Ilustrasi seorang hamba | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Seakan lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja, bisa jadi esok hanya tinggal nama, dan mungkin juga beberapa menit kemudian nyawa sudah tiada di badan. Nama kita pun kian bertambah menjadi ‘almarhum fulan’. Ya, kematian menjadi misteri bagi kehidupan ini, bahkan orang-orang yang bertakwa menyakini kematiannya begitu dekat, sebab itulah ibadahnya tak pernah ditinggalkannya. Selalu menuanaikan kewajiban sebagai seorang Muslim, dan menjauhi segala larangan Allah SWT.

Di sisi lain ada pula seorang hamba yang sama sekali tidak memikirkan kehidupan duniawi, ia hanya memikirkan akhirat saja. Mulai terbit fazar, sampai kembali fazar, seluruh hidupnya hanya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, ia benar-benar meninggalkan kehidupan dunia. Tentu kita berpikir bagaimana cara hidupnya bertahan? Atau dari mana uangnya untuk membutuhi kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya?

Jika memang sisa hartanya tidak akan habis sampai dia menemui ajal, mungkin tidak masalah. Tapi jika hidupnya masih tergantung dengan orang lain, maka ini sebenarnya menjadi masalah bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Bukankah hidup sungguh mulia jika makan dari hasil keringat sendiri, tidak berharap belas kasihan dari orang lain, apalagi mengharap bantuan orang lain? Uang memang bukan segalanya, tapi logika sekali, tidak ada uang kita tidak bisa makan. Kecuali memang tinggal di hutan, ia bertahan hidup dari alam bebas.

Memikirkan kehidupan di akhirat memang dianjurkan, karena itu juga salah satu kunci menggapai surga. Sehingga seorang hamba tadi tidak mau meninggalkan ibadahnya, barang sekalipun. Namun harus ditekankan, dunia adalah jembatan menuju akhirat, manusia tidak bisa melompat langsung ke surga. Kecuali baru lahir langsung meninggal. Nah, bagi yang masih merasakan kehidupan dunia maka mau tak mau harus melaksankan tugas sebaik-baiknya, selayaknya seorang hamba yang diperintah menjadi khalifah di bumi.

Jadi menurut saya, keliru langkah seorang hamba yang hanya memikirkan surganya saja. Sementara tugas-tugas seorang Muslim kian hari semakin berat. Mulai dari luang lingkup keluarga, lingkungan sekitarnya, bangsanya, dan umat Islam itu sendiri. Bukankah saudara juga butuh uluran tangan, jika masih ada saudaranya yang ekonominya buruk? Lebih meluas lagi arti saudara bagi seorang Muslim adalah saudaranya yang seiman, jadi ketika seseorang itu Muslim, atau sekeluarga itu Muslim, maka jatuhnya saudara juga, yakni saudara seiman.

Selain itu di lingkungan sekitarnya apakah sudah memang benar-benar bebas dari kemiskinan? Bebas dari hal-hal yang merusak keimanan? Bebas dari kejahatan terselubung? Kalau saya nilai, negara kita saat ini semakin darurat, baik dari segi keimanan, pendikan, dan perekonomian. Saya juga sempat berpikir, kenapa seorang hamba berkali-kali menginjakkan kakinya ke tanah suci, sementara saudara seimannya masih banyak yang serba kekurangan.

Jika sekali saja untuk naik haji, mungkin tidak masalah, tapi kalau sudah umroh berkali-kali, saya pikir ini patut dipikirkan ulang. Sungguh, saya jadi pesismis sebagai seorang pemuda Islam, bagaimana mungkin bisa membangkitkan kemajuan umat, jika hanya memikirkan surga kita sendiri. Baik surga di dunia, maupun surga di akhirat. Dan saya juga tidak setuju jika seorang hamba hanya mementingkan keimanannya saja, sebab umat Islam Indonesia sendiri sungguh butuh bimbingan dari seorang tokoh agama yang jadi panutan.

Rusaknya moral, kemiskinan yang terus melilit, teror, generasi dengan masa depan suram, juga bagian dari kesalahan seorang hamba yang beriman namun ego terhadapan kehidupan orang lain. Bukankah tidak egois jika sehari-harinya dihabiskan hanya untuk merayu Tuhan? Bukankah manusia satu sama lain harus saling berinteraksi untuk saling membantu, memajukan daerahnya, meringankan beban hidupnya, dan memberikan pendidikan formal dan pendidikan agama?

Generasi yang rusak, juga karena tidak dirangkul oleh orang-orang yang berpikir. Maka jangan heran generasi muda Islam lebih senang belajar dari cara pemikir-pemikir yang bertentangan dengan Islam. Akibatnya sosok-sosok inilah yang menjelma menjadi penghianat agama, mulai dari pemikiran-pemikirannya, sampai tindakan-tindakannya yang jelas sekali berbenturan dengan agama Islam. Jika boleh jujur, dulu saya sebenarnya lebih suka membaca buku-buku aliran kiri.

Meski begitu saya tidak mengabaikan buku-buku agama Islam pula. Sedangkan untuk bisnis sendiri, saya memang senang membaca buku-buku aliran kanan, kapitalisme. Lagi-lagi saya juga tidak melupakan cara berbisnis ala Islam, yang didasari Al-Qur’an dan hadist. Bisa dibayangkan jika saya selalu membaca buku dari kiri dan kanan, maka saya tidak mengenal lagi mana haram dan mana halal. Saya masih bersyukur, sejak kecil sudah dijejali ilmu agama, khususnya Tauhid. Jadi seberapa pun hebatnya dari golongan lain, maka tak bisa memengaruhi pikiran saya soal kehebatan Islam itu sendiri.

Agar tidak panjang kali lebar, kita kembali ke topik awal. Seorang hamba sebaiknya juga harus memikirkan kehidupan dunianya, meskipun itu hanya 20 persen saja. Selebihnya 80 persen untuk kehidupan akhiratnya. Jika 20 persen ini benar-benar efektif dijalankan, maka sudara-saudara lain juga akan terbantu, dan untuk dirinya sendiri juga selamat dari dunia.

Bukankah kalau hidup miskin itu juga sebuah ancaman bagi seorang hamba? Terlebih lagi meskipun seseorang itu tampak beriman, namun kalau tidak diiringi dengan kehidupan sejahtera, maka tidak sempurna suri tauladannya.

Perintah Allah SWT juga kepada kita untuk tidak mengabaikan kehidupan dunia, yang penting jangan mencintai dunia sepenuhnya, karena kehidupan dunia tidak abadi. Dan ini kita tahu sekali. Poin yang terpentingnya adalah bagaimana bisa berhasil di dunia, dan berujung bahagia di akhirat. Tak lupa pula terhadap saudara-saudara seiman lainnya yang membutuhkan surga dunia dan surga di akhiratnya.

Kalau mau dihitung-hitung, tokoh-tokoh agama cukup banyak di negeri ini, tapi ada seberapa banyak mereka yang benar-benar memikirkan umat? Tanpa sedikit pun ‘mencari’ keuntungan dari kebesaran namanya itu sendiri. Contohnya saja jika ada yang benar-benar memikirkan perekonomian umat, maka umat Islam yang miskin perlahan-lahan akan berkurang, bukan malah berkembang. Jangan bilang ini adalah tugas negara, sebab ini adalah tugas seorang khalifah yang berpikir.  [Asmara Dewo]

 

Baca juga:

Lima Penyebab Kemiskinan dari Diri Sendiri

Maaf, Mak, Lebaran Ini Aku Tak Pulang

Bulan Ramadhan, Waktu yang Tepat Belajar Menutup Aurat

Ketika Lebaran Memanggil Anak Rantau



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas