Ilustrasi obat tidur | Foto Pixabay/Pexels

Asmarainjogja.id – Bagi seorang yang insomnia, hidup sehat adalah hal yang sangat dirindukannya. Tidur pada waktu yang tepat, dan bangun pada waktu yang tepat pula. Mereka sadar bahwa tidur larut malam adalah hal yang tidak baik, terlebih lagi pada malam hari beraktivitas, sedangkan tidurnya pada siang hari. Biasanya gerombolan makhluk susah tidur ini disebut manusia kalong (kelelawar).

Di zaman sekarang, bekerja pada malam hari bukanlah yang tabu lagi. Di kota-kota besar, maupun kota sedang banyak sekali perusahaan yang memperkerjakan karyawannya pada malam hari. Tentu saja hal ini buruk bagi kesehatan. Namun karena tuntutan kehidupan, mau tak mau mereka harus menunaikan pekerjaan.

Karena pengaruh bekerja malam ini pula, lama kelamaan menjadi hal yang biasa. Meskipun tidak di hari kerja jadi kesulitan tidur normal, yakni tidur atau beristirahat di malam hari. Jika kebiasaan ini terus berlanjut tentu saja kesehatannya terganggu, yang akan mengundang segudang penyakit di kemudian hari.

Sebagian orang memanfaatkan obat tidur atau obat penenang agar bisa tidur. Siapa juga yang mau matanya melotot 24 jam, padahal rasa letih di kandung badan? Mungkin Anda pernah merasakannya, di mana badan sangat letih, tapi sulit sekali memejamkan mata. Tak jarang pula akibat dari hal tersebut bisa menghayal entah apa saja yang terbersit di pikirannya saat itu.

Nah, untuk membeli obat tidur tersebut tidak sembarangan, haru melalui resep dari dokter. Jika pintar-pintaran sendiri bisa dipidanakan, hal ini bisa dilihat dari kasus aktor Tora Sudiro yang kedapatan mengonsumsi pil Dumolid bersama istrinya, Mieke Amalia.

Hijab

 

Polisi menetapkan Tora Sudiro sebagai tersangka dengan Pasal 62 Undang-Undang No. 5 Tahun 1997, tentang psikotropika, yang berbunyi: Barang siapa memiliki, menyimpan, atau membawa psikotropika dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah.

Untuk diketahui obat tidur ini mengandung zat adiktif nitrazepam. Merujuk dari undang-undang tersebut nitrazepam termasuk psikotropika golongan 4, yaitu jenis psikotropika yang mempunyai potensi ringan dalam menyebabkan ketergantungan, dan dapat untuk pengobatan tetapi harus dari resep dokter.

Jadi aktor film Warkop DKI Reborn itu tidak bisa memberikan bukti resep dari dokter atas kepemilikan 30 butir pil obat tidur tersebut. Inilah yang memberatkan Tora Sudiro dalam kasus yang menimpanya. Sebelumnya, Tora Sudiro juga sempat ke psikiater dan dokter atas insomnianya, saat itu dia masih menggunakan resep dari dokter.

Namun belakangan ini ia tidak menggunakan resep dokter, artinya dia membeli obat tidur tersebut secara bebas untuk dikonsumsi.

Bertolak belakang dengan praktisi hukum Hotman Paris Hutapea, dia mengatakan tidak tepat jika Tora Sudiro dipidanakan karena kasus kepemilikan obat tidur tersebut.

 

“Jika saya sakit usus buntu, obatnya harus pakai obat dokter, ternyata saya bisa beli obatnya sendiri di apotek tanpa resep. Pertanyaannya, apakah membeli obat tanpa resep itu pidana? Jelas bukan! Memang perbuatan terlarang, tapi bukan pidana,” kata pengacara kondang itu memberikan perbandingan saat diundang TV One beberapa hari lalu.

Nah, bagi siapa saja yang insomnia jika memang sudah terlanjur ketergantungan minum obat tidur, sudah sebaiknya kasus Tora Sudiro bisa dijadikan pelajaran. Memang melalui resep dokter biayanya lebih mahal, sedangkan dengan membeli sendiri biasanya lebih murah. Hanya saja ini perbuatan yang terlarang, alias tidak baik. Maka sudah sepatutnya melalui resep dokter.

Selain dokter senantiasa bisa mengawasi, juga tidak bertentangan dengan hukum seperti yang dituduhkan Polisi ke Tora Sudiro. [Asmara Dewo]

Baca juga: 

Fenomena Akun Media Sosial si Penyebar Teror

Selfie Bersama Artis, Biar Pamer di Medsos?

Tiga Tips Jitu Agar Terhindar dari Menggosip



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas