Asmarainjogja.id –Teks itu telah dikirim, namun beberapa detik kemudian buru-buru dihapus. Padahal kalimat yang dikirim biasa saja, hanya ingin menanyakan kabar, sibuk apa sekarang, sedang di mana, dan pertanyaan sederhana lainnya yang biasa bertegur sapa dari online. Dihapus, kenapa harus dihapus? Gengsi, malu, takut, atau kenapa? Boleh jadi setumpuk pikiran yang memaksa pengirim menghapusnya. Padahal no problem, jika tidak berlebihan. Dan yang di sana tentu pula bertanya-tanya, ada apa gerangan? Kenapa pesan itu buru-buru dihapus? Dan ia hanya bergeming nun jauh berbatas samudera.

Sepertinya itu semua merupakan kerinduan yang tak tersampaikan, sesak sekali memang. Apalagi ada faktor dan pihak-pihak yang mencampuri urusan manusia itu. Kesal, kecewa, ya, tentu saja sedikit marah, di hatinya ia mengutuk: “Kalian tidak mengerti apa yang aku rasakan. Sekarang dan masa lalu berhubungan erat, tidak ada kejadian sebelum melalui masa lalu. Tahukah kalian, aku saat ini adalah puing-puing dari masa lalu, kemudian mengkristal menjadi kesatuan utuh. Dan semua itu dari sebuah perjalanan yang menyakitkan, kebahagiaan, petualangan, pengorbanan, keributan, dan ‘pertarungan’. Jelas, aku tidak bisa menghapus apa yang sudah aku lalui, tidak semudah yang kalian ucapkan: sudah lupakan saja! Dan terpaksa manusia-manusia kejam meski dienyahkan dari pandangan mata.”

Oh, kita semakin sadar, ternyata benar kepergian seseorang memahamkan kita arti kebersamaan. Kepergian seseorang dalam menapaki petualangannya, tak ada yang berani menjamin ia kembali. Mungkin ia tersesat di belantara, terjerumus ke lembah, tenggelam dalam samudera, tertimbun di padang pasir, ah, dan lain sebagainya yang membuatnya tak pulang-pulang. Orang-orang yang mulai menyadari rasa kehilangan, pastilah merasakan kerinduan yang begitu dalam untuk bersua. Orangtua, sanak-famili, sahabat, dan orang yang spesial, hanya bisa mengenang dan menceritakannya.

Yang ditinggalkan menahan rindu, yang pergi menahan rindu, dan akhirnya kerinduan adalah penyakit yang tiada obatnya. Orang-orang relijius biasanya berpesan, sebut namanya dalam sujud, atau juga pintalah pada Yang Esa di bait doa-doa. Begitulah pesan dari orang bijak, namun yang pasti semua itu adalah resep, bukan obat manjur untuk menyembuhkan sakit rindu. Tanyalah pada mereka yang terkulai lemas karena rindu, dekatilah ia yang sakit terbaring karena rindu, cari tahu penyebab ia terpuruk karena hanya sebuah kerinduan. Terkadang memang tak masuk diakal, anak zaman now biasa bilang jangan terlalu baper (bawa perasaan).

Tahukah kalian bahwa cukup mendengar kabar yang dirindunya itu baik-baik saja, hatinya bisa tenang. Mendengar suaranya dari balik phonsel bisa mengguratkan senyum. Bercanda dan tertawa apalagi? Tiada kata yang bisa diucapkan lagi melebihi kebahagiaan. Jauh di atas level bahagia. Manusia-manusia modern yang berteknologi canggih juga terlalu angkuh menyikapi jarak, zaman sekarang jarak bukan masalah. Ya, kita tahu ada video call dari smartphone, video call dari computer, laptop, netbook, dan lain sebagainya. Atau juga seperti Nyoya Princes Syahrini punya jet pribadi yang bisa mengantarkannya ke berbagai benua, bahkan sampai ke sudut bumi sekalipun. Karena aku adalah anak manusia biasa. Tiada kelebihannya.

Esok lusa siapa yang tahu, kalian semua dan aku mungkin kerinduan tak jadi masalah karena sudah punya jet pribadi seperti Princes Syahrini. Dan sekarang cukup tahan dulu. Sesakit-sakitnya, sedalam-dalamnya, seremuk-remuknya, karena kerinduan adalah ujian. Ujian bagi orang-orang bijak menyikapi hatinya. Sanggupkah aku? Bisakah aku menjawab ujian hidup yang begitu sulit tersebut? Jawaban yang bukan dari untaian kata, tapi dari tindakan nyata.

Di sebuah negeri yang bernama ‘Media Sosial’, uchhh… rakyatnya sungguhlah bijak dalam bertutur kata, puitis, kata-kata indah menggugah hati Dewa Cinta, tiada satu pun makhluk hidup melewatkan kalimatnya, bumi seakan membisu. Betapa dan betapa bijaknya caption yang ditulis bersamaan foto alay yang baru saja di-upload. Jutaan follower memuja-muji, bak Dewa Bumi yang patut disembah.

Ternyata eh ternyata ada novelis yang berang karena quotesnya dipakai tidak pada tempatnya. Dia, Tereliye, mengamuk di Fanpage, sebab quotes bijaknya dipakai anak alay hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Biar supaya dibilang bijak, dibilang hebat, dibilang pecinta sejati, dan lain-lain. Republik alay memang tak tahu malu, ia hanya bisa mengutip quotes, tidak pernah membaca novel, apalagi memahami isi yang tersirat dalam sebuah karya. Akibatnya terjadilah kegagalan paham perihal quotes bijak ala Tereliye.

Padusi hijab

 

Aku tidak ingin terlihat bijak di muka umum, prinsipku kalau bahlul, ya, bahlul. Makanya belajar, termasuk belajar mengontrol hati yang dilanda kerinduan. Kalian jangan pula seperti rakyat alay tak tahu malu itu, mereka di zaman yang dipikir hanya sebatas hura-hura. Padahal hidup itu pedih. Sepedih menahan rindu yang aku hapus lagi. Memang tiada air mata, tiada pula meronta-ronta layaknya anak kecil kehilangan mainanannya, tapi tahukah kalian, bahwa hatiku tidak bisa menangis lagi. Mungkin air matanya sudah terkuras habis. Ya, terkuras, bagaikan bumi Indonesia yang menyisakan ampas untuk penduduknya. Orang luar sampai buncit tak ketulungan, sama dengan si pengkhianat bangsa yang mengisap darah dan memakan daging saudaranya sendiri. Pastikan kalian mengharamkan perbuatan tercela itu.

Di pengujung tahun ini dan dalam dekapan rinai hujan yang ekstrem, sesekali petir menggelegar dengan kuatnya, adalah sebuah kebahagiaan jika rindu ini terkabarkan padanya. Dia bisa membaca kegelisahan hatiku sepanjang tahun. Lamaaa sekali. Jangan tanya berapa tahun! Sebab itu semakin menyakitkan, semakin ditanya dadanya ini terasa terhimpit. Sesak. Biarlah semua ini berjalan secara alami, dari hulu ke hilir, dari timur ke barat, dan awal ke akhir. Aku mungkin bukan awal bagimu, mungkin juga bukan bagian akhirmu, tapi aku yakin bahwa si perindu ini pernah menemani hatimu beberapa tahun silam. [Asmara Dewo]

Hijab   

Baca juga:

Bahaya Kekerasan Psikis bagi Pasangan

Memperbaiki Hati yang Remuk 

Pemuda Kita yang Hebat (Karena Cemburu) 

Memahami Keadilan Pria dalam Cinta Segitiga 

Menguji Kesetiaan Pasangan saat Bertubuh Gendut



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas