Air sangat dibutuhkan oleh petani lidah buaya di Desa Jepitu | Doc. PLB

Asmarainjogja.id-Kata orang,  air bersih adalah sumber kehidupan, karena tanpa air   kering hidup ini. Ada satu hal yang sangat menarik ketika kita membahas air, mengapa? Sebab sumber kehidupan satu ini sangat penting,  namun  bisa membunuh.

Kabupaten Gunungkidul terdapat satu wilayah bagian selatan yang dinamai Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo,  adalah suatu kawasan yang sangat menarik untuk dikupas tuntas mengenai kehidupan warga  di sana yang notabene hidup di daerah wisata pantai.

Tempat wisata pantai yang saya maksud  ialah spot  wisata alam di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Terdapat beberapa pantai di sana,  seperti Pantai Jungwok, Pantai Sedahan, Pantai Greweng, dan yang paling viral  yaitu Pantai Wediombo.

Wisata ini sangat berpotensi bagi pendapatan masyarakat Desa Jepitu, sebagai salah satu desa yang diliputi beberapa pantai   tadi. Maka seharusnya itu adalah bagian solusi ekonomi altenatif masyarakat sekitar tentunya.

Namun   yang paling menarik untuk dikupas bukan hanya tempat wisata-wisata pantai tersebut. Ada satu soal yang sangat menantang ketika di kupas, yaitu masalah sumber penghidupan. Ialah salah satu air bersih di  Desa Jepitu, yang jarang sekali didengar apalagi dibicarakan.

Bahkan banyak kita tak tahu masalah yang terjadi di daerah Kabupaten Gunungkidul,  khususnya desa bagian selatan  tersebut. Apalagi mahasiswa-mahaswiswi cupu bin penakut bermental birokrat, mana mungkin tahu persoalan semacam itu. Padahal seharusnya mahasiswa tidak terlepas dari perbincangan problem  rakyat.

Aku  pun sedikit tahu persoalan yang terjadi di sana, karena  ikut bersama kawan yang mengajakku untuk terjun langsung ke masyarakat.  Salah satunya adalah Pantai Jungwok,  Desa Jepitu, untuk berkunjung dan sekalian bertani.  Lebih tepatnya mencari salah satu solusi alternatif ekonomi masyarakat Gunungkidul yang dimulai dari  kondisi  tanahnya.

Rupanya solusi yang kami rembukkan adalah bertani lidah buaya, dan akhirnya sudah kami garap.  Di situlah cikal-bakal kami bersentuhan langsung dengan masyarakat sekitar pesisir pantai tersebut. Sehingga setidakya kami dapat menghimpun beberapa informasi.

Salah satu informasi yang terhimpun adalah persoalan air bersih yang memanfaatkan   jasa untuk meraup keuntungan  oleh seorang manusia serakah  bin rakus. Sebab air yang seharusnya menjadi kebutuhan pokok rakyat secara kolektif, dan tidak bisa dikapitalisasi. Kini menjadi hak seseorang atau sekelompok orang untuk meraup  rupiah.

Kami mendapat keluhan dari beberapa masyarakat di Desa Jepitu dan sekitarnya, bahwa mereka kekurangan air bersih. Warga di sana rupa-rupanya sedikit mengandalkan air hujan untuk bertahan,  sambil  melalui masa-masa sulit  kemarau.  Lalu memilih jasa penyaluran air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar  mereka.

Ternyata air bersih yang mereka dapatkan adalah dari sumber air mereka sendiri. Hal ini terdengar agak jenaka,  tapi begitulah faktanya. Hampir beberapa minggu sekali masyarakat mendapatkan air pada salah satu orang dengan hanya bermodalkan alat pengangkat air,  yaitu tangki air atau truk pengangkut air.

Enak saja,  hanya  karena dia punya sarana lantas menjadikan milik umum menjadi komersialisasi untuk keuntungan pribadi. Per  hari truk pengangkut air itu seandainya tiga sampai empat kali mengangkut air maka lumayanlah pendapatannya.

Menurut kabar ia mengirimkan   air dengan satu tangkinya bisa mencapai Rp. 100.000 sampai Rp. 150.000. Lumayan untuk mengeksploitasi milik rakyat untuk sekedar bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Seharusya aktivitas penyaluran  air dari tanah rakyat semisal ini adalah pelanggaran secara kemanusiaan.

Pertamanya kami mengira bahwa truk yang sering mengantarkan air di Pantai Jungwok itu adalah truk milik pemerintah daerah atau pemerintah desa sekitar. Faktanya truk itu milik perorangan yang digunakan sebagai jasa pengangkut hajat hidup orang banyak, lalu dijadikan rupiah.

  Agaknya masyarakat di  sana sadar bahwa itu adalah hal yang tidak wajar sebab air yang digunakan dari truk tersebut adalah berasal dari mata air yang menjadi kepemilikan warga bersama. Namun warga di sana juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mau tidak mau harus memilih   untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Apalagi bagi masyarakat yang membangun tempat-tempat parkir di sekitar  Pantai Jungwok, tentunya membutuhkan air dalam jumlah banyak. Karena menjadi kebutuhan para pengunjung yang hendak mandi sepulang bermain dari pantai.  Inilah menjadi kesempatan bagi pihak perorangan untuk memanfaatkan menjadikan pundi rupiah dalam jumlah banyak.

Ini sangat meresahkan masyarakat setempat, karana sudah terhimpit ekonomi dari kondisi tani yang tidak terlalu memadai secara ekonomis. Eh, ditambah pula dengan mahalnya harga air yang   dikomersialisasi.

Maka kehadiran pemerintah sebagai pemangku kepentingan yang merepresentasikan sebagai wakil rakyat yang dipilih secara demokratis, harusnya hadir untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang menimpa masyarakat, khususnya warga Desa Jepitu.

Karna kita ketahui  bersama bahwa kebutuhan akan air bersih adalah salah satu hak asasi, yang seharusnya didapatkan untuk memenuhi hajat hidup. Undang-Undang Dasar tahun 1945 turut menjelaskan itu. Bagaimana seharusnya bumi termasuk air menjadi kepemilikan umum dan tidak bisa diprivatisasi.

Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi: “Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Tentunya tafsiran UUD 1945 di atas menjelaskan bagaimana seharusnya air menjadi hak publik yang tidak bisa diperdagangkan, tapi  untuk dimanfaatkan atau dikonsumsi oleh rakyat. Pastinya masyarakat Desa Jepitu dan sekitarnya mendapatkan hak yang semestinya mereka miliki.

Maka bagi yang memanfaatkan air untuk keuntungan dari  masyarakat Desa Jepitu Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta. Seharusnya sadar untuk memberikan hak itu pada masyarakat, dan pemerintah daerah dan desa harus mengambil langkah tegas.

Juga pemerintah harus mampu menghadirkan solusi untuk mengadakan truk pengangkut air. Dari besarnya dan desa kiranya bisa dimanfaatkan untuk mengangkut  air. Sehingga bisa digunakan oleh masyarakat sekitar, dan mengurangi beban masyarakat.

Penulis: Faisal PS, anggota Komunitas Menulis Bintang Inspirasi 

Baca juga artikel Faisal PS lainnya:

Wisata Pelosok Jepitu Terkendala Jalan 

Angklung, Seni Mahal yang Direcehkan 

Super Daster di Pasar Beringharjo

Sisi Gelap Keindahan Nol Kilometer Yogyakarta 

Kampusku Kampusmu Kampus Kita

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas