Kalah dengan jip di lereng Merapi | Foto doc. Pribadi

Asmarainjogja.id -- Wisata Merapi merupakan salah satu tujuan para pesepeda untuk melampiaskan hasrat petualangannya. Hal itu disebabkan karena lokasi tersebut mampu memompa adrenalin dalam petualangannya. Tak hanya soal trek yang begitu mencekam, tapi pemandangan yang disuguhkan begitu memesona bagi mata yang menatapnya.

Kita juga akan tertantang berlomba-lomba dengan jip wisata tour Merapi di sepanjang jalan. Puluhan jip berlalu-lalang di sana tentu akan membuat para pesepeda lebih tertantang lagi untuk mengayuh sepedanya. Terlebih lagi pada akhir pekan, ramainya lokasi Gunung Merapi bisa membuat kita tidak merasa kesepian ketika bertualang seorang diri. 

Dari tempat tinggal saya, di Banyuraden, setidaknya jarak tempuk berkisar 29 KM. Tidak terlalu jauh memang, hanya saja di sekitaran jalan Kaliurang atas, jalannya sudah menanjak. Dan itu membuat tenaga kendur. Saya sendiri berkali-kali berhenti mengatur napas dan mengistirahatkan otot-otot kaki yang mulai tegang. Sembari menyejukkan tenggorokan dengan kelapa muda dan kacang rebus.

Pengalaman bersepeda kali itu cukup mengesankan, sebagaimana pengalaman bersepeda ke Imogiri beberapa pekan lalu. Rute ke Merapi merupakan list petualangan sebelum bersepeda ke Semarang pada lusa nanti. Karena seperti yang sudah saya utarakan, ada rute yang harus dilewati terlebih dahulu. Nah, rute yang belum dilewati adalah Magelang (Borobudur), Surakarta (solo), dan Wonosari (Gunungkidul). Ketiga lokasi itu tujuan berikutnya.



Belajar menjadi petualang sepeda memang tidah boleh gegabah, harus dicicil dengan jarak tempuh yang dekat dan masih bersahabat. Oleh sebab itu pula latihan fisik dan mental semestinya diasah terus sampai pada waktu yang tepat untuk eksekusi petualang yang paling menantang.

“Kawan yang lain mana, Mas?” tanya bapak penjual kelapa muda.

“Saya sendiri saja, Pak,” sahut saya sambil merasakan segarnya kelapa muda pilihan.

“Mau sampai Merapi nanti, Mas?” tanya bapak itu lagi.

“Ya, semampunya, Pak,” jawab saya pesimis melihat tanjakan yang begitu panjang, “kalau hari Minggu ramai, Pak, yang bersepeda ke sana?”

“Oh, kalau hari Minggu ramai, Mas.”

Oke, saya memang selalu salah hari dalam setiap petualangan. Dalam menjadwalkan hobi saya yang baru ini memang tidak bisa membuat jadwal rutin. Sebabnya setiap hari Minggu saya harus berjualan hijab di Sunmor (Sunday Morning) UGM, jadi saya hanya bisa bersepeda ketika waktu luang saja.

Setelah kacang rebus di hadapan saya habis, dan air kelapa muda mengering, petualangan kembali dilanjutkan. Jelang beberapa kilometer saja saya kembali beristirahat. Ternyata bersepeda dengan rute menanjak panjang itu benar-benar melelahkan. Saya tersungkur lemas.

Ritemenya Begitu terus. Dayung sampai beberapa kilometer kalau sudah lemas saya istirahat. Dan sampailah di sekitar Pakem, saya benar-benar pakai tenaga cadangan, yakni mendorong sepeda sampai jalan cukup datar.

Menuju ke lembah Merapi saya mengambil jalur Cangkringan, karena jalan di sana pemandangannya cukup bagus. Beberapa petak sawah hijau yang menyejukkan mata menjadi penyemangat bahwa Yogyakarta masih nyaman. Dan semoga saja begitu. Ya, kesuburan alam yang dinilai dari sawah menjadi tolak ukur bagi saya pribadi, masih adanya keramahtamahan manusia terhadap alamnya.

Bayangkan saja jika perlahan-lahan lokasi persawahan habis. Maka Yogyakarta akan mengalami masa-masa suram, karena warga Yogyakarta cukup banyak yang masih menggantungkan diri dengan sawah. Terlebih lagi sawah adalah sumber kehidupan, petani adalah produsen utama dalam kehidupan, begitu kata Soesilo Toer (adik sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer). Karena mereka menanam dan menghasilkan yang bisa dikonsumsi langsung.

Di jalan saya juga sering iseng terhadap anak-anak yang bermain sepeda. Saya buat mereka iri, “Ayo balap-balapan!”, biasanya mereka hanya menjawab dengan tertawa kecil yang melihatkan giginya belum tumbuh merata.



Entah kenapa saya terlalu senang melihat anak-anak bermain dengan sepeda daripada bermain di depan game seperti di smartphone atau playstation. Meskipun saya kecilnya juga senang bermain game. Tapi tidak melulu dengan game yang seperti itu, bertualang berjalan kaki menelusuri sawah dan rimba itu lebih menggoda daripada main game di rumah.

Sekarang anak-anak lebih gemar main game daripada bertualang. Apakah karena perubahan zaman teknologi yang demikian itu? Boleh jadi. Hanya saja pengalaman di masa anak-anak itu tentu sangat baik untuk pertumbuhan dan memahami tantangan di masa dewasanya.

Di saat mendayuh sepeda seorang diri, kita bisa mengevaluasi dan mengaitkan segala persoalan kehidupan pada waktu yang bersamaan. Bahasa saya mengatakan bersepeda juga menjadi refleksi diri untuk evaluasi kehidupan. Apa yang sudah saya lakukan? Apa kekeliruan yang sudah saya lakukan? Jadi solusinya seperti apa? Selanjutnya bagaimana? Beberapa soal evaluasi diri itu pelan-pelan bisa kita jawab sembari mengayuh sepeda.

Bersepeda ke Merapi

Medan di Lereng Merapi | Foto doc. Pribadi

Jadi bersepeda itu tak hanya olahraga fisik saja, tapi juga olahraga otak yang bisa menghasilkan pikiran-pikiran baru untuk menempuh hidup yang lebih baik lagi. Ini bukan sok bijak atau apapun namanya, namun berbagi pengalaman saat bersepeda tak ada salahnya untuk disampaikan di catatan kecil petualangn ini.

Menuju lokasi Kali Adem, saya sempat berpikir untuk menikmati Kopi Merapi yang cukup populer di wisata pegunungan tersebut. Berhubung waktu yang sempit, takut kemalaman sampai di Yogyakarta, saya hanya menyimpan keinginan itu di kemudian hari saja. Dan roda sepeda saya terus melaju ke Stonehenge dan The Lost Castle. Menuju ke sana jalannya sangat ekstreme, turunan dan bebatuan. Sampai-sampai lengan saya bergetar keras menahan stang, rasanya seperti disetrum berulang-ulang.

Sepeda ke merapi

Jalan terjal di lereng Merapi | Foto doc. pribadi

Saya berlanjut ke arah Kopeng, tidak melewati Kali Adem, karena di daerah pegunungan penglihatan sudah semakin gelap. Apalagi saat itu cuaca agak berkabut, saya juga tidak bisa melihat bagaimana perkasannya Gunung Merapi dari lerengnya. Belum beruntung, mungkin petualangan berikutnya, bersama Rocky berfoto berlatar Gunung Merapi yang begitu gagah.

Oh, iya, Rocky adalah nama sepeda saya yang di sematkan beberapa pekan lalu saat menanjak ke Imogiri.

Sensasi bersepeda puncaknya bagi saya saat ini adalah bagaimana serunya meluncur kencang di turunan panjang sampai berkilo-kilo meter. Tidak capek-capek lagi mengayuh, dan hanya fokus pada kestabilan tubuh, erat memegang stang, dan bermain rem untuk jaga-jaga. Turunan di Kopeng itu bisa membuat sepeda saya kencang sampai 70 KM/Jam, kalau saya tidak keliru mengiranya. Mungkin juga bisa lebih.

Jalanan turunan itu cukup panjang, rasanya terbayar lunas ketika mengingat bagaimana letihnya mendorong sepeda beberapa jam lalu.

Seperti biasa, saya selalu tergoda melihat penjual buah-buahan di pinggir jalan. Menjilati mangga dan dengan rakusnya mengunyah semangka menjadi cemilan tambahan pada petualangn kali itu. Setidaknya vitamin di buah itu bisa mengembalikan energi yang sempat hilang. Maghrib mulai mendekat, setelah puas beristirahat, Rocky saya kayuh lagi sekencang-kencangnya.

Tunggu petualangan selanjutnya, ke Wonosari, Magelang, dan Surakarta. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Bertualang dengan Sepeda 

Bersama Rocky ke Hutan Pinus Mangunan dan Bukit Bintang 





Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas