Kali Code Yogyakarta | Foto net

Oleh: Asmara Dewo 

Seperti komandan tempur, Icow dibuntutui tujuh anggota yang siap melaksanakan titah sang komandan. Mereka menelusuri aliran Kali Code, yang tidak jauh tempat mereka menimba ilmu pengetahuan, Taman Belajar. Pepohonan di tepi Kali Code rindang, menaungi langkah kaki mereka. Gemericik aliran yang mengular itu syahdu terdengar. Burung berkicauan, sahut-sahutan. Suara alam di tengah Kota Yogyakarta yang masih terasa asri.

“Mas, sudah di sini sana kita belajarnya? Tidak usah jauh-jauh!” pinta Bunga. Suaranya melemah.

“Iya, Mas, di sini saja,” timpal Radi.

“Sama saja, toh, di ujung sana sama di sini?” Arimbi turut memprovokasi.

Icow berhenti, membalikkan badannya, menyapu kawan-kawan kecilnya satu per satu. Mereka sudah letih, ucap Icow dalam hati. Dia menjatuhkan ransel di pundaknya, katanya, “Baik, kita belajar di sini.”

“Nah, gitu dong!” Bunga kegirangan.

Mereka pun kompak melepaskan tasnya masing-masing. Mengambil air minum dari botol dan menenggaknya, beberapa kali tegukan.

“Renggangkan kaki, dan atur napas kalian pelan-pelan, biar santai,” perintah Icow.

“Iya, Mas,” jawab mereka serempak.

Ting, pesan masuk di hape Icow dari Izza.

“Di mana, Cow? Aku sama Uni, nih, mau menyusul.”

“Ikuti saja ke atas kali, kami tidak jauh dari TB.” Balas Icow. Pesan terkirim.

Beberapa menit kemudian tujuh anak itu sudah menyiapkan alat tulis dan buku di tangannya. Mereka duduk bersila siap mendengarkan metode belajar mengarang dari Icow.



“Pekan lalu kita belajar mengarang dengan berimajinasi di dalam kelas. Kalian bebas mengarang cerita dengan tema Kali Code. Nah, sekarang masih dengan tema mengarang yang sama, Kali Code. Perdedaannya adalah karangan kalian yang ditulis hari ini adalah berdasarkan pengalaman kalian beberapa menit yang lalu menelusuri Kali Code,” ucap Icow.

Boca-bocah itu menyimak dan mencatat setiap kalimat yang dianggap penting.

“Pengalaman itu apa yang kalian rasakan mulai dari TB, dengan panca indera, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dan segala apa yang kalian miliki. Jadi, tugas kalian adalah menulis apa yang kalian rasakan di sepanjang perjalanan Kali Code. Dalam tulisan itu tentunya tidak boleh berbeda dengan pengalaman kalian. Misalnya, warna Kali Code agak kehijauan, lalu kalian tulis agak kemerahan. Tentu itu salah. Selanjutnya, bentuk Kali Code berliku-liku, kalian tulis lurus. Salah juga,” tutur Icow menjelaskan cara mengarang.

“Apakah boleh memulai karangan dari bangun tidur?” tanya Radi.

“Wah, jauh sekali dari sana. Kenapa memangnya, takut tidak bisa penuhi isi lembaran tugas kamu?” Icow balik tanya.

Teman-teman lain tertawa, karena sudah menjadi kebiasaan Radi, karangannya tidak pernah penuh.

“Tidak, sih, Mas,” Radi menggaruk-garuknya rambutnya yang bergelombang.

“Mengarang itu ada rentang waktunya, jadi mas minta rentang waktu dalam karangan itu dimulai dari keluar TB sampai di sini. Mengerti?”

Mereka mengangguk, tanda paham. Meskipun masih ada di antara mereka memasang wajah bingung.

“Mas, bagaimana memanfaatkan panca indera seperti telinga, hidung, lidah dalam mengarang?” tanya Arimbi.

“Oke, pertanyaan bagus,” Icow melanjutkan, “menulis dengan telinga adalah, kalian rekam bunyi-bunyi yang ada di sekitar dengan telinga, lalu tuliskan suara apa itu, sumber suaranya dari mana. Begitu juga dengan hidung, hirup aroma di sekitar, lalu kalian tulis jenis bau apa yang kalian temukan, dan dari mana. Sama halnya dengan lidah, rasakan dengan lidah sesuatu yang kalian ingin tahu rasanya, lalu tuliskan apa rasanya, manis, asin, asam, asing, atau apa? Mata dan kulit juga begitu.”

“Ohhh… iya-iya,” Arimbi mengangguk paham.

“Jadi, kami harus merasakan air Kali Code, Mas, untuk menulis karangan ini?” tanya Juna.

“Kenapa tidak?!” sahut Icow, lalu dia mengambil tujuh lembar kertas dari ranselnya dan membagikan ke tujuh bocah itu, “sebelum kita mulai, ada pertanyaan lagi? Nilla, Aidil, dan Dimas, paham?”



Ketiga bocah yang ditanya Icow mengangguk mantap. Kali ini Bunga tidak bertanya. Ia fokus pada imajinasinya sendiri, mengarang dengan tema Kali Code. Otak mereka mulai bekerja, matanya mengerjap-ngerjap, tangannya lihai menulis di tugas halaman yang diberikan Icow.

Beberapa menit kemudian Izza datang bersama Uni. Tangan mereka penuh membawa makanan dan minuman. Semakin giranglah anak-anak saat melihat kedatangan mereka.

“Assalamualaikum,” sapa Izza dengan ramah diiringi senyuman. Perempuan berhijab syar’i itu pun membagikan makan dan minuman satu per satu ke anak-anak. Sedangkan Uni duduk di samping Icow setelah menyapa Bunga dan kawan-kawannya.

“Belajar apa mereka, Cow?” tanya Uni setengah berbisik.

“Belajar mengarang.” Jawab Icow pendek.

Uni kemudian memotret momentum itu lalu mempostingnya di Instagram. Caption-nya, Belum dikatakan mahasiswa jika dia belum berfungsi terhadap manusia lainnya. Jelang semenit setelah foto itu diunggah, sudah mendapat ribuan loves dan 120 komentar. Follower  Uni memang banyak, hasil dari beli follower  sampai mengiklankan akunnya. Saking banyak fans-nya, ia kerap menerima endorse dari berbagai produk, terutama produk kecantikan.

“Lihat, Cow! Lihat! Banyak yang memuji kalian,” kata Uni sembari menunjukkan layar hapenya.

“Oh, iya,” kata Icow tak begitu merespon.

Melihat Icow dingin, Uni memasukkan hapenya ke dalam tas.

“Mau kopi?” Uni menjulurkan sebotol air berisi kopi yang masih panas.

“Pas betul, aku belum minum kopi sejak pagi,” Icow langsung menyambarnya.

“Ini camilannya,” Izzi membuka kue kering dan basah dari sebuah kotak makanan.

Sambil menyantap kue, Icow mengeluarkan koran beberapa hari yang lalu dibelinya tapi tak sempat dibaca. Koran itu di halaman utamanya membuat laporan tentang unjuk rasa di Gedung Angkasa Pura I, Jln. Solo-Yogyakarta.

“Mas, hampir selesai, nih,” ujar Bunga.

“Iya, selesaikan saja dulu,” jawab Icow pendek. Tangannya membuka halaman koran, mencari opininya pada koran tersebut. Angkasa Pura Hanya Bisa Ngumpet, itulah judul pada opini yang ditulisanya. Icow membaca ulang lagi karyanya, memastikan ada atau tidak poin-poin penting yang diedit oleh redaksi. Tidak ada, gumam Icow.



“Tulisan kamu, Cow?” tanya Izza.

“Iya, nih, baca!”

Izza langsung meraih koran itu, lalu membacanya dengan penuh penghayatan. Uni masih sibuk membalas komentar fans-nya di Instagram. Mulai dari cowok dan cewek,  follower  Uni selalu antusias setiap ada postingan dari gadis berdarah Minang itu. Selebgram, sudah tepat disandang oleh Uni.

“Cow, banyak yang kirim salam ke kamu di IG-ku,” bisik Uni, “mereka juga minta alamat IG-mu, beritahu atau tidak?”

“Terserah. Aku tidak perduli,” Icow tertawa.

“Males, ah. Nanti kamu naksir lagi sama fans-ku.”

Bunga sudah menyelesaikan tugas mengarangnya, setelah itu disusul Radi, Juna, dan Aidil. Satu persatu tugas itu sudah di hadapan Icow. Lengkap, semua mengerjakan dengan baik sesuai intruksi Icow. Wajah mereka terlihat lega setelah menyelesaikan tugas mengarang.

“Menulis itu adalah skil, dan skil itu harus terus dilatih, agar setiap karya kalian semakin bagus, bagus dan bagus,” lanjut Icow lagi, “baik, siapa yang duluan mau membacakan karyanya?”

Bunga mengangkat tangannya begitu semangat.

“Ya, silahkan, Bunga.”

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu, selamat sore teman-teman,” ucap Bunga, suaranya terdengar menyenangkan, khas suara anak-anak, “terimakasih telah memberikan kesempatan untuk membacakan karyaku yang berjudul Suatu Sore di Kali Code.”

Bunga mulai membacakan karyanya.

Suatu Sore di Kali Code

Sore itu Kali Code tidak kesepian lagi, kami bertujuh, anak-anak petualang yang menjemput mimpi menyapanya. Kali Code begitu gembira menyambut kami, gemericik airnya begitu lembut. Tenang. Damai. Awan yang berarakan di langit biru cemburu pada Kali Code yang dikunjungi tujuh bocah, seakan mengeluh: “Aduhai, anak manusia, andai aku menjadi Kali Code, begitu bahagianya diriku, sebab anak-anak berwajah manis mengunjungiku setiap hari. Aku tidak mengenal lagi kesepian. Tapi lihatlah diriku, tiada seorang pun yang ingin menyapaku, apalagi bertamu.”

Lalu Kali Code menjawab: “Duh, awan putih, janganlah engkau berkeluh kesah, apalagi bermuram durja, kau tidak merasakan penderitaanku sebenarnya. Apa kau pernah merasakan sakitnya, saat napasmu tersesak oleh sampah-sampah? Baunya kotoran manusia yang menempel di wajah? Dan mencemari tubuhku seperti tempat pembuangan? Apakah kau lupa, bahwa diriku dulu begitu jernih, dan hijau kebiruan. Sekarang lihatlah, hijau keruh.”

Awan kembali berkata: “Janganlah mengeluh seperti itu, kalau aku ingin katakan padamu, maka manusia di bumi juga merusakku. Tapi aku hanya ingin katakan, aku ingin dikunjungi tujuh bocah petualang itu.”



“Bentar, ya, mau minum dulu,” ucap Bunga di sela pembacaan karyanya. Ia minum beberapa kali tegukan. Teman-temannya tak sabar mendengar lanjutan karangan Bunga.

Dari sini, menjulang tinggi Gunung Merapi. Tampak gagah, dan juga anggun. Jika aku besar nanti, ingin sekali mendakinya dan bernyanyi:

Naik-naik ke puncak gunung,

tinggi-tingi sekali

Kiri-kanan kulihat saja,

banyak pohon cemara.

Mendaki gunung Merapi bersama Mas Icow, Mas Bram, Mbak Izza, Mbak Uni. Oh, hampir lupa, sahabat-sahabatku, Arimbi, Nilla, Juna, Radi, Aidil, Dimas. Ya, ya, nanti kalau aku sudah besar, jadi perempuan yang tangguh.

Taman Belajar sudah tak terlihat lagi, kaki kami semakin jauh melangkah. Terus dan terus ke atas, sampai-sampai aku kelelahan. Batu-batu sungai mengkilat dan keras, juga licin. Kami meski berhati-hati setiap menginjaknya. Bermacam pohon tumbuh subur di pinggiran Kali Code. Bertugas untuk menahan banjir dan longsor suatu waktu. Begitulah kata Ibu Guruku.

Kuhirup dalam-dalam udara di sekitaran sungai yang setua Kota Yogyakarta itu. Paru-paruku mengembang, kembang-kempis, segar sampai ke paru-paru. Aroma sungai sebenarnya sudah kuhapal sejak dulu, sejak aku mengerti apa fungsi hidung. Karena aku besar di sekitaran Kali Code. Baunya, aku akan selalu merindukannya.

Ranum menguning buah pisang menggantung rapi dari tandannya, daunnya meliuk-liuk tertiup angin. Pepaya jingga pun mematangkan diri. Kalau tidak sedang belajar kucoba panjat buah-buah segar di bantaran Kali Code itu. Sekarang aku hanya menatapnya, membiarkan air liur yang sempat meleleh kuteguk lagi. Oh, buah…

Teman-teman Bunga tertawa terpingkal-tingkal, sorak-sorai. Ribut. Icow, Uni, dan Izza, turut tertawa. Bunga kembali membaca karangannya. Enam bocah lainnya kembali khidmat mendengar.

Burung-burung ikut riuh, berkicauan, induk pinai itu mencengkeram beberapa helai ilalang kering. Membawa pulang untuk membuat sarang yang baru. Kulihat pula bapak-bapak duduk santai di atas bebatuan, memancing ikan di Kali Code seperti ritual warga di sekitaran. Dari dulu sampai sekarang. Tak perduli kailnya menyantol ikan atau tidak, yang penting memancing.

Kami sudah lelah, peluh keringat membasahi baju kami. Duduklah kami di bawah pohon beringin. Daunnya begitu rimbun. Berjuntaian akar-akarnya. Di situlah kami belajar lagi mengarang. Aku suka belajar mengarang, aku ingin pandai menulis seperti Mas Icow. Mas Icow pernah berpesan pada kami, menulis selain untuk seni dan mengasah otak, juga sebagai wadah bermain ungkapan hati.

Anak seumuranku, tidak begitu tahu soal hati. Yang kutahu adalah ketika aku bahagia, sedih, kesal, marah. Seperti saat ini aku bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa diukur. Bahagia bisa selalu belajar, bahagia bermain dengan teman-teman, dan selalu dimotiviasi Mas Icow, kami berhak seperti anak-anak lainnya.



Kemudian Mbak Izza dan Mbak Uni membawakan kami makanan dan minuman. Kami mengunyah kue, sembari tangan kami terus menulis. Menenggak susu sapi asli, agar kami tetap sehat dan kuat. Sampai tugas mengarangku selesai. Sekali lagi kulihat Kali Code yang selalu meneduhkan jiwa, menyegarkan mata, menjadi tempat kami belajar dan bermain. Aku ingin selamanya Kali Code seperti itu.

***

“Ada hadiah dari Mbak Uni,” Izza mengumumkan sesuatu ke anak-anak sebelum mereka pulang. Mendengar kata hadiah, mata ketujuh anak itu membulat. Wajahnya langsung sumringah, tak sabar hadiah seperti apa yang mereka dapatkan.

Uni membopong keranjang besar yang dibantu Icow. Mengeluarkan isinya, lalu membagikan satu persatu ke anak-anak. Izza turut membantu memasangkan tas baru di punggung mereka. Anak-anak itu sangat senang.

“Terimakasih, Mbak Uni,” kata Bunga, tangannya melingkar memeluk erat tubuh Uni yang menjongkok. Teman-teman yang lain juga memeluk Uni saling bergantian. Pelukan erat dari anak-anak itu membuat mata Uni berkaca-kaca. Sebelumnya ia tak pernah mengeluarkan air mata sebahagia itu. Menjelang maghrib, kelas Taman Belajar mengharu biru. Buliran hangat juga menetes dari pelupuk mata Izza melihat anak-anak begitu bahagia. Icow terpatung, membisu, tak bisa mengungkapkan apa-apa lagi.

“Kalian belajar yang rajin, ya? Dengarkan nasihat Mbak Izza, Mas Icow, dan Mas Bram,” kata Uni, suaranya lambat, “biar kalian jadi anak-anak yang cerdas. Nanti Mbak bawakan hadiah lagi. Mau, kan?”

Mereka mengangguk.

“Baik, anak-anak, sekarang sudah waktunya kita pulang. Jangan singgah kemana-mana lagi, langsung ke rumah. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu.”

“Waalaukumsalam warohmatullahi wabarokatu,” jawab anak-anak. Setelah itu mereka berhamburan keluar kelas setelah menyalami Izza, Icow, dan Uni.

“Uni, Icow, aku langsung pulang, ya? Buru-buru soalnya ada pengajian lagi sehabis isya,” Izza menggondong ranselnya.

“Oh, iya, hati-hati. Daa,” ucap Uni, tangannya melambai.

“Assalamualaikum,” sahut Izza yang sudah menghilang dari balik pintu. Uni dan Icow menjawab salam itu bersamaan.



“Aku tadi melihatmu menangis,” kata Icow dengan nada mengejek.

“Ah, kamu berlebihan. Aku cuma terharu, itu saja,” Uni memukul pelan pundak Icow. Mereka berjalan pulang di sisa senja. Langit barat sudah gelap, raja siang tenggelam sempurna. Suara mengaji terdengar pelan dari menara masjid.

“Kamu mau langsung pulang?” tanya Icow.

“Malas cepat balik.”

“Terus mau ngapain lagi?”

“Ya, terserah aku dong. Aku yang punya badan.”

Icow tertawa, “Benar juga, sih.”

Tiba di rumah Icow, mereka disambut Bi dan keempat anaknya. Mengendus dan mengeong manja. Salah satu anak kucing itu sudah memanjat icow sampai ke pinggang.

“Rubah... turun-turun!” kata Icow ke anak kucing itu.

Rubah, si anak kucing mendengkur kuat, lalu melompat turun. Sedangkan ketiga anak kucing lain mengendus-endus di kaki Uni.

“Ihhh lucunya, pussy-pussy,” Uni mengelus anak-anak kucing Icow. Si induk hanya menatap Uni sembari hidungnya terus mengendus tamu cantik itu di rumahnya.

Bersambung…  [Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya:

Diary Ana dan Perempuan Hujan



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas