Novel Pukat, karya Tere Liye | Foto Asmara Dewo, asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Tere Liye selaku novelis yang sedang naik daun dan karya-karyanya yang best seller, juga melahirkan novel untuk anak-anak. Tere Liye memang cukup perhatian kepada anak-anak Indonesia, untuk itulah novel Pukat, yang merupakan serial anak-anak mamak, selain persembahannya untuk keluarganya juga anak-anak di tanah air.

Menurut pandangan Tere Liye, anak-anak merupakan generasi pengganti masa depan Indonesia yang telah dicarutmarutkan oleh individu-individu yang mencari keuntungan pada jabatannya.

Benar, sungguh benar penulis novel Negeri Para Bedebah tersebut, sebab itu merupakan sikap awas untuk generasi masa depan bangsa ini. Lihatlah bacaan anak-anak sudah tidak jadi bahan yang menarik untuk digarap bagi penulis-penulis hebat di negeri kita. Maka sudah sepatutnya, kita yang juga peduli bagi anak-anak Indonesia turut mendukung bacaan anak-anak ini.

Dalam serial anak-anak mamak ini, ada empat judul, yaitu: Eliana, Burlian, Amelia, dan Pukat. Nah, di novel Pukat menceritakan sosok anak kecil yang masih duduk di kelas 5 SD di pedalaman Sumatera Selatan. Cerita ini merupakan dunianya anak-anak, mulai dari kenakalannya, kepolosannya, keceriaannya, impiannya, dan keluarga di setiap masing tokoh anak-anak tersebut.

Pukat memiliki tiga bersaudara, kakak tertuanya Eliana, adik laki-lakinya Burlian, dan adik perempuannya paling bungsu bernama Amelia. Dibesarkan di kampung jauh pedalaman sana, mereka dibesarkan dari keluarga yang sederhana. Meskipun ayah (Syahdan) dan ibunya (Nurmas) adalah seorang petani. Namun keempat bersaudara ini mampu sekolah sampai setinggi-tingginya.

Seperti anak-anak kampungnya lainnya, di musim kemarau, Pukat, Burlian, Lamsari, Can, Raju, dan teman-teman lainnya mandi di sungai setiap sore. Di sungai yang mengalir itu mereka bermain bola air. Seru sekali permainan mereka, sampai tak terasa hari mulai gelap. Mamak Pukat dan Yuk Eliana sudah dari tadi selesai mencuci pakaian, lalu memanggil Pukat dan Burlian untuk segera pulang.

Baca juga: 

Novel Pulang, Bujang si Babi Hutan dari Talang 

Tetralogi Pulau Buru dan Quotes Pramoedya Ananta Toer di Novel Rumah Kaca

Selain teman bermain, Raju, Lamsari, Can, juga teman sekelas Pukat. Di kelas mereka dibimbing oleh seorang guru yang bernama Pak Bin. Suatu ketika Pak Bin memberikan tugas kepada muridnya. Tugas murid-murid adalah membuat sebuah puisi.

Salah satu puisi dibacakan Pak Bin.

Kau tahu, lesung pipitmu seperti gerimis  di pagi hari.

Rambut panjangmu bagai beningnya air sungai mengalir.

Gigimu cemerlang laksana matahari bersinar terang.

Dan wajahmu  menawan bak saputan pelangi tujuh warna.

Duhai Saleha…

“Hm, tidak ada nama pembuatnya, siapa yang menulis puisi ini?” Tanya Pak Bin menyapu pandangan ke arah muridnya. Hening tidak ada jawaban. Namun salah satu murid tampak gelisah.

“Bukan saya, Pak!” Raju dengan polosnya berseru kencang. Katanya lagi, “Saya tadi menuliskan puisi tentang hujan, Pak. Bukan itu yang saya buat.”

Puisi itu memang yang buat Raju, hanya saja bukan pusi untuk tugas yang diberikan oleh Pak Bin. Pukat sebangku Raju yang jahil mengambil puisi itu dari buku Raju, lalu mengumpulkan puisi cinta itu di depan kelas.

Akibat puisi itu berhari-hari Raju dan Saleha diledekin teman sekelas. Saleha merupakan siswi baru yang datang dari kota, ia pindah ke kampung mereka karena tugas ibunya sebagai bidan kampung.

Suatu ketika Pukat dan Raju bertengkar hebat. Ini gara-gara masalah shio mereka masing-masing. Pukat yang shionya kambinga, dan Raju yang shionya ayam. Mereka saling mengejek satu sama lain, sampai berkelahi pukul-pukulan. Lamsari yang ikut melerai malah menjadi korban, ia terdorong dan terjatuh, kepalanya bocor terantuk meja.

Pukat dan Raju disidang oleh Pak Bin, menyuruh kedua murid ini saling meminta maaf. Mereka pun akhirnya saling meminta maaf. Namun hanya dimulut saja. Sampai berminggu-minggu mereka tidak saling sapa, dan tidak lagi bermain bersama.

Musim penghujan telah tiba, dan panen jagung juga mulai panen. Raju yang dari keluarga miskin, harus mencari uang sekolah dan biaya keperluan keluarganya. Orangtuanya bercerai ketika Raju masih kecil. Karena itulah Raju tidak seperti anak-anak lainnya, ia rajin membantu warga kampung di ladang untuk mendapatkan upah.

“Aku sekarang tidak bisa mengaji, kawan. Wak Lihan, memintaku menjaga ladang jagung seberang sungai.  Lagi banyak babi menerobos lading, bisa habis seluruh jagung,” kata Raju menjawab pertanyaan Pukat. Mereka sudah kembali bersahabat sejak pertengkaran gara-gara ayam-kambing.

“Tidak bisakah Wak Lihan menyuruh orang lain?” tanya Pukat.

“Justeru aku yang memintanya. Wak Lihan membayarku mahal. Dan aku juga bebas membakar jagung di bawah dangau kayu…” jawab Raju dengan santainya.

Tengah malam hujan sangat deras, kampung itu mulai tergenang air. Rumah Pukat airnya sudah setinggi mata kaki. Setelah bangun karena mimpi, betapa terkejutnya Pukat, air sudah masuk ke kamarnya. Pentungan dari bambu diketuk keras, sebagai tanda bahaya terjadi di kampung pedalaman Sumatera Selatan itu.

Warga kampung panik, mereka berlarian menuju Masjid. Ketika keluarga Pukat bergegas meninggalkan rumah, Pukat ingat sesuatu.

“Raju, Pak! Raju!” Pukat berseru pada bapaknya.

“Raju apa?” tanya Bapak Pukat.

“Raju ada di ladang jagung seberang sungai. Raju di ladang jagung Wak Lihan!” Pukat berteriak.

Seperti yang Bapak Pukat bilang, banjir di kampung mereka bisa saja tingginya sampai setinggi orang dewasa, kalau hujan semakin deras, dan tanggul sungai jebol.  

Bapak Pukat dan beberapa pemuda kampung menyiapkan alat untuk menyelamatkan Raju di seberang sungai, menjemput Raju yang mungkin akan dibawa hanyut banjir.

Suatu hari Yuk Liana, Pukat, Burlian, dan Amelia, berkunjung ke rumah Wak Yati. Wak Yati adalah kakak Bapak Pukat. Yuk Liana belajar menenun, Burlian dan Amelia bermain-main di rumah uwaknya yang fasih berbahasa Belanda itu. Sedangkan Pukat bermain tebak-tebakan dengan Wak Yati.

“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas bagaikan mangkok, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Lantas apa harta karun yang paling berharga?” kata Wak Yati dalam tebak-tebakannya pada Pukat.

Pukat yang biasa cerdas, dan pintar mengaitkan suatu hal ke satu hal bingung menjawab tebak-tebakan itu. Tebak-tebakan itu pun ia simpan, dan terus mencari jawabannya, meskipun bertahun-tahun nanti harus dijawab.

Pagi seperti biasa, sarapan Pukat, Burlian, dan Amelia adalah nasi putih disiram kecap asin.

“Habiskan nasinya, Burlian!” Mamak Pukat melotot memarahi Burlian.

“Burlian sudah kenyang, Mak,” jawab Burlian.

“Oi, kau baru makan dua sendok sudah bilang kenyang?” mamak Burlian menatap galak. Burlian mengangguk memasang wajah tak berdosa. Begitu juga dengan Pukat, kompak, kakak-adik mengelabui mamaknya.

“Baiklah, kau boleh pergi sekolah!” Mamak Pukat menghela napas pelan.

Siang-siang pulang sekolah.

“Mak, bukankah ini nasi Burlian tadi pagi?” tanya Burlian setelah lari-lari ke dapur karena kelaparan.

“Memang, kau pikir piring mana lagi?” jawab Mamak Pukat santai. “Kau habiskan dulu yang itu, baru boleh ambil yang di periuk.”

Burlian dan Pukat terpaksa memakan nasi tadi pagi yang sudah dingin. Sementara Amelia makan dengan nasi yang hangat.

“Habiskan!” bentak Mamak Pukat dengan galak.

Mereka tak habis juga memakan nasi itu, meskipun sudah dipaksa berkali-kali.

“Baiklah, kalian boleh main sekarang!” kata Mamak Pukat pelan – meski tajam.

Malam-malam setelah sholat Isya.

“Mak, ini kan piring nasi Burlian tadi siang?” Burlian mengeluh di hadapan nasinya.

“Memang. Kau pikir piring nasi mana lagi?” Mamak Pukat Melotot.

Burlian protes, mau nasi hangat yang dimakan seperti Amelia.

“Tapi, Mak, kenapa Amelia boleh langsung mengambil dari periuk?”

“Karena Amelia menghabiskan nasinya.” Mamak Pukat mendesis.

Di musim kemarau. Pukat dan Burlian ikut bapaknya, membuka hutan untuk ditanami padi. Pukat, Burlian, dan Chan, merupakan rombongan paling muda di antara rombongan lainnya. Namun semangat mereka untuk ikut menebang pohon di hutan seperti pemuda kampung dewasa saja.

Sial, tiga orang sahabat itu terjebak di pepohonan rotan. Duri-durinya menancap di sekujur tubuh mereka. Wajah, badan mereka menggembung karena duri rotan. Namun Ibu Bidan kampung, mengatakan mereka akan baik-baik saja.

Capek dan badan terasa pegal-pegal hinggap di tubuh Pukat dan Burlian. Seminggu mereka istirahat total di rumah dan bermanja-manja dengan mamaknya.

“Kalau kalian mau pegal-pegalnya hilang, kalian harus memegang belincong lagi. Ayo ikut ke hutan lagi!” kelakar Bapak Pukat.

Mereka hanya mengernyitkan dahi. Sorenya mereka ke sungai, seperti biasa, mandi dan bermain bola air. Baru kakak-adik itu sadar, badan yang pegal-pegal dibawa kembali beraktivitas bisa hilang seketika. Esoknya pun mereka ikut kembali ke hutan, menebang pohon bersama Chan.

Sebelum di musim penghujan. Hutan sudah selesai, pohon-pohon yang begitu tinggi sudah ambruk ke tanah. Semak belukar juga sudah dipangkas habis. Saatnya hutan yang sudah ditebang itu untuk dibakar.

“Apakah kita melakukan itu kita merusak hutan? Mengusir binatang hidup yang ada di sana? Iya. Tetapi itu tidak tercegahkan. Kau tahu apa bedanya kita yang hidup berdampingan dengan hutan dibandingkan perusak, pengusaha tambang, pembalak liar atau pemburu? Bedanya kita melakukan semua proses itu dengan menghormati hutan, menghormati binatang dan tumbuhan yang hidup di dalamnya…  apakah para perusak hutan dari kota punya pemahaman seperti itu? Inilah bedanya.” Kata Bapak Pukat suatu ketika.

Pukat, Burlian, dan Chan, menangkap ayam hutan yang sedang melompat-lompat di atas pohon yang kering. Mereka lupa, untuk pembakaran hutan dilakukan pukul tiga belas, setahu mereka pukul empat belas. Mereka pun tak sadar, dengan hitungan detik, api sudah mengelilingi menyala-nyala dengan hebatnya, menjilat-jilat ke arah mereka.

Tiga anak kecil yang masih SD itu pun ketakutan di tengah-tengah kepungan api dan asap yang tebal. Pukat yang tak mau bertahan dilahap api, memaksa Chan dan Burlian untuk lari sekencang-kencangnya menerobos api untuk menyelamatkan diri. Kemudian di susul Pukat.

Akibat itu pula, ketiga bocah ini mengalami luka bakar ringan. Namun, lagi-lagi kata Bidan Kampung itu luka bakar ringan, sebentar saja sembuh, dan tak menyisakan bekas luka.

Baca juga:

Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Jejak Langkah 

27 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Anak Semua Bangsa 

30 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Bumi Manusia

Empat belas tahun kemudian, Pukat pulang dari Ansterdam. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan Burlian kuliah di Jepang. Pukat membaca surat dari Burlian, isinya menceritakan kisah perampokan di kampung mereka dulu. Ketika itu Bapak Pukat masih lajang, baru pulang merantau, setiba di kampung, ia melihat kampung sunyi sepi, rumah-rumah ditutup rapat, para warganya ketakutan di dalam rumah.

Puluhan perampok menjarahi harta benda milik warga kampung, dan anak-anaknya diculik untuk dididik menjadi perampok seperti mereka. Betapa geramnya Syahdan muda ketika itu, bersama warga kampung lainnya, ia membawa senapan, mengejar perampok yang masuk hutan.

Satu persatu perampok itu ditembak, jatuh, terkapar di hutan rimba pedalaman Sumatera Selatan. Perampok tidak sadar dari mana penembak itu berasal. Syahdan dan warga kampung tahu betul hutan tersebut, karena sejak kecil mereka sudah bermain-main di sini. Akhirnya baku tembak terjadi. Perampok mati semua, dan dua orang anak yang diculik juga ikut tertembak, meninggal.

Tidak tahu peluru siapa yang menembus ke tubuh si kecil itu, namun sejak itu pula Syahdan muda tidak pernah lagi memikul senapan.

“Tidak mengapa… tidak mengapa… anak-anakku meninggal demi yang lain terselamatkan. Kau telah melakukan yang benar… mereka-lah harta sejati milik kampung kita. Mereka-lah harta karun paling berharga kampung kita.” Kata Wak Yati dalam cerita yang ditulis Burlian.

“Oi, Kambing… apa kabar?” suara khas menyapa Pukat. Ia adalah Raju yang kini menjadi seorang penerbang angkatan udara, sesuai cita-citanya dulu ketika masih kecil.

“Oi, Raju! Kaukah itu?” Pukat Tersedak. Lalu melirik wanita di sebelah Raju, “Saleha?”

“Itu bukan Saleha, kawan,” Raju memotong, “itu istriku yang tercantik.” [Asmara Dewo]

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas