Ilustrasi bergitar di pantai | Istimewa

Oleh: Asmara Dewo

Empat  motor trail berlomba-lomba di gelapnya malam di Jalan Baron menuju Pantai Greweng. Ali sudah dua jam lalu tak henti-hentinya mengomel karena teman-temannya yang lain tak tepat waktu. Akibatnya mereka kemalaman di jalan. Icow yang berboncengan dengan Uni tak mengubris sahabatnya itu saat teriak-teriak mengomeli mereka. Sebenarnya telatnya mereka bukan karena Icow dan Uni, tapi gara-gara Pati yang berjam-jam ditunggu di kampus tak juga nongol. Alasan Pati karena mengantar ibunya terlebih dahulu ke pasar.

Sulit membedakan kapan Pati jujur dan kapan pula ia berbohong. Tapi yang jelas, kawan-kawan yang lain mengomelinya, kecuali Icow yang hanya tertawa menyaksikan wajah Pati yang tak merasa bersalah. Ali sudah mengingatkan Icow agar tak mengajak Pati, karena anak itu selalu dianggap buat kesal teman-teman yang lain. Begitu juga kalau mengerjakan tugas kelompok bersama. Tugas sudah hampir selesai dikerjakan, Pati baru datang dengan wajah ibanya.

“Lain kali aku tidak akan mengajak kau!”

“Ya, aku sudah dengar dari tadi. Tidak bosan memarahiku?” sahut Pati memelas.

“Iya, tapi ini gara-gara, kau, kita kemalaman.”

“Sudah-sudah, foskus saja lihat jalan.”

“Kau memang menyebalkan. Di manapun berada,” Ali menggerutu.

Ali yang memimpin jalan semakin menambah gas motor jantannya, sedangkan motor lain mengekorinya. Kecepatan motor mereka rata-rata 80 km/jam di jalan yang gelap dan tikungan tajam. Perumahan warga sudah tak ada lagi, hanya hutan jati di sepanjang jalan. Untungnya akses menuju pantai aspalnya mulus, tak ada sedikit pun berlubang.




“Kenapa Ali begitu kencang bawa motornya?” teriak Uni ke Icow.

“Aku juga nggak tahu, kita ikuti saja.”

Terang bulan menemani mereka di sepanjang jalan. Pun bintang gemintang tak mau ketinggalan turut serta menerangi anak manusia yang gemar bertualang tersebut. Sesekali pula sang bulan tertutup awan, kemudian muncul lagi. Bunyi jangkrik susul-menyusul begitu riang menyambut malam itu. Ya, sebuah malam yang begitu cerah, yang mampu merayu siapa saja untuk keluar dari kamarnya.

Ali melambaikan tangan kirinya, mereka sudah sampai. Tepat di depan parkir yang juga sekaligus warung. Hanya saja warung itu tutup di malam hari, dan kembali dibuka besok pagi. Pati meluruskan badannya yang pegal, dan mengempaskan carier dari punggungnya.

“Kawan-kawan, gimana aman, kan?” tanya Ali.

“Ya, lumayan lelah. Dan perjalanan yang mengesankan,” jawab Salman.

“Apakah masih jauh pantainya?” tanya balik Limo.

“Sekitar dua kilometer,” Ali menyiapkan senter kepalanya, “ayo pasang senter kalian! Kita langsung berangkat saja.”

“Ya, Tuhan… kita bukan bergerilya, Ali. Kita mau senang-senang,” Ana tak terima karena perintah Ali yang otoriter.

“Sebaiknya kita tarik napas dulu,” tawar Eki, lalu dia memandang kawan-kawan yang lain, “gimana?”

“Terserah saja,” sambut Icow dengan santai.

“Mana baiknya,” Uni mengangkat bahu.

“Tidakk bisa, sekarang sudah malam. Kita juga belum makan, menuju ke pantai paling tidak sekitar satu jam,” Ali tetap pada perintahnya.

Pati melirik Ali, “Bagaimana kalau kita makan dulu? Cari warung mungkin.”

“Hahaha, kau pikir di sini ada burjo seperti di kota yang buka 24 jam, begitu?” Ali malah melangkahkan kakinya, “Ayo cepa, gerak sekarang!”

“Rambo sialan,” gumam Ana.




Mau tak mau mereka semua mengikuti jejak Ali. Karenan hanya Ali lah yang pernah camping di Pantai Greweng, lagi pula Ali sejak SMA sudah terbiasa bersahabat dengan alam. Tapi Ali tidak mau bergabung dengan MAPALA kampus. Salah satu mahasiswa yang unik di kampus mereka. Ya, Ali lebih tertarik bersahabat dengan Icow yang sehari-harinya tak pernah lepas dari pembahasan organisasi, politik, sosial, dan hukum.

“30 meter ke depan kita sudah menapai jalan bebatuan. Hati-hati! Lihat atas bawah, bagian tebing juga ada yang menukik ke bawah. Kepala kalian bisa bocor kalau terjedut,” Ali mengingatkan teman-teman yang lain.

“Siap Rambo!” Ana menyahut dengan nada ledekan.

Pati tampak tertatih-tatih, tubuhnya yang gempal mulai terhuyung. Napasnya juga sudah ngos-ngosan, sesekali ia memandangi indahnya bulan di mega hitam. Katanya pada Icow,

“Aku capek, Cow.”

“Sini aku bawa cariernya,” Icow mengambil carier dari punggung Pati, “dan kau jalan duluan, susul yang lain.”

“Kau harus banyak keluarkan keringat, Pati, kalau tidak kau bisa obesitas. Kegiatan seperti ini cukup bagus bagi kesehatan,” Uni memberi jalan ke Pati.

“Ya, tapi aku tersiksa dibuat Ali. Sialan. Dasar rambo milineal!”

Medan yang dilalui mereka semakin cadas. Bebatuan di sana-sini. Begitu juga dengan gua-gua kecil sudah mereka jumpai. Belum ada informasi lebih lanjut apakah gua kecil itu buntu atau bisa menembus ke arah pantai. Jika seperti gua-gua yang berada di Gunungkidul, biasanya kedalaman dan panjangnya gua bisa menjadi petualangan seru untuk dicoba.

“Tahan, kawan-kawan! Jalan ke bawah itu seperti jurang. Kita harus hati-hati. Biar aku yang turun duluan, kemudian disusul dengan Ana, Uni,Pati, dan terus sampai Icow.

“Aku bisa sendiri,” Ana menarik tangannya dari Ali.

“Oke, sialahkan, Nona.”

Karakter Ana memang keras. Sejak pertama bersahabat dengan kawan-kawan lain, Ana selalu bermusuhan dengan Ali. Mereka kerap tidak sependapat. Sedangkan dengan yang lain, Ana lebih akrab dan lebih hangat. Ana lebih senang mengobrol dengan Icow, tapi Icow lebih sering mengobrol dan akrab dengan Uni.

“Seberapa jauh lagi?” tanya Ana.

“Tak jauh dari lagi. Setelah melewati jurang ini, sekitar 300 meter lagi kita sampai,”

“Uhhhh… masih jauh ternyata.”

“Ayo, kawan-kawan, tetap semangat!” Limo berlompat-lompat dari batu satu ke batu lainnya.

“Awas kau jatuh!” Salman mengingatkan, “kau bisa menggelinding sampai jauh ke bawah.”

Setapak demi setapak kaki-kaki kecil anak manusia itu menyentuh butiran pasir yang begitu halus. Meskipun di malam hari, pasir Pantai Greweng berkilauan. Ombak laut selatan cukup ganas, tingginya mencapai 1,5 meter. Tidak ada yang berani memasang tenda di tepi pantai.

“Nah, kita kita di sini saja pasang tendanya,” ujar Ali menghentikan kaki kokohnya, “kalau kawan-kawan mau istirahat, silahkan! Waktunya hanya 15 menit, setelah itu dirikan tenda, dan siapkan peralatan memasak.”

“Akhirnya sampai juga,” tanpa pikir panjang Pati sudah menjatuhkan badannya yang berlemak itu di pasir.

“Keindahan pantai tetap memesona di malam hari,” puji Uni pada alam yang dilihatnya.

“Ya, begitulah,” Icow duduk di samping Uni. Melihat Ali menuju perbukitan di arah timur, Icow memanggilnya,“Kau mau kemana, Li?”

“Cari kayu bakar!”

“Aku ikut,” Icow mengejar Ali.




Tak tinggal diam, Limo, Eki, dan Salman juga menyusul. Sedangkan Pati pura-pura tidur. Langsung mendengkur keras-keras.

“Kau jangan seperti cewek! Ayo bangun!” Ana mengoncang badan Pati.

Pati tak menghiraukan, baginya 15 menit memejamkan mata seperti tidur semalaman di rumah.

“Biarkan saja, dia lelah,”bela Uni.

Dua puluh menit kemudian mereka kembali membawa kayu balok dan ranting kering. Sementara Ana dan Uni sudah mendirikan tenda dan menyiapkan menu makan malam mereka. Sesuai pertintah Ali beberapa menit yang lalu. Pati memang tidur. Dengkurnya kali ini bukan main-main. Mulutnya terbuka lebar, sedangkan matanya tampak melotot. Tapi dia benar-benar tertidur pulas.

“Dasar gendut! Kerjanya cuma tidur,” kata Ali melihat Pati yang seperti paus terdampat di tepi pantai.

Dua kompor portable menyala. Minyak goreng di kuali sudah panas. Bekal ayam kukus dimasukkan, lengkap dengan bumbunya. Satu kompor lagi untuk menumis kangkung yang masih segar dan hijau. Untuk memasak nasi mereka menggunakan api unggun dari kayu bakar yang dicari tadi.

Semakin larut malam, bulan semakin terang. Malam ini adalah malam mereka, kenangan yang tak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Terlebih lagi jika mengingat sahabat mereka Pati. Akan selalu menjadi guyonan di kemudian hari. Uni yang begitu lincah memasak dengan alat sekadarnya tak henti-hentinya memuji semesta malam.

“Aku ingin begini terus,” tutur Uni sembari membalikkan ayam goreng di kuali, “bersama kalian, sahabat-sahabat terbaikku.”

“Ya, moga-moga kita selalu bersama, sampai kita tamat kuliah,” sambut Salman.

“Tidak hanya sampai tamat kuliah saja, tapi sampai kita tua,” timpal Limo.

“Sampai nyawa di kandung badan, itu lebih tepatnya,” Ana menekankan maksud kawan-kawannya, “dan kau, Li, mau menyampaikan apa?”

“Tak lebih kurang seperti yang kalian bilang,” jawab Ali.

“Kau, Icow, bagaimana?” desak Ana.

“Persahabatanku tak perlu kalian ragukan,” mata elangnya jauh memandang laut selatan.

“Janji seorang aktivis, ya?” Uni menyenggol bahu Icow.

Icow hanya tersenyum tanpa melihat Uni.

“Terkadang aku tak percaya ucapan dari seorang aktivis,” Ali mulai menyindir, “bukankah dunia aktivis begitu dekat dengan dunia politik? Kita tahu, manusia-manusia politik bahasa kebohongan adalah bahasa yang wajar, selagi ia masih bisa menutupi kebohonan yang lalu. Bukan begitu, Cow?”

“Aku malas berdebat malam ini,” balas Icow.

“Hahaha, jawab saja retorika seorang aktivis juga dicampuri dengan sedikit kebohongan,” Ali terus menekan Icow untuk berdebat dengannya.

“Oke, kalau malam ini kita mau diskusikan soal itu. Ya, biar tidak bosan menunggu nasi yang belum matang,” Icow mulai terpancing, “Retorika itu kan, kepandaian cara berbicara. Sedangkan kebohongan adalah mengatakan sesuatu yang belum atau tidak sebenarnya. Misalnya kau tanya, : ‘Cow, apakah kau mengonsumsi narkoba?’ lalu aku jawab: ‘Nggak, meskipun aku memakai zat memabukkan lainnya. Tapi yang jelas, tidak memakai narkoba sesuai definisi hukum positif Indonesia yang sekarang.’ Nah, andai zat yang aku konsumsi tadi di kemudian hari sudah tergolong narkoba, maka jawaban dari pertanyaanmu akan lain lagi,” Icow balik bertanya, “dari jawaban aku itu apakah aku berbohong padamu?”  




Ali terdiam beberapa saat, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya. Mereka mencoba-coba menjawab di dalam hati, namun ragu-ragu untuk dikeluarkan menjawab pertanyaan balik Icow.

“Tampaknya kau, Bingung, Ali,” Icow menatap serius ke teman-teman yang lain, “ada yang mau coba jawab?!”

Sampai beberapa detik kemudian tak ada juga keluar suara mereka. Ali tampak menggaruk-garuk kepalanya.

“Baik, kalau belum ada yang menjawab, sebaiknya kita makan malam dulu, hehehe,” tutup Icow.

“Beratttt, kawan” kata Salman, “ayo kita makan dulu.”

Untuk menutupi kebingungannya, Ali buru-buru membangunkan Pati, “Bangun, gendut! Saatnya makan.”

Pati sangat sulit dibangunkan, sampai-sampai Ali menepuk keras-keras pipi Pati yang menggelambir.

“Orang gendut memang sulit dibangunkan,” celetuk Ana.

Makan malam tersidang dengan aroma yang harum. Nasi panas mengepul memancing selera makan. Potongan ayam goreng yang keemasan begitu menggugah selera. Tak kalah dengan wanginya tumis kangkung ala Uni. Ternyata Pati mudah terbangun saat aroma hidangan menusuk-nusuk hidungnya.

“Udah masak, ya?” begitu polosnya Pati bertanya.

Tanpa babibu, Pati mengambil jatah yang disediakan. Dan dengan lahapnya ia makan. Teman-teman yang lain hanya geleng-geleng kepala saja menyaksikan tingkah Pati.

“Enak, enak…” puji Pati.

Anak-anak manusia itu memang lapar sekali. Sebab sejak pukul satu siang, baru pukul sebelas malam diisi perutnya. Wajar Ali di sepanjang jalan selalu mengomel. Lapar menjadi penyebabnya. Nasi di periuk kandas, begitu juga lauk dan pauk. Malam ini mereka sudah kekenyangan.

“Eeeee…” Pati bersendawa.

“Lihat Paus kekenyangan, kawan-kawan, hahaha” ejek Ali.

Teman lain ikut tertawa kecil. Tapi Pati tak perduli, dan juga tak pernah sakit hati jika di-bully seperti itu. Dia sudah kebal dengan ejekan gendut, paus, gajah, beruang, dan segala macam nama yang mengidentikkan bertubuh besar.

Api unggun yangi mengecil ditumpuk lagi dengan kayu dan ranting. Tanpa ada yang memerintah, mereka dengan sendiri melingkari api unggun tersebut. Eki yang berinisiatif sudah mulai memetikkan gitar, memancing temannya untuk bernyanyi mengikutinya. Si koki, Uni, merapatkan duduknya di samping Icow. Dia tampak kedinginan, lalu merapatkan jaketnya yang tebal.




“Entah kenapa, Cow, aku selalu senang dekat denganmu,” lengan Icow dirangkulnya, “aku mau begini terus.”

“Sudah berkali-kali kaubilang begitu, Uni.”

“Biar saja, aku tidak bosan bilang begitu. Kenapa? Keberatan?”

“Geli saja.”

Suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai

Dan memandang ombak di lautan yang kian menepi

Burung camar terbang diderunya air

Suara alam ini hangatkan jiwa kita

Suara merdu Eki membawa lagu Kemesraan dari Iwan Fals dengan petikan gitarnya menghipnotis dan menghayutkan para sahabat. Begitu juga dengan Uni yang sudah menjatuhkan pipinya di lengan Icow. Cowok yang menjadi sandarannya itu hanya membeku mengikuti irama lagu yang dibawakan Eki.

Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam

Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta

Ada hati membara erat bersatu

Getar seluruh jiwa tercurah saat itu

Ana berduet dengan Eki membawa lagu romantis zaman lawas itu. Mata bulat Eki pun terlihat berkaca-kaca. Ia buru-buru menghapusnya dengan tangannya. Eki melihatnya. Eki mulai curiga ada apa sebenarnya, kenapa harus menangis, padahal lagu yang dibawa itu adalah lagu kebahagiaan, lagu kebersamaan.

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu

Kemesraan ini ingin kukenang selalu

Hatiku damai

Jiwaku tentram di sampingmu

Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu…

“Kau tak pernah mengatakan cinta atau sayang padaku,” mata sayu Uni memburu Icow, “Sekarang katakanlah!”

“Untuk apa?”

“Sebagai pernyataan sikap jantan seorang cowok,” desak Uni.

“Bukan prinsipku seperti itu. Retorikaku bukan soal percintaan, tapi soal kemanusiaan,” jawab Icow.

“Malam ini saja,” Uni tak putus asa.

“Tidak akan pernah,” Icow bersikukuh.  [Asmarainjogja.id]

*** 

Baca juga cerita sebelumnya di sini:

Dosen P



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas