Ilustrasi novel | Flickr

Oleh: Asmara Dewo

Menyesap kopi jos ala angkringan di tepian Kali Code menjadi lokasi favorit kaum muda Yogyakarta. Kopi hitam yang ditambah dengan arang membara menjadi minuman khas angkringan di sana. Malam yang dingin, menjadi pasangan hangat si penikmat kopi. Apalagi ketika seruputan pertama yang terisap ke tenggorokan begitu nikmat terasa. Lagi dan lagi, kafein dari kopi ingin dihabiskan seketika. Namun, gaya penikmat kopi perlahan merasakan semua itu.

Icow memandangi kereta yang berlalu lalang di atas jembatan. Uni tengah sibuk posting foto di Instagram mengabarkan keseruan mereka. Sesekali pesawat melintas di atas kepala berlatar kerlap-kerlip bintang. Bulan yang terang benderang menyempurnakan malam syahdu Icow dan Uni di sana.

“Kota Yogyakarta selalu indah,” puji Uni. Lirih suara itu terucap.

“Ya. Yogyakarta memang indah, apalagi di malam hari.” Sahut Icow.

Kopi jos diseruput Uni perlahan, gelasnya menggantung di depan dadanya. Menatap satu pandangan dengan Icow. Kereta api berlahan bergerak. Penumpangnya penuh, terlihat dari terangnya lampu di dalam kereta itu.

“Eh, iya, seingat aku kampung kamu di Bukittinggi, bukan?” tanya Icow. Ia menolehkan wajahnya ke Uni.

Uni mengangguk, “Iya. Kenapa?”

“Memastikan saja. Hehehe,” tawa Icow terdengar pelan. Kata dia lagi, “bagaimana suasana Bukittinggi saat malam hari?”

“Indah. Tak kalah indah dengan Yogyakarta,” ujar Uni dengan nada membanggakan kota kelahiran orantuanya.

“Ah, masa?” Icow tak percaya begitu saja. Dia membetulkan posisi duduk. Bersila.

“Betul, lho.”

“Karena ada Jam Gadang?” Icow menyelidik.




“Salah satunya. Masih banyak lagi, Cow, yang bisa ditangkap dengan panca indera kita. Keindahan Bukittinggi, udara yang sejuk, alamnya, orang-orangnya yang khas, dan dua gunung yang menjulang tinggi tepat di hadapan Kota Bukit Tinggi,” beber Uni memuja-muji Bukittinggi.

“Bentar-bentar. Kamu bilang sejuk tadi. Sejuk atau dingin?” Icow mengoreksi kalimat Uni, “aku pernah baca artikel wisata, kata penulis itu Bukittinggi sangat dingin. Dalam tulisannya itu dia juga bilang, saking dinginnya seminggu hanya mandi 3 kali.”

Uni tertawa terbahak-bahak.

“Eh, kenapa tertawa?”

“Sejuk bagi warga Bukittinggi. Dingin bagi pengunjung.”

“Oh, beda, ya?” Icow kemudian tertawa. Lanjut dia lagi, “traveler yang menulis tentang Bukittinggi itu juga menceritakan, kalau malam hari pada suhu normal bisa mencapai 17 derajat selsius. Betul?”

“Ya.” kata Uni mantap.

“Cukup dingin kalau begitu.”

“Sepertinya,” mata Uni menyipit menatap Icow serius, “tumben kamu tanya-tanya Bukittinggi?”

“Mendadak saja muncul di pikiranku bagaimana Kota Bukittinggi itu. Ya, mungkin karena baca artikel wisata beberapa hari yang lalu,” ujar Icow.

“Oh.” Uni menganguk-angguk, bibirnya meruncing. “Di sana juga masih ada rumah Mohammad Hatta terawat dengan baik.”

“Hmm… iya-iya,” tanya Icow kemudian, “bagaimana kalau mendaki gunung di sana?”

“Aku juga belum pernah mendaki gunung di sana. Mungin kita bisa mendaki bersama?”

“Boleh.”

Icow mengosongkan kopi dari gelasnya. Tangannya mengambil sesuatu dari saku. Uni seakan tahu apa yang hendak dilakukannya. Merokok. Satu hal yang tidak disukai Uni dari tabiat Icow akhir-akhir ini.

“Kamu mau merokok?” wajah Uni tampak tak senang.

“Ya. Sejak tadi kutahan terus,” Icow membakar rokok kreteknya.

Uni yang merasa terganggu dengan kepulan asap langsung menjaga jarak.

“Kamu duduk di sana? Atau aku yang ke sana?”

“Maaf-maaf. Biar aku saja yang duduk di sana,” Icow beranjak dari duduknya. Menjauhi Uni beberapa meter.




Uni mengambil hape, menyibukkan diri dengan media sosialnya, Instagram. Mengacuhkan Icow yang tak jauh darinya. Icow sendiri diam, lebih tepatnya melamun. Memikirkan sesuatu, yang selama ini menganggu pikirannya, tentang Ana. Dia sudah pergi, tapi kenapa wajahnya terus terbayang, bathin Icow.  Ana… Ana... nama itu disebut-sebut.

Beberapa menit mereka tak berbicara. Padahal sebelumnya seru sekali mengobrolkan Kota Bukittinggi.

“Hei, pujangga!” teriak Uni.

Icow sempat kaget diteraiki Uni, “Oh, iya. Apa?” sahut Icow gelagapan.

“Melamun di tengah keramaian begini?” Uni mendekati Icow. Duduk di sampingnya.

“Bukankah kamu lebih senang kita berjauhan begini?”

“Ya, kalau kamu merokok. Tapi kan sekarang rokok kamu sudah habis,” Uni tersenyum manja.

Bayangan Ana langsung sirna dari pikiran Icow.

“Besok hari Minggu, lho, Cow,” kata Uni. Suaranya pelan, seperti membujuk sesuatu.

“Ya, aku tahu. Terus?”

“Jalan-jalan ke Rawa Pening, yuk? Uni memasang wajah iba. Trik membujuk Icow agar menuruti kemauannya, “kamu tidak sibuk, kan?

“Tidak ada agenda apapun,” jawab Icow datar.

Yess, ucap Uni dalam hati.

“Kalau begitu bisa dong kita besok pergi?” Uni sudah merangkul lengan Icow.

Icow tidak menjawab.

“Mau, ya? Kita kan sudah lama tidak jalan-jalan lagi,” Uni mengiba-iba. Suaranya sengaja disedihkan, “aku rindu kita traveling, Cow.”

“Kita berdua saja, atau dengan teman-teman yang lain?”

“Kita saja,” Uni tertawa kecil.

Icow menyusul tawa Uni. Kini mereka tertawa bersama.




By the way, kamu bisa dayung perahu, kan?” wajah Uni mendadak berubah.

Icow mencoba mengingat-ingat, “Sepertinya belum pernah. Tapi kita bisa belajar mendayung bersama, toh?”

“Berarti kamu tidak bisa?” Uni memastikan.

Bahu Icow terangkat.

“Takut?” tanya Icow yang diiringi senyuman panjang.

“Kalau ada kamu tidak, sih,” bibir Uni melebar, “selagi sama kamu. Aku tidak pernah takut menghadapi dunia.”

Sialan, Icow mengumpat dalam hati.

“Menggombal, nih, ceritanya?”

“Seperti yang pernah kamu bilang akan selalu menjagaku,” Uni memandang mata Icow di tengah temaram, “kamu masih ingat kata-katamu sendiri?”

“Tentu saja.” Icow membalas pandangan itu.

***

Bintang Inspirasi

Seperti sudah kebiasaan bagi Anata untuk mengunjungi kamar Ana. Setiap malam sebelum tidur ia kembali membaca diary kakaknya. Anata menyalakan musik dari hapenya. Sambil tiduran Anata membuka pembatas halaman diary.

Hari ini aku senang sekali, ingin rasanya menari sambil berjingkrak-jingkrak. Mengucapkan terimakasih pada semesta, sepertinya magnet bumi menarik kita agar semakin dekat. Entah ini kebetulan atau apa? Tapi yang jelas, aku begitu senang dekat denganmu. Memperhatikan mulutmu ketika berbicara, menyaksikan gestur tubuhmu, mendengar dengan khidmat setiap kata yang mengheningnya suara lain. Seakan-akan bumi membiarkan ada satu nada, yaitu nada suaramu yang selalu kurindukan.

“Kamu tidak masuk kelas?” sapamu mengagetkan saat aku duduk sembari membaca novel di pendopo.

“Aaaku… lagi tidak enak badan,” ucapku terbata-bata. Kikuk. Apalagi kamu sudah duduk nyelonong tanpa izin di sampingku, “kamu sendiri?”

“Aku baru datang,” jawab Icow. Tangannya mengeluarkan sebuah novel dari tas, “ganggu tidak, nih?”

“Tidak, kok. Santai saja.” Aku menilirik novel tipis bersampul hijau di tanganmu, “novel Pram?”

“Iya, keluarga gerilya. Pernah baca?”

“Belum.” Aku menggeleng.

“Tereliye?” sekarang kau memastikan novel yang kubaca.

Aku mengangguk, memastikan salah satu novel kesukaanku, “Sunset bersama Rosie. Mau pinjam?”




Kepalamu langsung menggeleng kencang, “Tidak!”

Aku tahu tipe mahasiswa sepertimu tentu tidak suka dengan novel cinta-cintaan ala remaja. Tapi ini beda. Novel cinta yang mengajarkan bagaimana sebenarnya menyikapi cinta yang sesungguhnya.

“Coba, deh, baca saja dulu. Aku yakin kamu pasti tertarik,” aku berusaha menyakinkanmu. Menyodorkan novel itu setelah kuberi tanda pembatas halaman. Kau menyambutnya. Aku suka bibirmu yang berkomat-kamit membaca tanpa suara.

“Menarik,” kau mengangkat alis matamu sebelah, “aku coba baca. Eh, tapi kamu belum selesai membacanya, kan?

“Sedikit lagi selesai. Paling beberapa jam saja selesai kubaca.”

“Oke, kalau begitu aku selesaikan juga novelku. Setelah itu kita tukaran novel, bagaimana?” tawarmu.

“Setuju,” nadaku begitu riang.

Kau memandang langit-langit pendopo, matamu kulihat mengerjap-ngerjap. Memikirkan sesuatu. Aku suka dengan gayamu seperti itu. Seperti seorang pemikir keras yang mencari solusi di tengah persoalan sulit.

“Aku ada ide,” suaramu mengagetkanku.

“Apa?”

“Kalau kamu tidak masuk ke kelas lagi, kita cari tempat membaca yang seru. Mungkin di kafe, di taman, atau di manalah. Terserah, sih,” ujarmu.

“Ide bagus. Aku juga tidak akan masuk kelas lagi. Di kafe saja,” usulku.

“Langsung saja, yuk?!” kau sudah berdiri. Novel dari pengarang kebanggaanmu sudah kau celupkan ke dalam tasmu.

Wah, kau memang orang yang begitu cepat mengambil keputusan. Bisa kunilai dari caramu mencari ide dan langsung mengajakku ke tempat yang aku sendiri tidak tahu. Kamu sudah berjalan tanpa melihatku yang sibuk mengemas barang-barangku. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

“Kita ke mana?” teriakku saat kakimu sudah melangkah jauh.

“Ikut saja!” sahutmu tanpa memalingkan wajah.

Siap, bathinku. Siapa pula cewek yang menolak ajakan cowok sepertimu. Cowok misterius dengan pikiran yang begitu liar. Ya, dosen kita pernah menyebutmu sebagai mahasiswa berpikiran liar. Aku ingat sekali waktu itu. Bahkan aku sempat tertawa geli mendengarnya. Aku mencuri pandang ke wajahmu. Kulihat air wajahmu berubah.

“Naik mobilku saja. Nanti pulang aku antar, deh.”

“Sip.” Aku mengangkat kedua jempol. Menuruti perintahmu dan langsung melompat ke mobil..

***

Anata beranjak dari kasur. Meletakkan diary di sembarang tempat. Musik bergenre pop mengalun lembut dari suara hapenya. Anata sempat melihat jam yang menggantung di dinding. Tumben, Randu tidak menelpon malam ini, pikir Anata. Mungkin sibuk mengerjakan skripsinya.  Toh, aku lebih senang begini.  Anata senyum sendiri.

Sekitar belasan menit kemudian ia sudah kembali ke kamar. Di tangannya mengepul wedang jahe dari mug. Diary Ana diraihnya lagi. Melanjutkan cerita-cerita yang ditulis kakaknya. Cerita tentang Icow. Icow… Icow… Icow, Anata mengulang-ulang nama itu di dalam hati.

Tanpa kau sadari aku curi-curi pandang saat kau fokus menyetir. Dengan ekor mataku, masih terlihat jelas begitu menyenangkan wajahmu dipandang. Meskipun wajah yang lebih cenderung terlihat serius. Tapi aku suka, Cow. Tampan. Kau sungguh tampang, Cow. Sakit haidku mendadak hilang. Boleh jadi ini karena berdekatan denganmu. Artinya kau adalah obat bagiku. Andai kau tahu kau adalah obat bagiku, pastinya kau akan bersamaku agar aku tetap bugar. Dan kau menghilangkan konsentrasiku.





“Na!” kau memanggil.

“Ahhh, iya, gimana?” aku gugup menyahutmu.

“Diam saja sejak tadi,” tanpa melihatku, wajahmu lurus ke depan, “kamu belum bilang kamu sakit apa?”

“Oh, itu. Biasa penyakit bulanan cewek.” jawabku. Wajah kuluruskan. Melihat jalanan Kaliurang yang ramai.

“Haid?”

Aku mengiyakan dengan kepala menunduk sekali.

“Memang sakit jadi cewek, setiap bulan merasakan hal yang sama. Begitu terus bertahun-tahun. Kalau masih kuliah, sih, enak. Kalau haid bisa bolos kuliah. Nah, coba pikirkan bagaimana nasib cewek yang bekerja saat sedang haid? Ah, kamu tentu tahu bagaimana merasakan sakit itu.” Katamu memulai obrolan soal nasib perempuan.

Aku membiarkan saja kau berbicara. Karena aku memang suka mendengarmu. Bagiku kau bukan sekadar mahasiswa biasa. Tapi juga seorang ‘pengajar’, yang suka berbagi wawasan, terutama hal-hal yang jarang dibicarakan mahasiswa lainnya.

“Masih banyak perusahaan tak mengenal isitilah ‘datang bulan’. Tak mengerti rasa sakit yang dialami buruh perempuan. Bagi perusahaan liburnya buruh artinya kurangnya keuntungan. Dan perusahaan nakal akan selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya meskipun melanggar hak-hak kemanusiaan yang melekat pada buruh,” suaramu mulai berubah. Ada nada geram dan benci.

“Apakah karena itu juga kau sering berdemo?” aku memastikan hobimu yang sering berdemo dengan teman-teman organisasimu, termasuk konco kental kelasmu.

“Salah satunya,” jawabmu. Kau melanjutkan lagi setelah beberapa detik diam, “di Yogyakarta soal gaji buruh juga jadi persoalan serius perjuangan aktivis buruh dan mahasiswa.”

“Memangnya kenapa dengan gaji buruh di Yogyakarta?” tanyaku. Sungguh aku tidak begitu tahu persoalan-persoalan buruh di Yogyakarta, begitu juga dengan gaji seperti yang kau bilang.

“Cek saja UMK Kota Yogyakarta, hanya 1.572.200 rupiah. Padahal harga minyak bensin, tarif listrik, bayar pajak semua merata di Indonesia.” Ucapmu.

“Tapi buruh-buruh yang bekerja tidak mengeluh, tuh,” protesku.

“Iya tidak mengeluh. Karena memang sifatnya menerima saja. Doktrin yang aku pikir harus dipikir ulang,” katamu geram, “pengusaha-pengusaha di Yogyakarta kaya raya, sementara buruhnya kredit motor saja sulitnya minta ampun. Aku tahu karena aku bergaul dengan mereka. Tapi sayangnya saat aku pancing kenapa diam saja menerima gaji murah, mereka hanya jawab namanya juga bekerja, ya, memang begitu.”

Kau menggeleng-gelengkan kepala, entah apa maksudnya. Kalau boleh aku tebak, kau seperti tidak habis pikir jika mengingat buruh yang kau sebut tadi.

Gunung Merapi sudah jelas terlihat. Mobil terus kencang kau kemudikan. Kita masih mengobrol soal buruh yang kau anggap hanya ‘menerima saja’.





“Jadi maksudmu buruh di Yogyakarta harus bagaimana?”

“Mau tidak mau, suka atau tidak, buruh Yogyakarta harus bersatu. Membicarakan soal kesejahteraan bersama, mendebatkan tindakan semena-mena para pengusaha tanpa terkecuali. Meskipun perusahaan itu milik penguasa nomor satu atau nomor dua di Yogyakarta ini. Dan bila perlu turun ke jalan menuntut perusahaan dan pemerintah. Beri ancaman serius. Hanya dengan cara begitu suara mereka didengar. Tidak manggut-manggut saja menerima nasib,” emosimu terus meluap.

“Masih terngiang di telingaku bagaimana aduan dari buruh toko kerudung yang cukup besar di Pasar Beringharjo. Gaji mereka tak menyentuh UMK. Kerja dari pukul 9 sampai pukul 17. Libur sebulan cuma sekali. Kekayaan pengusaha dari penderitaan buruhnya. Pengusaha dan pemerintah tak mau tahu bagaimana tragisnya menjadi buruh. Mau tak mau mereka bekerja setiap hari, menjalani hidup yang begitu-begitu saja. Semua itu dilakukan demi keluarga tercinta. Padahal sampai mati hidup mereka menderita. Sementara pengusaha semakin kaya raya. Dan pejabat pemerintah tutup mata dengan segala nasib buruh di kota yang begitu istimewa ini,” ujarmu begitu panjang tanpa henti.

Tak terasa sembari kita mengobrol soal buruh, mobil sudah berhenti di parkiran Kopi Merapi. Oh, kau mengajakku ke sini ternyata. Baikklah aku suka tempatnya. Kau turun, aku juga ikut turun. Air wajahmu seketika berubah.

“Huhhh, segar!” katamu setengah teriak sambil membentangkan tangan lebar-lebar.

***

Bersambung… [Asmarainjogja.id] 

Baca juga cerita sebelumnya:

Impian Icow dalam Diary Ana



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas