Ilustrasi menulis | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Setiap penulis itu punya pembacanya masing-masing, dan pembaca setianya ini akan paham sekali tulisan si empunya. Hal ini dikarenakan faktor kebiasaan yang terus berulang-ulang terjadi, yaitu si pembaca kerap menyantap tulisan-tulisan si penulis. Jadi, meskipun terkadang penulis menyisipkan bahasa yang sulit, kata itu masih mampu ditangkap oleh pembacanya.

Itu kalau sudah jadi penulis yang penggemarnya banyak, lalu bagaimana dengan penulis pemula yang pembacannya masih bisa dihitung jari? Biasanya penulis pemula ini sulit diterima oleh kalangan pembaca karena gaya kepenulisannya yang kacau. Maksudnya pembaca bingung apa yang ditulis, karena memang tidak paham isi tulisannya.

Nah, kalau sudah sulit dipahami sebuah tulisan berarti penulis pemula tadi belum mampu menjadi penulis yang baik? Padahal tolak ukur penulis baik itu tidak serta merta disematkan pada penulis pemula saja. Ada penulis senior, bahkan sudah disebut kalangan sastrawan, tapi karya-karyanya sulit dipahami masyarakat umum. Jadi yang bisa menikmati karyanya hanya pembaca tertentu saja.

Kalau kita boleh tega, penulis senior itu pun belum bisa masuk ke kategori penulis yang baik. Karena sesungguhnya menulis itu harus bisa dipahami oleh semua kalangan. Jadi tantangannya adalah menjadi penulis untuk semua, bukan golongan, atau pembaca yang fanatik saja. Tahukah Anda lahirnya seorang penulis untuk umat manusia? Bukan sebagian umat.

Sekarang mari kita ke poin pentingnya, bagaimana agar tulisan mudah dipahami, enak dibaca, dan dirindukan:

1. Mulai rajinlah membaca surat kabar

Mungkin Anda bingung apa hubungannya dengan surat kabar? Begini, surat kabar itu ditulis sengaja dengan tulisan yang mudah dipahami semua kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, sampai yang sudah sepuh. Betul, kan? Karena hadirnya surat kabar itu sendiri untuk menyampaikan informasi. Jadi kalau informasi yang disampaikannya tidak dipahami pembaca, berarti surat kabar tersebut gagal sebagai penyalur berita.

Namun kenyataannya adalah 100 persen berita atau artikel di surat kabar itu sangat mudah dipahami oleh semua kalangan. Jadi bagi Anda yang mungkin merasa tulisannya sulit dipahami oleh pembaca, mulailah membiasakan diri membaca surat kabar. Setiap hari. Jangan pernah dilewatkan. Bila perlu di setiap waktu senggang. Agar menyerap gaya kepenulisan seorang jurnalis. Tidak perduli apakah genre Anda seorang penulis fiksi, namun harga mati untuk sebuah tulisan yang mudah dipahami.

2. Memilih kata-kata yang bersifat umum.

Coba dibaca tulisan Anda sendiri. Kira-kira kata mana yang sulit diketahui oleh pembaca. Posisikan saat itu Anda pembaca yang awam, bukan si penulis. Jika ada yang terasa ganjal pada sebuah kata, lalu ganti kata tersebut dengan kata yang diketahui secara umum. Karena banyak sinonim kata, jadi tidak perlu khawatir mencari kata yang tepat. Jika kesulitan, buka kamus Bahasa Indonesia.

Selanjutnya Anda edit kembali tulisan tadi, lalu kembali dibaca. Terus begitu, sampai yakin bahwa setiap kata pada tulisan itu mudah dipahami. Anda sebagai penulis harus tahu betul, kapan menggunakan kata pada setiap tulisan. Baik itu saat menulis non fiksi, maupun menulis fiksi. Karena ada seorang novelis, ketika ia menulis artikel hilang semua gaya fiksinya, dan artikel tersebut benar-benar dipahami semua kalangan.

3. Hemat menulis kalimat pada tulisan

Biasanya Anda menulis, 1 kalimat ada berapa kosakata? Ada 30 kata. Jika demikian kalimat Anda super panjang. Dan itu buruk sekali. Mulailah menghemat kalimat pada setiap tulisan. Padahal kalau Anda jeli dalam menulis, banyak sekali kata-kata yang harus dibuang atau diganti. Atau juga memotong kalimat itu menjadi 2 atau 3.

Contoh kalimat panjang yang bisa kita ubah:

Melainkan tetap tinggal di kota itu karena sudah ada tawaran kerja yang datang padanya jadi besok ia berencana untuk mengikuti tes yang telah diberi tau kepadanya oleh perusahaan itu.

Kalimat itu merupakan penggalan kalimat pada cerita fiksi yang saya koreksi. Padahal bisa kita edit seperti di bawah ini:

Melainkan tetap tinggal di kota itu karena sudah ada tawaran kerja.

Perhatikan! Gampang saja mengeditnya, hanya tinggal memotong kalimat. Selanjutnya:

Jadi, besok ia berencana mengikuti tes yang sudah diinformasikan oleh perusahan itu.

Ada beberapa kata yang dibuang. Dan kata itu memang tidak penting, dan tidak memengaruhi kalimat. Bahkan dengan membuang kata tadi, hasil kalimatnya jadi lebih enak dibaca dan dipahami. Dan kalimat yang super panjang tadi, bisa menjadi 2 kalimat.

Sebelum:

Melainkan tetap tinggal di kota itu karena sudah ada tawaran kerja yang datang padanya jadi besok ia berencana untuk mengikuti tes yang telah diberi tau kepadanya oleh perusahaan itu.

Sesudah:

Melainkan tetap tinggal di kota itu karena sudah ada tawaran kerja. Jadi, besok ia berencana mengikuti tes yang sudah diinformasikan oleh perusahan itu.

4. Menulislah secara teratur

Menulis secara teratur ini maksudnya membahas satu persoalan pada tulisan dari A sampai Z. Jangan melompat-lompat ke persoalan satu, ke persoalan lainnya. Teori menulis melompat ini boleh saja dilakukan, kalau Anda sudah benar-benar ahli menjadi penulis. Kalau tahap belajar menulis, jangan lakukan itu!

Pastikan setiap kalimat saling berkaitan dan menerangkan dari kalimat awal sampai akhir. Hingga ketika kalimat itu sudah menjadi tulisan, setiap kata dan kalimat saling berhubungan yang mudah dipahami. Jadi, ketika pembaca usai membaca, mereka paham apa yang Anda tulis. Bukan malah jadi bingung. Atau juga harus mengulang membacanya. Intinya adalah buatlah sebuah tulisan yang mengalir, setiap kalimatnya mudah dipahami sampai tulisan itu usai.

5. Menulislah seperti berbicara

Perlu Anda ketahui, menulis itu diibaratakan seseorang sedang menyampaikan sesuatu kepada orang banyak. Biasanya manusia berkomunikasi satu sama lain melalui pembicaraan. Karena dengan berbicaralah komunikasi itu mudah dipahami.

Jadi saat Anda menulis biasakan seperti berbicara pada seseorang. Kalau Anda termasuk salah seorang yang pandai berkomunikasi, menulis pun Anda seharusnya pandai. Karena tak berbeda jauh antar berbicara dengan menulis. Hanya saja menulis itu Anda berbicara sendiri, tidak ada lawan bicaranya.

Tapi, buatlah seolah-olah Anda berbicara pada orang lain. Dengan begitu nanti saat Anda menulis terasa mudah dan lancar. Karena saat dalam proses penulisan Anda merasa sedang berbicara. Secara tidak langsung, kata, bahasa, kalimat yang ditulis enak dan mudah dipahami.

Pernah Anda membaca sebuah tulisan, seolah-olah penulis itu berbicara langsung pada Anda? Jika pernah, itulah yang saya maksudkan tadi. Cara menulisnya, seperti yang sudah disampaikan di atas. Si penulis seperti berbicara pada tulisannya sendiri.

Nah, 5 poin yang disampaikan tadi jika diterapkan, tulisan Anda dalam tempo 3 bulan sudah berubah total. Mudah dipahami, enak dibaca, tidak membosankan, dan dirindukan oleh pembaca pada tulisan berikutnya. Yang penting jangan jadi penulis yang pemalas, saat ini rajin, besok sudah malas menerapkannya. Kalau begitu, ya, wajar, bertahun-tahun belajar menulis tidak ada peningkatannya. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Maaf, Jangan Diganggu! Saya Sedang Menulis

Cara Mudah Menulis Artikel Wisata (Travelling)

Menulislah Seperti Berbicara, Maka Jadilah Penulis!

Cara Menulis Kalimat Pertama yang Menarik

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas