Ilustrasi ombak |Foto Istimewa

Oleh: Asmara Dewo

Di bawah sinar bulan makhluk penghuni Pulau Kalong berterbangan bebas, kemudian hinggap ke batang-batang pohon. Bergelantungan dengan posisi terbalik, indra penciumannya menyambut delapan anak manusia. Tenang, tanpa pergerakan sedikit pun, suara derap kaki terdengar tajam oleh makhluk penghuni tersebut.

Sinar lampu dari sorot kepala gerombolan itu menerangi jalan setapak. Angin pantai tidak begitu kencang, namun ombak lautan berdebum hebat menghantam tepian karang pulau. Dedauan bergesekan lembut di antara irama Laut Selatan. Di atas sana, bintang-gemintang bertabur kemerlapan di langit malam menemani sang bulan. Pulau Kalong kedatangan tamu anak manusia.




“Kau lihat kelelawar yang terbang tadi?” Limo menjawil lengan Pati.

“Ya, sekawanan superhero,” Pati menjawab datar.

“Maksudmu Batman?”

“Ya, begitulah.”

Mendengar Pati dan Limo bercerita superhero, Salman mengingat sesuatu tadi sore,

“Kita juga punya superhero, tak kalah lebih hebat dari Batman. Spyderman.”

“Oh, ya? Siapa?” Ana menyambar percakapan.

“Tuh, paling depan,” Salman meruncingkan bibirnya ke arah Ali.

“Si Rambo milineal,” Ana bergumam, “sebentar lagi dia akan menjadi tarzan, terus memanggil kawanannya di pulau ini. Dan kita akan dikelilingi berbagai hewan, baik darat, laut, maupun udara.”

Pati tertawa lebar yang disusul tawa oleh sahabat-sahabatnya. Percakapan itu terus berlanjut sampai ke tingkat imajinasi yang ane-aneh.

“Bagus. Dan aku ingin mengelilingi Laut Selatan ini dengan hiu,” Pati berandai-andai.

Tak mau kalah, Limo mengimbangi imajinasi Pati, “Kalau aku ingin membuntuti Pati dari angkasa di atas punggung garuda.”

Pati mengernyitkan dahi, “Burung Garuda?” lanjut dia lagi, “memangnya burung garuda itu benar ada?”

“Ya, seperti itulah. Jika tidak ada, inspirasi dari mana founding father  kita membuat lambang Indonesia? Inspirasi dari kampret?” Pati terkekeh menahan perutnya.

“Wihhh… menyeramkan juga kalau lambang negara itu kampret,” Pati tertawa memegangi perutnya yang buncit.




“Lalu, kalau lambang negara kita kecebong bagaimana?” Tanya Limo disusul tawa kecil.

“Tidak gagah, tapi unik,” mata Pati menerawang sejenak, “juga lucu.”

Dengan imajinasinya masing-masing delapan anak manusia itu tertawa susul-menyusul.

“Kalian ini bicara apas, sih? Fokus! Fokus!” Giliran Uni angkat suara.

Kaki mereka terhenti di bibir pulau yang menghadap tepat Laut Selatan. Tempat yang cukup luas dan nyaman mendirikan beberapa tenda. Ali memastikan tempat itu berulang-ulang sebelum memutuskan mereka bermalam di sana. Ali meminta pendapat teman-temannya,

“Bagaimana? Bagus tidak tempatnya?”

“Mantap,” sahut Salman.

Yang lain mengangguk, tanda setuju tempat yang akan menjadi istirahat mereka malam ini.

“Baik kalau begitu. Kita camping di sini,” Ali mulai membongkar cariernya.

“Siap, Rambo!” Ana memberi hormat militer.

Teman-teman yang lain turut sibuk menyiapkan tenda, alat masak, dan penerangan. Tidak butuh lama, tenda sudah tertancap kuat, enam alat penerang dari lampu emergency menyala. Minyak goreng memanas di atas kuali kecil, dan beberapa bumbu dimasukkan. Di sebelahnya, isi periuk menguap. Beras mulai menjadi nasi.

“Aku akan menangkap ikan,” ujar Ali sembari menyelipkan golok kecil di pinggangnya, “ada yang mau ikut?”

“Aku,” Salman mengangkat tangannya.

“Yang lain, siapkan api unggunnya,” Ali memisahkan diri yang diiringi Salman dari belakang.

“Siap, Spyderman! Kita pesta malam ini,” Pati kegirangan, “ayo kawan-kawan, kita sambut dengan api unggun.”

Ali dan Salman memotong batang pohon, ranting-rantinya dibersihkan. Ujung batang itu dibuat runcing. Seperti tombak. Panjangnya dua meter setengah. Beberapa kali tombak itu dites Ali, Salman hanya melihat tanpa banyak komentar.

“Kita gunakan tombak ini untuk menembus perut ikan di bawah sana,” kata Ali penuh keyakinan.

“Dengan itu saja?” Apa mungkin bisa?  Sambung Salman di dalam hati.

“Kenapa? Kau tidak yakin?” Ali menyelidik dengan ekor matanya, “orang zaman dahulu memanfaatkan alam sekitar untuk kehidupannya. Mereka berburu dengan alat sekadarnya. Jika cuma menangkap ikan di sungai, ya, mereka menggunakan tombak seperti ini.”




“Iya, kalau itu aku juga tahu,” Salman masih ragu-ragu, “tapi ini laut, bukan sungai.”

Ali tahu Salman sejak tadi ragu, dan dia hanya tersenyum tipis. Beberapa menit kemudian, kaki mereka perlahan menuruni tebing cadas dengan hati-hati. Setelah di atas batu yang cukup aman, mereka menyinari permukan air laut yang diapit karang. Mata Ali tak berkedip, begitu tajam memburu mangsanya.

“Happp!”

Di lokasi tenda, Pati dan Limo melanjutkan obrolan kapret dan kecebong. Icow hanya tertawa dengan ocehan mereka, belum tergoda untuk melantur bersama-sama. Di sebelahnya, Eki memetik gitar mengiringi lagu lawas. Ana tak membiarkan Eki menikmati nada dan lirik lagu itu sendirian. Mereka bergantian menyanyikan lirik lagu Gereja Tua dari Panbers.

Hanya satu yang tak terlupakan

Kala senja di gereja tua

Waktu itu hujan rintik-rintik

Kita berteduh di bawah atapnya

Kita berdiri begitu rapat

Hingga suasana begitu hangat

Tanganmu kupegang erat-erat

Kenangan itu selalu kuingat…

Lagu itu mengalun syahdu, enak didengar. Menghangatkan malam yang mulai dingin di pulau yang sudah lama tak dikunjungi oleh warga sekitar. Uni sudah menyodorkan kopi untuk teman-temannya. Pati dan Limo yang sejak tadi tak berkesudahan mengobrol semakin liar dipicu kafein. Eki meminum kopi yang baru saja ditawarkan Uni, lalu gitar itu dikuasai Icow.

“Malam ini aku ingin mendengarmu bernyanyi,” kata Uni saat gitar sudah dipeluk erat Icow.

“Mau request  lagu apa?” balas Icow.

“Terserah, yang penting romantis.”

Sepanjang Jalan Kenangan, lagu jadul itu menjadi pilihan dalam petikan gitar Icow. Uni menatap Icow dengan khidmat. Eki dan Ana ikut terhanyut, kecuali Pati dan Limo. Kecebong dan Kampret lebih seru dibahas daripada lagu jadul, begitu di benak mereka masing-masing. Geromborolan kelelawar sesekali melintas di atas kepala mereka. Gerombolan lain menyusul, lalu hinggap lagi di dahan-dahan pohon. Seperti biasa, dengan posisi badan terbalik, hidung dan telinga tetap awas terhadap tamunya.




Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan

sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra

hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu

menambah nikmatnya malam syahdu

hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu

menambah nikmatnya malam syahdu

Mereka menutup lagu itu dengan rasa bahagia, tersenyum lepas, dan rasa damai di Pulau Kalong. Uni bertepuk tangan kecil melepaskan senyuman manis ke Icow. Icow sendiri membalasnya dengan senyum tipis.

“Aku masih penasaran, bagaimana tadi kau melempar tombak itu? Tanya Salman, teman-teman yang menunggu menoleh ke sumber suara.

Ali tidak begitu menanggapi pertanyaan yang diulang-ulang Salman sejak tadi, “Kau sudah melihatnya sendiri. Kenapa harus aku jelaskan lagi,” Ali tertawa.

Empat ekor ikan sebesar telapak tangan diletakkan di piring oleh Salman dengan wajah menyimpan tanda tanya. Pati yang melihat ikan segar berhenti bercakap-cakap, lalu buru-buru membantu Uni dan Ana membakarnya. Sebenarnya membantu bukan prioritas utama, tapi karena tidak sabarnya Pati ingin melahap ikan yang tampak begitu lezat. Soal makanan memang Pati yang nomor satu.

Dua puluh menit kemudian ikan itu mengeluarkan aroma sedap, bukan ikan bakar biasa. Olahan bumbu Uni menambah lezatnya ikan bakar di piring mereka masing-masing. Lengkap dengan nasi yang masih hangat dan mie goreng. Menu makan malam yang begitu lezat, perut mereka selalu minta diisi. Apalagi Pati, mulutnya yang penuh dengan nasi dan ikan bakar, terus memuji-muji santapannya.

“Aku tidak mau pulang ke kota. Kita  happy-happy begini saja setiap malam, hahaha.”

“Tidak masalah, asal kau dapat giliran menangkap ikan,” kata Ali mendelik ke arah Pati.

“Ya, ya, betul. Biar Pati bukan sekadar menikmati, tapi berusaha dengan tangannya sendiri,” Limo ikut menimpali.

“Tidak masalah,” Pati menjawabnya cuek di tengah-tengah kunyahannya.

“Oh, iya, aku jadi ingat obrolan kalian soal penyesuaian tanaman yang sebaiknya dilakukan warga Gunungkidul,” Icow membuka obrolan, “menurut kalian tanaman apa yang cocok di sini?”

Mendengar pertanyaan Icow yang tampak serius, teman-teman yang lain mulai berpikir untuk menjawabnya.




“Aku belum melihat tanaman buah naga di Gunungkidul. Kalau di Kulonprogo, aku pernah ke kebunnya langsung,” jawab Eki, “buah naga di sana kulihat cukup subur.”

“Jadi menurutmu lahan di sini ditanami buah naga, begitu?” Icow balik tanya.

“Ya, mungkin. Tidak ada salahnya juga dicoba.”

“Aku pernah dengar, butuh modal yang cukup besar menanam buah naga itu,” ujar Salman, “tanah di Kulonprpgo juga berbeda dengan tanah di sini.”

“Jadi menurutmu cocoknya tanam apa?” sekarang Eki yang bertanya.

Salman malah mengangkat bahunya. Belum ada jawaban yang pasti.

“Kalau seperti bunga-bungaan begitu bagaimana?” usul Ana.

“Maksudmu seperti bunga amarilis, ya?” Pati menangkap ide Ana, “bagus juga.”

“Kalau bunga seperti itu lagi, tidak menghasilkan ide baru,” sambung Ali, “sebaiknya tanaman yang belum pernah dicoba oleh warga.”

Yang lain mengangguk, mengamini ucapan Ali. Mereka berpikir mencoba menembus imajinasi yang paling dalam.

“Kenapa tidak menanam lidah buaya saja?” tiba-tiba Uni mengingat kosmetik kecantikan dari kamarnya, “sekarang lagi hits gel Aloe Vera. Di mal-mal, di pasar-pasar, cewek-cewek itu buru gel Aloe Vera asal Korea, lho.”

“Itu makanan seperti apa, ya?” Pati tampak bingung, “sepertinya aku pernah dengar.”

Kawan-kawannya saling berpandangan satu sama lain. Berkesimpulan, Pati yang ada di kepalanya hanya makanan, makanan, dan makanan.

“Gel Aloe Vera asal Korea itu yang jelas bukan makanan, Pati,” jawab Ana dengan nada ketus, “tapi kalau kau mau coba memakannya, boleh juga.”

Yang lain tertawa kecuali Pati pasang wajah kecut.

“Eh, lidah buaya itu juga bisa dikonsumsi. Banyak manfaatnya bagi tubuh,” Pati membela diri.

“Semua orang juga tahu,” sahut Limo enteng.

“Lidah buaya… cukup menarik untuk didalami lebih lanjut,” Icow memegang jidatnya, berpikir keras, “ada yang pernah menanam lidah buaya? Apakah kira-kira bisa ditanam di lahan tandus seperti Gunungkidul ini.”

“Ya, itu yang jadi tugas kita bersama,” Ali mendukung.

“Baik, kita simpan dulu soal ide itu. Nanti kalau sudah sampai di kota, kita pelajari lebih lanjut, apakah lidah buaya bisa menjadi solusi sebagai tanaman warga di sini,” Limo menyambar gitar, “sekarang kita nyanyi lagi, senang-senang dulu.”

“Setuju!” teriak Pati.

Apa kabarmu teman-temanku

Kutahu kamu setia menunggu

Walaupun aku selalu sok sibuk

Kini ku datang hanyalah untukmu




Lagu Endang Soekamti, Long Live My Family,  dinyanyikan Limo dengan hangatnya persahabatan. Lalu diikuti oleh teman-teman yang lain, lagu ini memang lagu favorit mereka, di mana ada setiap kesempatan waktu berkumpul dan ada gitar, long live my family selalu mengudara.

Aku ada di sini menghiburmu

Sekali lagi seperti dulu

Senang ataupun susah

Selalu ceria long live my family

Mereka bernyanyi bersama-sama diiringi petikan gitar dan tepukan tangan. Malam itu mereka lepas. Kegembiraan yang begitu meluap-luap. Api unggun masih menyala. Mereka membentuk lingkaran, mengelilingi kobaran api di tengah dinginnya Pulau Kalong.

Di langit yang gelap, sang bulan mulai meredup. Sejak beberapa menit yang lalu bintang sudah menghilang ditelan angkasa malam. Ribuan kelelawar bergerombol berterbangan di atas mereka menuju ke arah utara. Angin laut berembus kencang, ombak bergulung semakin tinggi. Suaranya tak bersudahan. Semakin kuat. Pasukan hujan jatuh ke bumi membuat kocar-kacir delapan anak manusia itu. Dalam hitungan detik, hujan semakin deras, disusul petir menggelegar hebat. Kilat menyambar-nyambar.

“Hujan deras,” Ali meneriaki teman-temannya, “ke tenda langsung. Bawa masuk yang penting-penting saja.

Empat tenda sudah berdiri saling berdekatan, setiap tenda diisi dua orang. Ana dan Uni tampak ketakutan menyaksikan hujan yang begitu lebatnya malam ini.

“Lebat sekali hujan malam ini. Sepertinya aku tidak pernah melihat hujan selebat ini,” keluh Uni.

“Sama, aku juga begitu. Semoga kita baik-baik saja,” Ana merapatkan jaketnya.

“Ya, semoga saja. Amin, ya, Allah,” sahut Uni dengan rapalan doanya.

Tak kalah khawatirnya, Pati dan Limo berbisik-bisik tak yakin apa yang sedang mereka alami.

“Badai akan datang,” Limo menduga-duga.

“Huss!!! Jangan sok tahu! Suara Pati bergetar, telunjuknya memberi kode diam. Tangan Pati meraba-raba mencari mainan kalung yang menggantung di lehernya, “kita akan baik-baik saja.”

Satu meter dari tenda Pati dan Limo, tenda itu bergoyang-goyang dihantam angin dan hujan. Seakan mau tercabut. Ali dan Salman saling bertatapan merasakan alam yang tak bersahabat. Salman memecah kebisuan,

“Berapa lama badai ini berhenti?”

“Aku juga tidak tahu. Tampaknya cukup lama,” kata Ali berusaha setenang mungkin, “sudah biasa angin sekencang ini di pantai. Kita masih di tepi begini, bagaimana pula para nelayan yang terjebak badai di tengah laut sana. Berkali-kali lipat mengerikan.”




Saking lebatnya hujan yang mengguyur, air merembes masuk ke dalam tenda. Buliran-buliran air hujan di langit-langit tenda berjatuhan tak terbendung lagi. Tenda yang konon anti badai yang dipromosikan di toko outdoor sekarang diuji kualitasnya. Frame tenda meliuk-liuk, seakan-akan mau patah. Icow dan Eki berusaha menghalangi rentetan tetesan hujan. Sia-sia.

“Huh, dahsyat sekali hujannya,” ratap Eki.

“Ya, kenyataannya seperti itu,” ujar Icow sembari menyisir rambutnya yang basah dengan jari.

“Kau tampak tenang, Cow, tidak takut?” wajah Eki menandakan pertanyaan.

“Apa yang harus dikhwatirkan dalam hidup ini? Sakit, kematian, hidup, adalah rotasi kehidupan anak manusia. Silih berganti, jika bukan sekarang, ya, esok lusa. Namun, ada satu perbedaan dari pandangan anak manusia itu sendiri, yaitu memahami setiap kejadian secara berpikir radikal,” lanjut Icow, “apakah kita sadar, bencana alam yang sedang mengamuk akhir-akhir ini bukan campur tangan manusia? Belum tentu! Kerusakan darat dan laut yang dilakukan manusia menuai hasilnya. Gunung disembelih, dikeruk isinya, hutan digunduli, bumi dijarah sampai sedalam-dalamya. Daratan dikeruk membuat pulau di tengah laut, reklamasi. Pertambangan pasir di hulu-hulu sungai tanpa mengindahkan hukum alam, yang kemudian menjadi bencana banjir bandang.”

“Ya, betul-betul. Aku setuju,” Eki mengangguk, seperti murid yang disodori ilmu pengetahuan oleh gurunya.

“Jadi sekarang apa bisa kita bilang bahwa manusia itu mati karena bencana alam dari Tuhan?” Icow menatap lekat-lekat mata Eki, mereka saling terikat dalam pandangan, “secara tidak langsung, manusia membunuh manusia. Tepatnya manusia-manusia serakah alias pengusaha yang berselingkuh dengan penguasa, yakni pemerintah dan kroni-kroniya. Itu salah satu alasan, kenapa aku menentang keras perusakan alam yang dibalut dengan pembangunan untuk menumbuhkan perekonomian warga. Bulshitt. Sekarang siapa yang berani jamin atas keselamatan warga di pesisir pantai Kulonprogo yang sedang dibangun mega proyek NYIA?”

Lagi-lagi Eki hanya termangu. Membiarkan Icow terus bercerita di tengah hujan yang begitu lebat di luar. Setidaknya dengan obrolan itu, mereka lupa sejenak tumpahan air dari angkasa.

“Pemerintah seolah-olah mengedepankan ilmu pengetahuan, berpikir secara ilmiah. Tapi di saat disodorkan riset penelitian dampak bangunan NYIA yang memicu tsunami lebih cepat, pemerintah sendiri yang mengingkarinya. Coba jawab, cara berpikir seperti apa itu?” kata Icow lagi, “apakah mereka mampu membaca terjangan tsunami dari hasil simulasi yang dibuat mereka? Lupa mereka, seakan-akan alam bisa dibaca secara utuh.”

“Jadi, menurutmu suatu saat nanti akan terjadi tsunami di sana?” wajah Eki tampak takut membayangkan tsunami.

“Boleh jadi. Hasil penelitian menyatakan seperti itu. Di sana merupakan zona berbahaya, rawan gempa dan tsunami. Dan aku lebih percaya mulut ilmuwan daripada mulut pemerintah.”

Hujan belum juga berhenti, derasnya tidak berkurang. Ombak bergulung tinggi, menggelombang besar menerjang pulau. Berdebum dahsyat suaranya. Petir menggelegar yang disusul percikan kilat yang menerangi bumi beberapa detik. Anak manusia itu cepat-cepat menutup telinga dengan tangannya.




Ombak bergulung setinggi sepuluh meter menghantam Pulau Kalong. Dalam hitungan detik disusul dengan ketinggian dan besar ombak yang sama. Membuat delapan anak manusia terpental bersama tendanya. Jeritan di sana-sini tak terdengar lagi, tertutup suara gemuruh ombak yang menjadi-jadi. Air laut yang meluber ke daratan menarik beberapa orang di antara mereka. Uni dan Limo terseret arus ombak.

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini: 

Hidup-Mati Menyeberang Pulau Kalong



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas