeda-beda.”

Setelah usia kami bertambah dan tingkat pendidikan kami meningkat, kami mulai bekerja mencari uang sendiri. Seperti yang ayah pesankankan kepada kami. Namun, belum sempat ayah melihat kami sukses beliau sudah dijemput oleh Sang Khalik. Kami sangat terpukul dengan kepergian sosok kepala rumah tangga yang sangat kami kagumi.

Beliau yang selalu memberi nasihat dan memberi contoh yang baik, kini tak dapat melihat hasil didikannya. Kami tetap terus melanjutkan perjuangan seperti yang ayah dan ibu inginkan. Dan ayah juga berwasiat untuk terus menjaga dan membahagiakan ibu, karena beliau adalah alasan mengapa kami berjuang hingga sekarang.

Kepergian ayah tak lantas membuat kami semua patah, kami harus tetap melanjutkan apa yang seharusnya kami raih. Sejak itu Kak Eron dan Kak Tika termotivasi untuk mengambil jurusan dan bekerja di bidang kesehatan. Berbeda denganku yang lebih memilih jurusan ekonomi.

Sejak kuliah hingga tamat, kami tetap mencari uang sendiri. Pandai-pandai membagi waktu untuk bekerja, kuliah, dan mengerjakan tugas dari dosen. Berat memang, jika semua kami bawa dengan hati susah. Namun, pesan ayah dan ibu jangan pernah mengeluh dalam situasi apapun, tetaplah bersyukur, karena setiap hari Allah masih berikan nikmat-Nya tanpa kita sadari.

Setelah Kak Eron dan Kak Tika lulus kuliah mereka langsung ditawari pekerjaan dari rumah sakit tempat ia bekerja sekarang ini. Dan tentu saja mereka meminta izin dan pendapat ibu untuk menentukan pilihannya. Setelah mendapat pekerjaan dan gaji yang cukup, sedikit demi sedikit hasil kerja Kak Eron dikumpulkan untuk membangun rumah idamannya.

Sampai akhirnya rumah idamannya selesai dibangun. Ibu pun diboyong ke rumah baru itu. Ayah pernah bilang, “Eron, kau anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya dirumah ini. Jika ayah sudah tidak ada, maka engkaulah yang menggantikan ayah. Ingat! Ibu adalah tanggung jawab besar yang harus kau pikul. Jaga dan rawat ibu sebaik-baiknya, karena kami sangat menyayangi kalian semua!”

Setelah Kak Eron dan Kak Tika bekerja merekalah yang menghidupi ibu, karena aku masih berjuang di bangku kuliah dan mencukupi biaya kehidupan sendiri. Terkadang mereka juga mengirimkan uang tambahan.

Waktu yang ditunggu pun tiba, gelar Sarjana Ekonomi sudah kudapatkan. Tak sabar rasanya bisa bekerja dengan gaji yang sangat memuaskan.

Kami sadar tanpa dukungan dan do’a dari orangtua, kami bukanlah apa-apa. Terimaksih sudah mendidik kami selama ini hingga semua anakmu meraih sarjana. Kami bangga pada ayah dan ibu yang hanya seorang petani dan pedagang gorengan, namun dapat mengantarkan kami pada kesuksesan seperti sekarang.

Terimakasih untuk semua nasihatnya. Benar yang ayah dan ibu katakan, “Semua orang itu berhak untuk sukses, namun cara meraihnya saja yang berbeda”. Sekarang kami sudah memahaminya. Kesuksesan itu butuh kesabaran, perjuangan, ketekunan, dan tentu saja tiada lupa senantiasa berdoa pada Allah SWT.

“Tak perlu malu ataupun gengsi jika ada yang mengejek, karena mereka tak pernah tahu apa yang kita perjuangkan. Abaikan saja jika ada angin yang berusaha menggoyahkan kalian!” kata Ayah lagi ketika itu. [Asmarainjogja.id]

Penulis Dewi Sekar Rahayu, siswi SMKN 1 Kandis, Riau.

Baca juga cerita Dewi lainnya:

Gadis Embun Pagi

Air Mata Bahagia Airin di Pelukan Ayah

Mawar untuk Rain

Rahasia Terbesar Cinta Ayah



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas