Wanita yang kokoh hatinya (Ilustrasi) | Foto Flickr

Asmarainjogja.id – Sebagian pria beranggapan kaum waita itu cengeng, manja, tidak kuat, dan selalu berlindung di balik kaum Adam. Padahal belum tentu, sosok wanita bisa lebih kuat dari pria.

Tidak percaya? Sesungguhnya baik pria maupun wanita, itu sama saja. Punya hati lebih sederhananya, namun makhluk berambut panjang ini lebih mengutamakan perasaannya dibandingkan yang lainnya.

Lihat saja orangtua kita sendiri, biasanya ibu yang paling mudah dibujuk rayu daripada ayah. Itu karena hati beliau mudah tersentuh, jika seorang anak pintar membujuk ibunya dan sedikit merengek, air mata beliau pun bisa menetes.

Baca juga:  Empat Tahap Kehidupan yang Perlu Dinikmati Wanita Dewasa

Beda dengan sikap ayah, yang lebih mengutamakan logikanya. Sekali tidak ya tidak! Prinsip tegas dan tidak mudah goyah ini memang dimiliki oleh kaum bapak. Hitung-hitungannya dalam mengambil keputusannya jauh lebih dalam dari istrinya.

Keunikan wanita adalah ia memiliki hati yang luas di dalamnya, dan lebih kokoh daripada tembok cina, meskipun ia terlihat rapuh dari luar. Misalnya begini, saat wanita menangis, apakah hatinya juga luluh? Tidak! Ketika wanita didera berbagai masalah hidup yang sangat keras, apakah wanita terus lumpuh? Tidak! Dan ketika pria yang ia banggakan meninggalkannya, apakah ia turut tidak bisa berbuat apa-apa? Tidak!

Wanita bisa hidup tanpa pria, namun pria belum tentu bisa hidup dari wanita. Seorang istri yang ditinggal suaminya untuk selama-lamanya, masih bisa hidup menjanda. Sebaliknya suami yang ditiggal istrinya, akan mencari pendamping hidup yang baru. Kok rasa-rasanya tidak adil, ya?

Ini bukan menimbang adil atau tidak dalam satu perkara. Logika sederhananya adalah jika ibu yang meninggal, siapa yang mengasuh anak-anaknya kalau ditinggal mati? Ayah? Bisa, tapi satu dibanding seribu yang mampu mengasuh sendiri anaknya. Kita lihat disekitar lingkungan sendiri dalam kasus ini.

Baca juga:  Ini Alasannya Kenapa Wanita Suka Merumpi

Nah, ibu yang notabenenya memang seorang ibu, namun bisa juga menggantikan kedudukan suami. Ia mampu menjadi tulang punggung keluarganya sampai benar-benar tidak produktif lagi. Maka jangan heran jika ada satu keluarga yang memiliki anak-anak yang masih kecil mampu ditanggung oleh seorang ibu.

Entah bagaimana pun caranya, seorang ibu membuktikan dirinya mampu menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab sampai kelak anak-anaknya tumbuh dewasa. Seperti ada keajaiban dalam sebuah keluarga seperti itu. Kalau bicara ajaib-ajaib demikian, sulit diterima akal, namun kita bisa menyederhanakannya, anak sulung dididik oleh ibunya untuk bertanggungjawab menjaga adik-adiknya.

Di saat ibunya bekerja, si sulung berperan seperti sosok ibu bagi adik-adiknya. Mulai dari menjaga, merawat, mengajarkan banyak hal, menyulangi makan, memandikan, mengajak bermain, sampai menidurkan, dan membangunkannya lagi. Hingga si ibu pun pulang lagi ke rumah.

Sehari-hari begitu terus, hingga kemudian anak-anaknya sudah tamat sekolah, dan mulai mandiri mencari uang sendiri. Tentu saja seorang ibu yang ditinggal mati suaminya mendidik anak-anaknya lebih keras dan tegas lagi, dan yang tidak ketinggalan adalah bagaimana mencari uang, mengatur uang, sampai cara baik menyimpan uang.

Baca juga:  Lima Alasan Pria Menikahi Wanita yang Pintar Mencari Uang

Jika wanita selama ini dianggap selalu besar di belakang sosok laki-laki, ini tidak selamanya benar. Apalagi disebut pula wanita selalu menjadi makhluk kedua setelah pria, ini lebih keliru lagi. Bukahkah persoalan hidup dinilai bisa atau tidak bisa? Nah, kalau wanita mampu, berarti itu adalah kelebihan baginya.

Pria adalah pemimpin bagi wanita, itu sungguh benar sekali. Namun yang perlu dicatat adalah jika pemimpin itu sendiri sudah tidak menerapkan prinsip kepemimpinan yang baik dan benar, maka tampuk kepemimpinan pun bisa digantikan oleh wanita. Dan pasti panjang sekali untuk mengurusi perkara yang demikian, mengingat pria itu adalah sejati-jatinya seorang pemimpin.

Nah, kalau wanita dinilai hanya ada di belakang pria, ini juga perlu diluruskan. Kita tentu mengenal sosok pahlawan nasional, putri kebanggan Aceh, dan sangat ditakuti Belanda, beliau adalah Cut Nyak Dien. Ia seorang istri yang memimpin pasukannya untuk terus bergerilya memberikan perlawanan terhadap Belanda, setelah suaminya meninggal di medan tempur.

Baca juga:  Tombol Otomatis Cinta

Cut Nyak Dien sudah kedua kalinya ditinggal oleh suaminya untuk selama-lamanya di medan perang ketika melawan Belanda. Suami pertamanya adalah Ibrahim Lamnga, sejak kematian suaminya itu pula ia bersumpah untuk mengusir Belanda di tanah Rencong, daerah kekuasaannya.

Sampai ia pun dilamar dikemudian oleh Teuku Umar, yang tak lain adalah sahabat Ibrahim Lamnga, yang juga mendapat wasiat dari suami pertama Cut Nyak Dien tersebut. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien, bergandeng tangan berperang menghantam Belanda. Namun di kemudian hari Teuku Umar pun meninggal saat berperang melawan Belanda.

Lagi-lagi Cut Nyak Dien bersumpah atas kematian suaminya yang kedua ini untuk menghantam lebih keras lagi kepada Belanda. Berbagai usaha, berbagai perang gerilya ia lakukan bersama pasukannya. Dan Belanda memang penjajah nomor wahid di masa itu, perlahan-lahan pasukan Cut Nyak Dien gugur saat pertempuran dan penggebrekan di markasnya.

Baca juga:  Pujangga yang Letih Mengejar Cinta

Bukan rahasia umum lagi, sejak dulu selalu ada pengkhianat dalam perjuangan, itu sebabnya juga perlawanan Cut Nyak Dien, semakin lumpuh terhadap Belanda. Beliau semakin tua, tenaganya sudah tidak kuat lagi, ditambah pula dengan berbagai penyakit encok dan rabun. Lengkaplah sudah penderitaan Cut Nyak Dien, ketika orang kepercayaannya menyerahkan diri kepada Belanda demi kesehatan Cut Nyak Dien. Tertangkaplah bunga bangsa Aceh tersebut di persembunyiannya, sehingga Belanda membuang pahlawan wanita hebat kita ke Sumedang, Jawa Barat.

Dan sudah menjadi tabiat penjajah, janji selalu dingkari. Saat orang kepercayaan Cut Nyak Dien tadi menyerahkan diri kepada Belanda, ia mengajukan syarat agar Cut Nyak Dien dirawat sampai sembuh, dan kedua tetap berada di Aceh.

Ini adalah salah satu bukti yang tidak diragukan lagi, peranan seorang wanita yang sudah sakit-sakitan pun masih ditakuti Belanda, itu juga kenapa Cut Nyak Dien dijauhkan dari saudara-saudaranya, para sahabat, dan pasukannya. Ia dibuang ke Sumedang, sampai meninggal pun ia di tanah yang asing baginya, 6 November 1908.

Baca juga:  Lima Larangan Pria yang Tidak Disukai Wanita Padahal Demi Kebaikannya

Bagaimana, apakah hati wanita lebih kokoh dari tembok Cina? Sebuah tembok yang dibangun untuk menahan serangan musuh. Jika tembok cina bisa rusak, namun hati wanita yang berprinsip tak akan pernah rusak, dan selalu kokoh seperti Cut Nyak Dien. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas