Ilustrasi Dosen |Foto istimewa

Asmarainjogja.id – Dosen yang makan gaji buta sudah sepantasnya diberi teguran keras oleh kampus. Kebiasaan buruk ini jika dibiarkan berlarut-larut akan melahirkan mahasiswa bobrok yang akan ditanggung oleh suatu bangsa. Tidak hanya negara saja yang rugi, namun pada mahasiswa itu sendiri.

Karena jelas, harapan ia melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi agar manjadi manusia yang cerdas dan mampu bersaing di dunia yang terus berkembang pesat saat ini. Tapi ketika pintu ilmu pengetahuan ‘ditutup’, yang dimaksudkan adalah ketidakhadiran seorang dosen maka harapan si mahasiswa tadi hanya impian kosong.

Dan belum lagi bicara soal keuangan dari keluarga. Nun jauh di sana, di kampung halaman (bagi anak kos), orangtua tentunya menginginkan anaknya sukses di kemudiaan hari, mereka membanting tulang mencari uang demi pendidikan buah hatinya. Namun hasilnya apa? Ternyata cukup banyak kasus di universitas yang dosennya makan gaji buta alias tidak hadir. Bagaimana mungkin mahasiswa bisa cerdas jika tidak didukung sepenuhnya oleh dosen itu sendiri?

Kita percaya bahwa dari siapa saja, dan di mana saja bisa belajar, namun jika itu yang jadi dasarnya, untuk apa diseleranggakan pendidikan formal di negeri ini? Dan untuk apa mahasiswa menghabiskan uang, waktu, pikiran, dan tenaga di kampus? Toh, kita juga bisa belajar dari siapa saja, termasuk orang yang baru kita kenal di jalan, entah dia seorang pemabuk atau juga pencuri. Tapi, kan, tidak begitu belajar yang efektif, selain belajar di luar (pendidikan non-formal), tapi juga belajar di pendidikan formal, yakni salah satunya belajar langsung dari dosen.

Dosen merupakan kunci sebuah universitas. Jika dosen itu bermental bobrok, kemungkinan universitas tersebut setiap tahunnya mewisudakan generasi yang bobrok pula. Bukankah kita masih ingat pepatah, guru kencing berdiri, murid kecing berlari. Sebaliknya pula jika dosen itu bermental berkehidupan pencerdasan bangsa, maka ia akan berjuang sungguh-sungguh, sampai titik darah penghabisan untuk melahirkan generasi emas. Sebuah generasi yang membawa perubahan rakyat yang cerdas, bahagia, sejahtera, dan berdaulat.

Bayangkan mahasiswa begitu semangatnya bangun pagi demi mendapatkan pelajaran seutuhnya dari dosen, tapi si dosen tidak datang, maka si mahasiswa pun pulang, dan ini adalah potret pendidikan terbelakang. Mungkin hanya segelintir mahasiswa yang masih bertahan di kampus untuk mengisi kekosongan itu, seperti membaca, berdiskusi, mengerjakan tugas, menulis, dan lain sebagainya. Selebihnya pulang ke kos, tidur lanjutkan mimpi indah di siang bolong.

 

Malah ada pula mahasiswa yang senang jika dosen tidak datang, mungkin ia lupa bahwa kuliah itu tidak gratis. Uang kuliah itu mahal, guys! Boleh jadi ia anak keluarga kaya, tapi jangan lupakan pula kerugian waktu yang tak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Sebab kejadian lalu memengaruhi kehidupan sekarang, dan menentukan nasib di masa yang akan datang.

Pertanyaannya kita mau jadi apa jika tamat kuliah dengan cara belajar seperti itu? Jangan tambah lagi pengangguran di negeri ini, karena sudah sangat banyak, kawan-kawan.

Alasan ini pula sebagian mahasiswa berdiskusi dengan kawan-kawan lainnya untuk belajar. Meskipun pelajaran itu terkadang tidak fokus ke mata kuliah. Tapi paling tidak bisa mengasah ilmu pengetahuannya di setiap waktu luang. Sebenarnya mahasiswa yang ideal ilu belajar di dalam kelas, juga belajar di luar kelas. Kalau ia mulai terbiasa belajar di luar ruangan, misalnya di tempat wisata, di pasar, di tepi jalan, atau di mana saja, bisa melihat langsung keadaan masyarakat sekitar.

Dengan begitu mahasiswa bisa cerdas di kelas, juga cerdas di luar kelas, ia tahu persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan dia punya solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Sungguh, haram sekali hukumnya jika persoalan masyarakat adalah persoalan masyarakat, sejatinya persoalan masyarakat adalah persoalan mahasiswa. Dan najis sekali mendengar tenaga pengajar mengatakan mahasiswa harus fokus pada kuliahnya sendiri. Ini benar-benar doktrin sesat.

Hijab

 

Kembali ke awal tadi, gunanya pendidikan sesuai amanah UUD 1945 adalah yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan mencerdaskan individu! Artinya apa? Jelas bangsa adalah sekelompok manusia yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama, dengan jumlah yang sangat banyak pada suatu negara. Jadi bukan satu orang! Tapi menyeluruh. Selain untuk mencerdaskan diri sendiri, sebagai mahasiswa, tentunya mempunyai beban moral mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Untuk membawa perubahan pada bangsa itu sendiri, tidak ada kata menunggu. Kita juga tahu sekali persoalan bangsa ini begitu komplet, mulai korupsi, kesenjangan sosial, kemiskinan, narkoba, sampai ke pendidikan yang dikomersilkan. Jika kita hanya menunggu, dan terus menunggu, apa kita rela bangsa ini semakin kacau-balau? Tentu tidak , kan?!

Kalau hanya menunggu tamat kuliah baru berkontribusi ke masyarakat, maka kemungkinan tamat kuliah akan fokus mencari kerja. Jika menunggu mendapatkan pekerjaan dulu baru berkontribusi maka fokusnya menikah. Jika menunggu menikah baru mau berkontribusi, maka ia fokusnya pada keluarga saja. Jika menunggu tua baru ingin berkontribusi, bayang-bayang akhirat sudah di depan mata, boleh jadi niat kontribusinya dipendam. Begitu seterusnya sampai raganya di tanamkan di bumi yang bernama Indonesia.

Jadi kapan pengabdiannya terhadap masyarakat? Jawabannya mulai saat ini sudah sepatutnya membawa perubahan terhadap masyarakat langsung. Tidak ada istilah nanti.

Dosen sebagai pengajar, pembimbing, dan salah sumber ilmu pengetahuan, sewajibnya paham betul hakikat pendidikan itu sendiri. Agar ia tahu di mana posisinya sebagai sosok yang memengaruhi kehidupan bangsa. Jika ia paham, kita mungkin tidak mengenal lagi istilah dosen bolos kuliah.

Sedangkan persoalan gaji atau honor mahasiswa tidak tahu dan tidak ingin tahu, yang mahasiswa tahu dosen wajib masuk kelas untuk memberikan ilmu pengetahuan. Nah, ketika ini tidak ditunaikan maka dosen itu mengingkari amanah UUD 1945. Dan tidak patut menjadi seorang tenaga pendidik. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Jelang Hari Sumpah Pemuda, SMI Komisariat UWM Yogyakarta Menggelar Mimbar Bebas

Mahfud MD: Wajib Hukumnya Mahasiswa Menuntut Keadilan

Rektor Universitas Widya Mataram Membocorkan Rahasia Rekuitmen Ketenagaakerjaan di Acara Wisuda

6 Karakter Dosen, Nomor 5 Paling Geram Mahasiswa



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas