Pasir berbisik di Gunung Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Setelah dari Gunung Penanjakan kami turun menuju Kawah Bromo. Ternyata jalan yang curam nan tinggi itu lebih ekstrem dilewati pada siang hari dibandingkan malam hari. Kenapa bisa begitu? Sebab, guys, jurang terlihat jelas di depan mata, sementara pada malam hari jurang tidak terlihat. Tapi begitu, pemandangan sungguh luar biasa, gunung-gemunung terlihat jelas dari sini.

Matahari kian merangkak naik, suasana semakin panas, udara sejuk khas pegunungan membuat kami lebih santai selama di perjalanan. Beberapa Jeep juga ada yang baru naik membawa tamunya. Sedangkan warga Tengger sendiri juga tampak hilir mudik untuk memberikan sesaji menyambut Hari Raya Kuningan (15 April 2017). Sepanjang jalan warga Tengger membawa sesaji yang diletakkan di bawah patmawati di titik-titik tertentu. Warga Tengger pada umumnya menganut agama Hindu, namun ada pula yang menganut agama Islam.

Jeep di Bromo

Jeep melintas di lautan pasir berlatar Gunung Batok | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Motor kami kembali membelah lautan pasir, debu-debu berterbangan sesakkan hidung. Kendaraan tiada hentinya melintas. Jeep, trail, dan motor warga lokal turut meramaikan jalanan berpasir itu. Di sini pula banyak wisatawan mengabadikan liburannya untuk berfoto di depan Jeep, trail, dengan latar lautan pasir dan Gunung Bromo atau Gunung Batok. Jika dilihat dari atas, ada ribuan Jeep yang terparkir di sana. Sungguh banyak sekali.

Naik kuda di Bromo

Wisatawan naik kuda menuju Gunung Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Untuk ke area parkir Kawah Gunung Bromo, Jeep tidak boleh ke sana, jadi wisatawan berjalan kaki sampai ke Gunung Bromo. Sebagian wisatawan yang malas berjalan karena jaraknya sangat jauh, sekitar 1 km lebih, mereka naik kuda. Untuk naik kuda ini kalau saya tidak keliru Rp 100.000. Oh ya, kalau kamu ke sini suatu hari nanti jangan lupa membawa kacamata dan masker, sebab debunya sangat banyak. Terlebih lagi saat angin kencang, pasir-pasir itu berhamburan diterpa angin. Bahkan "angin tornado" kecil juga sering terjadi di sini. Itulah kenapa disebut pasir berbisik, suara desauan angin yang begitu kencang di tengah lautan pasir.

Angin Tornado di Bromo

Angin "tornado mini" di Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Kuil di Gunung Bromo

Kuil di Gunung Bromo | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

Tidak jauh dari kaki Gunung Bromo, terdapat sebuah kuil yang sangat indah. Pada saat itu warga Tengger yang beragama Hindu sedang beribadah dalam acara Kuningan itu. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, orangtua, mereka gegap gempita menyambut hari raya Kuningan. Setelah ritual keagamaan di kuil, mereka juga menuju ke puncak Bromo. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang naik motor sampai ke atas. Sedangkan kami berjalan menuju puncak bersama pengunjung lainnya, dan juga warga Tengger.

Trail di Gunung Bromo

Warga Tengger menuju puncak Bromo menggunakan trail di hari Raya Kuningan | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Dari area parkir menuju puncak cukup jauh, debu mengepul di mana-mana, membuat hidung saya mampet. Semakin tinggi kaki kami melangkah, pemandangan dari atas semakin menakjubkan. Bekas letusan Bromo tempo dulu itu membantuk gundukan-gundukan yang sangat eksotis. Selain itu parit-parit bekas lava tersebut juga turut menambah keeksotisan Gunung Bromo yang mendunia ini. Saya semakin penasaran, gundukan itu berasal dari apa. Setelah saya raba ternyata gundukan itu terbentuk dari tumpukan-tumpukan pasir letusan Gunung Bromo. Dan uniknya lagi sebagian juga sudah ada yang mengeras, sudah membentuk batu yang sangat keras. Persis seperti karang-karang di Gunungkidul Yogyakarta. Nah, lautan pasir yang ada di kaki Gunung Bromo itu juga dari semburan letusan Gunung Bromo, hal ini saya ketahui dari sesama pengunjung.

Gunung Bromo

Rizka berpose berlatar Gunung Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Di sepanjang pendakian juga terdapat warung-warung yang menjajakan dagangannya. Sayangnya tidak ada jual es atau minuman dingin, Rizka yang saat itu menanyakan es teh membuat penjual tertawa, “Di sini udah dingin, Mbak, jadi nggak ada yang buat es.”

Penjual bunga adelwish di Gunung Bromo

Penjual bunga adelwish di Gunung Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Selain itu ada juga warga Tengger yang menjual bunga adelwish berwarna-warni. Cantik sekali. Banyak juga wisatawan yang membeli bunga gunung itu dijadikan oleh-oleh, atau sekadar kenang-kenangan dari Gunung Bromo.

Tepat di bawah anak tangga di sana juga warga Tengger memberikan sesajinya. Tampak terlihat sesaji yang dibungkus daun pisang sudah menumpuk tinggi. Isi sesaji itu seperti kembang, buah, kue, nasi kuning, dan lain-lain yang biasa dijadikan sesaji. Warga Tengger juga membawa anak-anaknya yang masih berusia 4 tahun naik ke Puncak Bromo. Mungkin hal ini pula orang-orang Tengger sangat dekat dengan Gunung Bromo. Terlebih lagi gunung aktif tersebut merupakan tempat sakral bagi mereka. Kamu juga jangan heran melihat anak-anak Tengger melompat-lompat, atau berlari-lari tanpa alas kaki menuju Puncak Bromo dari jalur lainnya, bukan dari anak tangga.

anak-anak Tengger di Gunung Bromo

Anak-anak Tengger Bromo sudah terbiasa ke puncak tanpa alas kaki | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Anak tangga yang cukup tinggi itu satu per satu kami tapaki, tak terasa kami sudah sampai di puncak. Di puncak ini wisatawan cukup ramai, mulai dari wisatawan domestik sampai mencanegara. Warga Tengger yang sedang melakukan doa menghadap tepat ke kawah Bromo menjadi pusat perhatian wisatawan. Mereka yang berdoa tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak.

Warga Tengger berdoa di Bromo

Warga Tengger berdoa di Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

anak-anak tengger Bromo

Anak-anak tengger juga turut ritual doa di kawah Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Saya juga melihat anak-anak itu melemparkan uangnya ke kawah Bromo. Saat saya tanya kenapa melempar uang ke kawah, jawabnya, “Biar murah rezeki, Mas, dan uang yang dilemparkan juga seikhlas hati.”

Pemandangan unik dan juga menyeramkan saat itu adalah seseorang yang turun mendekati kawah merapi, saya tidak tahu pasti apakah orang itu mengambil uang yang dilemparkan tadi atau juga petugas yang membersihkan sampah di tepi kawah Bromo. Tapi kalau sampah yang dikutipnya, saya tidak melihat ada sampah yang dibawanya ke atas. Apapun yang dilakukan orang tersebut, hal itu sangat berbahaya. Mengingat kawah merapi yang super panas itu bisa saja menelan korban.

Warga bertaruh nyawa di Kawah Bromo

Seorang warga bertaruh nyawa di Kawah Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Lihat juga videonya

Di atas puncak ini kami sangat lama duduk-duduk melihat aktivitas warga Tengger dalam menyambut hari Raya Kuningan. Seakan tiada bosannya melihat ritual di atas puncak Bromo. Terlebih lagi anak-anak warga Tengger yang baik, polos, dan juga ramah. Saya malah tertarik mengobrol dengan anak-anak warga Tengger.   Hal ini mengenang saya ketika masih kecil yang begitu lasak.

Rizka diapit anak-anak Tengger di Kawah Bromo

Keceriaan Rizka dan anak-anak tengger di Puncak Bromo  | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Dari puncak ini juga terlihat jelas Gunung Batok. Yang tak kalah keren lagi adalah pemandangan di bawah sana yang sangat eksotis. Semua apa yang kami lihat membuat kami terpaku diri. Betah sekali berlama-lama di sana, meskipun sesekali asap kawah menyembul hebat ke arah kami dan wisatawan lainnya. Asap kawah itu membuat kami terbatuk-batuk, bahkan ada juga wisatawan yang lain turun seketika karena tebalnya asap kawah tersebut.

Pemandang dar Puncak Bromo

Pemandangan menakjubkan dari Puncak Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Hari semakin sore, selanjutnya kami akan memburu spot keren lainnya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yaitu Padang Sabana (Bukit Teletubbies). Liputan wisata ini tidak saya gabungkan di sini, selanjutnya kamu bisa membaca di postingan berikutnya, guys. [Asmara Dewo]

Untuk mengetahui petualangan kami sebelumnya, kamu bisa baca di sini:

Petualangan Kami di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Liputan wisata ini disponsori oleh:  Padusi Hijab

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas