Ilustrasi dosen marah

Oleh: Asmara Dewo

Hi, Icow… 

Hampir sebulan kau tak pernah masuk kuliah, teman-teman merindukanmu. Ali juga titip salam, katanya: “Kapan diskusi lagi? aku mau mendiskusikan berbagai kontroversi pernyataan Rocky Gerung di depan publik beberapa hari yang lalu? Apakah kau setuju inspiratormu membuat sensasi begitu?”.

Ah, aku sendiri tidak mau ikut berdebat dengan kalian, aku hanya ingin hidup nyaman, aman, dan damai. Yang pastinya berusaha juga bagaimana bangsa ini menjadi lebih baik lagi.

Ketidakhadiranmu di kelas tentunya membuat suasana kelas kurang bergairah. Sepertinya kau paham betul itu. Kan, kau juga pernah bilang dengan nada angkuh: “Dosen banyak yang error di sini, sebaiknya aku belajar mencari ilmu sendiri.”. Karakter frontalmu di kelas juga tak begitu baik dengan budaya di sini. Ini Yogyakarta, lebih mengutamakan nilai-nilai kebudayaan. Meskipun aku tahu, kau pasti membantah: “Kebudayaan bukan berarti mengabaikan kebenaran dan keadilan”.

Oh, iya, aku sampai lupa, bagaimana kabarmu di sana (entah di mana kau berada)? Aku harap kau baik-baik saja. Aku lihat update terakhir di IG-mu, kamu posting foto induk dan anak-anak kucing. Apakah kucingmu sehat-sehat juga? Terkadang aku tidak habis pikir, manusia sekeras kau ternyata penyayang hewan juga.

Kau jangan tersinggung! Aku heran saja. Tersinggung pun tidak masalah sebenarnya. Kalau tidak keberatan, beri saja nama kucingmu Rocky, sesuai dengan sosok yang kau idolakan itu.




Icow, aku dan teman-teman ingin mengajakmu camping di pantai. Tolong jangan kau tolak permohonan kami, kalau enggan menerima permintaan kami, ya, sudah, esok lusa jangan sapa aku lagi di kampus. Mulai kita jumpa, sampai seterus-terusnya, dan jangan WA aku untuk menanyakan mata kuliah apa hari ini.

Oke, begitu saja Icow, balas segera! Jangan banyak alasan karena kesibukanmu untuk membela rakyat. Rakya juga sudah baik-baik saja, kau sendiri saja yang sok sibuk. Mahasiswa juga punya tanggungjawab terhadap keluarganya. Kecuali kau sudah mandiri 100 persen.

Ah, kenapa aku seperti emak-emak saja yang menceramahimu. Sudahlah, yang penting kau sebaiknya datang ke kampus, aku juga mau bicara hal lain kepadamu, PENTING!!!

Yang selalu merindukanmu…

Uni

Setelah membaca surat elektronik itu Icow menggelengkan kepalanya berkali-kali, tertawa kecil dan buru-buru membalas surat itu. Uni adalah sahabat Icow sejak pertama kali mereka ospek di kampus. Uni juga mahasiswi yang kerap membantu Icow untuk melengkapi peralatan ospek. Karena Icow yang tidak begitu perduli terhadap peraturan ospek, ia berkali-kali harus berhadapan dengan panitia.

“Kamu mahasiswa baru sudah berlagak!,” seorang panitia seksi keamanan menunjuk batang hidung Icow, “orang-orang yang sering melanggar peraturan, masa depannya suram! Kamu paham tidak?! Hidup itu harus disiplin, jika kamu tidak bisa disiplin, jangan salahkan kami untuk mendidikmu dengan keras, agar kamu menjadi manusia yang berguna di masa yang akan datang.”

Icow menahan tawanya.

“Kenapa kamu, hah?! Melawan kamu, iya melawan?!” panitia berbadan gempal itu semakin mendekatkan wajahnya, “sekarang kamu push-up  50 kali! Ini akibat mahasiswa yang sepele karena tidak membawa kompeng!”

Peserta ospek lainnya hanya membisu. Wajah-wajah lugu mereka melihatkan belas kasihan agar tidak dihukum seperti Icow. Ruangan yang dibangun sejak zaman kerajaan itu hening, tapi di balik dari sikap panitia yang galak di ruangan tersembunyi mereka tertawa menceritakan kekonyolan sikapnya.

Nakal itu hal yang biasa, yang penting tidak kriminal, begitulah filosofi Icow sejak kecil. Ia terinspirasi bagaimana Ki Hajar Dewantara memahami karakter murid-murid nakal semasa ia mendirikan sekolah Taman Siswa. Di balik kenakalan Icow, ia anak yang gemar membaca dan menulis. Soal menulis, sejak SD ia sudah melahirkan karya cerpen yang dimuat di surat kabar.

Sedangkan novel-novel Pramoedya Ananta Toer sudah dilahapnya ketika di bangku SMP. Baginya menulis itu adalah tugas negara, motivasi itu ia dapatkan dari novelis yang pernah dibuang di Pulau Buru tersebut.

Ya, Uni…

Aduhhh, maaf-maaf, aku lama tidak memberi kabar. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan teman-teman yang lain di Temon. Ah, kau pasti tahu kan konflik bandara baru itu? Hmm. Ya..ya, kami bersama warga masih bertahan mempertahankan hak tanah itu.

Aku juga pesimis dengan perjuangan ini, mengingat teman-teman mulai berputus asa, terlebih lagi sudah ada yang berbisik dari belakang. Tapi apapun ceritanya, perampasan lahan secara paksa tidak akan pernah dibenarkan dari peradaban demokrasi, terlebih lagi disusul dengan refresif dari aparat keamanan.

Hahaha… sampaikan ke Ali, aku juga rindu dia. Yang penting jangan kabur sebelum debat selesai.

Tentu saja kelas tidak akan bergairah kalau mahasiswanya cupu seperti kamu, hahaha. Makanya jadi mahasiswa jangan mau dibodoh-bodohi oleh dosen. Kau pikir dosen-dosen di kampus kita itu jenius, mengajar saja sering ngawur. Belum lagi provokasi politik di kelas biar dukungan politik ke Jokowi. Itu dosen atau juru kampanye? Hahaha. Benar-benar aneh.




Aku sudah memberi nama kucingku, nanti kalau dia sudah melahirkan lagi, kau boleh memberikan nama, sekaligus biaya potong nasi tumpengnya.

Camping? Oh, ini sangat menarik. Tapi aku tidak janji, ya?

Memangnya kau mau bicara apa? Serius amat!

Yang tidak pernah merindukanmu… :D

Icow

Pesan terkirim.

“Bung, kapan kita bergerak ke kota?” tanya Icow, “apa kita seperti ini terus?”

“Kita lihat kondisi kota bagaimana. Tunggu kabar dari kawan-kawan,” jawab mahasiswa asal timur Indonesia itu.

“Oke, biar jelas langkah gerak kita,” Icow masuk ke tenda, “aku tidur duluan.”

***

“Sudah selesai huruf e? Kalau sudah kita lanjut ke f,”   Dosen P menaikkan kacamata yang turun ke batang hidungnya.

“Sudah, Pak,” sahut mahasiswa serentak di ruang 2.

Icow menggerutu di belakang, berbisik-bisik dengan Ali. Ali yang serius mencatat merasa risih diganggu temannya. Uni hanya menghela napas panjang melihat tingkah Icow yang tak bisa tenang sejak mata kuliah dimulai.

“Ali, kau pikirkan saja bagaimana kita mau pintar kalau cara mengajarnya saja begitu. Kita ini bukan anak SD yang didikte cara belajarnya,” bisik Icow, “sebaiknya aku keluar saja. Bosan di kelas dengar ocehannya.”

“Sudahlah, kau lanjutkan saja catatan itu,” Ali tak menghiraukan Icow.

“Kalaupun kita benar-benar mau memahami hukum ketenagakerjaan, kita bedah saja kasus-kasus ketenagakerjaan di Indonesia. Banyak sekali kasus yang merugikan pekerja. Bukan belajar mencatat begini, didikte pula,” Icow tak bisa diam, mulutnya terus saja mengoceh di telinga Ali.

“Kau saja yang jadi dosen. Kalau kau merasa paling pintar.”

“Hahaha… bukan begitu maksudku.”

Perkuliahan itu sudah berlangsung 15 menit yang lalu. Setiap Dosen P mengisi kuliah tidak boleh ada mahasiswa yang telat, barang semenit pun. Disiplin waktu adalah kewajiban dalam proses belajar mengajar. Karena latar belakangnya yang disiplin tinggi, Dosen P tak mau anak didiknya jadi mahasiswa yang tak menghargai waktu. Atas pengakuan Dosen P pula, anak didiknya banyak yang sukses karena disiplin dan patuh terhadapnya.

“Pak, masih boleh masuk tidak?” tanya Pati dengan wajah mengiba dari luar pintu.

“Sudah pukul berapa ini, Mas?” Dosen P melihat jam di pergelangan tangannya, “sesuai kesepakatan, setiap mahasiswa yang telat tidak boleh masuk.”

“Iya, Pak, tapi tadi di jalan macet,” Pati membela diri sembari terus membujuk.

“Tidak ada tapi-tapian, kalau telat, ya, telat saja. Tidak usah banyak alasan,” dosen P mengalihkan wajahnya ke buku pelajaran.

Pati pun balik kanan, tidak mengikuti mata kuliah pertama.

“Pasti gara-gara nonton bola, makanya Pati telat bangun,” Ali menduga-duga.

“Ya, boleh jadi. Tapi yang lucunya, mahasiswa tidak boleh telat, eh, si bapake juga pernah telat mengajar, dan kita tidak ambil pusing,” ujar Icow.




“Ssttt… kau jangan keras-keras bicara! Nanti kedengaran.”

“Bodoh amat.”

“Kita lanjut ke hurup f,” Dosen P kembali mendikte, “pertalian hubungan sedarah, ikatan perkawinan dengan pekerja atau buruh lainnya di satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.”

“Pak saya mau menanggapi soal larangan perkawinan sekantor dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” Icow mengacungkan tangannya, “berdasarkan keputusan MK beberapa bulan lalu atas uji materil yang diajukan oleh serikat pekerja PLN, maka sekarang pekerja atau pegawai sudah boleh menikah satu perusahaan atau satu kantor, Pak. Pertimbangan MK saat itu karena larangan perkawinan di satu perusahaan dianggap melanggar HAM, dan tak sejalan dengan amanah Undang-Undang Dasar 1945.”

Dosen P yang merasa diintrupsi oleh Icow saat mengajar merasa tak dihargai.

“Yang saya contohkan tadi pegawi bank. Coba kamu sebutkan bank mana yang memperbolehkan pegawainya menikah sekantor?!” wajah Dosen P serius dan matanya tajam menatap Icow.

“Persoalan bank mana yang memperbolehkan atau melarang pegawainya yang menikah, tapi yang jelas keputusan MK sudah ditetapkan, perusahaan tidak dibenarkan melarang, memecat, atau menyuruh karyawannya untuk mengundurkan diri karena alasan menikah sekantor. Begitu juga dengan pegawai bank. Karena hukum yang dipakai sama, undang-undang ketenagakerjaan. Nah, jika ada bank yang melarang pegawainya menikah satu kantor, artinya bank tersebut tidak mengindahkan keputusan MK,” Icow terus mempertahankan argumentasinya.

Dosen P tak mau kalah, “Kamu jangan asal bicara. Kalau bicara harus ada sumber dan data yang jelas!”

“Oh, ada. Sumber dan data saya jelas, Pak. Karena beberapa minggu yang lalu saya mengerjakan tugas makalah tentang Perjanjian Kerja Bersama, saya juga ambil contoh keputusan MK yang memperbolehkan pernikahan sekantor.”

“Kalau bank memperbolehkan pegawainya menikah sekantor, itu bisa berbahaya. Karena bank berbeda dengan perusahaan lainnya. Paham kamu?! Dibilangin kok ngeyel.” bentak Dosen P sambil menggubrak meja.

Suasana semakin tegang. Mahasiswa yang lain hanya menyaksikan perdebatan antara Dosen P dan Icow. Bukan malah diam Icow dibentak, ia malah terus bersuara.




“Saya tidak paham,” jawab Icow, “karena sudah jelas-jelas MK mengatakan begitu, perusahaan tidak boleh melarang karyawannya yang menikah satu kantor.”

Dengan wajah yang masih kesal Dosen P berujar, “Baik… bawa tugas kamu itu besok.”

“Iya, besok saya bawa.”

Dosen P melanjutkan pendiktean materinya di kelas. Suasana kelas kembali tenang.

“Heh, dosen aneh. Aku cuma menanggapi. Dia kok marah,” Ico mengumpat ke Ali.

“Dia memang begitu. Maklumi sajalah,” balas Ali.

“Bukan soal memaklumi atau tidak, Li. Kita ini proses belajar, jadi dosen jangan sampai keliru menyampaikan materinya, bisa sesat kita belajar kalau begitu. Dia saja yang tidak update undang-undang. Lihat saja buku pegangannya itu! Buku terbitan tahun berapa coba?!” Icow masih belum puas, “apa salahnya dia buktikan dulu argumenku? Atau dengar dulu penjelasan lengkapku, ini kan tidak, dia langsung memotong penjelasanku begitu saja.”

“Sudah… sudah, Cow,” Uni menepuk pundak Icow dari belakang.

“Hati-hati, Cow, kau akan ditandai,” Ali menyeringai.

“Perduli setan.”

Sampai mata kuliah usai, Dosen P memonopoli suara di ruangan tersebut, sementara mahasiswanya mencatat takzim, kecuali Icow dan beberapa temannya yang satu pikiran. Bagi mereka cara belajar dan mengajar bukan seperti yang dialami mereka selama ini. Setidaknya ada beberapa mahasiswa di kelas yang berpikiran maju memahami bagaimana konsep belajar yang baik dan humanis. Buku karangan Paulo Freire menjadi salah satu refrensi mereka memahami hakikat belajar.

“Andai Paulo Freire bangkit dari kuburnya melihat pendidikan di zaman modern ini, mungkin dia akan menuliskan buku yang berjudul ‘Pendidikan yang Membunuh Manusia’,” kata Limo.

“Betul. Membunuh mental mahasiswa, sama saja membunuh peradaban suatu bangsa,” sambut Salman.

“Dosen berwatak feodal,” Eki tak mau kalah.

Dan mereka saling berpandangan disusul dengan tawa mengejek.

“Silahkan isi presensinya ke depan satu per satu,” perintah Dosen P mengakhiri materi kuliahnya.

“Kau benar-benar akan ditandai, Cow,” Ali lagi-lagi menjahili Icow yang akan maju ke depan mengisi presensinya.

***

Baca juga:

Kanjeng Ratu Kidul dan Dua Sahabat

Terjebak di Dalam Gua

Surat Cinta ke-247

Kisah Cinta Ibu Yanu

 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas