Sultan Hamid II (kiri) dan Sultan Hamengku Buwono IX (kanan) | Istimewa

Asmarainjogja.id – Kedua tokoh bangsa itu sama-sama ‘berdarah biru’, mereka adalah putra sultan, dan dikemudian hari mereka dinobatkan menjadi sultan di wilayahnya masing-masing. Kedua sultan tersebut juga pernah sekelas di Neutrale Europese Lagere School   di Yogyakarta, lalu kuliah di Belanda.

Henkie (nama panggilan kecil Sultan Hamengku Buwono IX) pernah suatu hari bercerita saat masih di sekolah dasar. Dalam cerita itu Hengkie mengatakan Mozes (nama panggilan kecil Sultan Hamid II), tidak seperti anak-anak lainnya. Jika anak-anak lainnya suka berantem, penerus takhta Kesultanan Pontianak itu malah feminin.

“Saya suka antem-anteman (pukul-pukulan),” kata Sultan Hamengku Buwono IX tertawa geli mengenang kisah itu, seperti yang dikutip dari buku Takhta untuk Rakyat (2011:15).

Selanjutnya ia mengenang kisah temannya Mozes alias Hamid, “Waktu itu saya pernah sekelas dengan Hamid, kemudian dikenal dengan Sultan Hamid II. Ketika kecil sebutannya adalah Mozes. Ia tinggal di Yogya, hanya ditemani seorang gouvernante (pengasuh-pendidik) berkebangsaan Inggris bernama Nyonya Fox.”

“Saya hanya ingat ia sedikit feminin. Kebiasaan antem-anteman   antara anak lelaki tak begitu disukainya. Suatu kali ia ‘diadu’ dengan seorang murid perempuan yang jago berkelahi, dan ia… kalah,” kata Sultan Hamengku Buwono IX.

Di Belanda mereka juga sempat berjumpa, Henkie kuliah jurusan Indologi di Rijksuniversiteit di Kota Leiden, suatu universitas yang dianggap tertua dan terkemuka. Dan Mozes menuntut pelajaran  pada Koninklijke Militaire Academie (KMA). Mereka berjumpa kembali saat mewakili ayahnya pada acara pemakaman Pangeran Hendrick, suami Ratu Belanda.

“Sst, jangan panggil Mozes lagi, namaku seakarang ganti Max,” bisik mahasiswa ganteng itu pada teman Sekolah Dasarnya dulu.

Seiring waktu kedua sosok hebat tersebut berbeda jalur politik, Dorodjatun yang dikenal dengan Sultan Hamengku Buwono IX, pejuang kemerdekaan, kemudian dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Sedangkan Mozes juga dinobatkan menjadi Sultan Hamid II, ia juga diangkat menjadi ajudan  Ratu Wilhelmina yang tentu saja selalu berpihak kepada Belanda.

Baca juga:

Dengan Menulis Kartini Menggugah Dunia

Lima Fakta Pernikahan Mohammad Hatta yang Jarang Diketahui

Soekarno yang Mengamalkan 2 Wasiat Sang Guru

Pada 19 Desember 1949, Kabinet Republik Indonesia serikat terbentuk, yang menjadi Perdana Menteri Mohammad Hatta dan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX. Ketika itu pihak Belanda sangat kecewa karena jagoan mereka hanya duduk sebagai seorang Menteri Negara.

Dalam program Kabinet RIS (Republik Indonesia Serikat) tercantum sebagaian pokok antara antara lain:

-Menyelenggarakan pemindahan kekuasaan ke tangan Indonesia di seluruh daerah Indonesia dengan seksama.

-Mengusahakan reorganisasi KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger, tentara Kerajaan Belanda ) dan pembentukan Angkatan perang RIS serta melaksanakan pengembalian tentara Belanda ke negerinya dalam waktu selekasnya.

Keinginan Belanda adalah agar pembentukan angkatan Perang RIS ini KNIL menjadi intinya. Namun hal ini bisa dicapai jika Menteri Pertahanannya adalah orang kepercayaannya, Sultan Hamid II. Dengan ditetapkannya Sultan Hamengku Buwono IX menjadi Menteri Pertahanan, keinginan Belanda agar KNIL memegang peran memimpin menjadi tipis, atau malah buyar sama sekali.

Meski begitu, Belanda masih ingin berusaha memaksakan niatnya. Mereka merencanakan suatu coup atau makar dengan sasaran utama Menteri Pertahanan, Sultan Hamengku Buwono IX, dengan pelaku Batalion X di bawah pimpinan Westerling.

Atas pengakuan Sultan Hamengku Buwono IX, kejadiannya sebagai berikut:

Jelas, latar belakang persoalan itu adalah: apakah KNIL masuk TNI ataukah TNI masuk KNIL. Sesungguhnya kami, orang Republik, sudah lama mencurigai Hamid bahwa ia merupakan pion Belanda. Pernah ada yang mengusulkan agar ia ditangkap saja. Akan tetapi saya sebagai Menteri Pertahanan harus bertindak sesuai peraturan, dan waktu itu tak ada keadaan SOB.

Hijab

Suatu waktu kami mendapat info yang sangat dapat dipercaya bahwa Belanda akan mengadakan penyerbuan terhadap sidang kabinet suatu hari tertentu pada pukul 19.00. Westerling dengan Batalion X-nya akan melakukan penyerbuan itu di tempat sidang yang biasa, yaitu di gedung Kabinet di Pejambon, Jakarta.

Tujuan itu adalah menembak mati Menteri Pertahanan Hamengku Buwono IX, Sekjen Ali Budiarjo, dan KSAP T.B. Simatupang. Agar orang tak menaruh curiga, Sultan Hamid akan ditembak ringan pada kaki. Setelah itu anggota kabinet yang lain akan digiring ke depan Presiden Soekarno untuk memaksanya menetapkan Hamid menjadi Menteri Pertahanan, kesesokan harinya ia akan berangkat ke Belanda untuk mendapat intruksi dari Kabinet Belanda.

Baca juga: 

Mohammad Natsir, Mulai Jas Bertambal sampai Menolak Hadiah Mobil

Semaoen, Sosok Anak Muda Paling Bahaya bagi Pemerintahan Belanda

Marco Kartodikromo, Pencetus Sama Rasa Sama Rata yang Mengancam Kedaulatan Belanda

 

Pada hari yang dimaksud, sidang kabinet berlangsung seperti biasa. Sultan Hamid tampak datang terlambat, baru kira-kira pukul 18.00, sedangkan sidang telah dimulai pukul 17.00. Sesuai dengan rencana kami, pada pukul 18.30 tiba-tiba sidang ditutup oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta. Semua agak heran karena biasanya sidang kabinet berlangsung sampai malam. Namun yang tampak agak bingung adalah Sultan Hamid.

Ketika saya keluar dari gedung kabinet, saya melihat jip Westerling mondar-mandir di Jalan Pejambon. Kami semua meninggalkan tempat tersebut. Westerling, yang mencium suasana kurang aman, malam itu  rupanya segera melarikan diri. Saya perintahkan untuk mengejar sampai ke beberapa tempat persembunyiannya yang kami ketahui. Juga ke tempat ibunya, yang sepengetahuan kami mempunyai restoran di depan Istana Cipanas. Ternyata tak dijumpai, tetapi kami buat sedemikian rupa agar ia tak dapat menginap di mana pun kecuali di kolong jembatan.

Dasar orangnya licin, ia lolos dan belakangan kami tahu bahwa ia dijemput oleh satu kesatuan Belanda secara khusus dan langsung dilarikan ke luar Indonesia. Sementara itu, persiapan segera diadakan penangkapan untuk Sultan Hamid. Karena waktu itu ia menjabat sebagai menteri, proses penangkapannya harus mengikuti peraturan. Lebih dulu saya harus mendapat surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden dan Wakil Presiden. Masih ada satu tanda tangan lagi yang diperlukan untuk penangkapan seorang menteri, yaitu tanda tangan Sekretaris Kabinet yang waktu itu dijabat oleh Mr. Karim Pringgodigdo.

Rencana penangkapan Hamid harus dilaksanakan dengan penuh rahasia. Karena itu pula saya terpaksa mengagetkan Mr. Karim Pringgodigdo dengan mendatanginya untuk meminta tanda tangan pada kira-kira pukul 02.00. Dan jam menunjukkan kira-kira pukul 03.00 ketika satu kesatuan tentara menangkap Hamid di Hotel des Indes.

Ketika kamarnya digeledah, banyak bukti dari hal-hal yang kami curigai didapati di sana, termasuk rencana lengkap berikut gambar dengan penuh petunjuk penyerbuan terhadap sidang kabinet sedianya akan dilakukan sore hari sebelumnya. Kecuali barang-barang bukti yang langsung diamankan, malam itu juga kami menemukan di kamarnya satu lemari penuh dengan… jenever asli belanda! Satu tanda bahwa Hamid memang suka akan minuman keras.

Hijab 

Begitulah kejadian penangkapan Sultan Hamid II pada tahun 1950, sebagaimana diceritakan sendiri oleh Sultan Hamengku Buwono IX.

Jika catatan sejarah menceritakan pengkhianatan Sultan Hamid II terhadap Republik Indonesia, lain halnya dengan Anshari Dimyati. Ketua Yayasan Sultan Hamid II tersebut mengajukan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional.

“Sultan Hamid II adalah Tokoh Nasional Indonesia asal Pontianak - Kalimantan Barat. Dengan sangat wajar dan bangga kita memiliki seorang Negarawan seperti Sultan Hamid II. Salah satu kiprah Sultan Hamid II sebagai seorang tokoh nasional adalah perannya sebagai Bapak Bangsa atau pemersatu bangsa dan diplomat ulung dalam momentum Konferensi Inter Indonesia 1 & 2 tahun 1949, Konferensi Meja Bundar 1949, Menteri Negara RIS 1949 s/d 1950, dan terlebih penting adalah peran Sultan Hamid II sebagai Perancang Lambang Negara Republik Indonesia; elang rajawali Garuda Pancasila, 1950. Hal tersebut patut terus kami suarakan kepada khalayak, pemerintah, dan Negara. Maka dari itu kami mengajukan nama Sultan Hamid II (Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie) sebagai Pahlawan Nasional Indonesia,” kata Anshari, sebagaimana dikutip dari Tirto.id.

Penulis buku Sultan Hamid II: Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila itu juga mengatakan ‘kasus penyerangan sidang kabinet’ yang dirancang Sultan Hamid II cacat hukum.

“… bila dikaitkan dengan kasus penyerangan Westerling di Bandung 23 Februari 1950, jelas Dakwaan Primair tidak terbukti (Putusan Mahkamah Agung RI - 1953). Dan bila dikaitkan rencana atau "Niat" Sultan Hamid II untuk melakukan penyerangan Sidang Dewan Menteri RIS 24 Februari 1950, jelas tidak terjadi penyerangan apapun, tidak terjadi peristiwa apapun, tidak ada tembak-menembak, tidak ada body contact, dan "Niat" yang dia (Sultan Hamid II) batalkan tersebut, bukan merupakan "Delik" atau Tindak Pidana. Dan bilapun terjadi hambatan karena vonis yang sudah terjadi, maka kami akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) terhadap Kasus Sultan Hamid II di Mahkamah Agung RI. Kami berharap penegakan hukum dan keadilan diletakkan di atas segalanya, bukan dengan asumsi politik,” kata dia. [Asmara Dewo]

Travela Hijab, Hijabnya Traveler (Temukan Inspirasimu)



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas