Angin | Doc. Pribadi

Asmarainjogja.id -- Di era globalisasi sekarang tentu banyak sekali dampak yang kita terima baik dampak negatif maupun positif, namun kita sebagai warga negara Indonesia harus bisa memilih. Globalisasi memang tidak bisa dihindari karena kita juga membutuhkannya sebagai alat untuk membantu kita dalam memudahkan kinerja sehari-hari. Namun kita juga harus berhati-hati dalam menggunakan alat-alat teknologi yang salah satu representasi dari globalisasi karena tidak semuanya kemajuan teknologi menguntungkan bagi kita.

Kalau dahulu kita berkomunikasi jarak jauh lewat surat-menyurat dan membutuhkan waktu yang lama dalam mendinamiskan komunikasi, namun di era sekarang sudah dimudahkan dengan kemunculan alat komunikasi jarak jauh berupa handphone. Seiring berjalannya waktu handphone tidak saja berguna untuk berkomunikasi lewat suara namun bisa juga lewat visual yaitu video call. Lewat handphone juga kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di seluruh dunia lewat media sosial.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era sekarang ini tidak bisa juga dikatakan menguntungkan bagi masyarakat, tetapi banyak juga kerugian yang didapat oleh para pengguna. Karena banyak sekali kejahatan yang beraksi lewat dunia maya, baik itu penipuan, SARA, teror, maupun berita hoax yang disebarluaskan. Sebagai pengguna media sosial yang baik, apalagi kita sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelektual, tentunya kita harus bisa menghindari hal-hal tersebut dan memberikan edukasi kepada pengguna media sosial.

Kalau kita tidak berhati-hati dalam menggunakan media sosial kita bisa saja menjadi korban, apa bisa? Ya, tentu aja bisa, karena berita hoax yang tersebar di media sosial kalau kita tidak bijak dan teliti dalam membaca berita informasi yang diterima dan langsung membagikannya, maka berita hoax tersebut semakin meluas. Dan kita sebagai penyebar informasi bisa saja merugikan orang lain, hal ini karena kita telah menyebarkan berita hoax dan boleh jadi menjadi tersangka sebagai  penyebar berita bohong.

Hoax juga memberikan provokasi dan agitasi negatif, yaitu menyulut kebencian, kemarahan, hasutan kepada orang banyak (untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan, dan sebagainya), biasanya dilakukan oleh tokoh atau aktivitis partai politik, pidato yang berapi-api untuk mempengaruhi massa. Hoax juga merupakan propaganda negatif, di mana sebuah upaya yang disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan mempengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki oleh pelaku propaganda.

Selain hoax ada juga hal yang membahayakan yang dapat kita temukan dalam dunia maya, yaitu tentang isu SARA. Indonesia yang beraneka ragam budaya, agama, bahasa, dan suku menjadi keistimewaan sendiri dan menjadi contoh bagi salah satu negara yang ada di dunia. Tidak ada yang membedakan anatara individu yang satu dengan yang lainnya, karena setiap manusia di muka bumi ini sama. Kita bangsa Indonesia memiliki rasa senasib seperjuangan dalam merebutkan kemerdekaan, dengan menghimpun elemen seluruh masyarakat Indonesia bersatu dari semua  golongan untuk melawan penjajah dan menginginkan Indonesia merdeka.

Seperti yang sudah kita ketahui dan kita pelajari sejak masih di Sekolah Dasar, bahwa semboyan Negara Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari buku atau kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata Bhineka Tunggal Ika merupakan bahasa Jawa kuno yang jika diartikan bhinneka berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, tunggal berarti satu, sedangkan ika berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan.

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa dan lain-lain. Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara Republik Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Di kaki Burung Garuda Pancasila mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Seakan kontras akan semboyan yang selama ini selalu kita bicarakan, kejadian yang ada di lapangan justru jauh dari makna Bhineka Tunggal Ika. Banyaknya konflik yang terjadi karena keberagaman suku, agama, atau apapun itu adalah indikasi bahwa tidak semua orang paham akan makna semboyan negara kita tersebut. Jika mereka mengaku paham akan makna semboyan Bhineka Tunggal Ika, mereka justru akan memahami perbedaan tersebut sebagai keberagaman yang akan memperkaya negeri mereka.


Hijab

Tetapi yang terjadi adalah keberagaman tersebut dijadikan alasan untuk menonjolkan perbedaan prinsip dan pendapat antar kelompok dan golongan. Bagi yang menjadikan SARA sebagai konflik, maka mereka belum memahami kesamaan yang ada dalam diri mereka, karena sebenarnya mereka adalah satu darah, satu bangsa, dan satu tanah air yaitu Indonesia. Jika kita lihat fenomena maraknya konflik berbau SARA saat ini, sebenarnya merupakan refleksi proses panjang bangsa Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang sedang diuji.

Jika kita tengok kembali pada masa dulu, tidak akan ada kita lihat orang berperang atas nama perbedaan. Para pahlawan contohnya. Walaupun mereka berbeda daerah asal, tapi mereka sama-sama bertujuan dan bertempur melawan penjajah. Tidak ada yang saling berdebat bahwa cara peperangan yang baik adalah dari daerahku, atau agama yang paling baik untuk dipertahankan dan disebarkan pada masyarakat adalah agamaku.

Semua seakan berjalan selaras dan saling berdampingan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengakui banyak perbedaan dan seharusnya tidak ada konflik yang berujung pada kekerasan. Konflik sebagai alat berekspansi merupakan sifat dasar manusia yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga menimbulkan konflik. Kalau ada solusi untuk konflik itu maka ada perubahan untuk penyesuaian, sedangkan kalau tidak ada solusi maka yang terjadi adalah peperangan.

Dengan adanya konflik SARA yang sering muncul akhir-akhir ini, mungkin kita tidak bisa hanya menyalahkan orang-orang yang berkonflik saja, tetapi kita juga patut mengamati kinerja pemerintahan dalam menangani konflik. Selama ini pemerintah hanya menyampaikan slogan-slogan untuk meredam konflik, tanpa ada ketegasan dalam sebuah aturan dan tindakan kongkrit. Pemerintah seolah menggampangkan kasus ini hanya menurunkan anggota militer yang contohnya dalam kasus penyerangan jemaat Ahmadiyah di Banten yang saat terjadi penyerangan hingga merusak satu rumah dan menelan tiga korban jiwa, mereka tetap tidak berkutik untuk menghalang massa tersebut.

  Sedangkan jika dilihat dari dasar negara kita pada sila ketiga yang berbunyi "Persatuan Indonesia" mengajak masyarakat Indonesia untuk bersatu, menjaga perdamaian antar individu dan antar kelompok. Dalam sila tersebut jelas digambarkan sebagai pohon beringin yang melambangkan negara yang besar di mana rakyatnya bisa berlindung di bawah satu pemerintahan yang kuat. Pancasila adalah ideologi bangsa, suatu jati diri bangsa, kepribadian bangsa, cita-cita bangsa.

  Jika kita gagal mempertahankan makna dari salah satu sila tersebut, maka dengan kata lain kita pun mulai menghancurkan sendiri jati diri bangsa kita dihadapan bangsa lain, kita menjatuhkan martabat bangsa   yang mengaku sebagai negara dan bangsa yang menganut sistem demokrasi. Cita-cita yang luhur mulia yang dibuat oleh para perintis kemerdekaan sedikit demi sedikit pudar karena tingkah laku kita yang tidak bisa menjadi sikap dan perilaku.

Dalam sila “Persatuan Indonesia” diharapkan kita bisa mendukung antara satu dengan yang lain, membentuk tujuan bersama yang nantinya dapat kita wujudkan dalam tindakan toleransi kepada semua golongan tanpa melihat adanya status perbedaan yang dapat mewujudkan Indonesia yang aman, nyaman, dan layak untuk dijadikan contoh sebagai negara keberagaman yang dapat menyatukan perbedaan sehingga terciptalah keselarasan yang indah.

Demikianlah tulisan ini saya persembahkan untuk para pembaca, semoga tulisan saya bermanfaat, baik bagi pembaca maupun saya sendiri, terimakasih.[]

Penulis: Angin, mahasiswa Administrasi Negara Universitas Widya Mataram Yogyakarta, dan aktif di komunitas menulis Bintang Inspirasi

Baca juga:

Apa Kabar Gerakan Mahasiswa Sekarang?

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa

Tiga Motivasi Perjuangan

Pudarnya Nasionalisme Akibat Paham Radikalisme



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas