Foto Ilustrasi Flickr | Nindy Resti

Saat  jarak dan waktu memisahakan antara kamu dan sahabat kamu tentu itu menyakitkan, bukan?

Ada kerinduan di mana kita ingin mengulang kisah-kisah keseruan saat bersama sahabat terbaik melakukan hal-hal konyol di luar logika.

Selalu terkenang perngorbanan sahabat kita, yang selalu ada saat suka dan duka menghampiri hidup kita. Dengan canda, tawa, bujuk rayunya, mereka berusaha membuat kita tersenyum kembali.

Sungguh, seorang sahabat tentunya selalu ingin kita bahagia. Sekalipun terkadang, kita tidak tahu kesedihan apa yang pernah mereka alami. Mereka menutup kesedihan, agar kita tidak turut dalam kesedihannya.

Kekonyolan bersama sahabat, ini yang paling membuat kita selalu teringat pada mereka.

Dulu, pada masa kuliah di Medan, kami sering mendaki gunung. Nah, waktu itu pendakiannya kami kasi nama agar selalu terkenang di kemudian hari. Dan ternyata memang benar, sampai detik ini saya ingat betul sembari tersenyum.

Kami meresmikan pendakian itu dalam tajuk: Sekali Menapak Dua Gunung Terlampaui.

Sok keren banget ya namanya? Hahaha … Tapi, memang begitulah kenyataannya.

Pada Jum’at sore, kami mulai menapaki Gunung Sibayak. Lalu sampai malamnya berdirilah tenda Eiger berwarna orange di atas bukit Sibayak.

Jadi ingat, itu beli tendanya nyicil, teman sekostan kasi pinjam uang untuk melengkapi hobi berpetualang kami masa itu.

Di bawah bintang gemintang yang berkelip sampai subuh, bulan pun menambah elok langit malam. Tentu saja angin kencang menggoyangkan tenda kami. Dingin? Jangan ditanya, menggigil tubuh kecil kami di dalam tenda itu.

Kalau saya sudah lelah, biasanya cepat tidur saat camping begitu. Tapi tidak bagi sahabat kami si Moan. Dia nggak bisa tidur setiap camping. Kalaupun matanya terpejam, itu bukan tidur, ya mungkin lagi mikirin yang aneh-aneh. Hahaha … mungkin sih.

Nah, uniknya si Moan tadi, dia itu nggak bisa tidur kalau badannya tersentuh oranglain. Gilak, kan? Tenda itu kan kecil, selebar apapun tenda, ya pastilah, kaki atau tangan kami bergeser mengenai badannya.

Ya, udah deh, dia nggak tidur semalaman. Sering begitu kalau camping bareng dia.

Jahatnya Moan terkadang. Dia nggak mau matanya melotot sendiri. Terpaksa dia mengusili kami. Mulai dari cerita kocaknya yang nyeleneh, kentutnya yang astaga bau banget. Hapal betul saya bau kentutnya itu.

Nggak ditanya kenapa bisa hapal begitu?

Ya, kalau dia kentut itu, saya langsung muntah-muntah. Huhhh … ampun deh, ingat itu saja, saya sekarang mau muntah nih. Serius!

Korban kejahilan si Moan adalah si Jo. Cowok ceking tinggi, bermental baja ini kerap menjadi sasaran utama si Moan. Jahilnya si Moan suka meluk, kayak Mahok gitu. Ihhh … jadi geli deh.

Cara dia itu sukses. Akhirnya kami bertiga ya nggak bisa tidur sampai menyambut keindahan sunrise di timur Gunung Sibayak.

Kepala gundul kami menjadi siluet, saat mentari merekah, meninggalkan garis horizontal dari peraduannya. Waktu itu kami bertiga berjanji botakin kepala. Eh, Cuma si Moan yang ingkar janji. Dia nggak jadi plontos.

Katanya: Jelek kali aku, Bang, kalau botak.

Hahahah … saya jadi lucu sendiri. Memangnya ada cowok botak yang ganteng? Lagian biar saja kan jelek, toh biar cewek-cewek nggak suka sama kami. Ada baiknya juga.

Sabtu siang, kami turun ke pos. Lalu naik angkot ke terminal bus menuju Lauh Kawar. Nah, Lauh Kawar ini di kaki gunung Sinabung.

Nggak ditanya, elokkah danau Lauh Kawar?

Elok banget, cinnnnn. Beneran lho. Warna danaunya kehijauan, begitu tenang, dikelilingi hutan tropis yang begitu subur. Yang dramatisnya lagi, saat kabut menggantung di atas Lauh Kawar.  Oh my God, itu  so sweet, guys!

Kebiasaan kami bertiga, kalau naik bus di sana, selalu di atas atap bus. Selain untuk menikmati keindahan sepanjang jalan, agar tidak mengganggu hidung penumpang lainnya. Maklum sih, kami sedikit bau kalau lagi turun gunung.

Tenda pun kami tancapkan di lokasi perkemahan Gunung Sinabung. Berjejer tenda-tenda pendaki lainnya menghadap si indah Lauh Kawar, begitu juga tenda kami dalam satu barisan.

Yang paling nggak cocok itu, saat kami merebus air putih. Yang mana airnya tentu dari air Danau Lauh Kawar. Setelah matang, kami buatlah minuman kesukaan, yaitu kopi. Nah, si Jo menghilang. Dicari nggak ketemu.

Eh, beberapa menit kemudian si kawan datang dengan segelas kopi yang mengepul di tangan. Katanya: Bang, aku minum kopi dari warung aja, ya?!

Hah?! Ini camping atau …

Oke deh, kami pun tertawa lucu lihat seorang pendaki minum kopinya beli di warung.

Sekitar pukul 1 dini hari, kami pun bergegas menyiapkan perlengkapan memulai pendakian Gunung Sinabung.

Kaki kami terkadang terseok-seok, di jalan setapak rimbanya hutan di malam yang gelap itu. Akar yang berserabutan melintang juga membuat kaki tersandung. Batang pohon tak jarang pula beradu jotos dengan kepala.

Terutama si Jo, matanya agak kabur. Jadi nggak bisa membedakan mana batang pohon, dan mana cewek cakep. Semua ditrobos. Ya, nggak heran, kalau wajahnya biru lebam kalau pulang dari mendaki gunung.

Ketika sampai di puncak. Wuihhhh …. Dingin banget,  guys! Gemeretak gigi kami, saking dinginnya. Untung saja pendaki lain sudah buat api unggun di atas puncak. Jadi kami bisa numpang hangat deh di atas perapian.

Lumayang hangatlah! Bisa menolong, badan yang hampir beku  ini.

Setelah cukup lama melawan dingin, si bundar orange pun muncul dari cahaya timur. Begitu menggemaskan eloknya dalam warna jingga semburat awan yang merekah.

Semua berdecak kagum menatap keindahan dari alam semesta itu. Ya, keindahan alam tak bisa diimbangi dengan keindahan buatan manusia.

Nggak percaya?! Mendakilah! Buktikan sendiri.

Nah, si Moan juga sempat cerita: Bang, tadi subuh, waktu kalian tidur, aku boker lho. Ya, karena gelap dan kabut, aku asal boker aja. Eh, rupanya kabut hilang, baru sadar, aku boker di antara pendaki lainnya. Lari aku terbirit-birit bawa sekantong t*ik.

Moan ini memang ada-ada saja tingkahnya kalau mendaki gunung.

Nah, itu sedikit kisah pendakian saya, masih banyak sih cerita-cerita seru mendaki lainnya. Di lain waktu deh dituliskan lagi.

Sekarang, 9 sahabat muda, juga berbagi cerita pengalaman serunya:

Re Tiapian: Ssssaya ga punya sahabat, Mas. Tapi dulu pernah punya teman-teman sesama sales. Kita keliling bareng, prospek bareng, jalan kaki cari orderan bareng, pokonya semua bareng-bareng sampai makan di warteg patungan karena nggak ada yang punya uang.

Tapi setiap ada yang tutup poin atau melebihi target dan dapat bonus, pasti semuanya ditraktir sama yang dapat bonus.

Ayu Anitasyaf: Kalau saya pribadi, hal seru yang pernah saya lakukan bersama sahabat-sahabat adalah ketika kami berkeliling Kota Pekanbaru pada malam hari menggunakan sepeda motor.

Kala itu sudah cukup larut malam sehingga jalanan kota tidaklah terlalu ramai. Malam itu saya merasa seolah terbang bebas, tanpa beban.

Bagaimana tidak? Melakukan hal demikian adalah sesuatu yang langka dalam hidup saya, bahkan itu kali pertamanya. Saya tak pernah berada di luar rumah di malam selarut itu (jika ibu tau habis lah diomelin).

Yang jelas, saya bahagia malam itu kumpul bersama sahabat, tertawa dan merasakan sensasi terbang bebas dengan jilbab yang seolah nenjadi sayapnya.

Arwen Chandra Tatiano: Hal apa oh hal apa yang paling menyenangkan? Yaitu jalan-jalan di alun-alun Purbalingga, jajan ice cream, datangi satu per satu toko baju berburu barang murah.

Eee ..   itu kalau beruntung biasanya dapat barang cantik dengan harga miring nggak nyampe seratus ribu. Tapi yang bikin seru adalah karena aku sama dia ngobrolnya pakai English, sambil ngecengin orang pacaran (maklum kita jomblo). Wkwkwk.

Doli Salam: Aku sama kawan-kawan di rumah, memang punya kesamaan aliran musik, yaitu Dangdut. Pas dengerinnya, equalizer bas harus dinaikkan, biar suara gendang dalam musik dangdut itu benar benar jelas kedengarannya.

Yang namanya penikmat dangdut, ya setiap mendengar alunan gendang pantat ini seperti terpanggil untuk bergoyang. Goyang sendiri kurang afdol, rame rame baru seru! Hahaha

Affendye VViee:  Hal paling seru bersama sahabatku ialah ketika berjalan bersama dalam satu tujuan, menonton konser Superman Is Dead malam Minggu kemarin di Jakarta Barat.

Canda tawa bersama, menanggung beban sejalan dan setiap ucapan yang terlontar ialah kata bijak, walau berbeda cara pandang namun mampu duduk berdampingan.  Kekonyolan dan kepolosan sebagai persahabatanku bersamanya.

Ade Mulyana: Hal paling seru dan gokil itu pas jalan berdua sama sahabat Ervi Sabrina main ke Mickey Holiday. Ketawa bareng, gilak bareng, pokoknya kita puas deh lepas penat dan masalah yang ada.

Teriak sepuas hati dan semua permainan yang ada disana kita coba, padahal nggak ada rencana, cuma terceplos aja mau perginya. Tapi seru banget walaupun cuma berdua kita puas berbagi suka cita. 

Kalau naik gunung itu pengalaman berharga banget, baru kenal sama orangnya lewat fb, udah mendaki gunung sinabung aja. Hahaha ..  kangen muncak bareng lagi, Bang!

Nah, sahabat muda, kenal sama si Ade Mulyana ini, waktu itu kenal di facebook, dan atur rencana naik gunung bareng. Berebapa hari kemudian, mendakilah saya, adik cewek kandung saya, dan si Ade. Trio Kwak-kwak kami mendaki waktu itu, dan seru banget deh. Lusa, akan saya ceritakan, ya?!

Yani Andri:  Hal yang paling seru yang tak akan pernah terlupakan dengan sahabat-sahabatku, waktu aku kuliah dulu. Kami selalu pergi dan pulang dari kampus bersama bejalan kaki demi berhemat.

Agar uang yang diberi ortu tidak cepat habis, kami sadar bahwa ortu kami tidaklah orang dari keluarga yang mampu.

Kami berjalan melewati jalan tol, yang kami jalani penuh dengan bahaya, karena truk yang besar, suatu saat bisa menghantam kami, patroli jasa raharja dan juga polisi yang sering menegur kami.

Terik matahari sepanjang jalan tak menyulutkan kami untuk kuliah. Terkadang anjing pun mengejar kami, terpaksa melompati sebuah parit yang begitu luas. Tapi, kami selalu bersama, melewatinya bersama, dengan suka cita, itu kami lakukan untuk mendapatkan sebuah ilmu.

Riri RIsa: Kalau mau bicara tentang pengalaman menyenangkan bersama sahabat, itu buanyaaak banget, nggak kehitung. Tapi, ini aku bakalan cerita tentang pengalaman yang menyenangkan tapi sedikit lucu.

Ceritanya, kita berteman bertiga dari kelas 1 SMP sampai sekarang, dulu kita punya cita-cita pengen jadi detektif seperti film-film hollywood gitu. Hi...hi...hi...

Dan juga pengen jadi penangkap hantu seperti ghostbuster!!!

Tapi semua nggak kesampaian. Akhirnya kita bertiga mutusin untuk jadi orang-orang yang baik, yang suka menolong orang.

Nah, pada suatu hari di saat kita bertiga lagi mau nyebrang di jalan, tiba-tiba ada satu bocah yang kira-kira umurnya sembilan tahunan masuk kedalam saluran air yang lumayan dalam untuk anak seumuran dia.

Tentu saja reflek kami bertiga langsung inisiatif untuk nolongin anak itu, tanpa banyak tanya kita keluarin tuh bocah, mana gemuk lagi, susah banget ngangkatnya.

Anehnya tuh bocah malah diem, bengong dan ketawa.Tentu saja kami heran, dan kami tanya, kenapa dia nggak nangis. Dengan nyantai si bocah ngejawab, kalau dia emang sengaja masuk ke saluran air itu, dan dia dah biasa cari ikan kopi-kopi di situ, rumahnya dekat situ juga.

Yaelah,...kita bertiga cuma bisa bengong dan ketawa ngakak dengan penjelasan tuh bocah.

Sampai sekarang, kita selalu ketawa kalau ingat kisah itu, kisah sok jadi pahlawan gitu, hihihi …

Rizka Wahyuni: Hahaha … kalau malam minggu dengan sahabat, biasanya cerita tentang impian dan cita-cita.

Wah, unik juga, ya? Saat cewek-cewek lain ngobrolin cowok di malam Minggu, mereka asyik seru bercerita impian cita-cita dan impian.

Eh, sahabat muda, kalau malam Minggu, biasanya kamu cerita apaan, sih?  [asmarainjogaj.id]

Penulis:  Asmara Dewo     

Baca juga:  Mau Cari Kado Sahabat di Hari Ulang Tahunnya? Jangan Bingung! Kamu Bisa Baca 10 Komentar Sahabat Muda Ini!                                                       

Yuk, ikutan berbagi cerita di  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

 








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas