Rocky saat di tanjakan menuju Hutan Pinsu Manguann | Foto doc. pribadi

Asmarainjogja.id-Saya lupa bahwasanya tidak ada kelas di hari Selasa ini, karena dosennya meliburkan dan meninggalkan tugas untuk kami. Padahal saya sudah siap-siap berangkat ke kampus. Jadi untuk mengisi kekosongan di pagi hari sampai siang, saya putuskan untuk mencicil target petualangan bersepeda. 

Seperti pada tulisan saya sebelumnya, target dekat dalam waktu ini adalah ke Wonosari (Gunungkidul), Hutan Pinus Mangunan (Imogiri)-Bukit Bintang, Borobudur (Magelang), Gunung Merapi, dan Solo. Maka saya awali rute-rute tersebut dari Hutan Pinus Mangunan.

Jarak tempuh dari kos saya, yakni Banyuraden ke Hutan Pinus Mangunan sekitar 28 KM. Tidak terlalu jauh memang, hanya saja karena jalannya seperti naik ke puncak gunung, jadinya petualangan bersepeda kali ini sangat mengesankan. Mengesankan karena tenaga benar-benar dikuras dan menegangkan.

Sepanjang jalan tidak ada halangan apapun, seperti biasa. Mentari pagi pukul delapan tidak begitu cerah, hilir mudik kendaraan lancar tanpa hambatan. Dan pada pukul sepuluh, surya pun mulai cerah.

Rute yang saya ambil dari Ringroad Selatan-Jln. Imogiri Timur, lalu menuju ke Mangunan langsung. Sebagai informasi, di yogyakarta ini sepeda masih menjadi salah satu kendaraan primadona. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, orangtua, dan juga mbah-mbah.

Anak-anak Yogyakarta memanfaatkan sepeda untuk sekolah dan bermain. Remaja untuk aktivitasnya ke kampus dan olahraga, sama halnya dengan orang dewasa. Sedangkan mbah-mbah sepeda sebagai kendaraan sehari-hari dalam kegiatannya. Sebenarnya tidak mbah-mbah saja, masih banyak juga bapak-bapak atau ibu-ibu yang memanfaatkan sepeda sebagai transportasi utama mereka, seperti untuk bekerja, atau yang lainnya.




Nah, karena selalu ramai di jalanan warga yang menggunakan sepeda, menjadikan saya lebih semangat lagi membudayakan bersepeda ria. Selain untuk olahraga, juga tidak beli bahan bakar, dan tentunya bebas parkir. Meskipun ada juga petugas parkir di warnet yang memintanya, mulai dari seribu sampai dua ribu. Sebenarnya kesal, tapi malas saja debat sama warga kecil. Tapi, ya, begitu, terkadang masih saja ada warga kecil yang gemar mengisap warga kecil.

Baiklah, kembali ke petualangan. Hal yang paling berat di petualangan kali ini saat tanjakan menuju wisata di daerah Mangunan. Oh, my God, baru kali ini juga saya benar-benar keletihan dan lemas. Semua ini mengingatkan saya bagaimana serunya naik gunung.

Soal latihan fisik, naik gunung dan sepeda itu tidak jauh berbeda, sama-sama melatih yang berfokus pada otot kaki. Jadi karena saya tidak mampu mendayung lagi, terpaksa saya dorong sepeda di sepanjang tanjakan. Jika ada jalan yang sedikit datar saja, langsung saya kayuh.

Karena sudah memasuki kawasan dataran tinggi, terik panas tidak begitu menyengat. Meskipun saya juga berkali-kali istirahat saat tak kuasa lagi mendorong sepeda. Saya juga sempat berpikir, apa salah rute, seharusnya dari Piyungan, Bukit Bintang, baru ke Hutan Pinus Mangunan. Nah, saya malah sebaliknya.

Saya lihat pesepeda lain malah turun, bukan naik. Mereka juga sempat membunyikan bel sepedanya dan menegur dengan kecepatan tinggi saat turunan. Sedangkan saya malah loyo dorong-dorong sepeda di tanjakan yang sangat panjang. Tidak percaya? Boleh dicoba, deh?!

Ingin rasanya membalikkan sepeda lalu menuruni tantangan seperti pesepeda tadi. Tapi tidak mungkin, target saya jadi gagal nanti. Ya, paling tidak punya pengalaman bagaimana bersepeda di rute yang sangat kejam ini.

Tenggorokan sudah kering, keringat pun bercucuran di seluruh tubuh, tenaga hampir habis, untungnya sudah ada warung. Pas, untuk memulihkan tenaga dan melepaskan dahaga.

“Sendiri saja, Mas? Temannya mana?” tanya ibu pemilik warung.

“Iya, Bu, sendiri saja,” saya mengambil sebotol air mineral 600 mil “oh, iya, air mineralnya berapa?”

“2.500,” jawabnya.




Saya senang dengan pedagang yang tidak mengambil banyak keuntungan dari hasil dagangannya. Tidak seperti pedagang lain yang suka ambil keuntungan yang begitu besar, memanfaatkan waktu dan melihat-lihat dulu siapa pembelinya.

Di warung itu saya sempat berhenti beberapa menit, minum, meregangkan otot, dan membalas pesan teman-teman yang penasaran. Bagus, sih, kalau teman-teman penasaran, mereka juga bisa melihat dan membaca bagaimana serunya bersepeda. Ya, kalau mereka ingin bersepeda juga, bolehlah ke Wonosari.

Setelah merasa fit, saya kembali lagi mengayuh sepeda. Jelang beberapa meter roda berputar, eh, sudah jumpa lagi tanjakan. Lagi-lagi saya turun, dan mendorong si Rocky (nama sepeda saya). Nama Rocky saya pilih, karena cocok buat penyuka olahraga di bebatuan, tebing, dan gunung. Harus diakui pula, saya belum penah menjajal di medan tempur seperti itu. Tapi di lain waktu pasti saya coba.

Selain itu untuk mengabadikan nama mantan dosen filsafat UI, Rocky Gerung, yang sekarang populer menjadi pengamat politik. Uniknya atas pengakuannya, sembari bercanda di teve, dia katakan mengamati politik itu hanya sampingan, pekerjaannya adalah mendaki gunung.

Tak heran juga karena kecerdasan dan ilmu pengetahuannya, tersebar di internet guyonan “no Rocky, no party”. Pencerahan Rocky gerung dalam mengkritisi pemerintah selalu ditunggu-tunggu oleh netizen dan pemirsa di layar kaca. Saya sendiri lebih termotivasi lagi belajar filsafat karena Rocky Gerung.

Tak terasa saya sudah sampai di Rumah Hobbit, Seribu Batu. Di tepi jalan menuju masuk wisata ada gajebo untuk peristirahatan. Nah, di situlah saya kembali istirahat karena benar-benar letih. Saya baringkan tubuh dan luruskan kaki, kemudian menikmati semua petualangan ini.

Teman-teman cukup kaget bagaimana kegilaan saya bersepeda sampai sejauh ini. Padahal sebenarnya, pesepeda lain bahkan lebih gokil nan gila lagi. Mereka yang tergabung di komunitas sepeda, bahkan ada yang touring dari Solo ke Jakarta. Orang luar negeri malah lebih edan, bersepeda menempuh 145.000 KM.

Itu kalau mau dibandingkan dengan mereka yang penggila sejati sepeda. Jadi petualangan saya belum ada apa-apanya. Aihhh, masih puluhan KM saja, malu sebenarnya menuliskan pengalaman ini, hanya saja karena saya gemar menulis, mau tidak mau ini akan diabadikan.

Jarak antara Rumah Hobbit dan Hutan Pinus Mangunan mungkin sekitar 300 meter saja. Artinya tujuan pertama saya hampir selesai. Karena lagi-lagi menghadapi jalan yang menanjak, terpaksa Rocky saya dorong terus.

Rocky di Hutan Pinus Masngunan

Rocky di Hutan Pinus Masngunan | Foto doc. Pribadi

Ternyata mengayuh sepeda di antara pepohonan pinus yang rindang itu sangat menyenangkan. Apalagi udaranya begitu sejuk menerpa wajah yang berkeringat. Sesampai di Hutan Pinus Mangunan, Rocky saya abadikan lagi melalui foto. Saya juga tidak perlu masuk ke wisata, karena sebelumnya saya juga sudah berkali-kali berkunjung ke sana.

Jalan selanjutnya mulai bersahabat, saya sudah menemukan jalanan yang menurun. Itu menjadi bonus setelah sekian lama mendorong sepeda. Saat melewati turunan, itu hal yang paling saya senangi bersepeda, bukan karena tidak mengayuh lagi, tapi sensasi kecepatan sepeda yang saya kendarai. Pastinya pula harus lebih hati-hati pada kecepatan yang seperti itu, sebab benar-benar berbahaya.

Setiap bersepeda, ada hal yang tak pernah saya lupakan, yaitu makan buah yang bisa di beli di sepanjang jalan. Ketepatan kali ini saya menjumpai buah rambutan di warung di Dusun Sendangsari. Tak pikir panjang, saya beli rambutan itu dengan harga lima ribu rupiah.

Satu ikat rambuatan itu saya lahap sampai habis. Untuk menjaga rasa haus itu memang cukup baik dari buah-buahan, maka saya lebih memilih buah daripada minuman dingin seperti softdring.

Bale-bale tempat istirahat harus ditinggalkan, selanjutnya perjalanan menuju Bukit Bintang yang harus ditempuh. Menuju ke sana, jalanan turun-naik. Jadi masih seperti yang sebelumnya, mengayuh dan mendorong lagi. Hingga sampailah di daerah wisata Watu Amben. Jalanan sudah mulai menurun hingga ke jalan raya.




Watu Amben sebenarnya tak jauh berbeda dengan Bukit Bintang, di sana juga terdapat kafe atau warung-warung yang menghadap ke pemandangan. Hanya saja wisata ini kalah populer dengan Bukit Bintang yang berada di tepi jalan raya.

Sepeda Rocky

Rocky di Bukit Bintang | Foto doc. pribadi

Tak terasa, tujuan kedua sudah berakhir, saya berada di Bukit Bintang pada siang hari. Andai malam hari, pastinya pemandangan akan lain, kerlap-kerlip lampu perkotaan Yogyakarta begitu indah terlihat dari sana. Berhubung karena siang hari, pemandangannya jadi biasa saja. Ya, seperti pemandangan dari bukit melihat dataran rendah.

Nah, selanjutnya inilah petualangan yang sangat seru, yakni “bergelinding” di turunan sampai berkilo-kilo meter. Karena berada di perbukitan, Yogyakarta sendiri jauh berada di bawah sana. Rem depan dan belakang saya mainkan, agar tidak meluncur cepat di turunan. Sebab bisa saja kendaraan yang berada di bawah merem mendadak di tikungan.

Menyaksikan jalan ini saya jadi berpikir ulang bagaimana nanti kalau bersepeda ke Wonosari. Uihhh… tentu ini akan lebih berat lagi, mendorong Rocky sepanjang tanjakan.

Tiba di kos pukul 15:45. Hampir seharian saya berolahraga gila dengan sepeda. Tak kuasa melihat kasur, saya rebahkan tubuh ini untuk istirahat sampai maghrib. Itulah petualangan bersepeda saya, di lain waktu saya akan menuntaskan rute berikutnya. [Asmara Dewo]

Baca juga: 

Bertualang dengan Sepeda

Uni, Rubah, Beldu, dan Icow



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas