Foto Ilsutrasi | Shutterstock

Aku adalah Embun Anindita, gadis yang dilahirkan dari seorang ayah yang bertugas  sebagai TNI, yang seluruh hidupnya diabdikan untuk negara. Sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga yang hebat.

Embun adalah nama pemberian ayah saat aku masih dalam. Kata beliau supaya aku menjadi gadis yang selalu membawa kesejukan pada siapapun dan dalam keadaan apapun.   Dan juga agar menjadi anak yang memiliki kepribadian yang tangguh seperti embun di pagi hari, ia tak akan pernah lelah meski jatuh ketanah.

Dan Anindita adalah nama tambahan pemberian nenek dari nama almarhum ibuku, katanya agar aku memiki sifat sabar seperti ibu dan mewarisi semua sifat baik ibuku.

Panggil saja aku Embun, kini aku telah berusia 20 tahun dan tinggal di rumah peninggalan orangtuaku. Aku diasuh dan dibesarkan oleh paman dan bibi yang mempunyai seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua 3 tahun dariku.

Sejak lahir aku belum pernah melihat wajah ayah dan ibu kandung, apalagi memeluk dan mencium tangan keduanya. Aku terlahir sebagai yatim piatu. Ayah meninggal saat sedang menjalankan tugasnya, saat aku masih dalam kandungan, dan ibu meninggal saat melahirkanku.

Setiap hari aku hanya dapat melihat wajah mereka di album dengan sampul warna maroon. Sosok kedua orangtuaku hanya dapat kudengar dari cerita paman dan bibi, atau terkadang nenek juga menceritakan saat aku sedang bersamanya.

Pernah terbersit dalam pikiran, bahwa Tuhan bersikap tidak adil padaku, kenapa Dia harus mengambil orang tuaku begitu cepat? Bahkan  aku saja belum sempat memanggil keduanya dengan sebutan ayah dan ibu. Ingin rasanya memeluk mereka saat aku dalam keadaan terpuruk, saat hatiku sedang gundah dan ingin berbagi keluh kesah dengan mereka.

Jika rindu sedang menggerogoti hati, maka sesegera mungkin aku menunaikan sholat sunah dan berdoa untuk mereka. Dan jika suasana memungkinkan, aku pergi ke makam mereka untuk berziarah sekedar melepas rindu.

Aku memilih untuk tinggal sendiri sejak umur 15 tahun, karena menurutku memang sudah pantas mandiri. Selama ini aku hidup dari gaji ayahku, alhamdulillah sampai sekarang masih cukup untuk membiayai pendidikanku.

Aku juga memiliki usaha kecil sebagai pembuat cake untuk acara pesta dan acara lainnya. Belajar membuat cake dari nenek sejak umur 10 tahun. Aku  semakin giat belajar membuat cake, mulai memilih bahan, hingga belajar dari internet yang aku variasikan dan dikembangkan lagi.

Aku semakin semangat menggeluti dunia usaha itu, karena kupikir bahwa hidup tidak boleh tergantung kepada orang lain. Sampai saat ini aku masih menjalankan usaha kue.

Sekarang aku juga masih kuliah dan ingin menggapai cita-citaku sebagai guru. Karena menurutku profesi itu sangat mulia, ia bisa menjadi orangtua bagi muridnya. Selain itu bisa berbagi kasih sayang kepada anak-anak lainnya, terutama anak yang bernasib sama sepertiku.

Aku mulai berpikir bahwa Tuhan memiliki rencana lain, yang menyimpan hikmah dibalik semua ini. Kenapa Tuhan mengambil orangtuaku lebih dulu? Sebelum aku dapat merasakan kasih sayang dari mereka.

Ya, jawabannya adalah karena Tuhan sayang dengan kami sekeluarga, terutama orang tuaku. Tuhan juga ingin melihat seberapa kuat dan tangguhnya hatiku menghadapi hidup ini. Tuhan ingin aku menjadi pribadi yang tegar dan mandiri, meskipun tanpa ada kehadiran orangtua. Dan aku yakin, bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya.

Mungkin juga aku termasuk dalam daftar hamba yang kuat, meskipun kuyakin diluar sana masih banyak yang bernasib lebih malang dibandingkan aku.

Jadi aku harus tetap selalu bersyukur dalam keadaan apapun, agar hidup selalu dilimpahkan kebahagiaan. Dan selalu ingat dengan orangtuaku untuk mendoakan mereka.

Aku hanya dapat mendengar cerita kehebatan mereka dari sanak saudaraku saja. Baru kusadari ternyata namaku adalah doa yang terselip yang dikabulkan Tuhan. Aku harus senantiasa bersyukur kepada sang pemberi kenikmatan, karena telah memberikanku pelajaran yang begitu berharga dalam hidup, yaitu perjuangan hidup tanpa orangtua.

Ayah… ibu.. dengarlah doaku bahwa aku sungguh merindukan kalian.[]

Cerita mini ini kiriman dari Dewi Sekar Rahayu. Seorang siswi dari SMKN 1 Kandis, Riau. Bagi kamu juga hobi menulis, silahkan kirim karyanya ke asmaradewo707@yahoo.com  atau berkenalan langsung dengan pendiri sekaligus pembimbing asmarainjogja.id, Asmara Dewo.

Baca juga cerita mini Dewi lainnya:

Air Mata Bahagia Airin di Pelukan Ayah

Mawar untuk Rain

Rahasia Terbesar Cinta Ayah

Ayah, Sungguh Aku Merindukanmu

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas