Ilustrasi Perempuan Hujan | Foto by zastavki.com

Oleh: Asmara Dewo

“Kapan balik ke Bandung?” ucap seseorang dari telpon. Terdengar suaranya memelas, ada kerinduan di balik pertanyaan itu.

“Secepatnya, tapi aku tidak lama di Bandung, setelah itu balik lagi ke Yogyakarta. Lagipula aku cuti kuliah,” kata Anata, “kasihan juga ibu, dia masih sedih. Aku tidak tega meninggalkannya dalam waktu dekat ini.”

“Hm, iya-iya, aku bisa mengerti,” kata laki-laki itu lagi. Diam sejenak. Lalu ia buru-buru menawarkan idenya, “bagaimana kalau aku susul ke sana?”

“Tidak usah! Kamu juga sibuk, kan? Selesaikan saja skripsimu. Nanti kita bisa jumpa, kok.”

“Oke, kalau begitu. Jaga kesehatan. Miss you…

“Iya, kamu juga. Miss you too , Ran...”

Belum sempat menyebutkan nama itu, hape Anata mati total.  Lowbate.

“Mana mati lagi,” gumam Anata.



Sudah beberapa hari yang lalu Anata mencari charger hape. Ia lupa meletakkan di mana charger-nya. Sudah dicari di mana-mana, belum juga ketemu.

“Bu, tahu chargerku? Seingatku, terakhir aku letak di meja,” tanya Anata yang kesekian kali ke Ibunya.

“Ibu tidak tahu. Coba pakai saja charger  almarhum kakakmu. Biasanya disimpan di laci,” ucap Ibu Anata.

“Ibu baik-baik saja, kan?” Anata mendekati ibunya, memijit pelan kedua bahunya dari belakang.

“Ibu baik-baik saja.” Jawab Ibu Anata, matanya terlihat lelah. Sayup. “Cuma kurang tidur saja.”

“Istirahatlah, Bu. Ibu kelihatan lelah.”

Tidak membalas ucapan anaknya, Ibu Anata hanya tersenyum. Matanya kembali menatap ke lorong pintu. Sebuah tatapan kosong. Mengenang anaknya, dan mengingat suaminya. Wedang jahe di napan masih hangat, kepulan asap tipis menyeruakkan aromanya yang khas. Ia seruput lagi minuman tradisonal itu.

“Aku tinggal, ya, Bu?” Anata beringsut ke kamar meninggalkan ibunya di ruang tamu.

Rumah kayu yang sudah dibangun puluhan tahun silam itu masih terlihat kokoh. Tidak ada barang-barang mewah atau perabot mahal yang mengisi rumah warisan tersebut. Semua tampak biasa saja.

Kamar Ana tetap rapi dan bersih, selalu dibersihkan ibu dan mbahnya. Barang-baranya juga masih utuh, tidak ada perubahan sama sekali. Terlihat sama ketika penghuninya masih hidup. Beberapa foto terpampang di dinding, foto Ana sendiri, Anata, dan juga teman-temannya.



Anata menarik laci belajar Ana, seperti yang ibunya bilang, charger tersimpan rapi. Saat Anata mengambil charger, sebuah buku diary mencuri pandangannya. Setelah mencolokkan hape ke charger, Anata mengambil buku yang diberi judul Tentang Icow. Kemudian jemari lentiknya membuka isi buku itu lembar demi lembar.

Semua tentang Icow, ada apa di antara Ana dan Icow?, Anata bertanya-tanya dalam hati. Menjawab rasa penasaran itu, Anata membaca catatan Ana dari awal.

Adiwidya Prabu Kusuma, nama yang begitu agung, tapi kau lebih senang dengan panggilan Icow. Alasanmu tak masuk akal, kau bilang nama itu terlalu ke-Jawa-an. Memangnya kau bukang orang Jawa, hah? Aku lucu mendengarnya, ingin rasanya tertawa terpingkal-pingkal. Nama bagus yang diberikan orangtuamu, kau malah sudi dipanggil Icow. Dan yang membuatku lebih heran lagi, Icow itu bukan nama panggilan sayang dari keluarga atau apalah sebutannya, tapi dari nama ejekan teman-teman SD-mu dulu. Sayangnya kau tidak mau menceritakan asal muasal nama itu. Tapi tidak apa, suatu hari nanti aku akan mencari tahu sendiri.

Cow, tahu kau kenapa di antara ribuan mahasiswa yang OSPEK saat itu, hanya ada satu mahasiswa yang paling menarik perhatianku. Yaitu kau, Adiwidya Prabu Kusuma alias Icow. Mahasiswa baru yang tengil, tidak patuh terhadap panitia, dan tidak suka diatur. Ketika ditegur dan dimarah, kau dengan entengnya menjawab: “Ospek pembodohan seperti ini ngapain ditaati, tidak dibubarkan saja masih untung. Ada ratusan kawan-kawanku di Yogyakarta ini yang bisa bikin acara kalian amburadul. Tidak percaya? Biar kita uji sekarang?!”. Aku tidak tahu, apakah itu cuma ancaman agar kau tidak dihukum atau bagaimana? Tapi itulah dirimu, manusia aneh yang baru kukenal. Dan dengan segala apa yang ada padamu, itu sudah membuatku yakin, kau anak manusia yang Tuhan utus di bumi dengan misi kerahasiaan-Nya.



 

Boleh jadi Tuhan sengaja menggiringmu ke kelompok kami, maka kita pun resmi berteman. Nah, saat kau memperkenalkan diri, setiap kata yang kau ucapkan aku dengarkan penuh khidmat, aku ulang lagi di dalam hatiku.

“Baik, teman-teman, terimakasih sudah menerima saya di kelompok ini. Perkenalkan nama saya Adiwidya Prabu Kusuma, silahkan dipanggil Icow, asli dari Yogyakarta. Fakultas Hukum, Jurusan Ilmu Hukum. Hobi membaca, menulis, bertualang. Cukup? Ada pertanyaan?”

Seorang mahasiswi langsung bertanya: “Sudah punya pacar belum?”

“Apalah pentingnya pacaran itu, jika pendidikan saja masih berantakan,” kau tertawa.

Ia tersipu malu-malu, sejak saat itu aku tahu, dia juga menyukaimu. Belum saja melangkah, Cow, aku sudah punya saingan untuk merebutkan hatimu. Uniknya, kau memang cowok yang tidak suka berteman dengan perempuan. Kenapa, Cow? Apa perempuan di matamu itu tidak spesial. Andai kau memang seorang pembaca, tentu kau sudah membaca kisah-kisah cinta yang melegenda seperti Laila Majnun, atau Romeo and Juliet. Dua tokoh pemuda itu rela mati demi perempuan yang dicintainya. Nah, kau, tidak tertarik dengan perempuan? Atau kau jangan-jangan homo? Hahaha.

Alasan kau ambil jurusan Ilmu Hukum juga aku pikir berlebihan, katamu: “Seburuk-buruknya hukum di Indonesia, lebih buruk lagi penegak hukumnya. Karena itulah aku belajar hukum dengan kelemahannya untuk menegakkan hukum setinggi-tingginya. Dan negeri ini akan menunggu waktunya saja, saat di mana hukum itu menjadi auman harimau yang menggetarkan siapa saja yang bermain-main dengan hukum.”

Maaf, Cow, aku ragu, apakah kau mampu melakukannya suatu hari nanti? Bukankah kau tahu sendiri, barangsiapa yang berani melawan penguasa, nyawa taruhannya. Itulah kenapa penegak hukum kita loyo. Tak punya nyali. Toh, ketika punya nyali, akhirnya juga mati.



 

Meskipun masih satu hari kita berteman, aku berani menilai, kau adalah teman terbaik suatu hari nanti. Itu aku nilai dari caramu memperlakukan teman-teman yang lain di kelompok kita. Cow, besok kita masih OSPEK lagi. Kau jangan terlambat lagi, ya? Aku mau istirahat dulu.

 

17 September 2017

***

“Kamu terlalu boros hari ini, Uni,” ucap Icow yang sudah menghidupkan mesin mobil, “tas mereka juga masih layak pakai, kok. Buku tulis dan pulpen mereka juga masih banyak.”

“Sekali-kali, Cow, kasihan mereka. Aku lihat tas mereka sudah jelek,” Uni membela diri. Beberapa kantong plastik besar yang isinya alat tulis dan tas anak-anak memenuhi kursi belakang.

“Langsung pulang?” ekor mata Icow melirik Uni yang duduk di sampingnya.

“Sebentar,” Uni buru-buru menjawab, matanya memperhatikan pengendara motor yang ingin memarkir, “sepertinya di luar hujan.”

“Ya, sepertinya,” sahut Icow datar.

Uni keluar menghampiri pengendara yang baru melepaskan mantelnya. Bercakap-cakap sebentar, lalu ia kembali dengan wajah sumringah.

“Ada apa?”

“Di luar betul hujan. Tidak begitu deras. Cocok kalau kita…” ragu Uni melanjutkan kalimatnya.

“Maksudmu kita main hujan dulu sebelum pulang?” timpal Icow. Bukan pertama kali kalau sudah hujan, Uni akan mengajak Icow merasakan guyuran air yang jatuh dari langit, “baik, kita mandi hujan. Let’s go!

“Yeee!” Uni melompat kegirangan. Buru-buru melepaskan sepatunya, dan tak sabaran menarik-narik tangan Icow keluar dari basment Mall Malioboro . Seperti anak kecil yang dihadiahi mainan kesukaannya. Uni kali ini betul-betul bahagia, bersama lelaki yang disayanginya, meskipun ia sendiri belum menemukan jawaban dari Icow. Apakah Icow begitu juga sebaliknya? Menyayangi Uni lebih dari seorang sahabat? Soal hati, Icow memang tidak terlalu terbuka.

“Cow, lihatlah buliran air hujan itu!,” ucap Uni, matanya sipit memandang langit. Tangannya dibentangkan seluas-luasnya, “indah sekali, bukan?”

“Ya, perempuan hujan,” bisik Icow. Uni tersipu malu. Senyumnya merekah.



Jalanan Malioboro diguyur hujan. Pedagang kaki lima sibuk menutupi barang-barangnya, pedagang asongan turut berteduh sembari memeluk erat kotak dagangan di perutnya. Pengamen istirahat sejenak, suaranya sudah kalah oleh deru hujan. Begitu juga dengan pengunjung yang menikmati jalan bersejarah itu tetap berseliweran. Memakai payung, takut basah, beda sekali dengan dua anak manusia itu. Icow dan Uni begitu menikmati hujan. Sesekali Uni berlari-lari kecil, Icow mengejarnya. Tertawa, bergurau, saling memukul manja. Tentu tangan Uni yang ringan bertubi-tubi mencubit perut Icow. Mulai lelah, kaki mereka melambat.

“Cow, kamu ingat sudah berapa kali kita mandi hujan di Malioboro?” tanya Uni. Mereka berjalan bersisian menuju ke Utara jalan.

“Aku tidak pernah menghitungnya,” jawab Icow apa adanya.

“Iiihh… kamu memang tidak pernah mengenangnya,” Uni mempercepat langkah kakinya, “apa, sih, yang kau ingat tentang kita?” dia berhenti, menoleh, “apa?”.

Icow malah tertawa, gigi putihnya yang rapi terlihat jelas, “Maksudmu aku mencatat setiap momentum seperti ini, begitu?”

“Tidak begitu juga, Cow, tapi paling tidak kamu harus ingat.”

“Oh, repot sekali berurusan dengan perempuan. Benar kata pujangga, perempuan itu sungguhlah indah, wajahnya, tubuhnya, ucapannya, tapi terkadang juga menyakitkan. Nah, aku tambahkan, juga menyebalkan,” Icow tertawa lebar, “mana mungkin aku ingat berapa kali kita mandi hujan di sini.”

Uni kesal, menjauhi Icow. Jalanan Malioboro macet, kendaraan yang melintas di sana seperti siput. Lebih cepat kaki Uni yang berjenjang itu melangkah. Icow yang tak bisa menghentikan tawanya terus mengejar Uni.

“Tunggu!”

“Bodo’!” ketus Uni.



***

Pikiran Anata melayang jauh, memikir sosok laki-laki dalam catatan itu. Icow, nama yang berulang-ulang ia lafadzkan. Ana mencintai Icow? Anata melontarkan pertanyaan itu ke diri sendiri. Dia semakin penasaran catatan berikutnya, apa yang selama ini Ana tuliskan di buku diary berwarna pink tersebut. Sebelum ia melanjutkan untuk membaca, Anata keluar dari kamar Ana. Berganti baju tidur dan mengambil segelas wedang jahe.

Di luar hujan cukup deras, atap genteng rumah mereka bergeletukan dihantam pasukan hujan. Sudah sejengkal tingginya genangan air menenggelamkan pekarangan rumah. Beberapa ranting pohon berpatahan menghunjam tanah basah. Dedaunan tua turut berhamburan.

“Belum tidur, Bu?” Anata menghampiri ibunya.

“Tidurlah duluan,” sahut ibunya pelan.

Anata mengangguk, tanpa protes. Dengan segelas wedang jahe ia meluncur ke kamar Ana. Melanjutkan rahasia saudari kembarnya. Rahasia hati yang belum sempat disampaikan pada pujaannya, Icow. Catatan kedua ia baca setelah membasahi tenggorokannya.

Aku tidak menyangka, ternyata kau pandai bernyanyi. Hebat pula memetikkan gitar. Kombinasi antara suara dan petikan gitarmu melenakan setiap jiwa. Meskipun aku suka bernyanyi juga, tapi harus diakui aku lebih memujimu. Kau pantas mendapatkan pujian dariku. Sesungguhnya aku jarang sekali memuji orang, tapi untuk kali ini aku menyerah. Hebat, kau benar-benar hebat.

Kapan kau akan memetikkan gitar untukku? Kita bernyanyi bersama, di mana alam hanya membisu, membiarkan suara kita menyatu syahdu. Langit, hutan, gunung-gemunung, lautan, pasti cemburu pada kita. Ya, sebab suara kita lebih merdu dari apapun yang alam bunyikan. Tampaknya aku berlebihan, ya? Mungkin juga. Tapi inilah perasaanku, kegundahanku, yang harus aku tulis tentangmu. Tentangmu. Semua tentangmu.



 

Di malam akrab itu, pendar api unggun menerangi setengah wajahmu. Bulan menggantung begitu anggun. Satu-dua bintang di langit hitam. Malam itu adalah malam penutup acara yang melelahkan beberapa hari terakhir. Hari yang biasa kau sebu Hari Pembodohan OSPEK. Terserah kau sebut apa, bagiku itu adalah nikmat, karena saat OSPEK aku mengenalmu.

Kau mungkin tidak tahu, banyak kakak panitia yang diam-diam mengidolakanmu. Berbisik-bisik di belakang, menceritakan tingkah lakumu. Awalnya mereka memang tidak suka padamu, namun di malam akrab itu terjawab sudah. Kakak panitia, khususnya yang perempuan memuja-mujimu. Aku dengar beberapa patah kata dari obrolan mereka. Katanya kau tampan, penuh pesona, manis, cerdas, kritis, pandai bernyanyi, jago bergitar, perduli terhadap bangsa dan negara, dan satu lagi, kau begitu menyayangi teman-teman barumu.

Ah, kalau kau dengar sendiri, mungkin kau akan menarik sumpah serapahmu terhadap mereka. Aku pikir begitu, meskipun aku tidak terlalu yakin, mengingat lagi keras kepalamu seperti batu sungai. Aku ingin menjadi kuli batu jika mengingat kepalamu itu, agar bisa memecah bebatuan keras yang ada di pikiranmu. Sungguh, aku baru kenal ada manusia sedemikian rupa sepertimu, Adiwidya Prabu Kusuma alias Icow. Manusia berkepala batu, tapi aku suka. Adakah izin dari hatimu agar aku bisa singgah sebentar di ruang itu? Barang sejenak, melupakan beberapa menit kegelisahan hidupku yang lain.

Di sisi lain aku bahagia, ada pula rasa tak enak yang harus pula aku sampaikan. Perempuan itu, ya, perempuan itu yang selalu menempelimu. Kemana kau pergi. Aku risih melihatnya. Perempuan seperti apa dia, bukan pacar juga. Jika boleh aku tebak, itu sengaja ia buat agar menjadi benteng pembatas antara kau dengan perempuan lain. Termasuk diriku. Ah, itu jurus anak SMP yang baru mengenal lawan jenis yang disukainya.



 

Berhasil, dia berhasil menjadi tembok penghalang. Aku hanya menatapmu dari kejauhan, menyahutmu ketika kau sapa, menjabat tanganmu saat kau menjulurkan tanganmu lebih dulu, dan menjawab sebisaku apa yang kau pertayanyakan. Selebihnya aku hanya sebagai saksi. Dia pengacara yang memainkan peran di persidangan. Yang aku bingungkan, kau sebagai apa? Terdakwa atau korban? Atau juga hakim, yang aku sendiri tak bisa merabanya.

23 September 2017

***

Sisa hujan menyisakan gerimis, di Titik Nol pengunjung mulai menyemut. Icow dan Uni duduk di kursi merasakan sensasi air langit di sisa-sisa terakhir. Sudah beberapa menit mereka saling berdiam diri. Icow mencari cara bagaimana memecahkan kebekuan itu, ia tahu Uni yang suka ngambek ini sulit diluluhkan.

“Aku tahu sudah berapa kali kita mandi hujan di Malioboro,” Icow memulai. Memancing percakapan. Uni masih diam. Kakinya ia selonjorkan, lalu melipatkan tangan di dadanya, “Malioboro terlalu indah untuk dilupakan, apalagi bersama orang yang disayangi. Mana mungkin bisa hilang dalam ingatan. Setiap detik dalam gerakan anak manusia di sana, masuk dalam memorinya. Nah, memori itu jika diaktifkan akan menguraikan kisah-kisah indahnya.”

Uni hanya mendengar, tidak berkomentar apa-apa. Pura-pura tuli di hadapan Icow.

“Benar, jika kawan-kawan lain menganggapku sesosok yang kurang perduli terhadap yang lainnya. Tapi aku juga ingin membela diri, perduli seperti apa sebenarnya. Kalau hanya perduli yang remeh-temeh, seperti menanyakan sedang apa? Lagi di mana? Makan apa? Semua itu aku pikir tidak penting. Padahal kita semua sering berjumpa. Apalagi mencatat sudah berapa kali bepergian bersama, melakukan sesuatu yang bersama-sama. Ini lucu,” kata Icow lagi, “bagiku itu semacam basa-basi kehidupan. Dan aku tidak menerapkan itu dalam hidup.”



Belum juga digubris, Uni diam. Bibirnya yang mungil terkatup rapat. Masih kesal.

“Tapi untuk kali ini entah kenapa aku bisa tahu,” Icow tersenyum mengucapkan kata-kata itu, “aku tahu sudah berapa kali kita mandi hujan di Malioboro.”

Uni langsung menoleh, tak sabar menunggu lanjutan ucapan dari Icow.

“Sudah tiga kali, dan ini yang keempat,” alis Icow terangkat sebelah, melepaskan senyum lagi, “benar, kan?”

“Kenapa bisa ingat?” Uni tak percaya apa yang didengarnya.

“Ya, bisa saja. Jangan meragukan anak manusia. Jangan! Jangan sekali-kali!” ucap Icow mantap.

Uni begitu terharu, bahagianya membuncah, ingin teriak di malam itu. Hujan sudah berhenti total. Pengunjung kembali ramai memadati Titik Nol. Pedagang kembali menawarkan dagangannya ke pengunjung. Badut-badut berjoget berharap ada yang menghampirinya, berfoto bersama, dan membiarkan kotak uang berisi penuh. Meskipun uang recehan.

“Cow, boleh aku genggam tanganmu?” pinta Uni, nada suaranya memohon.

“Untuk apa?” ucap Icow menyelidik, “dan kenapa?”

Tanpa menunggu lagi, Uni sudah mengenggam erat tangan Icow. Matanya tak berkedip memandangi bola mata Icow. Lama mereka saling berpandangan.

“Apakah kau terus menjagaku? Seperti janji itu?”

“Ya.”

“Aku ingin mendengar kata cinta darimu,” Uni memberanikan diri, “kalau tidak keberatan.”

Icow tertawa pelan. Dia berdiri, memboyong Uni dari kursi, “Terkadang cinta itu tak perlu diucapkan, Uni. Cinta tetap cinta. Dibumihanguskan, dihilangkan, dimatikan, dia tetap namanya cinta. Kenapa harus diungkapkan segala? Dan biarkan cinta itu hanyut dari tuannya, mengalir seperti anak sungai mencari ibu muara. Samudera.”

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya:

Menerjang Gerbang Angkasa Pura



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas