Ilustrasi berhijab | Foto asmarainjogja, Miftahul Jannah

Asmarainjogja.id – Tinggal menghitung hari lagi, bulan suci ramadan kembali memeluk seluruh umat manusia, khususnya bagi umat Islam itu sendiri. Kerinduan bagi seorang Muslim dalam kehidupan ini salah satunya adalah bisa berpuasa lagi di tahun depan, yakni berpuasa di bulan Ramadan. Sebuah bulan yang penuh rahmat, berkah, dan penuh ampunan.

Adalah sebuah kerugian bagi seorang Muslim sendiri jika tak bisa mengambil moment terbaik dari segala bulan itu. Jika dalam setahun ada 12 bulan, di bulan ramadan itulah bulan yang paling mustajab. Seperti yang sudah disinggung tadi, bulan tersebut bulan segala kemuliaan, bulan terbaik, bulan yang diagungkan, dan bulan yang dirindukan oleh segenap Muslim di dunia.

Nah, ada yang cukup unik terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat bulan ramadan, yaitu “mendadak alim”. Eh, maaf, jangan salah artian dulu, ya?! Soalnya di antara kita sendiri terkadang sering mendengar kalimat-kalimat seperti ini: “Cieee… yang udah pakai hijab syar’i.”. Bahkan yang menggelitik lagi seperti ini: “Tumben amat kamu rajin sholat, tadarusan, dengerin ceramah ustadz di Masjid. Nggak kayak seperti biasanya, deh.”.

Sebenarnya kita tidak usah heran kenapa di bulan puasa itu banyak orang yang mendadak alim. Jika dia tidak pernah mengaji sama sekali selama setahun, dan di bulan puasa, eh, dia rajin sekali tadarusan. Begitu juga dengan sholatnya, jika dalam seminggu sholat hanya sekali, yakni di hari Jumat saja, lantas di bulan ramadhan rajin sekali bolak-balik ke Masjid ikut berjamaah.

Pertanyaannya adalah apakah orang yang demikian itu sok alim? Sok baik di tengah-tengah masyarakat? Ini adalah jawaban rahasia, setiap individunya yang mengetahui hal itu. Hanya saja yang perlu ditekankan adalah bulan puasa itu, kan, bulan yang penuh rahmat, bisa jadi orang-orang yang mendadak alim tadi baru mendapat rahmat dari Allah SWT. Aminn. Jadi kita tidak perlu pikiran negatif, menebak-nebak perubahan orang lain, toh, semakin banyak orang baik di kehidupan kita, maka itu akan mendatangkan kebaikan pula kepada kita.

Selain itu di bulan yang penuh kesucian ini juga kaum hawanya seperti menyemarakkan hijab. Yang biasa tidak berhijab dengan rambut tergerai panjang, sibak sana-sibak sini, di bulan ramadhan dia menutup auratnya dengan hijab yang panjang dipadu dengan gamis yang syar’i. Bahkan orang-orang di sekitarnya pangling, sampai-sampai bilang begini: “Aduhhh, cinnn, cantik amat kamu kalau berhijab begini, sampai pangling, deh.”

Memangnya kalau muslimah itu berhijab tambah cantik, ya? Kembali lagi, sih, sama orang yang melihatnya. Penulis sendiri sepakat dengan kebanyakan orang, kalau perempuan Islam itu berhijab keanggunan dan kecantikannya kian bertambah, dibandingkan tidak berhijab. Terus, perempuan dengan rambut hitam yang tergerai panjang, bukankah itu tidak anggun dan cantik? Anggun, sih anggun, cantik, ya, tentu cantik, hanya saja kita harus ingat juga, cantikkah terlihat oleh Allah SWT?

Mengingat Muslimah yang sudah baligh wajib hukumnya menutup aurat, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tidak boleh ditawar-tawar lagi dengan macam alasan. Pamali atuh! Hahaha. Bukankah begitu, ukhty? Bahkan sebuah keluarga yang taat menjalankan hukum-hukum Islam sejak anaknya masih kecil sudah membiasakan untuk berhijab. Alasannya sederhana agar ia sudah terbiasa menutup aurat. Sebab kalau sudah besar, sangat sulit mendidik anak untuk menutup auratnya.

Mungkin kita pernah melihat anak seorang ulama besar tapi anaknya  tidak berhijab? Padahal ia sendiri mengakui dan menyadarinya, bahwa berhijab adalah kewajiban. Apakah dia juga merasa berdosa di mata Allah SWT? Bisa jadi. Tapi kenapa belum tergerak juga hatinya untuk berhijab? Boleh jadi ia belum mendapat rahmat dan hidayah.

Saya sangat yakin, di sekitar kamu sendiri mungkin ada teman-teman kamu yang belum berhijab. Atau jangan-jangan kamu sendiri belum berhijab? Hahhaha. “Pakai hijab, lho, Bang, tapi kalau jalan-jalan saja.” Weleh-welehhh… kalau begini ceritanya sama juga bohong, sister. Nah, ini catatan jika teman kamu yang belum berhijab. Kalau dia belum berhijab, jangan pula dikucilkan, jangan dianggap tidak soleha, dan sebagainya, terlebih lagi diburuk-burukkan. Cukup doakan saja dan sering memotivasinya secara tak langsung agar tersentuh hatinya. Biasanya dalam persahabatan itu bisa saling mempengaruhi, maka saling mempengaruhilah dalam hal kebaikan.

Yang kedua adalah bagi kamu yang belum berhijab, saya juga sangat yakin di hati kecil kamu tentu tahu bahwa Muslimah tidak boleh mengumbar auratnya, meskipun hanya soal rambut. Jadi di bulan ramadhan ini, bulan yang penuh ketakwaan mulailah belajar dan membiasakan menutup aurat. Jika hari-hari yang lalu berhijab kalau jalan-jalan saja, mulailah berhijab ketika keluar dari rumah. Begitu seterusnya, sampai-sampai di rumah juga berhijab. Poin terpentingnya adalah membiasakan diri.

Atau juga kamu sudah berhijab bertahun-tahun, tidak pernah melepaskan hijab dari kepala saat keluar dari kamar. Tapi sayangnya hijab yang digunakan belum syar’i, masih jauh dari hokum-hukum menutup aurat. Maka selanjutnya mulailah membiasakan diri memakai hijab yang syar’i, hijab yang lebar dan panjang sampai di perut.

Dan jangan lupa pula padukan dengan busana yang baik pula,  jangan lagi memakai celana-celana aneh, seperti masih kelihatan bahenolnya,  pamali atuh! Hahaha. Saya yakin kamu paham soal memilih pakaian yang baik. Jika memang minim pengetahuan soal busana, bisa cari informasi ke teman-teman kamu yang paham betul busana syar’i.

Di bulan ramadhan inilah bulan yang tepat untuk belajar menutup aurat. Jika rahmat berkenan ke hati kita, maka keberkahan pun akan kita raih, sehingga dosa-dosa kita berguguran atas ampunan dari Yang Maha Kuasa, Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. Semoga apa yang kita pelajari menjadi kebiasaan, menjadi nilai ibadah yang terus berlanjut sampai menutup mata. Dan jika Dia berkenan, kita kembali bertemu di bulan ramadhan tahun depan. Amin.  [Asmara Dewo]

 

Baca juga:

Ketika Lebaran Memanggil Anak Rantau

Mencapai Target Hidup Karena Allah SWT

Hanya Allah yang Menentukan, Sekalipun Dokter sudah Menyatakan Kematian

Akhir Kehidupan Manusia dan Tiga Amalan yang Tak Ada Putusnya



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas