Foto Ilustrasi Flickr

Oleh:  Asmara Dewo

Lampu jalan yang menyorot terang kekuningan membias wajahnya, kami sudah satu jam duduk di sini. Setahun terakhir, ini pertemuan kami yang ketiga kalinya. Yang pertama ketika di pondok, waktu itu dia bersama istri dan anaknya. Usia putrinya empat belas tahun, wajahnya bulat, hidung tidak terlalu mancung, tatapannya begitu teduh. Mirip sekali dengan ayahnya. Kalau mirip dengan ayahnya, itu berarti mirip denganku. Ahh... aku lucu sekali jika setiap melihat wajahnya.

Ibunya tampak lebih muda dibandingkan ibuku, usia ibu 43 tahun, kalau tidak salah tafsiranku sekitar 38 tahun usia ibunya. Masih terlihat awet muda dan cantik. Ibu sendiri wajahnya mulai keriput, binar matanya memancarkan kelelahan sepanjang hidup. Ya, aku tahu ibu cukup lelah dengan segala permasalahan hidup di pundaknya.

“Mas, enak mondok di pesantren?” tanya Diajeng padaku waktu itu.

Aku menyengir mendengar pertanyaannya, enak tidak enak di pondok, ya dienak-enakkan.

“Enak, belajarnya asyik, banyak teman yang baik, belajarnya juga terkontrol. Belajar tidak pernah berhenti, belajar di kelas siang dan malam, menghapal ayat Al-Qur’an dan hadist, belajar ceramah. Pokoknya banyak lagi. Kenapa? Kamu mau mondok juga?”

Dia menggeleng, kemudian tertawa kecil menatap ayah dan ibunya.

“Enak wedang rondenya? Kalau mau biar ayah pesan lagi?” tanya ayah, wedang jahe di tangannya ia letakkan di alas tikar plastik tempak kami duduk.

“Enak, cukup kok, Yah.” Habis wedang ronde itu keseruput, memang enak, tubuhku pun merasakan kehangatan dari minuman khas Kota Pendidikan ini.

Di Alun-alun Kidul ini suasananya menyenangkan, begitu tenang, tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Namun kalau malam Minggu, pengunjung memadatai angkringan dan warung wedang ronde di sekitar Kraton Kesultanan Yogyakarta.  

Di sebelah kami ada seorang lelaki bersama temannya perempuan. Lelaki itu membaca buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah, karangan Michael H. Hart. Ia tampak begitu tenang dan asyik setiap membaca lembar demi lembar kertas yang tampak mulai menguning. Perempuan di sebelahnya sesekali menggoda ketenangannya.

“Lihat, Bang... Lihat! Ada driver Gojek mirip Sharukh Khan,” perempuan itu menyodorkan smartphonenya ke hadapan lelaki itu.

“Rizki, sekarang kamu udah besar, udah tahulah siapa yang salah dan siapa yang benar. Ayah nggak pernah benci sama ibumu, tapi kamu tau sendirilah gimana ibumu sama ayah. Entah sampai kapan ibumu begitu terus sama ayah?” ia diam sejenak, katanya kemudian, “Ibu kamu memang baik, tapi tidak semua apa yang dia bilang benar. Sekarang umur kamu 16 tahun, kan? Itu artinya kamu harus sudah bijak menyikapinya. Kan lucu, ayah ini ayahmu lho, masa iya kita harus dipisah-pisahkan begitu sama ibumu. Ya... nggak boleh begitu, toh!”

“Rizki juga bingung, Yah, ibu bilang jangan pernah nelpon-nelpon ayah. Apapun masalah di sekolah atau masalah pribadi telpon ibu! Jangan sekali-kali nelpon ayah! Ya, kan Rizki bingung jadinya. Ibu aja setiap datang ke pondok periksa kontak hanphone, ada nomor ayah nggak di situ? Kalau ada dihapus ibu,” Aku mengadu pada ayah yang sebenarnya.

“Nah, kan, itulah ibumu. Bagaimana itu coba? Masa anak mau ngomong sama ayahnya dilarang-larang. Udah kamu simpan aja nomor Ayah, buat aja di kontak hapemu buat namanya A begitu. Biar nggak tau ibumu. Nih simpan nomor ayah!” ayah mengeluarkan hape dari sakunya, kemudian kusalin nomornya, lalu kuberi nama di kontak A. Kalau juga ibu sampai tahu, entahlah... bakal marah lagi pastinya.

Di buku Michael H. Hart, 100 Orang Paling berpengaruh itu keliru, seharusnya dia membuat judulnya 101 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah. Dan yang ke-101 itu adalah Ayah dan Ibu, Edi Pratama dan Diah Wati. Aku berani bilang begitu, ya karena orangtua itu sangat memengaruhi kehidupan anaknya sepanjang hidup. Mulai ia bayi, anak-anak, remaja, sampai dewasa. Kalau orangtua tidak bisa mendidik anaknya dengan benar, kasih sayang yang tidak utuh, kebutuhan materil yang serba kurang, tentu saja berdampak pada anaknya suatu hari nanti.

Aku sendiri? Jelas, kenapa aku seperti ini. Tapi ya sudahlah, untuk apa juga disingung permasalahan antara ayah dan ibu. Toh aku sekarang sudah tahu kenapa ibu begitu bencinya pada ayah, bahkan secara tak langsung mendoktrinku agar membenci ayah selamanya. Awalnya aku memang benci pada ayah, benciii sekali. Kenapa orangtuaku tidak seperti orangtua teman-temanku lainnya. Kelurga mereka tampak bahagia sekali. Setiap kunjungan orangtua temanku di pondok, mereka bahagia, tertawa bersama, saling berpelukan melepas rindu.

Aku? Huh... cukup! Hanya aku yang tahu.

“Ayah ini malu, apa kata orang coba? Setiap kamu mau telpon ayah, ke nomor Wak Tejo. Dikira Wak Tejo, ayah nggak kasi nomor hape sama kamu, mungkin juga dikira ayah nggak peduli sama kamu,” lanjutnya, “kalau kamu butuh apa-apa telpon, ayah, ya? Mungkin Cuma sekadar ngobrol-ngobrol seperti ini, atau mau jalan-jalan? Telpon ayah! Kita bisa atur waktu.”

“Iya, nanti aku telpon,” kataku lagi, “aku senang kalau sering-sering kayak gini, Yah.”

“Loh... ya iya... ayah ini ayahmu, toh. Kamu pasti senang jumpa ayah.”

Ayah dan ibu siapa yang salah waktu itu? Bagaimana aku bisa tahu di usia masih lima tahun? Yang masih teringat jelas, mereka sering beradu mulut. Ibu menangis di kamar. Ayah jadi jarang pulang. Mbah juga sering di rumah waktu itu. Benci sekali mbah kalau melihat ayah di rumah.

Terakhir kali ayah tinggalin rumah, ayah bilang, “Ki, baik-baik jadi anak. Sayangi ibu dan mbah. Jaga mereka, ya?! Kamu nggak boleh cengeng! Harus kuat, tegar, apapun yang terjadi suatu hari nanti, kamu harus bisa menjalaninya. Kamu masih kecil, ayah nggak bisa bagaimana jelasinnya sama kamu. Nanti... nanti kalau kamu udah besar, ya? Kamu akan tahu sendiri! Maafin, ayah... maafin ayah, Nak.”

Setelah menggendongku dengan uraian air mata, ayah mendudukkanku di kursi, lalu mengambilkan robot-robotan untukku. Aku tak bisa bicara waktu itu, mau mengangis pun tak bisa. Yang aku rasakan adalah kepedihan yang begitu dalam. Sakit sekali melihat keadaan seperti itu.  

Setelah memandangku begitu lama, ayah membalikkan punggungnya, kemudian melangkah buru-buru sambil membawa koper, dan hilang di balik pintu. Setelah itulah aku menangis sejadi-jadinya, ibu pun mendekat, memelukku begitu erat.  [Asmarainjogja.id]

Baca juga:  Sebuah Janji pada Ayah



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas