Ilustrasi bosan | Istimewa

Asmarainjogja.id  -- Sebulan sudah tidak aktif seperti mahasiswa progresif lainnya. Hal ini dikarenakan pada titik tertentu rasa kebosanan tidak kuasa terbendung lagi. Ya, bosan yang dialami pada seorang anak manusia adalah hal yang wajar, manusiawi sekali. Terlebih lagi bagi kaum yang suka hal-hal baru dari kehidupannya. Itu membuktikan bahwa perubahan selalu terjadi pada hidup. 

Begitu juga dengan saya, 30 hari yang lalu me-nonaktif-kan aktivitas yang biasanya saya lakukan, seperti diskusi menulis, berorganisasi, dan aktif mendengar ocehan dosen di kelas. Belajar di kelas yang biasanya menjadi motivasi saya belajar pun kalah dengan rasa bosan. Ya, semua itu benar-benar membosankan.

Bekunya Bintang Inspirasi

31 Oktober saya sampaikan ke teman-teman Komunitas Menulis Bintang Inspirasi (BI) Universitas Widya Mataram melalui grup untuk istirahat menulis. “Aku punya usul, kita libur saja sampai 6 bulan ke depan. Saya juga mau fokus sama studi, mengingat saya juga tahun depan mau wisuda,” tulis saya waktu itu.

Beberapa detik kemudian direspon dengan teman Oki, “6 bulan?”. Dan saya sambung lagi keterangannya, “Teman-teman aktif sendiri. Setelah itu kita bicarakan lanjut atau tidak?”. Faisal Sahlan tampak terkejut dengan mengirimkan emotion, seraya tak percaya. Sedangkan Almo mencoba membujuk dengan ngopi bareng, “Mari kita obrolkan, Pimpinan, sembari ngopi”.

Defri dan Bayu tidak ada komentar, tahu atau tidak pernyataann saya tersebut, saya tidak ambil pusing. Paling tidak sudah saya sampaikan di grup Bintang Inspirasi. Dan beberapa pekan berikutnya saya berjumpa dengan Defri, mengobrol sebentar terkait membekunya komunitas menulis kami.



Yang pada intinya adalah secara pribadi saya sejak dulu punya prinsip disiplin, menghargai, berkomitmen tinggi, dan menghargai waktu. Subjektif saya disiplin kawan-kawan di BI belum terbentuk. Padahal sejak awal berdirinya BI, selalu saya sampaikan masalah waktu. Kita paham sekali setiap orang punya kesibukan masing-masing, begitu juga dengan mahasiswa yang progresif. Hanya saja kita juga tahu mana yang paling penting, penting, dan tidak penting. Jika BI di posisi paling penting atau penting, maka disiplin waktu akan tetap terjaga.

Boleh jadi teman-teman BI tidak menganggap komunitas menulis itu penting, oleh sebab itu selalu ada tindakan-tindakan sepele pada setiap diskusi. Atau lebih kurangnya menulis belum menjadi napas hidup mereka. Jika ingin dibandingkan bagaimana saya belajar menulis beberapa tahun silam, jauh sekali dengan spirit mereka dalam mencungkil mata air kepenulisan.

Bahkan belajar menulis saya bermodal gabung di grup Komunitas Menulis yang diasuh oleh Bapak Isa Alamsyah, suami tercinta dari novelis Asma Nadia. Di grup facebook itulah saya belajar menulis, membaca tips-tips menulis dari Bapak Isa Alamsyah, dan kawan-kawan yang lain. Setiap ada ilmu menulis yang baru dan menarik, saya praktikkan langsung. Hal itu saya lakukan berulang-ulang.

Saking senangnya belajar menulis, saya sampai kirim pesan ke Bapak Isa Alamsyah, meminta masukan-masukan bagaimana menjadi penulis yang hebat. Dulu, sewaktu masih belajar, cita-cita saya, ya, seperti itu “menjadi penulis hebat”. Bagi saya penulis hebat itu seperti Asma Nadia, Tereliye, Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan yang paling fenomenal Pramoedya Ananta Toer.

Jadi salah satu motivasi menulis karena saya ingin menjadi novelis seperti mereka. Walaupun sampai sekarang belum menjadi kenyataan, bahkan mencoba menulis novel saja tidak pernah, hahaha. Mimpi semacam apa itu? Tapi tenang saja, janji itu akan ditepati pada waktu yang pas. Begitulah alasan dari kaum yang suka menunda-nunda.

Nah, kebingungan saya kawan-kawan di BI motivasi menulis belum saya dapatkan sepenuhnya. Apa mereka hanya sekadar ikut diskusi menulis dan mengerjakan tugas diskusi begitu saja? Sehingga tidak punya kemauan yang kuat untuk menimba ilmu menulis. Memang, dalam jejak rabaan saya, skil menulis mereka semakin membaik, meskipun masih ada kekurangan di sana-sini, terutama dalam hal teknik kepenulisan.

Terakhir diskusi menulis kami sudah sampai pada tahap mempresentasikan karya berita. Bagi seorang penulis, saya pikir belajar menulis berita adalah hal yang cukup penting untuk dipelajari. Setidaknya dengan belajar menulis berita, seorang penulis itu nantinya terbiasa berpikir secara objektif dalam kepenulisannya di masa yang akan datang. Jadi tidak semata-mata menulis dengan subjektifnya saja.

Selain itu hal yang tak kalah pentingnya adalah dengan menulis berita, penulis diajarkan menggali informasi di tengah-tengah masyarakat. Maka penulis terbiasa pula membahas persoalan yang terjadi di masyarakat. Mengingat menulis juga berfungsi untuk peradaban masyarakat.

Sebenarnya ada rasa kesedihan bekunya BI, sebab kami sudah sepakat di Februari nanti kami akan masuk ke ruang-ruang mana saja yang menerima kami untuk menularkan budaya menulis. Target kami waktu itu ke yayasan sosial, atau ke yayasan rumah yatim piatu. Dengan kejadian seperti ini mungkin cita-cita kami itu tertunda dahulu. Hanya saja komitmen membudayakan menulis di tengah-tengah masyarakat harus dicicil.

Sekarang apakah kawan-kawan BI masih aktif menulis sendiri? Jika tidak, maka mereka belum punya kesadaran menulis. Sebab menulis yang dipicu dari luar itu belum bisa mengubah seseorang dari tidak suka menulis menjadi suka menulis. Budaya menulis harus dari kesadarannya sendiri, dari dalam dirinya, sedangkan BI sebagai alat bantu yang berada di luar dirinya.

Terkait BI apakah bisa dilanjutkan atau tidak, tentunya kita lihat 5 bulan lagi. Jika mereka mengatakan BI tidak perlu dilanjutkan, ya, sudah tidak masalah. Paling tidak BI akan tetap berkibar di Universitas Widya Mataram, hanya saja personilnya saja yang berganti. Artinya saya harus menyeleksi lagi siapa kawan-kawan di kampus yang serius belajar menulis.



Gairah di SMI

Bergabungnya saya di SMI (organisasi Serikat Mahasiswa Indonesia) pada September tahun lalu. Awalnya saya tertarik dengan Arsad Arifin saat ia sebagai pembicara di Pendidikan Nasional yang diselenggarakan panitia OSPEK. Saya terkejut dengan keberaniannya ketika mengkritik pendidikan Indonesia, termasuk juga mengatakan dosen-dosen kampus itu error. Wihhh…. saat itu wajah panitia merah padam dan ribut. Yes, saya baru jumpa dengan mahasiswa yang bernyali itu. 

SMI Widya Mataram dan UKM Padma (Penalaran Akademik Mahasiswa) adalah organisasi yang pertama saya geluti. Jujur saja sebelumnya saya tidak tertarik dengan organisasi, apalagi partai politik. Tapi saya teringat apa yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer di tetralogi pulau burunya, pelajar atau mahasiswa harus berorganisasi, begitu juga dengan masyarakat.

“Didiklah masyarakat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan organisasi,” begitulah pesan sang sastrawan hebat asal Blora yang mendunia tersebut. Itu juga motivasi saya tergabung dengan organisasi, melawan pemerintah yang zalim melalui organisasi. Dan pastinya belajar bersama-sama dengan mahasiswa lainnya bagaimana membawa Indonesia untuk lebih baik lagi, terutama soal pendidikan dan penderitaan masyarakat.

SMI sendiri sebenarnya tidak asing bagi saya, karena sebelumnya sudah mendengar waktu di kampus saya dulu di STIH Graha Kirana. Martin Luis, teman kampus saya di sana penah mengkritik dosen dan kampus. Pernah dinding kampus ditempeli selebaran kritikan terhadap kampus, di situ tertulis nama lengkap dan nomornya. Hobi dia saat di kelas adalah membaca, yaitu membaca buku-buku kiri, terutama karangan Tan Malaka. Kalau tidak lupa, buku yang dibacanya saat itu Madilog.

Karena saya tipe orang yang memberontak, jadi secara tidak langsung terkoneksi dengan kumpulan ‘manusia pemberontak’ di SMI. Nah, di SMI, pemberontakan itu diarahkan menjadi terdidik, terpimpin, dan terorganisir. Jadi selama setahun itu pula saya dididik, dipimpin, dan diorganisir. Meskipun terkadang jauh di hati saya terdalam saya ingin memberontak kepada mereka, karena ada yang menurut saya tidak tepat. Sebuah kewajaran kontradiksi sebenarnya. 

Sama halnya di BI, saya pasif di SMI juga. Di organisasi pergerakan ini saya berada di ujung kebosanan. Cita-cita pembebasan nasional seakan terhenti di garis perjuangan. Tidak terhenti sebenarnya, hanya saja istirahat sejenak melihat alam dengan sepeda baru, dan juga lebih dekat dengan anak-anak Bi yang baru berumur sebulan. Nanti di waktu gairah semangat, saya akan kembali berjuang, saya akan duduk diskusi dan kembali mencicil perjuangan penghancuran sistem kapitalisme dan imprealisme.

Miki, selaku Ketua Cabang SMI Yogyakarta mulai sibuk, begitu juga dengan Zulfan sebagai Ketua SMI Komisariat Widya Mataram. Tak kalah si Faisal, DPP SMI Cabang Yogyakarta, mantan Ketua Komisariat Widya Mataram. Zulfan dan Faisal berkali-kali mengirim pesan ke saya, tapi tidak saya balas, hahaha. Karena saya tahu sekali, jika dibalas pasti ujung-ujungnya mengajak ngopi bersama dan diskusi.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya bosan diskusi yang begitu-begitu saja. Bukan berarti bosan berjuang untuk rakyat, tapi bosan dengan strategi mereka yang begitu melulu. Jika diberi masukan, tidak ditanggapi. Ya, harus diakui dalam organisasi saya masih hijau. Tapi setidaknya sejauh mana kemenangan atau pengaruh politik mereka terhadap masyarakat luas? Itu bisa dinilai dari kinerja mereka yang lalu dan sekarang.

Belum lagi politik di internal, saya benar-benar bosan dengan pembahasan yang demikian. Jadi saya tidak ada masalah dengan siapapun di tubuh organisasi, hanya saja saya bosan. Apakah saya masih di SMI ke depannya? Saya juga tidak bisa jamin, apalagi kalau tidak ada halangan tahun depan wisuda. Namun yang pasti saya akan terus berjuang dengan organisasi yang revolusioner.

Memang hanya setahun di SMI, tapi pengaruh organisasi berlogo bintang gerigi tersebut menjadi bagian nadi dalam hidup saya. Perjuangan internasionale harus tetap dikumandangkan, pengisapan manusia di dunia oleh kapitalisme dan imprealisme harus dihentikan.



Kelas Kosong

Entah kenapa saya lebih suka melihat video-video Rocky Gerung (RG) di Youtube daripada masuk kelas. Seakan-akan setiap melihat RG seperti dosen sendiri. Andai dosen saya seperti RG, oh, betapa semangatnya menimba ilmu.

Banyak sekali pengetahuan baru yang saya temukan dari video RG, misalnya saja soal politik. Selama ini politik di mata saya begitu busuk dan menjijikkan, sebab pengetahuan saya dengan politik sebatas kekuasaan, kekuasaan, dan kekuasaan. Padahal RG bilang awal mulanya politik di masa peradaban Yunani untuk mendistribusikan keadilan.

Sedangkan saya menyukai hukum karena cinta akan kebenaran dan keadilan. Saya juga sejak dulu sudah paham hukum tidak terlepas dari politik, begitu juga sebaliknya, politik tidak terlepas dari hukum. Hanya saja yang jadi permasalahannya karena politik saat ini di Indonesia benar-benar menjijikkan. Jadi di otak saya politik benar-benar busuk.

Karena begitu alerginya, saya tidak begitu percaya dengan teman-teman yang mempelajari politik secara mendalam. Ya, karena bagi saya ujung-ujungnya mereka akan menjadi manusia politik. Masuk ke politik kotor, yang seolah-olah mereka mampu membersihkan dengan kedua tangannya.

Sebagaimana Mikhail Bakunin pernah menulis di buku Statism & Anarchy, “Bagi kaum anarkis, setiap keterlibatan dalam ‘politik borjuis’ merupakan kerusakan yang melekat. Seseorang bisa melawan musuh atau yang lain bergabung dengan musuh, tetapi satu orang tidak dapat melakukan keduanya. Berharap menggunakan metode politik dalam menghapus dominasi politik adalah khayalan yang berbahaya”.

RG selalu menjadi pemantik pikiran liar saya menggali lebih dalam lagi apa saja yang dibahasnya. Intinya adalah RG seperti dosen maya saya saat ini. Melihat video RG sama saja dengan 4 SKS yang biasa didapatkan dari mahasiswa yang percaya akan ilmu pengetahuan mampu mengubah peradaban manusia.



Semangat saya belajar di kelas sudah benar-benar luntur, jadinya saat ini saya lebih banyak membaca buku di kos dan perpustakaan, dan pastinya melihat video RG. Tentunya itu semua dipicu oleh dosen yang tak masuk dan kurang gregetnya mengajar. Jika dosen masuk, saya tidak masuk. Dan sebaliknya, jika dosen tidak masuk, saya masuk. Jadi sekarang malah saya yang tidak masu ke kelas.

Saya juga tidak begitu perduli terhadap nilai. Hal itu sejak dulu saya sadar arti belajar sesungguhnya. Karena seberapa pun kita paham materi pelajaran, jika sekali saja menanggapi dosen dengan nada serius akan berdampak pada nilai. Setidaknya saya pernah mengalaminya, nilai saya C, padahal saya rajin masuk dan paham materi pelajaran. Tapi, karena dosen bermental feodal, nilai saya jadi C. But, No problem! 

Toh, RG juga bilang, “Ijazah itu bukti Anda pernah sekolah, bukan tanda Anda pernah berpikir”. Hahaha, menakjubkan sekali bukan?

Nah, kalau pernah menonton film  3 Idiots, yang dibintangi Amir Khan, kita juga akan sepakat bahwasanya imu pengetahuan lebih penting dari selembar ijazah. Terbuki orang yang hanya mencari pengakuan atas kecerdasannya dari ijazah selalu menjadi yang kedua, bukan yang pertama.

Intinya saya bosan mendengar ocehan para dosen di kelas, karena itu juga saya malas masuk kelas akhir-akhir ini.Tidak ada rasa penasaran (karena ilmu pengetahuan) lagi terhadap mereka, kalaupun saya masuk, itu karena mood  sedang baik. Nah, jika tidak, saya tetap menikmati pagi bersama bantal dan kasur. Sialnya tidur saya selalu diganggu Bi dan anak-anaknya.  [Asmara Dewo] 

Baca juga:

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus

Mahasiswa Dapat Nilai D Salah Siapa? 

Dosen Bolos Kuliah 

Memahami Lagi Arti Pendidikan untuk Anak-anak Kita



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas