Ledakan Bom yang terjadi pada tanggal 2 September 2016 di Pasar Malam Kota Davao | Foto BBC

Asmarainjogja.id –   Pemerintahan Filipina klaim pemboman yang terjadi di Kota Davao asal Presiden Rodrigo Duterte tersebut aksi teror dari Abu Sayyaf.

Lokasi ledakan di titik keramaian Pasar Malam Davao City, yang tidak jauh dari  Hotel Marco Polo saat Presiden Duterte berkunjung ke sana. Namun Presiden yang bergelar “The Punishment” tesebut tidak mengalami cidera.

Kantor Kepresidenan memberitakan aksi pemboman itu akibat buntut panjang pelawanan negaranya dengan Abu Sayyaf.

“Kantor presiden mengirim sms dan menegaskan bahwa ini adalah pembalasan Abu Sayyaf,” kata Walikota Davao Sara Duterte, yang juga putri presiden, seperti yang dilansir di AFP.

Abu Sayyaf merupakan pimpinan separatis yang kerap menyandera dan meminta tebusan kepada setiap negara untuk ditukar dengan sanderanya. Indonesia sendiri salah satu negara yang dimintai tebusan.

“Kami akan menangani masalah ini sebagai urusan polisi terkait terorisme,” kata Duterte saat mengunjungi ledakan bom tersebut kepada para wartawan.

Akibat ledakan yang mengguncang Kota Davao, Duterte terpaksa membatalkan kunjungan pertamanya ke negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam. Dan pada bulan September ini Duterte juga akan berkunjung ke Indonesia. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas