Ilustrasi membaca bersama anak | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Dunia literasi bagi anak-anak sekolah masih sangat miris. Mereka lebih suka main gadged dibandingkan membaca, apalagi menulis. Jika budaya gadged lebih menonjol dibandingkan membaca, 10 tahun atau 20 tahun kemudian pendidikan Indonesia akan mengalami kemunduran. Jangan berharap anak berprestasi, tidak goblok-goblok amat saja sudah sukur.

Sebagai orangtua, apakah Anda rela anak-anak Anda yang disekolahkan bukan malah cerdas, tapi goblok dan lemot? Tentu tidak rela, kan? Mengingat biaya pendidikan mahal, dan juga yang tak kalah penting adalah investasi pendidikan di keluarga Anda nihil. Harap dipahami seberapa pun warisan kekayaan Anda jika dikendalikan dengan anak-anak yang lemot, bukan malah berkembang, yang ada malah tumpur.

Itulah gunanya pendidikan yang baik, membuka wawasan, menimba ilmu pengetahuan, mengasah kecerdasan, dan juga menemukan bakatnya di kemudian hari. Pendidikan bahasa kita sedang mengalami kemunduran, apakah Anda tahu sebagai orangtua? Atau seorang kakak bagi adik-adiknya?

Problem, ternyata kemampuan bahasa anak kita jauh tertinggal, mundur empat tahun. Jadi kemampuan anak SMA kelas XII sama dengan SMP kelas VIII,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadzir Effendi.

Artinya apa? Anak sekolah kita sudah tidak hobi lagi membaca, dan tampaknya alergi sekali dengan buku. Baik buku pelajaran maupun buku umum. Akibatnya pendidikan bahasa kita mengalamai kemunduran yang signifikan. Sudah bisa dibilang darurat pendidikan. Ini sangat bahaya bagi perkembangan anak sekolah di negara kita.

Berdasarkan survey Internasional Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015, mereka melaporkan tingkat kemampuan membaca anak sekolah Indonesia berada di urutan ke-69 dari 76 negara yang disurvei. Bahkan negara kita jauh tertinggal dengan negara Vietnam yang berada di posisi ke-12.

Maka jangan heran anak sekolah kita kemampuan bahasanya sangat memprihatinkan. Tidak usah jauh-jauh menulis karya ilmiah, komunikasi saja amburadul. Bicara patah-patah. Tidak kritis. Apakah tipe seperti ini generasi pengganti kaum tua? Bagaimana bisa, jika bicara saja suka ngawur? Apa mungkin menjadi orang besar jika wawasannya dangkal? Kesuksesannya pun sudah terukur kalau seperti itu. Ini bukan mendahului Allah SWT, tapi prediksi melihat gerenasi muda bermental seperti itu tadi.

Jadi solusinya bagaimana? Gampang! Mulailah anak Anda di usia dini sudah didekatkan dengan membaca. Mulai membaca kitab suci, sampai membaca cerita-cerita dongeng. Selain memantik agar anak gemar membaca sampai ia tumbuh remaja dan dewasa, yang tak kalah penting lagi adalah melatih imajinasi dan kreatifitas. Dan ini sangat penting bagi pertumbuhannya sampai kelak ia dewasa nanti.

Jika anak Anda sudah mulai remaja, mulailah melalui pendekatan layaknya sebagai sahabat. Cari tahu kesukaannya, setelah itu berikan buku-buku yang mendukung kesukaannya tersebut. Terkadang ada anak yang memang tidak cerdas, karena daya tangkapnya lemah. Tapi di sisi lain dia punya kelebihan. Otak kanannya cenderung berfungsi dibandingkan otak kirinya. Tipe anak seperti ini biasanya dia lebih suka yang berbau kreatifitas dan imajinasi. Misalnya suka menggambar, melukis, menulis, atau fotografi.

Jika seperti itu sebagai orangtua tidak ada salahnya mendukung kemauannya. Mungkin itulah cita-citanya yang terpendam. Jangan pula prestasi di sekolah anjlok, tidak pula didukung bakatnya, suram masa depannya nanti. Maka dari itulah mulai mendukung kegiatannya, belikan buku-buku yang bisa mendukung kreatifitasnya. Buku itu selain berguna untuk bakatnya juga memengaruhi pola pikir, wawasan, sifat kritis, dan memantik prestasinya. Tampaknya sederhana, namun manfaatnya sangat luar biasa.

Nah, ketika ia sudah mulai kecanduan membaca, dia akan mencari lagi buku-buku lainnya. Mulanya masih buku yang berhubungan dengan minatnya, tapi lambat laun buku yang dibacanya bisa saja yang mengulas agama, sejarah, politik, sosial dan budaya. Akhirnya anak Anda buka hanya menemukan bakatnya, tapi semakin banyak memahami berbagai pengetahuan umum.

Anak yang tumbuh dan berkembang karena semakin bertambah wawasan dan mantapnya keyakinan ilmu pengetahuannya, ia akan menjadi anak yang cerdas, tegas, dan berprinsip. Kita bisa membayangkan jika rata-rata anak sekolah Indonesia begini, 10 tahun atau 20 tahun lagi Indonesia akan melahirkan generasi emas. Itulah harapan bangsa kita di tahun 2045. Tapi sebaliknya, jika sebagai orangtua saja tidak perduli anaknya, lalu siapa pula yang perduli terhadap dia?[]

Baca juga:

Jangan Jadi Murid Pembantah! Meskipun Gurunya Galak

Ini Manfaat yang Didadapatkan Anak Jika Menjadi Anggota OSIS

Ingat Orangtua Sebelum Belajar, Biar Wisuda Kelar!

Menumbuhkan Minat Menulis Siswa di Ekskul Sekolah

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas