Ilustrasi belajar menulis | Istockfoto

Asmarainjogja.id -- Menulis itu tidak sulit-sulit amat, semudah Anda merumpi asyik dengan sahabat tersayang. Jika Anda pandai berbicara, apalagi bersilat lidah, itu cukup modal menjadi seorang penulis.

Dunia menulis adalah dunia mengarang, hebat Anda mengarang, maka Anda akan menjadi penulis. Penulis hebat pun bisa, seperti penulis-penulis terkenal Indonesia, atau dunia.

Yang penting Anda pahami adalah setiap karya tulis itu adalah sebuah karangan. Misalnya seorang jurnalis menuliskan berita, itu merupakan karangan jurnalistik. Menulis curhatan hati di media sosial, itu juga karangan. Begitu juga dengan buku-buku dan novel, dikarang oleh si penulis.

Oleh sebab itu jika Anda ingin menjadi penulis, maka mulailah belajar mengarang. Caranya sangat mudah, seperti pengalaman penulis sendiri adalah menulis di facebook. Jadi saya sudah sudah mengarang sekitar tahun 2014. Ketika itu tulisannya masih sangat kacau sekali, malu sebenarnya jika membacanya sekarang.

Tema-tema yang saya angkat dalam mengarang juga hal-hal sepele, seperti cerita-cerita hati, persahabatan, pengalaman kerja sehari-hari, dan kejadian-kejadian yang di alami. Karena saat itu lagi semangat-semangatnya menulis, semua dijadikan bahan tulisan. Seperti tong sampah, tidak perduli jenis sampah organik ataupun non organik.

Mulai dari non fiksi, sampai fiksi. Kalau fiksi, saya suka menulis cerpen. Bagi saya kerennya menulis fiksi adalah kita seolah-olah seperti ‘tuhan’, melahirkan tokoh, membuat cerita semau gue, ada tokoh protagonis dan antagonis. Lucunya yang jadi tokoh protagonis itu adalah pengarangnya sendiri. Hihihi… terkadang memang memalukan.



Dan yang paling seru adalah akhir dari cerita itu sendiri, berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan. Biasanya pembaca itu suka yang happy ending, ya, berakhir dengan bahagia begitu. Tapi, karena saya yang mengarang, ya, suka-suka dong, saya buat saja cerita berakhir dengan sedih, atau penyesalan, hahaha.

Selain menulis fiksi, saya juga suka menulis non fiksi berupa opini. Karangan ini biasanya muncul karena melihat realita yang ada, misalnya soal sosial, pendidikan, politik, hukum, dan lain sebagainya. Jika ada yang mengusik hati, maka saya pun buru-buru membuat opini.

Karena masih belajar menulis, terkadang opini saya itu memang berkesan tendensius, lebih provokatif, dan frontal sekali. Buruknya lagi masih kekurangan data dan bukti-bukti sebagai penguatan opini.

Hijab 

Padahal kalau mau menulis opini kita harus turut mencantumkan data, fakta, informasi, sumber, dan lain-lain, agar opini yang ditulis seobjektif mungkin, tidak semata-mata subjektif dari penulis itu sendiri.

Hampir setiap hari saya menulis, bahkan sebelum saya punya laptop, saya menulis dari handphone, waktu itu masih pakai Blackberry. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sulitnya menulis dari handphone. Bunyi keypad-nya, klutak-klutuk klutak-klutuk, berisik sekali.

Tapi karena memang semangat sekali menulis, tidak perduli, yang penting menghasilkan karya. Ya, rasa emosional, ide, gagasan, pendapat, harus diekspresikan dari tulisan. Jangan biarkan mengendap di otak. Sayang sekali jika begitu. Itulah prinsip saya waktu dalam menulis.

Karena itu pula dalam sehari, saya bisa menulis artikel 3 macam dengan tema yang berbeda-beda, dan terkadang pula diselingi dengan cerpen. Dan itu menulis murni dari pikiran, tanpa bantuan daftar pustaka. Maklum, saat itu saya ingin menjadi pengarang murni.

Teman blogger saya Liana, mengatakan kalau ingin menjadi penulis temukanlah bintang inspirasi. Maksud dari bintang inspirasi itu adalah sosok yang kita kagumi, cintai, bisa memberikan ide kepenulisan. Seperti ibu, ayah, sahabat. Bintang inspirasi itu tak hanya manusia, bisa berupa benda, hewan, bahkan Tuhan sekalipun.

Liana juga terinspirasi dari novelis Dewi Lestari (Dee) dalam novel Perahu Kertas. Betul-betul menginspirasi memang. Nah, sejak itulah saya sudah menemukan bintang inspirasi dalam menulis.

Setelah pandai mengarang, maka temukanlah bintang inspirasi menulis Anda. Dua kunci inilah cara belajar menulis yang mudah Anda praktikkan.

Tuliskan segala tentang sosok bintang inspirasi Anda tersebut. Fisiknya, sifatnya, kejeniusannya, hubungan kalian. Apapun ceritakanlah pada tulisan Anda. Saya sangat yakin tak akan ada habisnya menuliskan tentang sosok yang kita kagumi dan dicintai.

Selanjutnya Anda tinggal memperdalam teknik kepenulisan dengan baik dan benar. Hal ini bisa dipelajari dengan membeli buku, ikuti workshop dan seminar menulis. Yang tak kalah penting lagi adalah berteman dengan sesama penulis, ada banyak sekali komunitas-komunitas menulis baik online, maupun offline.




Dengan bergabung sesama penulis Anda bisa sharing dan belajar menulis di sana. Tanamkan sifat ingin belajar ke siapa saja, tanpa pandang bulu. Ilmu kepenulisan itu tersebar luas, ambil peluang emas itu.

Apa yang saya uraikan di atas sudah pernah dipraktikkan, karena itulah saya berani menuliskannya. Nah, skil menulis itu harus terus diasah, agar semakin tajam. Sama halnya dengan melatih otot, jika Anda ingin membentuk tubuh yang six pack, tentunya Anda berlatih setiap hari, seperti angkat barbel, kan?

Menulis juga begitu. Semakin rajin menulis, tulisan kita akan semakin baik. Lebih enak dibaca, mudah dipahami, menginpirasi dan memotivasi pembaca, dan memberikan pencerahan kepada siapa saja.

Saran saya adalah jika Anda memang berniat belajar menulis, pelajarilah juga bagaimana menulis fiksi. Alasannya adalah pandai menulis fiksi seperti cerpen itu berguna jika Anda menulis non fiksi, seperti opini agar tidak terlalu kaku seperti buku pelajaran sekolah.

Bahkan Anda bisa juga turut menuliskan beberapa dialog pada tulisan, tentunya hal itu lebih menarik dan membuat nyaman pembaca. Tidak menjenuhkan.

Sekarang apakah Anda siap mau belajar menulis? Jika sudah siap, mulailah menulis di media sosial Anda, seperti facebook atau Instagram. Tulislah apapun yang Anda rasakan saat itu, tapi ingat jangan menulis yang tidak baik dan bisa mempermalukan diri sendiri. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Iman Kepenulisan saat Lebaran

Menemukan Bintang Inspirasi Menulis

Memahami Dari Mana Datangnya Rezeki Penulis

Menulis Bukan Sekadar Memahat Nama di Sejarah

Kamu Itu Blogger atau Penulis?

Begini Cara Agar Tulisan Mudah Dipahami, Enak Dibaca, dan Dirindukan

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas