Ilsutrasi menyontek | Foto Shutterstock

Oleh:  Dewi Sekar Rahayu

Gadis yang sedari tadi menatap keluar jendela. Matanya basah  berurai air mata yang tak kunjung reda. Begitu sedih. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri.

Ini bermula ketika di sekolah, ia begitu kesal   karena nilai ujiannya yang tidak memuaskan, padahal ia sudah belajar denga sungguh-sungguh. Sedangkan temannya yang menjabat sebagai ketua kelas yang mendapatkan nilai tinggi dengan hasilnya mencontek.

Namun guru yang sudah terlanjur percaya dengan ketua kelas picik itu tak akan percaya, jika teman yang lain mengadu bahwa ketua kelas tersebut menyontek.

Dengan geram dan perasaan yang kecewa gadis manis ini pulang berurakani air mata, dan tak keluar kamar hingga ibunya mengetuk pintu kamarnya.

“Nak, ayo makan dulu jangan dikamar terus! Kau kenapa? Kalau ada masalah, sini cerita sama ibu! Mungkin ibu bisa bantu,” kata ibu gadis tersebut.

Gadis itu pun keluar dengan mata yang sembab, lalu memeluk ibunya dan menceritakan kejadian disekolahnya tadi. Dengan suara serak tangis yang mengiringi ceritanya.

Kemudian ibu mencium kening si anak dan mengelus rambut gadisnya. Katanya “Anak ibu yang manis ini bukanlah dirimu yang sesungguhnya, karena kau tak pernah menangis saat dilanda masalah. Kau adalah anak gadis ibu yang terhebat, hatimu yang kuat pasti mampu menyelesaikan masalah sesulit apapun itu. Karena  kau selalu diajarkan untuk menjadi wanita yang kuat hati dan tangguh, seperti batu karang yang kokoh dalam memilih prinsip.”

Dengan terisak si gadis menjawab, “Tapi Bu, aku sudah muak dengan semua ini, aku benci dengan keadaan ini!”

Ibu begitu sabar menjawab, “Nak, biarkan saja ia melakukan apapun yang ia mau selagi itu membuat hatinya senang. Kau tak perlu sedih ataupun benci dengan dia, karena Allah Maha Tahu. Pasti Allah melihat semuanya, sayang. Biarkan ia menyontek, biarkan dia bangga dengan hasilnya yang culas seperti itu. Ditatapnya begitu teduh putrinya, kata Ibu gadis itu lagi, “Secara tak langsung ia telah membodohi dirinya sendiri. Jadi kau hanya perlu memperbaiki dirimu saja menjadi wanita yang sabar dan penuh dengan keikhlasan saat kau sedang diterpa masalah. Dan kau juga harus tetap selalu bersyukur dalam  keadaan apapun, Nak!”

Gadis itu mengangguk takzim, bias semangat tampak di wajah cantiknya. Ibu itu terus memotivasi putri kesayangannya.

“Tau kau, Nak, hasil nilaimu yang buruk, walaupun itu tidak membuatmu puas, tapi yakinlah bahwa kau sudah menjadi pemenang dihatimu sendiri. Sebab kau tak membohongi hatimu saat melakukan segala sesuatu. Sungguh, Nak, negara ini butuh orang yang jujur bukan orang yang pintar tapi menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan.”

“Kau paham, kan, maksud ibu?” tanya ibu itu.

Gadis manis menjawab, “Iya, Bu, aku paham. Aku janji akan menuruti semua perkataan ibu dan menjadi gadis yang kuat.”

Dan si ibu tersenyum bahagia, “Ini baru anak ibu, ya sudah sekarang makan dulu sana, setelah itu belajar!”

Si gadis membalas senyuman ibunya, “Baik, Bu, aku sayang Ibu.”

“Ibu juga sayang kau, Nak,” sambil memeluk begitu erat. [Asmarainjogja.id]

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas