Pantai Greweng | Foto asmarainjogja.id

Raja  siang mulai menyingsing dari langit timur, semburat jingga melukiskan langit pagi. Burung-burung berkicauan menyambut hari yang cerah. Ombak pantai tampak tenang menarik diri dari daratan, batu-batu karang pun di tepi pantai terlihat jelas. Berbagai ikan berwarna-warni menari-nari di antara tumbuhan laut. Pagi itu di Pantai Greweng tampak lebih ramai, ada ratusan muda-mudi menikmati keindahan alam Samudera Hindia. Di antara himpitan dua bukit tinggi, tenda-tenda itu berbaris rapat satu sama lainnya.

Icow bangun lebih awal dari teman-temannya, kebiasaannya bangun pagi selalu dibawanya di manapun berada. Mahasiswa yang sering begadang itu telah menyiapkan sarapan. Bagi Icow bangun pagi adalah kewajiban anak manusia, jika tak mau kalah lebih cepat dari kawanan ayam. Udara pagi yang sejuk disambutnya dengan secangkir kopi hitam. Icow menatap laut lepas. Menerawang jauh dengan imajinasinya.




“Cepat sekali kau bangun,” Ali menepuk pundak Icow, “nyaman tidurnya?”

“Seperti yang kalu lihat, tetap bugar, bukan?” Icow sodorkan kopinya, “silahkan!”

“Terimakasih.”

Teman-teman yang lain juga mulai bangun satu per satu. Pati yang matanya masih mengantuk dipaksa bangun oleh Ana. Cipratan air ke wajah Pati cukup efektif membangunkannya.

“Jangan salahkan kami jika hanya kuah yang tersisa untukmu,” ancam Ana.

Pati yang duduk di sisa kantuknya buru-buru membasuh muka. Badannya yang gempal itu mempercepat langkah kakinya, tak mau ketinggalan sarapan bersama. Hidungnya mengendus-endus aroma mie yang begitu menggugah selera. Kata Pati memuji,

“Sahabat yang baik adalah sahabat yang tahu kapan sahabatnya kelaparan. Dan aku benar-benar lapar kali ini.”

Teman-teman yang lain tertawa mendengar ocehan Pati, apalagi ia pula yang pertama mengambil mie dan ayam ke piringngya.

“Ayo makan! Kenapa kalian bengong, hah?”

“Orang yang selalu terlambat, sekarang menjadi orang yang pertama menyantap makanan. Ya, itulah Pati,” ujar Limo disusul tawa, “semoga berat badanmu tidak bertambah.”

“Setelah tamat kuliah, aku pikir kau buka usaha rumah makan, Pati, agar hidupmu di setiap waktu tidak jauh dari makanan,” timpal Salman.

“Boleh juga. Dan kalian harus bayar, tidak ada makanan gratis bagi orang yang suka mengejek,” balas Pati dengan susah karena mie penuh di mulutnya.

“Aku tidak keberatan turut membuatmu lebih subur dan makmur,” kata Limo.




Semua tertawa terbahak-bahak, kecuali Pati dengan tawa kecilnya. Pati selalu menjadi bulan-bulanan bully oleh sahabatnya. Meski begitu ia tidak pernah sakit hati, apalagi marah. Pati menganggap itu adalah kehangatan persahabatan, dan itu tidak ia dapatkan dari siapapun. Menurut Pati gurauan juga bisa membuat keintiman persahabatan, semakin bergurau maka semakin seru.

“Bagus kalau kau suka melihat aku subur. Hanya saja aku ingin membuatmu juga subur, tidak seperti sekarang...” mata Pati menyapu setiap inci tubuh Limo.

“Memangnya kenapa sekarang? Ayo bilang!” desak Limo.

“Bentar, aku memilih kalimat yang tepat,” Pati diam sejenak, “oke, kau lihat tanah di sekitar ini, begitu kering dan tandus, hanya tumbuhan tertentu saja yang bisa hidup.”

“Terus?” Limo tak sabar mendengar lanjutan kalimat Pati.

“Tanah di sini seharusnya subur, agar setiap tanaman bisa tumbuh dan menghasilkan. Begitu juga dengan manusia, ia harus subur agar bisa pula menyuburkan orang lain,” Pati melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti.

“Apa hubungan dengan aku?” Limo terlihat bodoh.

“Kau artikan saja sendiri! Hahaha,” Pati tertawa melecehkan.

Kini Limo yang menjadi bahan candaan. Pati begitu puas membalas ejekan Limo. Di suapannya terakhir, Pati berujar,

“Kalian tahu, apa salah satu penyebab utama manusia marahnya tidak terkendali?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Pati. Icow yang berusaha berpikir radikal pun hanya bisa menjawab di dalam hati. Sedangkan yang lain kebingungan, penasaran apa jawabannya.

“Yakin tidak ada yang mau menjawabnya?” Pati memberikan kesempatan lagi.

“Karena diusik ketenangannya,” jawab Ana.

“Manusia marah karena merasa ditindas,” susul Salman.

“Belum begitu tepat. Ayo yang lain?!” Pati terus menantang.

“Karena disakiti mungkin,” Uni menerka-nerka.




“Berkaitan dengan pagi ini. Dan jawaban Uni belum pas,” Pati memandang satu persatu mata teman-temannya, “haihhhh… dasar mahasiswa bloon. Hahaha.”

“Hm… aku jadi penasaran. Aku coba jawab, ya?” Ali seruput kopinya yang mulai dingin, “manusia akan marah ketika identitasnya dihina.”

Pati menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bukan… bukan itu,” lalu ia menggawil lengan Eki, “Kau coba jawab, Ki! Tidak ada yang jadi penonton di sini.”

“Kali ini kita berpikir keras karena Pati,” jawab Eki, “sepertinya seseorang marah karena disinggung kepribadiannya.”

“Tidak juga! Jawaban kalian hampir sama dengan yang lainnya,” Pati pun mengerling ke Icow, “sekarang kau yang belum memberikan jawaban.”

“Manusia marah karena jatahnya dihabiskan” jawab Icow sembari tertawa, “kan, kau pernah merajuk saat makanan kau dihabiskan oleh Limo. Nah, lapar membuat orang cepat marah. Coba ingat bagaimana Ali sepanjang jalan marah-marah karena lapar. Kalau cuma kau telat, itu sudah maklum. Heh, bagaimana?”

“Wihhh… kau memang sahabatku yang cerdas, dan kau paling mengerti aku. Betul, itu yang aku maksud,” Pati memuji, “mari bersulang dengan kopi yang masih panas.”

Teman-teman yang lain terbengong saling berpandangan. Mereka merasa sudah dikerjain dengan pertanyaan Pati yang aneh, tapi sangat masuk akal.

“Pati, kau hanya buat pertanyaan asal-asalan saja, dan menunggu jawaban dari Icow, terus kau benarkan jawaban Icow dari pertanyaanmu yang nyeleneh itu,” Ana tak terima.

“Ya, aku pikir juga begitu,” sambung Eki.

“Wisshhh…. kalian terkadang selalu meremehkan aku,” Pati membela diri.

“Karena di pikiranmu hanya ada makanan dan tidur,”hardik Limo.

Mereka terus mengobrol sampai tak terasa sang mentari sudah terang benderang. Pati yang sudah gerah karena tidak mandi semalaman berganti pakaian bersiap-siap menyeburkan diri di pantai. Pagi itu tepi pantai begitu ramai dipadati oleh kaum muda-mudi lain yang juga camping di sana. Ombak pun tidak begitu ganas, cukup bersahabat untuk berbasah-basahan.

“Ayo temani aku mandi!” Pati menarik tangan Limo.

Limo yang tak mau mengikuti Pati pun berontak menahan diri dari tarikan Pati yang begitu kuat. Tanpa ada aba-aba, Salman, Eki, dan Icow membantu Pati mengangkat Limo. Mereka menggotongnya dan melemparnya ke pantai. Uni dan Ana merekam dari belakang dengan kamera dan handycam  di tangan.




“Satu… dua… tiga!” serempak mereka menghitung, “lempar!”

Byurrr… bak sepotong balok, badan Limo dilempar ke pantai.

“Aaaasuuu!” umpat Limo yang masih terengah-engah karena hidungnya kemasukan air, “sumpah aku akan balas kalian!”

Kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak dan kabur menjauhi Limo. Orang-orang di sekitar pantai yang menyaksikan itu pun ikut tertawa. Limo yang sudah basah kuyup terpaksa mandi di saat itu juga. Setelah beberapa menit, kawan-kawannya pun menyusul Limo. Dengan wajah ragu-ragu mendekati Limo, mereka khawatir jika Limo akan balas dendam.

“Tenang, bukan saat ini. Tunggu tanggal mainnya,” Limo tahu temannya tidak mau mendekatinya.

Sudah dua jam mereka mandi dan bermain di tepian Samudera Hindia itu. Waktu menunjukkan pukul sebelas. Hari sudah panas. Pantai Greweng mulai sepi ditinggal satu per satu oleh pengunjung. Tenda berdiri tinggal beberapa saja. Pati yang kelelahan mengajak teman-temannya ke tenda.

“Kita mau ngapain lagi, nih?” tanya Pati.

“Ya, pulang. Terus mau ngapain?” Ana balik tanya.

“Kalau kalian mau, di timur bukit itu ada pulau,” Ali menunjuk ke arah bukit, “Pulau Kalong namanya. Kalong artinya kelelawar, aku pikir kalian juga sudah tahu.”

“Terus?” Salman penasaran.

“Kata warga sekitar, dulu pulau itu banyak kelelawarnya,” Ali menjelaskan, “pulau itu juga jarang dikunjungi. Hanya beberapa warga sini saja yang ke sana.”

“Ngapain warga ke sana?” desak Pati, “menangkap kelelawar, kah?”

Ali menyeringai, “Tentu saja bukan. Memangnya setahu kau kelelawar untuk apa? Warga nelayan di pinggiran Gunungkidul ini ke Pulau Kalong untuk menangkap lobster.”

“Menangkap lobster dengan apa?” Uni turut penasaran dengan cerita Ali.

“Oh, mungkin menangkap lobster dengan umpan kelelawar,” jawab Pati sok tahu.

“Beghhh… sejak kapan pula lobster doyan kelelawar?” ujar Ali, “mereka menangkap lobster dengan bubu yang dipasangnya sore hari, dan keesokan paginya mereka kembali melihat hasilnya. Selain lobster yang banyak di sana, juga ada udang, kepiting, dan ikan.”

“Wihhh.. seperti pulau surga,” Pati membayangkan pulau itu.

“Pasti seru kalau kita ke sana. Aku jadi penasaran bagaimana Pulau Kalong,” kata Eki, “kapan kita menjelajahinya?”

Ali mencoba mengingat sesuatu. Sebab ada beberapa hal penting yang belum dijelaskannya. Sudah setahun lalu ia ke Pulau Kalong, tentu saja ada perubahan pada pulau tersebut. Teman-temannya yang tak sabar menggali informasi dari Ali terus menodong berbagai pertanyaan. Pati yang paling antusias begitu geram terhadap Ali yang menyampaikan informasi hanya sepotong-potong. Sambil mendengarkan cerita Ali, Icow berinisiatif memasak menu siang bersama Uni dan Ana.

“Coba kaujelaskan lebih detail lagi pulau itu,” ucap Icow sembari menyalakan kompor, “jangan sampai kita ke tempat yang berbahaya. Apalagi pulau itu jarang dikunjungi oleh warga. Kan kita juga tahu di sekitar pantai-pantai di Gunungkidul tidak semua aman dikunjungi.”

“Oh, iya-iya, aku baru ingat. Untuk menyeberang ke Pulau Kalong kita harus melewati jembatan yang terbuat dari kayu. Seingat aku juga di sana ada gondola. Tapi…,” Ali terdiam sejenak.




“Tapi kenapa?” mata Pati melotot.

“Iya, kenapa?” Salman mendesak Ali.

“Dulu waktu kami menyeberang ke pulau, jembatannya memang sudah tidak utuh lagi. Ada beberapa papan-papan jembatan sudah hilang. Sedangkan gondolanya tampaknya juga rusak. Aku juga tidak yakin apakah tali pengikat jembatan itu masih kuat, dan kayu-kayunya belum lapuk dimakan rayap,” Ali duduk turut membantu Icow menyiapkan perlengkapan masak.

“Maksudmu, jembatan kayu itu hanya diikat dengan tali tambang? Begitu juga dengan gondolanya?” tanya Eki lagi.

“Iya, betul.”

Pati menepuk jidat. Ia menghela napas panjang, antara khawatir dan penasaran ingin menjejakkan kakinya di Pulau Kalong. Tentu saja ada ketakutan pada Pati mengingat tubuhnya yang berat. Laut Gunungkidul memang eksotis, tapi juga menyimpan cerita-cerita mistis yang dipercaya warganya. Terkenal pula dengan karangnya yang cadas, dan terlebih lagi palungnya yang begitu dalam, bisa saja membahayakan seseorang yang terseret arus ombak.

“Jadi bagaimana ini?” Eki tampak bingung.

“Aku terserah teman-teman saja,” jawab Salman pasrah.

Mendengar jawaban yang lain hampir sama, Ana punya ide yang berbeda. Dia tidak mudah menyerah begitu saja jika hanya sekadar informasi yang disampaikan Ali. Katanya pada teman-temannya,

“Bagaimana kalau kita ke sana dulu, detelah itu kita putuskan. Jika jembatannya tidak memungkinkan untuk dilalui, ya, sudah dibatalin saja. Nah, sebaliknya, jika memang masih layak diseberangi, tentu saja kita menempuhnya,” kata Ana, “sayang saja, kan, kita sudah di sini, masa iya disia-siakan kesempatan petualangan kita ini? Bukan begitu, Uni?”

“Oke, aku setuju,” sahut Uni, “yang lain bagaimana?”

“Setuju,” jawab Eki dan Salman serempak.

Icow menganggukkan kepala tanda sepakat dengan ide Ana. Begitu juga dengan Ali. Namun Pati hanya bergeming karena keraguannya. Duduknya diperbaiki dengan duduk bersila. Rambutnya yang tak gatal pun digaruk-garuknya. Dia kebingungan.

“Kalau kau takut, kita batalin saja,” ujar Limo dengan nada merendahkan, “biar kita pulang sehabis makan.”

“Siapa pula yang takut? Aku berani! Ayo kita ke sana setelah makan,” tantang Pati dengan suara yang dipaksa.

Benar saja sehabis menyantap makan siang dengan lauk ikan kaleng itu, delapan sahabat tersebut sudah memasukkan semua perlengkapannya di carier masing-masing. Menuju ke Pulau Kalong, mereka harus melewati jalan setapak untuk membelah bukit yang berada di sisi timur Pantai Greweng. Semak belukar di sisi kanan-kiri seperti tembok yang menghalangi pemandangannya.

“Kita sudah berada di atas bukit. Menuju ke Pulau Kalong kita harus memutari bukit ini terlebih dahulu,” Ali memulai komandonya, “medan yang dilalui itu sangat ekstrem, di sebelah kiri jalan jurang terjal. Kalau sampai jatuh, wassalam. Kita harus saling menjaga. Posisi tetap seperti ini. Aku di depan, dan paling belakang Icow. Hati-hati setiap melangkah, terkadang batu yang dipijak tidak kokoh.”




“Siap, Rambo milineal,” sahut Pati dengan hormat komando.

“Kau takut?” bisik Icow pada Uni yang berada di depannya.

“Aku percaya pada orang yang pernah berjanji menjagaku,” jawab Uni sembari mengedipkan matanya, “semoga kau tidak lupa janji itu.”

“Ya, aku selalu ingat. Tidak akan pernah lupa.”

Berselang delapan meter jalan curam yang baru dilalui mereka, kaki Pati terpeleset, dan ia terjerembab. Uni menjerit menyaksikan Pati yang terhempas di bebatuan cadas di tepi jurang. Dalam hitungan detik Icow melompat. Teman-teman lain turut bergegas menyelematkan Pati. Mulut Pati mengaga, matanya berkedip-kedip ketakutan.

Bersambung… [Asmara Dewo/Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya di sini:

Bukan Retorika Percintaan 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas