Ilustrasi Mahasiswa | istimewa

Asmarainjogja.id – “Jangan tanyakan apa yang diberikan oleh negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu”, kata John F. Kennedy, Presiden ke-35 Amerika Serikat. Saya tidak sepenuhnya setuju atas pernyataan Kennedy tersebut.

Sebab, kita harus melihat terlebih dahulu kondisi pada suatu negara, jikalau sebuah negara bisa memberikan kewajiban sepenuhnya terhadap rakyat, maka hal ini bisa berlaku. Nah, jika tidak, pemerintah hanya menuntut, maka tak patut untuk didengar, apalagi diaplikasikan oleh rakyatnya.

Kita harus ingat, keadilan itu datangnya dari atas, bukan dari bawah. Impian besar untuk memajukan bangsa dimulai dari pemerintah, bukan dari rakyat. Semua yang berhubungan dengan rakyat, harus dimulai dari pemerintah. Inilah kunci keberhasilan pada suatu negara.

Jangan berharap rakyat akan patuh, andai penguasa sendiri melanggar hukum. Pemerintah harus bisa memberikan contoh menaati hukum agar dituruti sampai ke bawah.



Pemerintah yang gemar menerobos undang-undang, akan menjadi tontonan pembodohan bagi rakyatnya. Bukankah kita sering mendengar, “Penegak hukum saja melanggar hukum, apalagi masyarakat yang tidak tahu hukum”. Negara saja mengabaikan hukum, apalagi rakyatnya. Tidak mau tahu apa kewajiban hukum yang harus dipatuhi.

Buka saja Undang-undang Dasar 1945, kewajiban negara tertulis jelas di sana, kemudian buktikan dengan realita sekarang, sudahkah negara memenuhi kewajibannya untuk rakyat.

Hijab 

Para pejabat negara paham tidak soal ini? Saya yakin paham! Tapi otak dan hatinya sudah kotor, jadi setiap kebijakan dan program-program yang dijalankan bukan kebutuhan rakyat sebenarnya.

Pejabat di atas sana, duduk di kursi empuk, rapat-rapat yang tidak efektif, kebijakan-kebijakan goblok, tidak sungguh-sungguh mewakili apa yang diingankan rakyat. Imbasnya adalah setiap kebijakan dan program yang gagal akan berdampak pada rakyat.

Sebagai contoh, kebodohan pemerintahan dalam kebijakannya yang menguras keuangan negara menjadi utang rakyat. Utang-utang yang menumpuk di Indonesia ini yang bayar siapa? Kita semua! Bayi dalam kandungan pun sudah terbebani utang negara. Padahal yang utang pemerintah dan segala kedungannya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Sebenarnya pemerintah dungu ini bukan di zaman ini saja, tapi sejak di zaman orde baru. Jadi kalau saya menulis opini ini di zaman sekarang, jangan dituduh pula saya anti Jokowi, walaupun saya tidak suka Jokowi.

Karena negara ini sudah semakin buruk. Sistem pemerintahan kita memang rusak, serusak-rusaknya sejak zaman orde baru. Yang mana sejak zaman Orba, sistem kapitalisme sudah dibuka di zaman itu. Nah, sistem kapitalisme inilah yang kemudian mengambil peran di berbagai aspek kehidupan bangsa.

Kita tidak asing lagi mendengar perusahaan kapitalis, ekonomi kapitalis, pendidikan kapitalis, rumah sakit kapitalis, semuanya terjangkiti virus sistem kapitalisme ini. Dan jangan heran kenapa biaya kuliah mahal. Ya, dunia pendidikan saja sistemnya kapitalis, kok.

Memangnya ada orang miskin yang mampu kuliah? Kalaupun ada sedikit, jika dengan jumlah generasi muda sekarang.

Nah, di dunia perkuliahan itu sendiri memang ingin melahirkan manusia-manusia dungu. Dungu dalam artian seorang mahasiswa dianggap cerdas dan waras jikalau segala keintelektualnya sejalan dengan birokrat kampus dan pemerintah.

Jika tidak, maka mahasiswa itu dianggap radikal, meskipun intelektualnya di atas rata-rata mahasiswa cerdas versi kampus. Mahasiswa yang berseberangan dengan kampus dan pemerintah dianggap tak bermoral.

Kerjasamanya antara pemerintah dengan negara para pemodal tentunya tak ingin diusik oleh sekelompok kaum intelektual yang berjiwa revolusioner. Maka dunia pendidikan harus ditaklukkan dengan beragam cara, seperti mahasiswa harus disibukkan dengan kegiatan yang tidak penting. Mahasiswa ditakut-takuti dengan nilai.

Lucunya mahasiswa dianggap bermoral kalau mencium tangan si dosen, dianggap terpuji kalau jilati bokong dosen, dekan, sampai rektor.

Jangan kira mahasiswa-mahasiswa revolusioner itu tidak punya moral, meskipun ia terlihat garang dan tegas, sesungguhnya dia menempatkan kemoralannya pada waktu dan kondisinya. Bukan seperti versi birokrat kampus dan penguasa.

Apakah Anda punya teman di kampus yang kritis? Kritis yang kebangetan. Jika ada, lihat nilainya pasti kacau. Sebab dosen memang tidak suka pada mahasiswa semacam itu.

Kritis itu didasari rasa keingintahuan. Rasa ingin tahu ini sudah ada sejak manusia masih kecil, maka sampai ia dewasa ia akan ingin tahu banyak hal. Nah, dari rasa keingintahuan itulah ia belajar. Belajar sungguh-sungguh.



Bukan belajar karena dipaksa, atau karena besok UAS. Ia belajar setiap waktu, sebab ia paham dengan segala keintelektualannya mampu mencicil kemajuan-kemajuan bangsa dan negaranya.

Terkait soal kritis tadi, mahasiswa memang harus kritis. Kalau mahasiswa tidak kritis, itu tanda-tanda mahasiswa yang dungu. Ya, tentu saja, DUNGU! Sejak zaman Adam, bapak segala manusia, sampai dunia peradaban keilmuan Islam, Yunani, kemudian dunia barat, tokoh-tokoh berpengaruh itu kritis.

Dari kritis itulah adanya pembenahan-pembenahan kebaikan pada kehidupan. Maka kita harus mendengar apa yang dikritisi setiap orang. Siapapun itu, termasuk balita yang rewel sekali.

Saya percaya bahwa untuk mengobati penyakit kronis negara Indonesia ini dimulai dari kaum intelektual yang revolusioner dengan tujuan segala-galanya hanya untuk kepentingan rakyat. Oleh sebab itu dunia pendidikan harus dinomorsatukan, pendidikan gratis harus bisa diselenggarakan oleh pemerintah.

Apakah Anda sadar bahwasanya salah satu penyakit, yakni korupsi pada suatu bangsa itu dikarenakan dari pendidikan itu sendiri?

Mahasiswa-mahasiswa yang kuliah itu tentunya sudah banyak mengeluarkan biaya kuliah. Selama 4 tahun kuliah, boleh jadi menguras keuangan keluarga sampai seratus juta rupiah. Nah, tamat kuliah, si mahasiswa tadi jarang sekali mendapatkan pekerjaan yang layak atau pun cocok sesuai minatnya.

Jadi segala macam cara untuk mendapatkan profesi yang diminatinya, ia mengalalkan segala cara. Salah satunya menyogok.

Menyogok dengan uang yang besar itu mengantarkan ia mendapatkan kursi, entah itu di pemerintahan ataupun di swasta. Maka agar cepat mengembalikan uang, ia mulai korupsi. Kebiasaan korupsi itu dimulai yang terkecil, ketika sudah lihai, sampailah ratusan milyar, bahkan triliunan.

Tak puas sampai di situ, oknum semacam tadi pun mengumpulkan kekayaannya dari cara kerjasama, suap-suap menyuap terjadi. Kalaupun tidak ditukar dengan materi, pada posisi, atau kontrak-kontrak politik yang berimbas buruk pada rakyat.

Anda bisa lihat ketika ada perusahaan asing yang ingin mendirikan perusahaannya ataupun berinvestasi di Indonesia, begitu mudah. Mulus sekali jalannya. Ya, karena ini kesempatan cara oknum berotak kotor menimbun kekayaannya.

Coba masyarakat kecil yang sedikit saja ingin maju dalam hal ekonomi. Ya, Allah, sulitnya minta ampun.

Masyarakat kecil yang ingin maju di dunia perdagangan memang tampak sengaja disulitkan. Sebab masyarakat kecil itu tidak mampu memberikan keuntungan bagi penguasa. Beda, ketika kaum modal yang ingin berbisnis di Indonesia, itu uangnya besar.

Mereka yang memuluskan jalannya bisnis tadi, mendapatkan jatahnya masing-masing. Pernah perusahaan asing yang digusur dari Indonesia? Tidak pernah! Tapi kalau pedagang kaki lima, diuber-uber sama satpol PP sampai ke got.

Bahkan barang-barangnya di sita dibawa ke kantor. Alasannya karena melanggar undang-undang ini, undang-undang itu.

Masyarakat memang selalu salah.

Mahasiswa cupu bin dungu alias si penjilat dosen/dekan/rektor, apakah mampu menuntaskan persoalan ini jika ia menjadi pemimpin? Tidak mampu! Ya, mengkritik pembodohan kampus saja tidak berani, apalagi memberantas oknum-oknum jahat di pemerintahan.

Yang bisa menuntaskan persoalan di negeri ini adalah mahasiswa revolusioner bersama barisan rakyat. Bukan mahasiswa revolusioner jadi-jadian di parlemen. Itu si pengkhianat revolusi. Takut kemiskinan, dan malas mencari rezeki halal. Maka ia pun akhirnya menjelma menjadi penjilat penguasa.

Sungguh, jangan pernah berharap pada oknum-oknum yang bermental sok mewakili rakyat di parlemen. Karena sama saja, ketika sosok revolusioner tidak akan bisa mengubah sendirian di pemerintahan, ia hanya bisa mengubahnya bersama rakyat.

Jadi jika kalian ingin kuliah, pastikan kalian kuliah bukan untuk mencari nilai, bukan mencari puja-puji, bukan untuk mendapatkan ijazah, tapi kuliahlah dengan cita-cita mulia, sebuah impian membawa negara ini untuk kemajuan bersama.

Yang mana kemudian cita-cita itu bisa menjadikan perubahan besar pada bangsa, yaitu rakyat sejahtera[Asmara Dewo]



Baca juga:

Melepaskan Cinta TGB ke Jokowi (Memang Bukan Jodoh)

Filosofi Saya Update, Maka Saya Ada

Melarang Bercadar Sama Saja Melanggar HAM

Jangan Terkejut! Mahasiswa Kita Adalah Calon-calon Kuli Indonesia

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas