Foto Ilustrasi Flickr

Teriknya mentari pada siang hari tak membuat para murid menyerah dalam melakukan aktivitasnya. Begitu pula denganku, walau dalam keadaan seakan mentari hanya berjarak sejengkal diatas kepala, itu tak menyurutkan semangatku untuk beraktivitas disekolah.

Walaupun aktivitas itu dilakukan di luar ruangan atau istilah kerennya out door. Sebagai siswa yang baik, agak lebay kayaknya, tapi tak apalah, kita lanjut ya? Kami tetap melakukan olahraga di luar kelas dengan penuh semangat.

Semua siswa tetap bersuka cita melakukan kegiatan di luar kelas. Kebetulan kami adalah murid perdana di sekolah tersebut, jadi murid yang dimiliki masih dapat dihitung dengan jari.

Walaupun demikian suasananya tetap menyenangkan. Ya …seperti yang kita tahu juga masa putih abu- abu itu masanya easy going, jadi keadaan seperti apapun tetap dibawa enjoye dan happy, yang penting bisa ketawa bareng.

Sungguh menyenangkan sekali masa itu, apa lagi kita juga sudah mulai merasa ada getaran hati, atau lebih tepatnya rasa malu terhadap lawan jenis. Walaupun tak pernah tahu ujung pangkal ceritanya, tapi justru hal itu yang terkadang membuat kita semakin berpacu untuk mendapatkan ranking di kelas.

Kadang kita juga tak pernah tahu kalau teman yang kita anggap hanya sekadar teman kelas, biasa bisa menjadi teman hidup. Ya, berakhir dipelaminan. Seperti cerita yang ingin penulis bagikan kepada pembaca kali ini.

Namaku Lia. Saat itu aku cukup dekat dengan teman sekelas. Galuh namanya. Di masa itu yang kami pikirkan hanya sekadar teman, lalu selepas SMA kami pun berpisah mungkin melanjutkan ke jenjang kuliah atau langsung bekerja.

Kami pun menjalani hari-hari layaknya siswa lain. Walaupun ada sedikit sesuatu yang istimewa, sehingga lebih bersemangat setiap harinya. Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan, tak terasa kami sudah duduk dikelas XII, suasana sekolah pun berubah menjadi semakin ramai.

Namun kedekatan kami tetap berlangsung, seperti air mengalir yang tak pernah tahu arus akan membawanya sampai kemana. Walaupun sekarang begitu banyak siswi baru disekolah kami, tapi tak pernah sekalipun aku melihat Galuh akrab dengan mereka. Sikap galuh yang dingin terhadap siswi lain pun membuatku tanda tanya. Hingga suatu hari aku pun menanyainya.

“Galuh, kenapa sih kamu kok dingin banget dengan siswi yang lain?” tanyaku.

“Gak apa-apa,” jawabnya singkat.

Aku pun semakin penasaran saja.

“Gak apa-apa gimana?” tanyaku lagi.

“Ya... gak apa-apa aja, emang ada yang salah sama sikapku?" kembali ia bertanya.

Lalu kujawab, “Ya heran aja begitu banyak siswi di sekolah kita, tapi kenapa kamunya bersikap dingin banget? Bahkan aku lihat kamu gak pernah tuh bertegur sapa dengan mereka.”

aku pun meluapkan rasa penasaran atas sikap galuh, tapi dia menjawab dengan santainya, “Oh, soal itu, emang kamu mau kalau aku ramah sama siswi lain bertegur sapa, gitu? Terus kalau  nanti aku dekati mereka, emangnya kamu gak cemburu atau sakit hati?”

Seketika itu aku terhenyak mendengar jawabannya dan diam seribu bahasa. Galuh pun mengerti dengan kebisuanku dan segera mencairkan suasana.

“Hei, udah ah, kok diem aja? Makan yuk! Laper, nih.”

Begitulah caranya untuk membuatku tersenyum lagi. Kami pun segera menuju kantin dan mengisi perut  yang sudah protes dengan teriakan cacing-cacing yang sangat mengganggu.

Tak terasa kedekatan kami pun sudah berjalan tiga tahun lamanya yang ditandai dengan ujian kelulusan. Setelah melalui berbagai mata pelajaran, saat pengumuman kelulusan pun tiba. Masing-masing kami dihantui kata “TIDAK LULUS”, saling berdesakan ingin melihat papan pengumuman. Dan hasilnya, Alhamdulillah, kami dinyatakan lulus semuanya.

Galuh pun terkejut dengan pertanyaan yang aku lontarkan, seraya berkata, “Jadi kamu pikir aku hanya membual, Lia? Ya sudah, kalau kamu belum bisa jawab sekarang gak apa-apa kok.”

Setelah itu kami dikagetkan oleh teriakan teman-teman yang mengajak kami pulang besama. Karena sang surya sudah mulai menyembunyikan sinarnya, pertanda hari menjelang sore.

Tak terasa gelap mulai merambah menyelubungi langit, aku yang sedang terbaring di peraduan pun dikejutkan dengan ucapan salam dari sebuah suara yang tak asing, yaitu suara Galuh. Aku pun segera bergegas bangkit untuk membukakan pintu, dan mempersilahkannya masuk.

Sesaat kemudian Galuh berujar, “Tolong panggilkan orangtua Lia, aku mau bicara.”

Setelah berhadapan langsung dengan orangtuaku,  Galuh pun mengutarakan maksudnya, “Bapak, Ibu, Galuh datang kesini ingin menyampaikan bahwa Minggu depan orangtua Galuh akan datang untuk meminang Lia.”

Sesudah mendapat sambutan baik dari kedua orangtuaku Galuh pun segera berpamitan pulang.

Waktu yang dijanjikan Galuh pun tiba, ia dan keluarganya datang untuk melamarku. Selang beberapa bulan pertunangan kami, Galuh pun kembali meminta agar aku menjadi masa depannya, yaitu istrinya. Aku pun menyetujui hal itu, karena aku tahu, bahwa lelaki yang aku cintai sejak masa SMA itu selalu membuktikan setiap ucapannya.

Namun takdir berkata lain. Ternyata orangtua Galuh justru menentang pernikahan kami yang dirasa begitu cepat. Dan menurut mereka kami berdua pun masih terlalu muda untuk berumah tangga.

Walaupun mendapat pertentangan, Galuh tetap saja bersikeras untuk segera menikahiku. Hingga akhirnya orangtuanya pun menuruti permintaan anak kesayangan mereka. Setelah tanggal yang ditentukan, kami pun melangsungkan pernikahan.

Kini kami resmi menjadi suami-istri. Aku pun diboyong di kediaman mertuaku. Di tahun-tahun pertama pernikahan, kami sangat bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ditambah lagi aku sudah mulai mengandung buah cinta kami.

Tapi entah mengapa seiring dengan bertambahnya usia kandunganku, sifat suamiku perlahan mulai menunjukkan perubahan terhadapku. Sikapnya mulai dingin dan tak jarang berkata ketus padaku.

Karena perubahannya itu membuat hari-hariku dihiasi dengan air mata, hal itu pula yang menyebabkan bayi kami terlahir prematur.

Aku berharap sifatnya akan kembali seperti dulu, lembut dan penuh kasih sayang terhadapku, setelah dia melihat perjuanganku melahirkan darah dagingnya.

Ternyata harapan tinggallah harapan. Setelah kelahiran buah hati kami, sikapnya bukan kembali sepertu dulu, tapi semakin parah saja. Dia sering pulang larut malam dan tak jarang tangan kekarnya mendarat di pipiku.

Aku semakin tertekan dengan semua perubahan suamiku. Tapi aku berusaha mempertahankan biduk rumah tangga kami. Hingga usia putra kami genap dua tahun, sikapnya belum juga berubah.

Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya, “Yah, bunda punya salah apa sama, Ayah? Kenapa Ayah berubah kayak gini?”

Dia pun bergeming dari duduknya sambil berkata, “Maafin ayah ya, Bunda, ayah pun nggak tau kenapa jadi sering marah gak jelas sama  Bunda,” sambil berurai air mata dia pun memelukku dengan kasih sayang. Kami berdua pun menangis sampai sesenggukan.

Kemudian suamiku berkata, “Ayah itu sayang banget sama Bunda. Ayah khilaf sudah sering kasar sama bunda.”

Setelah malam itu aku masih saja berharap perubahan dari suamiku. Tapi semua hanyalah harapan kosong yang nyata bagiku. Sampai akhirnya aku sudah tak kuasa menahan semua deritaku lagi.

Dan pada akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah bersama buah hati kami. Seteleh kepergianku, dia pun menjenguk kami ke rumah orangtuaku. Aku berharap dia membawaku bersamanya. Tapi ternyata tidak, dia hanya membawa putra kami dan meninggalkanku.

Betapa sakitnya hati, seperti dicabik-cabik perasaanku kala itu. Tapi aku tak dapat berbuat banyak, hanya air mata yang mampu mengalir dari pelupuk mata yang sudah sembab.

Sampai saat ini aku tetap berharap dan menunggu suami tercintaku datang dengan putra kami untuk membawaku pulang bersamanya. Namun, hingga kini tiada pernah suamiku datang berkunjung, bahkan kabar aku pun dia tak pernah ingin tahu.

Kini aku hanya dapat berserah diri kepada Sang Maha Cinta, agar memberikan yang terbaik untuk hidupku, juga buah hatiku. Serta diberikannya kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan putraku tercinta.

Setelah berada jauh darinya, barulah aku mengerti penyebab perubahan sikapnya. Yaitu kecemburuan sosial dalam rumah tangga, karena sebagai wanita dan istri karirku lebih baik darinya.

Penulis: Dewi Suliamah

Catatan: Buat semua pembaca, ingatlah  kedewasaan dan kematangan sebelum membina suatu rumah tangga sangatlah diperlukan. Jangan pernah memutuskan untuk menikah di usia muda jika tak ingin adanya penyesalan di kemudian hari.

Serta kenali sifat calon pasangan dengan seksama sebelum mengambil keputusan mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Kemantapan dan keyakinan sangatlah penting agar pernikahan itu bisa bertahan hingga maut menjemput dan memisahkan. Amin.



style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="6419706731">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas