Ilustrasi lidah buaya | Foto net

Oleh: Asmara Dewo

Rumah bercat kuning yang dikelilingi perkebunan lidah buaya yang subur itu ramai dikunjungi tamu. Tuan rumah, sibuk menyiapkan hidangan untuk tamunya. Icow, Eki, dan Anata, begitu antusias mendengar kisah anaknya, Allan, mempelopori budidaya lidah buaya di daerah mereka. Minuman segar dari tumbuhan sebangsa kaktus diseruput mereka, setelah tuan rumah mempersilahkannya.

“Wah, rasanya enak, seperti agar-agar,” seru Anata.

“Aku baru kali ini minum lidah buaya,” sambung Eki.

Icow manggut-manggut mencoba memahami rasa minuman yang sudah masuk ke tenggorokannya. Tuan rumah, suami dan istri itu begitu senang melihat tamunya memuji minuman produk mereka.

“Tambah lagi, Mas,” ucap ibu itu dengan ramah, “cicipi juga keripiknya.”

“Oh, iya, Bu, iya,” sahut Eki.

Tangan mereka sudah merobek bungkusan keripik lidah buaya.

“Renyah dan gurih,” ucap Anata. Matanya sempat terpejam sejenak.

“Iya. Tapi aku sulit mengungkapkan rasanya seperti apa, ya?” Eki bingung mendefinisikan keripik lidah buaya, “seperti apa rasanya menurut kamu, Cow?”

“Ah, aku bukan pecinta kuliner yang baik,” komentar Icow enteng.

Tuan rumah tertawa.




“Oh, itu anak saya, kalian bisa mengobrol langsung dengannya,” ujar bapak itu bangga menunjuk anaknya yang baru pulang.

Alan memarkir motornya di depan rumah. Terlihat seperti keranjang dari kain yang menggantung di jok belakang.

“Ada tamu ini, dari kampus,” kata bapak itu ke Alan.

Alan langsung menghampiri tamu yang sejak tadi menunggunya.

“Alan,” Alan memperkenalkan diri. Tangannya menjulur ke Icow, Eki, dan Anata, “dari mana, Mas? Mbak?”

“Dari kampus, Mas,” jawab Eki.

“Oh. Ada tugas dari kampus atau bagaimana?” tanya Alan yang sudah menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Ah, tidak, Mas, bukan tugas dari kampus, bukan juga program kampus. Kita inisiatif sendiri, Mas, mau belajar bercocok tanam saja,” jawab Eki seadanya.

Alan mengangguk, sudah terbiasa menghadapi berbagai tipe tamu dan tujuannya.

“Ya, ya… di sini memang baru kita buat wisata edukasi lidah buaya. Jadi akhir-akhir ini kami banyak kedatangan tamu dari berbagai daerah,” kata Alan.

“Mereka belajar langsung, Mas?” tanya Eki.

“Iya,” lanjut Alan lagi, “sebenarnya penanaman lidah buaya itu mudah, kok.”

Icow memperhatikan penjelasan Alan dengan takjim.

“Oh, iya, bagaimana cara penanamannya, Mas?” tanya Anata setelah keriukan terakhir dari mulutnya.

“Lidah buaya atau  aloe vera  itu kan tumbuhan bertunas, seperti nanas. Jadi penanamannya juga seperti nanas,” ujar Alan lagi, “yang diperhatikan jarak penanamannya, yaitu minimal 50 cm X 50 cm.”

“50 cm X 50 cm?” mata Eki menyipit.

“Iya, itu minimal. Tergantung luas lahannya, kalau memang lahannya luas maksimal bisa 100 cm X 100 cm, jadi dikondisikan saja,” Alan beranjak dari kursi, tangannya menunjuk tanaman lidah buaya di depan rumahnya, “nah, seperti itu. Karena lahannya sempit, jaraknya hanya 50 cm X 50 cm saja. Jarak itu sangat penting karena lidah buaya nanti daunnya mekar. Jadi harus diberi kelonggaran utuk pertumbuhan daunnya.”




Icow, Eki, dan Anata mengikuti Alan dari belakang. Mendengar setiap penjelasan dari sang pelopor lidah buaya di Jeruklegi, Gunungkidul.

“Mas, tanahnya seperti itu saja?” Icow akhirnya bersuara, “maksudnya apa tidak dibuat gundukan begitu? Seperti kebun cabe?”

“Bisa juga dibuat seperti itu. Kan tujuan dibuatnya gundukan agar menghindari air yang berlebihan. Kalau tanaman itu tergenang air pastinya rusak. Nah, lidah buaya juga begitu, bagus juga kalau dibuat gundukan. Kalau di sini tidak perlu, karena airnya langsung terserap tanah,” jawab Alan.

Tiga tamu itu mengangguk paham.

“Kalau pupuknya bagaimana?” tanya Icow lagi.

“Pupuk alami,” ucap Alan. Dia mengajak tamunya berkeliling, “karena lidah buaya ini untuk dikonsumsi, kesehatan, dan kosmetik, jadi kami tidak menggunakan pupuk kimia.”

“Seperti pupuk kompos, ya?” Eki memastikan.

“Ya, betul,” Alan tersenyum, “ngomong-ngomong, kalian mau menanam lidah buaya di mana?”

“Rencananya kami menanam di pesisir pantai Gunungkidul, Mas. Tepatnya di sekitar Pantai Jungwok,” kata Eki.

“Kebetulan di sana belum ada perkebunan lidah buaya. Bagus kalau kalian mau mempelopori di sana,” suara Alan terdengar kagum pada Eki.

“Kira-kira bisa tumbuh tidak, Mas, di sana?” tanya Icow.

“Lidah buaya ini sebenarnya jika kebanyakan air, seperti curah hujannya banyak, tidak bagus. Terlalu panas pun, lahan yang kering juga tidak bagus. Kalau di Gunungkidul bagian selatan itu kan lahannya tandus, bisa dibilang kekurangan air. Saya pikir bagus, saja, sih, yang penting di sekitar perkebunan ada sumurnya. Biar kalau di musim kemarau panjang, bisa disiram,” jelas Alan.

“Apakah harus rutin disiram air?” ucap Icow.

“Tidak juga. Maksud saya tadi kalau kemarau panjang, seperti tahun lalu, seminggu disiram dua atau sekali. Biar tidak kekeringan tanamannya. Itu saja, sih. Kalau musimnya normal, hujan sekali dalam seminggu, ya, tidak perlu disiram.”

“Hasil panennya dijual ke mana, Mas?” tanya Anata.




“Kami olah sendiri. Jadi konsep kami ini bersama warga sebenarnya bisnis dari hulu ke hilir. Yaitu bisnis yang menyediakan pembibitan, dan juga mengolahnya menjadi produk, dan dijual sendiri. Kalau mau dijual dalam bentuk daunnya, ya, tentu saja bisa, tapi kami tidak mau. Misalnya jika saya terima MOU dengan perusahaan farmasi dari Solo, jelas pelepah daun lidah buaya kami sudah ada yang menampung. Tentunya juga dengan harga yang tinggi,” kata Alan.

“Terus kenapa ditolak, Mas?” suara Icow terdengar penasaran.

“Wah, kalau saya terima, kasihan warga yang menanam lidah buaya, hasil panennya nanti banyak disortir. Ya, kita tahulah sangat ketat barang yang masuk ke perusahaan besar. Karena itu kami tidak mau bergantung dengan perusahaan,” jelas Alan.

“Oh, begitu. Mantap, Mas,” puji Icow. Jempolnya teracung. Eki dan Anata turut memuji Alan.

“Tapi kalau mau bekerjasama dengan mereka, saya bisa menghubungkan kalian,” ucap Alan. Alan kembali duduk di beranda rumahnya bersama tamunya setelah berkeliling di sekitaran rumah. “Silahkan diminum lagi,” Alan tahu tamunya masih ingin merasakan lagi minuman lidah buaya.

Anata menyengir, tanpa disuruh yang kedua kalinya, ia sudah menyerbu minuman dingin itu. Disusul Eki dan Icow.

“Kalau di kota, pasti laku ini, Mas,” kata Anata penuh keyakinan.

“Mudah-mudahan saja,” Alan mengamini ucapan Anata, “sekarang ini pemasarannya masih di sekitaran Gunungkidul saja. Saya juga sudah berpikiran untuk pemasaran di Kota Yogyakarta. Seperti acara kuliner di JEC, saya sudah mencoba memperkenalkan produk olahan lidah buaya di sana. Tanggapannya cukup bagus. Ya, mudah-mudahan bisa diterima oleh warga Kota Yogyakarta.”

“Mantap-mantap, Mas,” suara Eki memuji.

Mereka terus mengobrol panjang lebar, mulai pahitnya perjuangan Alan untuk meyakinkan ke warga, sampai didampingi berbagai institusi pemerintahan dan swasta.

“Semua ini dilakukan semata-mata untuk pemberdayaan warga di sini,” kata Alan lagi, “ya, harapannya lidah buaya bisa menjadi solusi bagi warga Gunungkidul.”

Icow menyetujuinya, dia juga berpikir apa yang dicita-citakan Alan dan dirinya sama, yaitu perjuangan untuk warga Gunungkidul.

***

“Bagaimana kabarnya, Mbah?” Ali menyalami Mbah yang usianya sekitar 70 tahun. Pati dan Salman juga turut menyalaminya. Bergantian, penuh dengan kesopanan. Di kediamannya, tempat tinggal yang sederhana itu disulap menjadi tempat parkir wisata yang hendak ke Pantai Greweng, Sedahan, dan Dadapan.

Di sebelah tenggara tampak kebun kacang tanah yang menghijau subur. Di pinggirannya juga ditanami pisang. Ada juga laos, cabe rawit, dan berbagai tanaman untuk bumbu-bumbu dapur.

Sedangkan di bagian utara, terdapat kandang ayam, lengkap dengan jaring lebar yang dikembangkan agar ayam-ayam di sana tidak kabur. Menggantung pula jagung-jagung yang sudah kering sebagai makanannya.




Beberapa bule berboncengan di jalan turunan menuju Pantai Jungwok. Beberapa menit kemudian tampak pula rombongan dari mobil. Lagi, kali itu rombongan dengan motor, muda-mudi, sepertinya mereka ingin camping. Terlihat tenda dan carier besar di punggung.

“Parkir Greweng! Parkir Greweng!” si Mbah berseru di sela obrolan.

Mbah masih bertanya-tanya siapa gerangan tamunya itu, yang seolah-olah sudah akrab dengan dirinya. Melihat wajah mbah lupa kepada Ali, dia pun berusaha mengingatkannya.

“Saya, Ali, Mbah, yang sering parkir di sini,” ucap Ali dengan logat Jawa, “ini Salman, dan sebelahnya, Pati.”

Si mbah berusaha mengingat-ingat wajah Ali dan kawan-kawannya. Sambil manggut-manggut, wajahnya melemparkan senyum yang melihatkan beberapa giginya yang masih utuh.

“Oh, Mas Ali… iya.. iya, Ali,” ucap mbah dengan ramah, “bagaimana kabarnya?”

“Alhamdulillah sehat, Mbah,” jawab Ali.

Untung saja belum pikun, kalau sudah repot juga urusannya, batin Pati.

Ali mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sekotak bika ambon yang sempat dibelinya di kota, ia tahu mbah tidak bisa mengunyah makanan yang keras.

“Ini, Mbah, ada oleh-oleh sedikit,” ucap Ali.

“Eh, apa ini?” Mbah terkejut dibawakan bingkisan.

“Untuk, Mbah,” Ali menegaskan.

“Oh, iya-iya, terimakasih, lho,” Mbah senang. Wajahnya memancarkan persahabatan, dia buru-buru ke belakang, “kita makan sama-sama,” dia tertawa.

“Nyaman juga di sini,” kata Salman.

“Iya, sepertinya kita akan sering ke sini,” sahut Pati.

“Mudah-mudahan saja,” timpal Ali, “ya, kalau mbah tidak keberatan dengan maksud kita.”

Beberapa menit kemudian mbah tergopoh-gopoh membawakan potongan bika ambon dan seceret kopi panas. Ali refleks membantu mbah.

“Makan rame-rame itu lebih enak,” ucap Mbah, “ayo makan! Makan!”

“Siap, Mbah!” serempak Pati dan salman menyahut.

“Oh, ya, Mbah… Mbah di sini sendiri? Tanya Pati di sela kunyahannya. Disusul sesapan kopi panas yang masih mengepul.

“Sama mbah perempuan, tapi mbah perempuan lagi di rumah, ada pesta tetangga,” jawab mbah.

Pati ber-oh.




“Hm, berarti mbah di sini juga tidurnya?” kali ini Salman yang bertanya.

“Ya, iya, kalau ditinggal siapa yang tungguin Parkiran Mbah Soro?” si mbah terkekeh. Beberapa giginya yang ompong terlihat jelas.

Yang mendengar juga ikut tertawa.

“Masnya kuliah di mana?” tanya mbah.

Bintang inspirasi

Ali menjawab apa adanya, sembari menunjukkan korsa yang membalut tubuhnya.

“Yang dekat Pasar Ngasem itu, lho, Mbah,” Pati bantu menjawab.

“Oh, iya-iya,” Mbah mengangguk-angguk, “kuliah ambil jurusan apa?”

“Kami semua ambil hukum, Mbah,” kata Ali.

“Oh, mantap,” jempol mbah teracung, “biar jadi pengacara hebat!”

“Amin… terimakasih, Mbah,” ujar Salman.

Mata Ali menyapu tanaman di sekitar, mencoba memahami tanaman dan tanah di sana. Dia berdiri, berjalan mendekati tanaman kacang yang umurnya sekitar sebulan.

“Subur, ya, Mbah, kacangnya,” kata Ali.

“Ya, begitu,” kata mbah, dia pun menyusul Ali.

“Lahannya Mbah selain ditanami kacang, ditanam apa lagi?”

“Padi,” kata mbah.

“Hasilnya bagaimana, Mbah?” tanya Salman yang sudah ada di belakang mereka.

“Lumayan. Tapi, ya, cuma untuk dimakan sendiri saja.”

Mereka kembali duduk, menikmati kopi yang masih hangat dan bika ambon yang legit. Bercerita banyak hal, tentang pertanian di sana, nelayan, cuaca, pengunjung wisata, dan lain-lain. Sesekali mereka terkekeh, dibuat guyonan ala mbah.

“Begini, Mbah, sebenarnya kami ingin belajar bertani sama Mbah,” Ali memulai maksudnya, “ya, kami sebagai mahasiswa bosan juga belajar di kelas. Makanya kami ingin belajar langsung, belajar bertanam.”

Mbah menyimak, mendengarkan setiap kalimat yang disampaikan Ali.




“Rencananya kami ingin menanam lidah buaya,” Salman turut menjelaskan.

Tatapan mbah berpindah ke Salman.

“Hanya saja kami belum ada pengalaman bertani sama sekali. Karena itulah kami mau belajar sama mbah untuk menanam lidah buaya,” Salman melanjutkan penjelasannya, “kami juga tidak punya lahan di sini.”

Pati hanya memerhatian obrolan serius tersebut. Berdoa di dalam hati, sembari memegang kalung hitam yang menggantung di lehernya. Semoga mbah mau, doa Pati di dalam hati.

“Kalau di Gunungkidul, di daerah Jeruklegi, Nglipar, sudah dicoba di sana. Hasilnya bagus, lidah buayanya tumbuh subur. Nah, kami ingin coba tanam lidah buaya di daerah sisni, mana tahu tanahnya bisa cocok dengan lidah buaya,” terang Ali ke mbah.

Mbah diam sejenak, keningnya tampak berkerut. Mencoba mencerna semua penjelasan yang disampaikan tamunya. Pati cemas, menunggu respon si mbah. Yang lain juga tidak sabar menunggu jawaban mbah.

“Lidah buaya itu apa?” tanya Mbah polos diiringi senyuman.

OMG, mbah tidak tahu lidah buaya, ucap Pati di dalam hati. Kemudian dia buru-buru menunjukkan gambar lidah buaya di handphone.

“Lidah buaya seperti ini, Mbah,” Pati memberikan handphone-nya ke mbah.

“Oh…” lanjut mbah lagi, “ini tananaman dilarang pemerintah tidak?”

Pati menahan tawanya. Ali buru-buru memberi kode dengan pandangan serius.

“Tidaklah, Mbah, mana mungkin juga kami menanam yang dilarang pemerintah. Begini-begini, kami mahasiswa hukum, lho, Mbah,” kata Ali, tawa kecilnya memancing mbah. Mbah pun ikut tertawa.

“Ya, mana tahu. Mbah kan tidak tahu yang begituan,” sambung mbah lagi, “yang mbah tahu tanam padi, tanam kacang, tanam jagung.”

“Nah, kira-kira, Mbah ada lahan tidak yang bisa ditanami lidah buaya?” tanya Ali langsung.




“Oh, ada,” cepat mbah merespon, “itu di sana, bisa ditanami lidah buaya,” telunjuk mbah mengarah lahan yang kosong. Kalau kurang, tanaman kacangnya bisa diganti dengan lidah buaya. Atau di lahan mbah yang lain.”

Tergurat senyum di wajah Ali, Pati, dan Salman. Tanda-tanda kabar baik sudah di depan mata.  

“Bibit lidah buayanya dari mana?” tanya Mbah.

“Soal bibit kami yang urus. Sekarang kawan kami sudah survei langsung ke Jeruklegi. Jadi Mbah tenang saja, mbah cukup sediakan lahannya. Yang lainnya biar kami yang kerjakan.” ujar Ali lagi, “Kan kami mau belajar bertani seperti mbah,” Ali tertawa kecil di ujung kalimatnya.

“Kalau mbah, biasanya pakai pupuk apa?”

“Kalau mbah biasa pakai pupuk TSP,” jawab mbah ke Salman, “seperti itu!”

Ali mendekati tumpukan pupuk di pojok parkiran. Katanya, “Pupuk kimia, ya?”

Mbah tidak terlalu paham soal pupuk kimia atau sejenisnya.

“Kalau untuk lidah buaya, harus menggunakan pupuk organik, Mbah, karena untuk dikonsumsi dan bahan-bahan obatan juga,” kata Salman.

“Pupuk organik itu seperti pupuk kandang?” Mbah memastikan.

“Betul, Mbah,” sahut Ali. Lanjut dia lagi, “kalau di sini di mana, ya, Mbah, cari pupuk kandang?”

“Oh, kalau pupuk kandang, mbah punya kandang kambing. Bisa digunakan jadi pupuk.”

“Wah, mantap, Mbah,” Pati berseru girang.

Mereka terus mengobrol sampai semburat jingga matang. Perlahan matahari tenggelam di garis cakrawala. Laut Selatan dari kejauhan seperti lukisan tangan dari sang maestro. Tenang. Menyimpan teka-teki. Sumber kehidupan pula bagi warga pesisir yang menyambungkan hidupnya di sana.

“Mbah, kami pamit pulang. Secepatnya kami ke sini lagi,” kata Ali, tangannya menyalami mbah. Salman dan Pati mengikuti.

“Oh, iya, nanti mbah kenalin sama anak mbah,” kata mbah, “yang penting niatnya baik. Jujur. Tidak macam-macam.”

Mereka bertiga mengangguk. Memasang wajah penuh hormat, penuh penghargaan.

“Terimakasih banyak, Mbah.” sekali lagi Ali mengucapkan rasa terimakasihnya ke mbah.

“Iya. Hati-hati di jalan.”

***

Bersambung… [Asmarainjogja.id] 

Baca cerita sebelumnya: 

Revolusi Gaya Hidup

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas