Ilustasi aksi | Foto: Fajar Adi Nugraha/Info Cegatan Jogja

Asmarainjogja.id-Jalan  Malioboro penuh dengan aksi massa, ribuan dari berbagai mahasiswa dan buruh menyemut mengikuti mobil komando. Aksi massa itu lantang menyanyikan lagu Buruh Tani, korlap di atas mobil komando terus berorasi menambah semangat aksi buruh. Beberapa kali terdengar suara “hancurkan kapitalisme! Hidup buruh! Hidup rakyat!”. Pasukan keamanan semakin sigap berjaga-jaga, lengkap dengan senjata di tangannya. Menjaga segala kemungkinan terjadi.

Suara Pati yang paling keras bernyanyi memekkan telinga teman-temannya. Icow hanya tertawa mendengar protes Salman ke Pati, yang diprotes malah tak menggubris. Pura-pura tuli, suaranya malah semakin dikuatkan. 

Kerumunan massa berhenti di halaman gedung DPRD Yogyakarta. Korlap kembali mengambil alih perhatian, suaranya yang tak pernah habis itu kembali bergelora membakar semangat massa. Setelah berorasi beberapa menit kemudian dia turun, orasi dilanjutkan dari perwakilan buruh.

“Hidup Buruh!” tangan kirinya mengepal, meninju-ninju langit. Gemuruh suara massa menyambut, “hidup!”

“Selamat siang, kawan-kawan! Kembali kita turun ke jalan, kawan-kawan. Dan lagi kita berjumpa di halaman gedung para dewan yang katanya mewakili warga Yogyakarta. Tapi, lagi-lagi kita sebagai buruh di kota yang istimewa dengan upah murahnya ini membuat kita semua kecewa,” kata orator yang memakai kaos bergambar Marsinah.

“Lihat ke sana, kawan-kawan!” orator menunjuk gedung DPRD, “apakah mereka benar-benar memperjuangkan hak hidup kita? Apakah mereka bisa mewakili apa yang selama ini kita derita, kawan-kawan?”

“Tidak!” massa menjawab serempak.

“Benar!” orator itu diam sejenak, menyapu massa yang tak sabar mendengar kelanjutan orasinya.

“Mereka tidak mau mendengar keluhan kita selama ini, UMR yang kawan-kawan dapatkan sungguh jauh dari kata layak. Padahal harga bensin, tarif pajak, tarif PLN, dan kebutuhan pangan kita sama dengan kota lainnya, seperti Kerawang, Jakarta, Bekasi. Tapi kenapa Yogyakarta hanya bisa memberikan upah di bawah 1,5 juta?

Lucunya, kita dididik untuk bersabar, dan terus bersabar. Memangnya saat kita membayar cicilan motor, dept kolektor bisa sabar menunggu bayaran? Memangnya kita boleh sabar tidak membayar pajak? Tidak bisa! Kita malah disuruh hidup berhemat agar bisa membayar tagihan dari pemerintah dan perusahaan, padahal gaji kita hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita tidak mengenal hidup boros, karena memang kita tidak punya uang lebih untuk berbelanja yang tidak penting,” orator tertawa getir di ujung ucapannya.

“Seluruh tenaga, waktu, dan pikiran kita curahkan untuk pekerjaan, demi anak dan istri, demi keberlangsungan hidup. Sungguh, bukan ini ucapan keluhan, bukan pula ingin mengambil simpati, karena inilah yang sama-sama kita rasakan. Lalu apa balasan dari perusahaan? Mereka menggaji kita dengan upah yang jauh dari cukup, dan pemerintah secara tidak langsung menjadi budak perusahaan, mengikuti permainan perusahaan. Belum lagi persoalan-persoalan lainnya, seperti PHK secara sepihak, hak cuti, dan lain sebagainya. Apakah kita mau diam saja, kawa-kawan?” tanya orator ke arah massa.

“Tidak!” sahut massa.

“Harus kita lawan!” salah satu dari massa berteriak.

“Ya, hanya itu satu-satunya cara untuk mengubah hidup kita. Lawan! Lawan sistem kapitalis! Lawan segala bentuk penindasan buruh! Tentunya kita tidak bisa melawan dengan sendiri-sendiri, kawan-kawan, kita harus bersatu, melipatgandakan perlawanan ini dengan massa yang lebih banyak lagi. Kita harus optimis tahun depan aksi buruh massanya harus bisa memenuhi dari Parkiran Abu Bakar Ali sampai Titik Nol. Apakah kita bisa bersatu dan berlipat ganda, kawan-kawan?!”   tanya orator yang suaranya semakin kencang.

“Bisa!” kembali aksi massa menyahut.

Korlap mendekati Icow, berbisik di tengah suara gemuruh massa, “Bung, orasi, ya?”

“Yang lain saja, Pimpinan!” jawab Icow.

“Ah, mahasiswa lain itu hanya cari panggung saja pada momentum seperti ini. Perjuangan nihil, kalau disorot kamera paling suka. Eh, digertak sedikit saja sama polisi diam, tidak punya nyali,” Korlap tertawa menunjukkan giginya yang kekuningan karena nikotin rokok.

Icow dan kawan-kawan lainnya ikut tertawa.

“Baiklah,” sebelum melangkah jauh korlap membalikkan badannya, “minta rokokmu.”

Buru-buru Icow mengeluarkan rokok kretek dari tasnya.

“Terimakasih,” badannya hilang di tengah kerumunan, kembali ke mobil komando.

Setelah audiensi yang membosankan dari perwakilan DPRD Yogyakarta, aksi massa kembali melanjutkan long march ke Titik Nol. Derap kaki mereka diiringi yel-yel slogan buruh dan lagu-lagu perjuangan. Di Titik Nol massa berkumpul menjadi satu, merayap padat mengelilingi mobil komando. Jalan menuju ke sana diblokade oleh pihak keamanan. Hampir terjadi bentrokan antara mahasiswa dan pihak keamanan, karena oknum polisi ada yang berlebihan mengawal aksi buruh tersebut. Komandan Polisi pun meleraikan aksi dorong-dorongan itu, dan menarik anggotanya menjauhi kerumunan massa.

“A.C.A.B!” maki mahasiswa yang masih jengkel itu.

***

Simpang pertigaan UIN Yogyakarta begejolak. Terjadi pembakaran Pos Polantas dan ban di jalan. Apinya besar menjilati angkasa, asap hitamnya membuat warga sekitar semakin panik. Toko-toko dengan sekejap menutup usahanya, cari selamat.Teriakan revolusi menggema di langit-langit simpang pertigaan UIN. Jalan macet total. Kendaraan berpuluh-puluh kilometer dari sana tak bisa bergerak.

“Revolusi! Revolusi! Revolusi!” teriak aksi massa sembari menghentak-hentak aspal dengan tongkat.

Selain membakar pos Polantas, mereka juga melempari dengan batu dan segala macam alat untuk menghancurkan pos itu. Beberapa menit kemudian warga sekitar dan pihak kemananan berusaha menghentikan aksi mereka. Dan para demonstran lari terbirit-birit ke arah kampus UIN. Tak hanya membubarkan demonstran, warga dan pihak keamananan berusaha menangkap mereka sampai ke kelas-kelas. Dari sekian ratus demonstran, beberapa di antara mereka tertangkap, dan kemudian digelandang ke kantor Polisi.

Malam harinya warga Yogyakarta marah. Penyebabnya ada vandalisme di tembok-tembok yang bertuliskan “Bunuh Sultan!”. Selain itu ada juga vandalisme yang bertuliskan “Stop NYIA!”. Tidak begitu jelas siapa yang berani mencoret-coret dan mengusik Raja Yogyakarta, yang jelas rakyatnya naik pitam. Tuduhan mengarah ke salah satu komunitas sosial berkelas Internasional yang jaringannya hampir di setiap negara.

Sekretariat-sekretariat organisasi berbasis pergerakan digeledah polisi, para pengurus diintrogasi secara mendalam. Intel yang diutus itu pun berusaha menggali untuk mengaitkan apakah ada gerakan organisasi dengan aksi yang rusuh sore tadi. Dan esok paginya intel masih bekerja lebih cepat lagi, beberapa aktivis yang mengawal kasus penolakan NYIA di Temon ditangkap, kemudian dibawa ke tempat yang membuatnya tak berkutik di kemudian hari.

Sejak kerusuhan di UIN, nyaris tidak pernah ada lagi gaung penolakan NYIA. Sejak itu pula kemenangan para pemodal dan penguasa melanjutkan pembangunan tanpa diganggu oleh pihak manapun. Para aktivis kehilangan taringnya. Tak berani bersuara lantang lagi menolak NYIA. Sedangkan warga yang tergusur semakin tragis hidupnya, hanya mendirikan tenda-tenda sebagai pengganti rumah, menjadi pengangguran, dan wajahnya saban hari dirundung duka. Sebagian warga juga masih ada yang tetap menolak pembayaran konsinyasi. Di tengah kehidupan sulit, mereka tetap berkolektivitas bertahan.[Asmara Dewo]

Cerita sebelumnya:

Icow 25: Dehidrasi Desa Jepitu





Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas