Ilustrasi belajar | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Pendidikan dalam kehidupan ini sangat penting, selain mengubah kehidupan sendiri, juga keluarga, bangsa, dan agama. Bahkan setiap agama mewajibkan belajar sampai kapanpun. Jika agama saja mewajibkan, lalu kenapa individunya enggan?

Pada umumnya, mereka yang malas belajar adalah tidak percaya bahwa keajaiban pendidikan, tidak percaya kecerdasan bisa mengubah segala kehidupan, dan tidak percaya ilmu pengetahuan membawa perubahan jauh lebih baik. Selain itu ada yang gemar belajar, tapi ada masanya. Maksudnya adalah ia belajar jika sudah menggapai cita-citanya.

Budaya masyarakat Indonesia enggan melanjutkan pendidikannya kalau sudah mapan. Mapan di sini seperti sudah mendapatkan profesi yang layak dan finansial yang baik. Mereka menganggap masa belajarnya usai. Saatnya generasinya melanjutkan pendidikan, maka semangat sekali menyekolahkan anak-anaknya, tapi dia sendiri sudah “menutup buku”. Apakah ini baik bagi percontohan generasi selanjutnya?

Persaingan dari berbagai aspek di kehidupan ini sangat keras. Orang-orang yang tidak kompeten akan tersingkir. Tergilas oleh orang-orang cerdas dan berkuasa. Orang cerdas tentu mempunyai terobosan terbaru dan skill yang mumpuni pada bidangnya, sehingga saingannya pun akan tersingkir perlahan. Sedangkan orang yang berkuasa selain mempunyai modal besar, pengaruh kuat, akan mudah saja menyentil siapa yang dianggapnya mengganggu.

Lalu siapa korban mereka? Dengan terpaksa hati penulis pun menjawab, orang miskin yang bodoh, orang cerdas tapi miskin, dan orang-orang lemah dari segala aspek kehidupan. Mereka ini adalah korban dari peradaban manusia yang semakin maju. Tidak ada seorang pun dan apapun yang akan membela, membantu, apalagi mengubah nasib mereka.

Jangankan orang lain, negara yang mempunyai kewajiban penuh untuk mengubah kehidupan mereka pun mengabaikannya. Itu negara, pemerintah, bukan individu! Maka jalan satu-satunya adalah bisa membentengi, membekali, dan mempunyai “alat” untuk mempersiapkan diri di tengah hiruk-pikuk Indonesia. Ingat negara akan terus berkembang dan berubah, dan itu belum tentu membawa perubahan bagi rakyatnya, apalagi untuk setiap individunya. Jika melihat statistik BPS maka Indonesia akan menjadi salah satu negara kesenjangan sosial yang paling parah di dunia.

Mengingat suburnya praktik korupsi, sistem kolaborasi kapitalisme perusahaan dan negara, dan minimnya pemimpin yang pro rakyat. Akibat dari 3 unsur tersebut, maka prediksi penulis tahun-tahun berikutnya Indonesia akan semakin suram. Suram bagi warga kecil. Tapi semoga saja ini keliru, atau juga ada perubahan di luar dugaan.

Mungkin sebagian dari kita adalah korban dari “liarnya” berkehidupan di negara kita sendiri. Hanya bisa menerima tanpa melawan, hanya bisa pasrah sembari menangis, dan hanya berharap tanpa usaha yang cerdas nan jitu. Ya, sejak manusia lahir, yang “kecil” akan selalu tersingkir. Tapi sadarkah dengan pendidikan itu semua bisa diantisipasi? Sebab pendidikan adalah tameng ampuh sebagai penghalang penindasan terhadap apapun.

Melalui pendidikan seorang anak akan dibekali pengetahuan maha luas.

Melalui pendidikan seorang anak dibekali kecerdasan dan kecakapan pada kepribadiannya.

Melalui pendidikan seorang anak mampu menggali potensinya untuk mengembangkannya sebagai profesi.

Melalui pendidikan seorang anak akan memiliki prinsip yang digigitnya sampai ia dewasa.

Melalui pendidikan seorang anak akan lebih mencintai agama dan negaranya.

Melalui pendidikan sorang anak membekali dirinya untuk menghadapi segala kesulitan di masa yang akan datang.

Melalui pendidikan seorang anak mampu bersosialisasi dengan baik kepada semua golongan manusia, tanpa memandang apa dan siapa.

Dan melalui pendidikan seorang anak akan senantiasa terus belajar sampai akhir napas.

Nah, seorang anak yang paham betul arti pendidikan ia tidak akan berhenti belajar. Ia merasa seorang yang masih bodoh saja, dengan pemahaman seperti itu pula ia akan terus belajar mengiringi usianya yang semakin renta. Itulah hakikat belajar, belajar sampai ke liang lahat.

Setiap orang tentu berbeda-beda penghasilannya, jangankan untuk biaya pendidikan untuk makan sehari-hari saja sulit. Dengan alasan seperti ini apakah lantas tidak menyekolahkan anak? Ini kembali lagi kepada orangtua bagaimana cara dia untuk memperjuangkan pendidikan anaknya. Jika hanya berapangku tangan mungkin tidak bisa, tapi jika lebih berusaha lagi dalam mengais rezeki dan mencari solusi untuk pendidikan anaknya, rasanya bukanlah hal yang sulit.

Lain hal dengan tipe orang dengan seribu alasan. Sulit sekali berbicara dengan orang seperi itu.

Jika kita mungkin dari keluarga yang minim pendidikan, pastikan sampai di generasi ini saja, putuskan generasi 0 (nol) pendidikan di sebuah keluarga. Selanjutnya generasi terdidik itu dimulai dari kita sendiri. Jika belum mampu, usahakan belajar di non-formal, ini juga sangat baik bagi perkembangan dan kecerdasan. Nah, ketika sudah mampu susul kembali belajar di pendidikan formal.

Jangan biarkan generasi kita selanjutnya adalah korban dari orang-orang cerdas yang licik, dan dari kejamnya sistem kenegaraan kita sendiri. Sebab hanya kitalah yang bisa mengubah itu semua, bukan dari orang lain. Dan itu dimulai dari sekarang untuk belajar! [Asmara Dewo]

Baca juga:

Cara Memantik Agar Anak Sekolah Rajin Membaca

Jangan Jadi Murid Pembantah! Meskipun Gurunya Galak

Ingat Orangtua Sebelum Belajar, Biar Wisuda Kelar!

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas