Pulau Kalong | Foto Asmarainjogja.id

Oleh: Asmara Dewo

Langit  mulai keemasan, hari beranjak menjemput malam. Dari atas bukit, laut selatan tampak begitu tenang, seperti lukisan yang terpampang di depan mata. Begitu dekat, seolah-olah bisa digapai dengan jemari.

Pati masih terlelap, air liurnya meleleh sampai ke pipinya yang mirip bakpau. Sesekali tangannya mengelap pipinya, lalu beberapa menit kemudian air liurnya meleleh. Limo yang tak tahan ingin menjahilinya pelan-pelan mendekati Pati.

“Si paus terlelap hampir punah,” Limo menjawil hidung Pati, “seperti orang mati kalau sudah tidur. Lihat matanya! Melotot. Tidur atau apa ini?”

“Jangan kau ganggu dia, Limo! Dia capek,” kata Icow melarang temannya yang sering jahili Pati.

Limo tertawa, “Aku cuma tes, apakah dia masih hidup,” Limo beralasan, “mungkin dia menyimpan sakit jantung. Dan mungkin bisa mendadak berhenti.”



“Sudah masak mienya,” lapor Uni ke teman-temannya, “ayo makan dulu! Nanti aku masakkan lagi untuk Ali dan Salman.”

Tanpa diperintah dua kali, teman-temannya sudah merubungi mie tumis yang harumnya sampai beberapa meter. Ana membantu menyiapkan piring dan sendok. Suara derap kaki melangkah dari belakang mengagetkan mereka, ternyata Ali dan Salman sudah tiba.

“Oh, syukurlah, cariernya dapat?” ucap Ana.

“Kami lama karena cariernya sangkut di dinding jurang,” ujar Salman setelah meneguk air.

“Terus bagaimana mengambilnya?” Uni penasaran.

“Untung ada Spyderman,” mata Salman melirik ke Ali.

“Wahhh, hebat,” puji Ana dan Uni bersama-sama.

“Pati bangun!” Uni mennggoyang-goyang badan Pati yang gempal.

Pati hanya bergumam, meracau. Teman-teman yang lain sudah melahap mie tumis yang lezat. Soal memasak memang Uni ratunya. Suruh dia masak apa saja, dengan sekejap Uni akan menghidangkannya di atas meja, dan jangan tanya soal rasanya. Tentu enak.

“Pati!!!” Uni meneriaki Pati.

Hidung Pati mengendus-endus, aroma mie mengusik tidurnya.

“Mie?” tanya Pati, telunjuknya mengucek matanya, “kelihatannya enak.”



Langit barat sudah sudah gelap, sementara di bagian timur menyala keemasan. Si bundar orange beberapa saat lagi akan ditelan horiozon. Nyanyian burung tak lagi terdengar, beberapa ekor yang mengawang di angkasa sejak tadi satu per satu kembali ke sarang. Sunyi, hanya terdengar celotehan anak manusia yang sedang menikmati senja dengan semangkuk mie di tangannya. Diam-diam Pati menyerobot mie Ana dari mangkuknya.

“Jadi bagaimana kawan-kawan, kita tetap lanjut ke Pulau kalong?” Salman mengawali percakapan.

“Kalau aku terserah saja,” Limo mengangkat bahunya.

“Ya, sama, seperti Limo,” Eki sepakat dengan Limo.

“Kau, Pati, bagaimana? Sudah sehat, kah?” tanya Ali.

“Kapan aku sakit?” Pati malah balik tanya, “aku tadi cuma takut, tapi bukan berarti sakit.”

“Mungkin ada beberapa bagian anggota badanmu yang sakit, seperti terkilir atau apalah itu,” ucap Salman.

“Aku sehat wal afiat, kok,” jawab Pati enteng, “kita lanjut saja. Jangan karena kejadian tadi menggagalkan rencana kita.”

“Kau, yakin?” Icow memastikan.

“Iya.”

Mendengar pernyataan Pati yang begitu hero, teman-teman yang lain begitu senang. Lalu mereka membereskan perlatannya dan bersiap menuju Pulau Kalong.

“Kalau bisa kita bergerak cepat, sebelum gelap total,” Ali mulai memberi komando, “tidak jauh dari sini jembatannya ada di balik hutan pandan itu.’

Langkah kaki mereka pun semakin cepat, senter di kepala sudah dinyalakan menerangi jalan setapak ke jembatan yang menghubungkan Pulau Kalong. Pati lebih berhati-hati, ia belajar dari kejadian yang hampir membuatnya terperosok ke jurang.

Raja siang sempurna ditelan laut selatan. Hari sudah sempurna gelap. Akhirnya mereka tiba di jempatan. Ali memastikan apakah jembatan itu masih layak atau tidak untuk diseberangi, mengingat dia sudah lama tidak ke sini lagi. Dirabanya pula tali tambang raksasa yang mengikat tonggak-tonggak besar sebagai penopang jembatan.



“Masih bagus, kita bisa menyeberanginya,” ujar Ali.

“Kalau jembatannya mungkin masih layak diseberangi, tapi lihat ombak di bawah sana. Bisa menghantam saat kita menyeberang,” kata Ana.

“Iya, ternyata ombaknya cukup tinggi di sini,” Uni menimpali.

“Aku belum sempat bilang ke kalian, pantai ini sebenarnya namanya Pantai Sinden. Pantai tanpa pasir landai” Ali melepaskan carier dari punggungnya, dan mengeluarkan tali, carabiner, dan peralatan lainnya, “aku selalu bawa peralatan  outdor  setiap kali bertualang. Kalian tenang saja.”

“Oke, mantap,” puji Limo.

“Ini sebagai antisipasi. Jalan pun dengan tangan kosong, sebenarnya aman, kok. Tapi aku tak mau mengabaikan hal-hal tak terduga,” kata Ali, “aku akan menyeberang duluan. Memastikan kayu-kayu penopang di sana juga kokoh. Tali yang aku bawa akan aku ikatkan di kayu dan batu di ujung sana, ini sebagai alat pengaman kalian saat menyeberang. Kalian tinggal pasang carabinernya di pinggang, lalu berjalan pelan-pelan melewati jembatan. Bagaimana, paham, kan?”

Teman-temannya mengangguk. Tanda paham.

“Baik, aku duluan. Jangan lupa berdoa sebelum menyeberang,” pesan Ali, “itu pun kalau kalian semua masih yakin atas kekuasan Yang Maha Esa,”

Icow hanya menyeringai. Pati buru-buru mengambil kalung hitam dari cariernya. Yang lain menuruti pesan Ali, mulai berdoa di dalam hati.

“Kenapa, kau, Cow?” tanya Uni yang melihat Icow tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa,” Icow mengelak.

“Kau keberatan berdoa?” Uni mendesak.

“Berdoa untuk apa? Dan kepada siapa?” Icow terpaksa menjawab.

“Ya, untuk keselematanmu, untuk kita semua,” Uni geram dengan pertanyaan Icow, “berdoa saja kepada apapun yang menurutmu lebih hebat dari manusia. Manusia ada batasannya, Cow, kau ingat-ingat itu!”

“Bukan waktunya berdebat,” Icow tak menanggapi, “yang jelas, apapun yang kita lakukan di sini, itu karena manusia sendiri mampu mengatasi segalanya, dengan kecerdasannya, yaitu pikirannya, kemampuan fisiknya, peralatan yang cukup, dan punya mental menaklukkan setiap tantangan di depannya. Kau sepertinya cukup cerdas memahami kalimatku, Uni.”



“Oke, oke, terserah! Yang penting aku mau kau baik-baik saja,” mata Uni melotot garang.

“Manusia menentukan nasib di tangannya sendiri. Bukan pada harapan-harapan atau imajinasinya.”

Setelah tali dipasang dengan kuat, dan dicoba Ali berkali-kali, dia dengan mantap melangkahkan kaki di atas jembatan yang tampak sudah tua. Jembatan itu pun bergoyang-goyang, suaranya berderit-derit buat ngilu. Sementara ombak di bawah sana menjilat-jilat jembatan dengan ganasnya. Belum begitu jauh, Ana meneriaki Ali,

“Berapa panjangnya jembatan ini, Li?!”

“Lebih kurang 50 meter,” kata Ali tanpa memalingkan wajahnya.

“Oke, sip.”

Limo berbisik-bisik dengan Eki, dan Salman. Mereka sejak tadi ternyata melihat wajah Pati yang pucat. Tangan Pati menggenggam kalung yang tergantung di lehernya. Dan Ana sudah bersiap-siap akan menyeberang setelah Ali memberi kode. Uni dan Icow hanya diam, menyaksikan Ali yang selangkah demi selangkah melewati jembatan ekstreme di Pulau kalong.

“Kau takut?” tanya Limo dengan suara mencemooh.

Pati pura-pura tertawa karena dituduh seorang penakut, “Hah, takut?” ujar Pati, “kau tidak salah bertanya seperti itu?”

“Aku cuma tanya, kalau takut kita bisa berdua menyeberang ke sana,” ujar Limo.

“Nah, ide bagus, tuh.”

Ali sudah mengikatkan tali ke tiang-tiang pancang dan batu-batu besar. Lalu mengulur carabiner yang diikatkan pada tali, kemudian diulurnya sampai ke Ana. Ali dari ujung teriak,

“Pasang yang benar! Hati-hati!”

Eki membantu Ana memasang tali yang sudah dibentuk Ali seperti hardness.

“Kita sama-sama saja menyeberangnya,”

“Boleh juga.”

Ana dan Eki mulai meraba-raba jembatan tua itu. Di sebelah jembatan tersebut ada gondola yang menggantung.

“Apakah gondola itu masih bagus?” tanya Ana, kakinya terhenti melihat gondola di samping.

“Sepertinya tidak. Ayo terus jalan.”

“Hati-hati kalian,” suara Uni nyaring terdengar menyemangati dua temannya itu.

Selangkah demi selangkah mereka melewati jembatan maut. Byurrr… ombak menghantam langit jembatan. Ana kaget bukan kepalang, tangannya gemetar memegang tali.

“Fokus! Jalan terus,” Eki menepuk bahu Ana dari belakang.

Ana melanjutkan langkahnya, kakinya memilah-milih papan mana yang layak dipijak atau sudah lapuk. Sebagian papan itu malah sudah terlepas, terlihat dari atas ombak ganas ingin menggapai telapak kaki.

“Oke, terus-terus, sebentar lagi sampai, An,” teriak Ali beradu dengan deburan ombak.

Mata Pati tak berkedip melihat kedua sahabatnya menyeberangi jembatan Pulau Kalong.

“Tantangan itu selalu seru untuk ditaklukkan,” bisik Limo ke Pati, “menaklukkan diri maksudku, untuk menghadapi tantangan itu.”



“Iya, betul,” Pati mengangguk, menutupi wajah cemasnya.

Setelah tiba di ujung, Ali dengan sigap melepas carabiner dan tali pada kedua sahabatya, kemudian mengulur lagi ke teman berikutnya.

“Kita sama-sama menyeberangnya, biar sambil mengobrol,” Limo meraih tali.

“Ya, ya, aku setuju.”

Tentu saja Pati setuju atas tawaran Limo, karena di hatinya sejak tadi berharap ada temannya yang mengawalnya sampai ke bibir Pulau Kalong. Kaki Pati ragu-ragu melangkah, bahkan kaki kanannya menggantung di belakang, seperti terjerat. Diam sama sekali tak bergerak. Keringatnya bercucuran di badannya. Sesekali Pati usap keringat dingin dari dahinya.

“Ini cuma tantangan kecil, Pati,” Limo mendorong pelan dari belakang, “nyali itu harus diasah terus. Terus… dan terus. Sekali kau bisa menaklukkannya, kau akan ketagihan. Percayalah.”

Slowww, Bro, aku cuma menghitung jaraknya saja,” Pati menutupi rasa takutnya.

Icow dan Uni tersenyum melihat Pati yang sejak tadi banyak alasan.

“Aku datanggg!” suara Pati begitu kencang mengiringi langkahnya.

“Mantap,” Ali mengacungkan jempol.

Lagi, jembatan itu bergoyang ke kanan-kiri, berderit buat gigi ngilu. Ombak tak kalah garangnya, semakin ganas menjilat-jilat ke atas. Bummm… deru dombak menghantam karang. Jembatan tampak oleng dihantam ombak.

“Tahan dulu,” Perintah Limo, “setelah ombak mulai tenang, kau lanjutkan langkahmu.”

Pati berdiam sejenak mengikuti arahan Limo, setelah dilihatnya ombak tenang, kakinya kembali bergerak. Tangannya kuat memegang tali.

“Ayo, Pati, kamu bisa!” Ana memberi semangat.

Sudah setengah jembatan yang dilaluinya, nyali Pati semakin mantap. Kakinya pun semakin lincah di antara jembatan yang bolong di sana-sini.

“Pati! Pati! Pati! Pati!” Uni menepuki Pati dengan penuh semangat, lalu diikuti Salman dan Icow.

Pelan tapi pasti, jembatan ekstrem itu dilalui Pati dan Limo. Eki dan Ali sudah siap-siap menjulurkan tangannya ke Pati.

“Kau memang hebat, kawan,” Ali meraih tangan Pati.

“Badan boleh gendut, tapi tak boleh takut,” Pati memuji dirinya sendiri sembari jalan sempoyongan.

Teman-teman yang mendengarnya tertawa, bergantian memberikan tos ke Pati. Tali dan carabiner diulur, Salman sudah tak sabaran menyeberang.

“Aku duluan, ya?” Salman begitu cepat memasang peralatan di badannya, tanpa buang waktu, kakinya sudah gesit melangkah.

“Siap! Hati-hati,” sahut Icow.

Hanya memakan waktu delapan menit, Salman sudah sampai di bibir Pulau Kalong. Ombak yang berderu-deru di bawah menjilati kakinya, sama sekali tak dihiraukan. Dengan bangga ia berujar,

“Jembatan ini lebih baik diperpanjang sampai seratus meter. Biar lebihh menantang.”



“Sombong…” ujar Pati.

Salman membalasnya dengan tawa kecil. Di seberang mereka, Icow dan Uni tampak bersiap-siap menjemput sahabatnya. Uni terlihat lebih santai, carier di pundaknya dikencangkan, ia memastikan lagi tali dan carabiner melekat kuat di badannya. Begitu juga dengan Icow, ia sama sekali tidak menyimpan rasa khawatir, apalagi takut.

“Bagaimana, Nona, kau sudah siap?” Tanya Icow, disusul senyum tipis.

“Selalu siap, Tuan Icow,” Uni sudah melangkahkan kakinya.

Icow mengiringi setiap langkah Uni. Jarak mereka satu meter. Meski Uni tampak tenang, mata Icow begitu tajam mengawasi setiap gerakan Uni dari belakang. Ombak semakin ganas, bergulung-gulung saling menghantam. Tempiasnya membasahi wajah mereka. Dan gelombang ombak berikutnya semakin besar saling menghantam tepat di bawah jembatan. Bummm, pecahan ombak begitu dahsyat, jembatan bergoyang hebat. Uni terpelanting jatuh.

“Uni!!!,” seru kawan-kawan di ujung cemas.

Uni bergelantungan di bawah jembatan, kepalanya hampir terjebur ke laut. Untung saja cariernya masih dipegang kuat oleh Icow. Dan tali pengaman masih menempel di badan. Uni berusaha mengangkat kepalanya.

“Kau masih kuat?” Icow berusaha menarik Uni ke atas.

Uni tak menjawab, tapi ia mencoba mengangkat kepalanya.

“Oke, tahan. Aku akan memegang tanganmu,” Icow menjorokkan badannya lagi lebih dekat, mencoba meraih tangan Uni.

“Bagaimana ini?” tanya Salman Panik, “aku jemput mereka.”

“Tunggu dulu!” Ali melarang, “jembatan itu tak kuat menahan beban lebih dari dua orang. Kalau Icow tak bisa sendirian, baru di antara kita menyusul.”

Teman-teman yang lain menuruti perintah Ali, wajah mereka pucat pasi.

Di posisi badan terbalik begitu, Uni semakin tak berdaya. Genggaman tangannya melemas. Ombak lagi-lagi menghantam jembatan. Icow semakin kesulitan. Suara Icow mengerang keras, seluruh tenaganya dikerahkan mengangkat badan Uni. Berhasil. Uni ditariknya lalu dibantu berdiri.

“Kau masih bisa berjalan?” tanya Icow, “kalau tidak bisa, aku siap menggendongmu. Serius.”

“Nanti, kutagih janji itu,” jawab Uni terbata-bata.

“Oke, kalau begitu kita atur napas dulu.”



Sahabat mereka yang sejak tadi cemas kini sudah mulai lega. Hampir saja jembatan ekstrem itu menelan korban. Ombak laut selatan belum juga bisa bersahabat dengan petualangan anak manusia tersebut. Napas Uni kembali normal, mereka pun melanjutkan langkahnya. Tak mau dihantam ombak yang kedua kalinya, kaki uni lebih cepat melangkah.

“Hati-hati, Uni!” Icow mengingatkan.

Uni hanya menganggukkan kepalanya, tapi ia melesat lebih cepat. Tak perduli apa yang akan terjadi, di benaknya ia harus cepat-cepat sampai di ujung jembatan. Icow pun mengiringi Uni lebih cepat lagi. Bukan perkara mudah melewati jembatan tua di malam hari. Apalagi malam itu ombak begitu ganas menyambut tamunya.

Dengan wajah berseri-seri, Ali, Eki, Salman, Limo, Pati, dan Ana menyambut kedua sahabatnya yang hidup-mati menyeberang di jembatan Pulau Kalong.

“Kau berkali-kali menyelamatkan nyawa kami,” ucap Pati memeluk Icow.

“Sudah kewajiban seorang sahabat, bukan?” Icow membalas peluk erat Pati dan sahabat lainnya.

“Cow, terimakasih,” Uni menatap lembut wajah Icow, “janjimu bukan sekadar kata-kata. Pengalaman tadi membuktikannya.”

Bersambung…  [Asmarainjogja.id] 

Baca cerita sebelumnya di sini:

Karena Jimat Hitam



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas