Foto Ilustrasi Flickr

Oleh: Ade Zetri Rahman

Untukmu,  Haykal ...

Kamu pernah bertanya padaku mengapa aku menyukai hujan ,bukan? Namun aku hanya mampu menjawabnya diam saja.   Baiklah kini akan kuuraikan padamu. 

Iya, karena hujan itu adalah kamu. Dingin tapi menentramkan. Tenang tapi mendamaikan. Bening tapi menguatkan. Meski terkadang guruh datang menjelang, petir bersahutan namun seketika pelangi akan menyeruak kepermukaan menjelma menjadi senyummu. Manis. 

Lalu, karena hujan itu juga aku. Menuangkan ribuan bulirnya tanpa sedikitpun mengutuk bumi yang tak paham tentang hadirnya. Membuat gelombang riak pada kolam ikan orang lain. 

Lalu siapa yang peduli pada riak gelombang? Seperti kata Tere Liye. Tak seorangpun yang ingin menghitung seberapa banyak jumlahnya. Hilang, tak terhitung bahkan tak tampak. Padahal ia ada. Hujan tetap akan mendatangkan riak. Selamanya. Selama kau ada. 

Haykal, kumohon jangan pernah menyuruhku membenci hujan karena jika itu terjadi maka kau memutuskan pergantungan harapan yang kuterbitkan. Saat hujan menyentuh daun jendela kamarmu disaat itulah aku mendo’akanmu, menyukaimu dan bersimpuh pada Tuhanku untuk selalu menjadi riak meski kamu tak tahu. [asmarainjogja.id]

Wassalam ...

Solok, 17 Maret 2016

Baca Juga cerita mini lainnya:

Merindukan  Hujan 

Malam dan Hujan

Gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

 








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas