Ilustrasi Desa Jepitu | Foto doc. Beritagar.id

Asmarainjogja.id--Sejak penanaman lidah buaya tiga pekan yang lalu hujan belum juga turun. Bayi-bayi mungil dari lidah buaya itu memang mulai tumbuh, namun di pengujung pelepah daunnya agak kekuningan. Tampaknya memang kekurangan air. Dengan penuh semangat pula, para petani milineal, Pak Man, dan Mbah Soro berkolektivitas menyiram tanaman gurun tersebut.

Lidah buaya memang tanaman yang unik, meskipun disebut-sebut tanaman sejenis kaktus, tapi lidah buaya sangat membutuhkan air. Terbukti lidah buaya yang mereka tanam mulai menampakkan dehidrasi. Mau tak mau mereka harus membeli air untuk penyiraman dari tangki air. Entah itu beli air atau jasa pengangkatan air, yang jelas mereka merogoh uang sebesar seratus ribu rupiah.

Bak air yang dibuat dari terpal dan tumpukan batu sudah penuh. Sisa air yang masih tersisa dalam tangki langsung ditembakkan ke kebun lidah buaya. Pati begitu semangat menyiram sambil bermain-main air dengan Salman. Icow dan Anata bertugas membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman kebun. Eki dan Mbah mengumpulkan ranting-ranting jati yang jatuh. Sedangkan Ali dan Pak Man memastikan air bak agar tidak merembes. Memeriksa berulang kali tumpukan batu dan terpal itu.

“Sudah habis airnya!” lapor Pati.

“Ya, berarti memang habis,” sahut Ali, “terus mau ngapain lagi?”

Pati tertawa, “Senang saja menyiram begini.”

Ali ikut tertawa, “Bagus. Asal konsisten saja. Lusa kita menyiramnya pakai gombor.”

“Maksudnya?” Pati menguatkan suaranya.

“Iya, kita besok-besok menyiramnya, ya, pakai gombor.”

“Satu per satu begitu?” Pati memastikan.

“Iyalah, Pati, terus bagaimana?” Ali melanjutkan pekerjaannya. Tertawa kecil, yang lain juga ikut tertawa.

Seakan tahu apa yang dipikirkan Pati. Salman menyikut perutnya yang berlemak, “Jangan bilang lusa kamu banyak urusan. Kita sama-sama menanam, sama-sama pula menyiram. Jangan berwatak feodal, ya?”

“Ah, kamu ini sama teman sendiri tidak percaya,” kata Pati yang ikut menggulung slang tangki dengan sopir.

Sopir tangki undur diri untuk melanjutkan orderan air warga yang lain, “Terimakasih, Mbah, Pak Man, dan mas-mas semua. Saya mau antar air lagi ke desa sebelah.”

“Siap, Pak, terimakasih banyak,” balas Ali, teman yang lain ikut mengucapkan terimakasih. Begitu juga Pak Man dan Mbah.

“Seharusnya kita tidak perlu berterimakasih. Toh, kita bayar, bukan gratis,” Icow mendesis. Ujarnya lagi, “kalau pemerintah desa menyediakan air gratis untuk tanaman di sini. Itu baru kita berterimakasih.”

“Benar juga, sih. Tapi dia hanya seorang sopir, Cow. Apa salahnya, sih, cuma bilang terimakasih?” kata Anata.

“Kalau itu aku juga tahu, Anata. Persoalannya adalah warga sini tampaknya terlena. Seolah-olah kapitalis kecil itu dewa penolong mereka. Sekali kapitalis, ya, kapitalis, memanfaatkan modal untuk mendapatkan keuntungan dari warga yang kesulitan air,” tambah Icow lagi dengan nada cemooh, “dasar bajingan.”

Sepanjang waktu Icow hanya menggerutu. Kesal, melihat persoalan air di sana. Sementara ada pihak yang bermodal memanfaatkan air desa milik warga. Karena hanya punya modal, si pengelola air itu pun mendapatkan keuntungan dari bisnis itu.

“Sumpah, demi langit, bumi, semesta dan seisinya, aku tidak pernah rela membiarkan ini semua,” suara Icow bergetar.

“Kamu serius?” kening Anata berkerut, “Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Lihat saja nanti!”

***

Anak-anak Bi sudah mulai besar, keempat anak kucing itu begitu lasak mengobrak-abrik kamar Icow. Mencakar-cakar kaki meja belajar. Saling bergelut, kejar-kejaran, suara mereka seakan menjadi “lagu wajib” di kamar Icow. Bi tampak tenang memerhatikan anaknya yang bahagia. Jemari Icow liar di atas  keyboard  laptop, menulis artikel tentang tangki air di Desa Jepitu.

 

Dehidrasi Desa Jepitu

 

Air adalah sumber kehidupan. Tidak hanya manusia dan hewan yang membutuhkannya, tapi juga tumbuhan. Sangat sulit mengatakan untuk tidak ada tumbuhan yang bisa hidup tanpa air. Maka air menjadi bagian terpenting pula untuk mengharapkan tumbuhan bisa berkembang dengan baik.

Petani yang ada di sawah, sangat tergantung dengan air. Petani palawijaya yang ada di tegal juga berharap senantiasa pada air. Begitu juga dengan kami, mahasiswa yang sedang belajar bercocok tanam lidah buaya di Desa Jepitu, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta, yang lebih tepatnya di sekitaran alun-alun menuju Pantai Jungwok.

Sebagai mahasiswa yang baru belajar bertani membuat kami langsung syok. Bagaimana tidak? Jika setiap menyiram lidah buaya yang kami tanam di sana harus beli air sebesar seratus ribu rupiah. Beli air atau jasa mengantar air, atau apapun namanya, yang jelas sama-sama mengeluarkan uang. Hal itu tentu menjadi ujian berat kami hari ini, dan boleh jadi di masa-masa yang akan datang. Ya, karena misi uji coba penanaman lidah buaya kami di sana harus menemukan hasil akhir.

Berhasil atau tidaknya, yang pasti kami mencoba untuk mencari solusi tanaman lain. Mengingat selama ini, menurut informasi yang kami himpun, warga di Desa Jepitu, hanya menanam padi, kacang, atau jagung. Hasil panen dari palawijaya tersebut bisa dibilang kurang memuaskan. Karena itu pula, kami ingin mencoba menanam lidah buaya. Setelah kami teliti dan riset pula, lidah buaya selain bagitu banyak manfaatnya, juga punya nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Impian kami jelas, semua itu semata-mata untuk warga. Karena kami sebagai mahasiswa punya kewajiban membantu mereka. Terkutuklah kami jika hanya untuk kepentingan ekonomi kami sendiri. Ya, ini adalah janji dan tekad kami. Nah, sekarang, sebelum jauh kami melangkah ke depan, kami mulai merasakan ada bebatuan kecil yang menyandung kaki, yaitu dehidrasi Desa Jepitu.

Seperti yang sudah disampaikan di awal, kami harus menyiram lidah buaya dengan air yang harus kami beli seharga seratus ribu rupiah. Memang tidak begitu besar, bagi orang yang berkantong tebal, tapi bagi kami mahasiswa itu cukup berat. Terlebih penulis sendiri yang sedang hijrah. Hijrah untuk belajar memenuhi perekonomian sendiri.

Kemarau mulai melanda, hari-hari di sana tentu sangat membutuhkan air yang banyak. Maka kami harus pula menyediakan air agar tanaman lidah buaya tidak dehidrasi. Layaknya sebagai manusia, tumbuhan juga butuh air. Kalau tidak ingin menyaksikan bangkai-bangkai lidah buaya yang mati, maka kami harus memberinya minum.

Nah, sekarang yang menjadi keluhan penulis adalah di mana peran pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi? Apakah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu persoalan air di sana? Jika memang tidak tahu, mana mungkin pula. Kemungkinan besar mereka tahu persoalan itu, hanya saja tidak berani mengambil kebijakan-kebijakan radikal, atau bahasa kerennya kebijakan out the box. Apa perlu mahasiswa muda ini memberikan solusi? Tentu tidaklah elok. Tapi tidak keberatan pula kalau diminta pendapat. Solusi sederhana paling tidak bisa memanfaatkan dana desa.

Selain itu yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca tercinta adalah soal si kapitalis kecil pengelola air di Desa Jepitu. Padahal kalau kita merujuk ke Pasal 33 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Bunyi pasal itu sangat jelas, artinya air yang ada di Desa Jepitu harus dikelola pemerintah setempat untuk kemakmuran warga Desa Jepitu.

Adalah suatu keburukan bagi kita yang mengetahui sedikit hukum jika mengabaikan amanah pada undang-undang tersebut. Maka jika kita punya semangat untuk kemakmuran rakyat, kemakmuran warga Desa Jepitu, mau tak mau, warga harus mengelola sendiri air di sana. Pemerintah desa berkewajiban untuk mendukung apa yang semestinya menjadi hak warga. Penyaluran air tangki meski dikelola sendiri oleh pemerintah desa, dan tidak dibenarkan pula pihak lain yang mengelolanya untuk mengumpulkan pundi-pundi keuntungan pribadi.

Kami sebagai mahasiswa, yang juga sekaligus sebagai petani milenal lidah buaya, siap untuk bekerjasama dengan pihak-pihak pemerintahan desa, atau lembaga-lembaga lain, juga organisasi-organisasi yang perduli dengan pertanian Desa Jepitu untuk memperjuangkan persoalan air yang melanda di sana. Adapun informasi-informasi penting lainnya akan penulis sambung pada artikel berikutnya.

Nah, yang jelas, pemberitahuan maha penting ini agar disebarluaskan, bila perlu pihak-pihak yang merasa punya tanggungjawab dalam persoalan ini bisa langsung membacanya. Jangan mengaku mahasiswa, kalau tidak mau membantu mahasiswa yang berjuang di barisan rakyat! Jangan mengaku warga negara Indonesia yang baik, kalau tidak mau membantu rakyat lainnya yang sedang kesusahan. Terakhir, penulis mohon dengan sangat, agar kita bersama-sama melangkah dalam menyelesaikan DARURAT AIR DI DESA JEPITU.

Hidup Mahasiswa!

Hidup Rakyat!

Panjang Umur Perjuangan!

Artikel singkat padat dan  to the point itu langsung dikirim ke email Bram. Pesan di badan email tertulis: Mas, Bram, kalau bisa besok pagi artikel ini bisa langsung dipublikasikan. Hape Icow berbunyi, ada pesan Anata, aku pikir kamu tidak lupa malam ini.  Icow baru ingat ada janji nonton malam ini dengan Anata. Untuk memenuhi janjinya karena kalah balapan sepeda, Icow langsung mengganti pakainnya. Dan masih sempat menyapa teman-temannya di kamar yang mengeong tiada hentinya sejak tadi.

“Bi, jaga anak-anakmu!” kata Icow pada induk, “jangan keluyuan cari cowok.  Stay  di rumah saja, oke?”

Meonggg… balas Bi.

***

Mata Icow menyapu pengunjung yang duduk di depan studio. Dia tidak melihat Anata di sana. Buru-buru Icow berbalik arah yang hampir menubruk Anata. Milk shake yang dibawa Anata sedikit tumpah. Merasa bersalah, Icow mengambil tisu di tasnya dan memberikannya ke Anata. Dua cup milk shake itu berpindah tangan.

“Maaf, Anata,” kata Icow.

“Sudah tidak apa-apa. Nanti juga kering, kok,” Anata mengelap bajunya yang basah.

Anata kemudian duduk, dan Icow mengikutinya.

“Eh, ngomong-ngomong kamu tiidak keberatan, kan, nonton film yang aku pilih.”

“Memangnya film apa?”

Anata menunjuk poster film Midnight Sun. Mata Icow terbelalak.

“Kenapa?”

“Ah, nggak apa-apa.”

Icow menyandarkan punggungnya. Tangannya menggaruk kepalanya.

“Kalau nggak suka, kita cari film lain.”

“Ya, sama saja, toh, aku yang traktir.” Icow mengeluarkan uang dari dompetnya, “Jadi berapa totalnya?”

“Cuma 170 Ribu,” Anata tersenyum sambil mengambil uang Icow. Kata Anata lagi, “kapan-kapan kita balap sepeda lagi, ya?”

Cepat Icow menggeleng, “Kamu curang. Malas.”

Anata tertawa cukup kencang, dan mereka pun masuk ke studio. Beberapa kursi sudah dipenuhi penonton. Terdengar bisik-bisik dari mereka.

“Film ini romansti, lho,” kata perempuan yang giginya dipenuhi behel, “ah, sayangnya aku sekarang jomblo.”

“Nggak ngaruh juga keles, mau jomblo atau punya pasangan, yang penting enjoye,” balas temannya satu lagi sambil mencaplok popcorn.

“Lihat! Betapa senangnya perempuan itu punya cowok gantengg,” mata perempuan bergigi behel itu melirik Icow, “cool  bangettt!”

“Ah, kamu ini,” perempuan yang satu lagi menoyor pelan kepala temannya.

Anata tahu ada penonton perempuan yang iseng, lalu dia menggamit lengan Icow.

“Ayo, sayang, buruannn!” suara Anata terdengat dimanjakan.

Icow hanya mengangguk. Tak begitu perduli dengan urusan yang begituan. Yang pasti dia tahu, Anata hanya berpura-pura saja di depan perempuan yang suka menceritakan orang lain.

“Aku cuma iseng tadi, jangan dianggap serius. Senang saja melihat perempuan lain jadi  jealous,” Anata tertawa.

Film yang dinantikan penonton sudah dimulai. Suara bisik-bisik nyaris tak terdengar lagi, penonton menikmati film yang dinantikan itu. Icow tak begitu tertarik dengan film drama cinta-cintaan, tapi karena menghargai Anata, dia terpaksa menonoton. Seolah-olah dia begitu antusias. Sesekali Anata menoleh ke Icow, meminta pendapat adegan-adegan pada film tersebut.

“Si cowok terlalu kaku,” ujar Icow kemudian, “kelihatan jam terbang aktingnya masih kurang.”

“Kelihatannya, sih, iya,” balas Anata. Lalu kembali menonton.

 

***

“Cow, kata teman-teman, Uni sekarang sudah di Bukittinggi,” Anata memulai obrolan.

“Iya, sekarang dia di Bukitinggi.”

“Terus bagaimana dengan kamu?”

“Hah?” Icow mongonfirmasi lagi.

“Iya, hubungan kalian bagaimana kalau begini?” lanjut Anata lagi, “kamu di Yogyakarta, dan dia di Bukittinggi.”

“Tidak masalah,” jawab Icow datar. Jagung bakar kembali digigitnya.

Anata mencoba memberanikan diri untuk mengorek privasi Icow dengan Uni melalui pancingan obrolan sebelumnya. Setelah ia tahu Icow tidak ada hubungan serius dengan Uni, akhirnya ia pun mengungkapkan isi hatinya.

“Bagaimana pendapatmu tentang aku?” mata Anata serius menatap Icow.

“Perempuan yang baik, cantik, dan mau bekerja bersama warga,” ujar Icow tanpa menambah-nambah.

“Itu jujur atau cuma pujian semata?” Anata kembali melontarkan pertanyaannya.

“Aku tidak pernah berurusan dengan pujian atau apapun sejenisnya. Hemat kalimat, dan apa adanya,” Icow melepaskan senyumnya.

“Kita sudah cukup lama kenal, dan kita mulai memahami satu sama lain.”

“Iya, betul, memang begitu,” sambung Icow.

“Terus bagaimana selanjutnya,” telunjuk Anata ke dada Icow dan dirinya sendiri.

“Ya, seperti ini saja. Bersahabat selamanya.”

“Tidak lebih dari itu?”

“Tidak lebih dan tidak kurang,” Icow tertawa.

Sebenarnya dia paham sekali obrolannya kali ini dengan Anata. Tapi Icow lagi-lagi tidak mau terjebak dengan urusan asmara. Anata juga ikut tertawa, seperti melupakan kata-kata sebelumnya. Mereka meneguk kopi masing-masing. Mengobrol ringan soal sepeda, kucing, dan lidah buaya yang mereka tanam.

Hape Icow berdering, tertera panggilan dari Uni. Anata sekilas melihat layar hape itu. Icow tak mengangkatnya, membiarkannya saja. Sampai yang ketiga kalinya Uni menelpon.

“Angkat saja!” perintah Anata.

“Tidak perlu, nanti juga bisa telponan,” Icow membisukan hapenya.

Malam mulai dingin. Bulan penuh di atas langit Mataram Islam itu. Suasana di pinggir jalan mulai sepi. Kendaraan tidak begitu banyak lagi yang lewat. Pengunjung di warung jagung bakar pun hanya beberapa orang saja. [Asmara Dewo]

Bersambung…

Baca cerita sebelumnya:

Icow 24: Hari Perpisahan dengan Uni

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas