Ilustrasi Bersepeda | Net

Surya  pagi menyiram lembut Kota Yogyakarta. Para pengguna jalan tetap tertib di jalanan. Meskipun terlihat dari gestur tubuh mereka tampak buru-buru. Eksekutif muda di mobil mewah berkali-kali melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Seorang mbah dengan sepeda tuanya lebih santai, dan wajahnya memancarkan ketenangan. Lampu hijau menyala, kendaraan merengsek maju. Bus Trans Jogja mengepulkan asap hitam yang tebal, membuat pengendara di belakang mengibaskan tangannya.

Icow mengayuh kencang rocky. Mengebut di jalan berlomba-lomba dengan kendaraan lainnya. Kampus tidak jauh lagi, sekitar satu kilometer. Sepedanya terus dikebut, menyalip becak-becak yang sudah beroperasi. Lima menit kemudian ia sudah berada di parkiran kampus. Membasahi tenggorokan dengan air mineral dari botol bergambar kucing. Icow berjalan santai menuju ruang kelas. Setelah Icow bertos dengan teman-temannya, dosen muncul dari bingkai pintu, menyapa ramah. Mata kuliah pertama langsung dimulai.

“Cow, mana Uni? Sudah sepekan dia tidak pernah masuk kelas?” bisik Pati. Tangannya mengeluarkan buku catatan.

“Ah, mana aku tahu. Hubungi saja nomornya,” balas Icow. Pelan.

“Tidak aktif.”

Icow hanya ber-oh. Dia mulai fokus mendengarkan materi dosen.

Penasaran. Pati terus mencecar Icow. Mengganggu konsentrasi Icow belajar.

“Kamu selalu dengannya, kenapa tidak tahu?” Pati menyikut pelan perut Icow.

“Eh, kamu sudah seperti intel saja, ya?” Icow menyeringai, “aku betul-betul tidak tahu, Patiii.”

“Atau jangan-jangan dia sakit,” kata Pati lagi, suaranya semakin kuat, “kita harus ke rumahnya.”

“Sttt!” tegur Ali, “nanti saja kalau mau ngobrol. Sekarang waktunya belajar.”

Pati tertawa. Memberikan hormat militer, “Siap Bapak Rambo!”

***

“Bagaimana kerjanya? Kamu tidak capek? Kalau capek ambil cuti saja.”

Hampir terselak. Uni cepat-cepat menenggak air putih. Disuapan terkahirnya, Uni menatap lamat-lamat ibunya.

“Uni baik-baik saja, Bu. Dan tidak mungkin juga baru kerja seminggu sudah cuti,” Uni tertawa pelan.

“Ya, tidak apa-apa, toh? Nanti ibu yang telpon,” kata Ibu Uni.

“Tidak usah. Butuh adaptasi saja, nanti juga terbiasa,” Uni menyambar tasnya. Mencium pipi ibunya. Bergegas mendekati bapaknya, “ayo, Pak! Kita berangkat sekarang.”

“Tidak salah juga saran ibumu,” Bapak Uni seperti malas bergerak.

“Tidak apa-apa, lho, Paaak…” Uni menarik lengan bapaknya, “Ayo dong! Nanti Uni terlambat.

Sepekan yang lalu Uni mulai bekerja di rumah makan Padang paling laris di Kota Istimewa ini. Rumah makan dengan menu sepesial rendang daging itu kebetulan masih keluarga dekat Uni. Dengan resep turun temurun dari leluhur mereka, rasa makanan di rumah makan tempat Uni sekarang bekerja selalu dipuji pemburu kuliner.  Ondeh, mande, lamak banaaa, begitu pengunjung yang sering memuji.

“Jadi bagaimana kuliah kamu?” tanya Bapak Uni. Mobil mereka sudah membelah jalanan kota. Klakson berbunyi bersahut-sahutan. Jam-jam padat kaum buruh menuju tempat kerja.

“Bisa belajar di rumah. Tenang saja,” Uni memastikan bahwa pelajarannya baik-baik saja.

“Sampai kapan kamu bekerja?”

“Ya, sampai Uni bisa memasak yang enak seperti Uda Bujang,” Uni tertawa kecil.

Bapak Uni menyeringai. Tahu ambisi anaknya. Tidak bisa diatur terlalu keras.

“Baiklah, yang penting pendidikan kamu tidak terganggu.”

“Siap!” Uni melompat dari mobil, “terimakasih, Pak. Nanti Uni bisa pulang sendiri, jangan dijemput! Daaa…” tangan Uni melambai. Dia berlari-lari kecil.

***

Di kantin kampus ramai mahasiswa bercakap-cakap. Berbagai pembahasan diobrolkan di sana. Mulai dari yang remeh temeh, sampai yang serius. Mulai dari IG Lambe Turah, sampai kontroversi pernyataan-pernyataan Presiden Jokowi yang dianggap mahasiswa itu nyeleneh. Bukan urusan saya, kok tanya ke saya? Dan berbagai ucapan aneh lainnya.

“Lalu kapan kita memastikan lahannya?” tanya Icow. Tanpa menolehkan wajahnya. Dia masih fokus mengirim artikel ke redaksi.

“Secepatnya, Cow, kamu kapan ada waktu?” Ali balik tanya.

“Aku bisa kapan saja,” jawab Icow.

Pesan terikirim. Dia mematikan laptop, memasukkannya ke ransel.

“Yang lain bagaimana?” Ali menyapu wajah teman-temannya.

“Aku, sih, ikut saja,” sahut Pati.

“Ya, sama, aku juga. Lebih cepat, lebih baik,” Eki menanggapi.

“Sepakat,” Salman mengamini.

“Oke,” ucap Ali mantap, “soal pembibitan bagaimana, Ki?”

“Kapan saja siap. Yang penting konfirmasi lagi sehari sebelum bibitnya diambil.”

“Diantar atau kita yang jemput?” tanya Ali lagi.

“Kita yang jemput.”

“Iya-iya,” ujar Ali kemudian, “bagaimana kalau Sabtu kita ke rumah Mbah Soro. Memastikan lagi lahanya?”

Teman-teman yang lain mengangguk, tanda setuju. Kopi diseruput. Obrolan mereka ditutup dengan pertanyaan besar,  Uni bagaimana?

***

Di kafe susu murni tempat biasa Icow bertemu dengan redaktur. Di sana ia menunggu sambil mengetik. Menulis artikel selanjutya, soal opinya terkait perkembangan NYIA yang terus memanas.

Pria berusia 35 tahun menghampiri Icow. Berpakaian rapi, lengan kemejanya digulung sampai ke siku. Terlihat lelah, namun berusaha memasang wajah ramah ke Icow.

“Sudah lama menunggu?” Bram menjulurkan tangannya.

“Tidak, kok, Mas,” Icow menyambut. Mereka bersalaman erat, “apa kabar, Mas?”

“Ya, sehat. Selalu sehat,” Bram tersenyum, “sudah ditransfer, ya?” dia memastikan honor tulisan Icow.

“Iya, Mas, terimakasih.”

“Eh, sejak kapan merokok?”

“Sejak kepala pusing, Mas,” Icow bergurau.

Bram tahu maksud jawaban Icow. Mereka tertawa. Lalu saling bercerita. Menceritakan banyak hal sebelum ke inti persoalan perjumpaan mereka. Akhirnya Icow mengutarakan maksudnya untuk berjumpa dengan Bram. Bram kaget, karena selama ini Icow begitu semangat mengajar menulis di TB.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu istirahat mengajar?” Bram memperbaiki duduknya. Mengisap rokoknya lebih dalam lagi. Asap mengepul di antara wajahnya yang letih.

“Ada proyek yang harus kami kerjakan, Mas. Dan ini cukup menyita waktu. Beberapa kegiatan saya yang lain juga saya gantung, istirahat sebentar maksudnya. Saya mau benar-benar fokus dalam proyek ini.”

Bram serius memahami alasan Icow.

“Oke, memangnya proyek apaan, sih?” Bram mencodongkan tubuhnya di depan meja, “sepenting apa?”

“Mungkin bagi yang lain tidak begitu penting, Mas. Tapi bagi saya, bagi teman-teman yang lain sangat-sangat penting,” Icow menatap serius Bram. Telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja.

“Iya, apa?” Bram tidak sabar.

“Proyek lidah buaya,” jawab Icow. Dia memerhatikan gestur dan kilatan mata Bram.

“Menanam lidah buaya. Itu maksud kamu?” Bram mengonfirmasi.

Icow mengangguk kencang.

“Oke, bagus. Lahannya bagaimana? Bibit juga? Sudah dipersiapkan semuanya?” cecar Bram, “eh, terus mau ditananam di mana?”

“Soal itu sudah aman, Mas. Tinggal survei sekali lagi. Jika tidak ada halangan, Sabtu depan kami sudah mulai menanam.”

“Wisshhh… bukan main. Icow dan kawan-kawan memang mahasiswa yang progresif,” Bram mencongkel informasi lagi, “lalu tujuannya untuk apa?”

“Tujuannya apa lagi kalau bukan semata-mata untuk masyarakat Gunungkidul,” suara Icow mantap terdengar.

Bram mengangguk, selalu percaya apa yang diucapkan Icow. Karena bagi Bram, ucapan adalah tindakan juga bagi Icow. Dan segala apa yang pernah diucapkan Icow memang terealisasikan. Bukan bualan belaka, bicara sok hebat, tapi tindakan nol, seperti mahasiswa lainnya. Bram mengenal betul Icow.

“Baik, saya akan selalu mendukungmu. Ya, ya, mahasiswa harus paham mana yang pokok, dan mana yang tidak pokok. Tidak boleh serakah dengan agenda sehari-hari. Manusia terbatas dalam mengerjakan banyak hal. Dan kamu, saya pikir tepat mengambil keputusan. Fokus pada proyek yang akkan kamu kerjakan ke depan,” tutur Bram kemudian, “apakah kamu istirahat juga menulis?”

Icow cepat-cepat menjawab, “Soal tulisan, saya tidak akan absen, Mas. Berusaha semaksimal mungkin. Saya juga butuh honor untuk perjuangan ekonomi masyarakat ini,” Icow tertawa pelan. Tawa Bram menyusul.

Mereka menghabiskan susu murni di gelasnya masing-masing sebelum berpisah.

“Cow, saya nebeng, ya?”

“Oh, maaf, Mas, saya sama Rocky sekarang.”

Bram tidak paham dengan jawaban Icow.

“Maksudnya, saya sekarang naik sepeda,” Icow menjelaskan.

“Oh, baiklah,” kata Bram. Ia memesan ojek online  di aplikasi hapenya.

***

Icow kembali mengayuh sepedanya. Membelah jalanan kota di sore hari. Pengendara mengisi jalan merayap. Padat. Antre di sepanjang lampu merah. Wajah-wajah lelah terpancar dari mereka, kaum buruh yang menyelesaikan tugasnya. Baiknya, mereka masih bisa tersenyum ketika melihat badut yang menari-nari di lampu merah. Meskipun teman badut menyodorkan wadah uang recehan ke setiap pengendara. Icow menatap mereka, entah apa yang dipikirkannya, yang jelas ada rasa simpatinya ke kaum buruh. Kaum yang harus dibela sampai darah penghabisan. Bagi Icow kaum buruh adalah tumbalnya perusahaan.

Suara klakson bersahutan, lampu hijau menyala. Rocky sudah melaju di antara kerumunan kendaraan lain. Keringat menetes deras di sekujur tubuh Icow. Sepedanya menuju ke sekretariat organisasi. Tempat di mana, kumpulan mahasiswa dan mahasiswi yang berjuang di sektor pendidikan, dan perjuangan rakyat. Terutama soal advokasi, pengawalan kasus-kasus masyarakat.

Azzam sudah tersenyum, melihat kedatangan Icow. “Hallo, Ndante!” dahinya sempat berkerut, melirik MTB putih yang diparkirkan Icow, “sambil olahraga, ya?”

“Hallo juga, Comandante,” Icow menjabar erat tangan Azzam, “ya, begitulah. Biar tetap bugar.”

“Ayo, masuk, kawan-kawan yang lain juga ada di dalam,” Azzam sudah masuk ke sekret.

Ukuran sekretariat mereka terbilang kecil. Lebih besar dapur di rumah Icow. Dindingnya terpajang foto-foto tokoh revolusioner Indonesia, seperti Tan Malaka dan Soekarno. Papan tulis tempat mereka berdiskusi masih ada coretan-coretannya. Mayday Berlawan. Paling pojok, perpustakaan dipenuhi buku yang tidak teratur dengan baik. Tapi tetap dirawat dan dijaga. Bintang merah dan logo kepalan tangan kiri turut menghiasi dinding. Simbol impian dan perlawanan.

“Apa kabar, Cow,” seseorang yang berambut gondrong dengan tubuh yang gempal ramah menjulurkan tangannya.

“Sehat, Jen. Apa kabar juga, nih, Jen?” Icow balik tanya.

“Sehat-sehat,” tubuhnya ikut naik-turun.

Beberapa orang lagi menyalami Icow. Saling menyapa, bertukar kabar. Sebab lama Icow tidak ikut rapat organisasi.

“Bagaimana kampus kalian, lancar?” suara besar dari salah satu mereka bertanya.

“Ya, begitulah. Penyadaran pada mahasiswa cukup sulit. Watak hedonis masih kental di kalangan mereka. Dosen, dekan, dan rektor watak feodalnya masih. Ya, walaupun ada beberapa dosen muda yang paham berdemokrasi. Nah, dosen berwatak feodal selalu menjadi lawan debat yang seru dan imbang,” Icow terkekeh di ujung kalimatnya.

“Mantap-mantap, mahasiswa memang harus seperti itu. Apalagi ngaku-ngaku aktivis, malu-maluin kalau tidak punya nyali berdebat dengan kaki tangan kampus,” sekretaris jenderal ikut tertawa, “jangan pernah mendiamkan pembodohan yang terjadi di kampus. Haram hukumnya. Sekali diam, pihak kampus akan merasa menang, dan terus semena-mena terhadap mahasiswa,” kali ini dia tertawa kencang. Badannya bergoyang-goyang.

“Ayo minum kopi dulu, biar enak ngobrolnya,” Azzam membawa nampan yang dipenuhi kopi dan gorengan.

Tanpa disuruh yang kedua kalinya, mereka berhamburan mengambil jatah masing-masing kopinya. 45 menit berlalu, panjang lebar mereka berbicara soal organisasi gerakan mereka. Icow menyampaikan maksud dan tujuannya, “Bung Azzam, aku mau sharing, nih.”

Mata Azzam serius menatap Icow.

“Rencanya pekan depan kami mau menanam lidah buaya di Gunungkidul,” lanjut Icow, “bagaimana menurut, Bung?”

“Oh, itu bagus. Bagus sekali. Aktivis selayaknya seperti itu berbaur di tengah-tengah masyarakat. Tidur dan makan bersama mereka. Merasakan penderitaannya. Dan yang paling penting mendengar keluh kesah mereka. Membantu semampunya, berkolektivitas dalam bekerja. Ah, sepertinya kamu paham itu,” Azzam menanggapi positif kedatangannya.

“Iya, Bung, terimakasih. Kami menanam lidah buaya memang semata-mata untuk masyarakat di sana. Ya, selama ini aku merasa terlalu banyak mengeritik, terlalu banyak membahas segala macam teori, apalagi perdebatan-perdebatan. Tapi masih minim turun langsung ke masyarakat. Ya, paling beberap kasus penggusuran NYIA. Yang lainnya tidak ada,” Icow berkata jujur. Apa adanya.

“Teruslah berdinamika, sahabat seperjuanganku. Di manapun kamu berada, kami percaya, perjuanganmu akan selalu lurus dan tulus. Demi rakyat yang tertindas, demi rakyat yang digusur, dan demi rakyat yang dirampas hidupnya,” Azzam sudah seperti motivator kawakan saja, “dan jangan lupa pulang?!” kini Azzam tertawa. Icow menyeringai. Kawan-kawan lain juga tertawa.

“Ah, itu pasti. Tidak akan pernah mundur,” mantap suara Icow terucap.

Matahari sudah tenggelam sempurna. Suara adzan berkumandang merdu. Icow berpamitan ke teman-teman seperjuangannya. Mengayuh Rocky pelan, sampai keluar dari gang.

“Kawal terus! Jangan sampai lepas, Jen!” Azzam memerintah dengan suara dalam. Otaknya langsung berpikir keras, penuh keheranan. Kenapa pula Icow mendadak ingin menanam lidah buaya? Pertanyaan yang bertubi-tubi menghunjam. Azzam mengelap mukanya yang kebas.

“Siap, Pimpinan!”

***

Pengunjung di malam hari tidak begitu ramai seperti di siang hari. Rumah makan tempat Uni bekerja hanya belasan kendaraan yang mampir di sana. Di bagian depan beberapa pegawai menjamu tamunya memakai bahasa Minang. Ramah mengobrol, saling bertukar informasi asal muasal. Tamu seolah-olah berada di kampung halaman sendiri. Sedangkan di bagian belakang, Uni dan koki hanya menyiapkan bumbu-bumbu untuk dimasak esok pagi.

“Sudah malam, pulanglah lagi, Uni. Tidak baik kerja terlalu lama,” kata Ujang, yang juga masih saudara jauh Uni.

“Bukan kerja, Uda, tapi belajar,” Uni tertawa.

“Sama saja. Belajar dan kerja tetap menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran,” Ujang menyusul tawa Uni, “kuliah bagaimana?”

Lama Uni terdiam. Seolah-olah tidak mendengar.

“Kuliahnya bagaimana?” tanya Ujang sekali lagi.

“Oh, iya, Uda,” Uni terkesiap, “akhir-akhir ini dosen pada sibuk. Akan ada acara besar di kampus,” Uni mengada-ada. Berusaha mencari alasan yang masuk akal.

“Perempuan Minang selain harus pandai memasak, harus pula pandai di pendidikannya. Ya, karena suatu hari nanti kau akan menjadi ibu, yang dituntut menjadi seorang ibu yang bijak mengasuh anak-anak, dan mendampingi suami. Matrilineal di zaman modern, atau entah di zaman apa lagi seratus tahun kemudian, perempuan Minang tetaplah perempuan yang bisa diandalkan,” ucap Ujang yang curiga pada Uni.

Hmmm, anak gadih ko, batin Ujang.

***

Bersambung…  [Asmarainjogja.id]

Baca juga: 

Bergerilya Lidah Buaya



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas