Ilustrasi Bandara Adisutjipto Yogyakarta | Foto. Kompas

Hilir mudik para penumpang yang baru turun dan berangkat di Bandara Adisutjipto. Kabarnya Adisutjipto terlalu kecil untuk menampung penumpang yang ingin berkunjung ke Yogyakarta. Bandara milik TNI AU itu pula yang menjadi alasan Angkasa Pura I ingin membuat NYIA di Temon, Kulonprogo. Pagi itu salah satu dari ratusan penumpang yang akan berangkat ke luar Yogyakarta tampak gelisah. Perempuan berdarah Minangkabau akan kembali menginjakkan kakinya ke kampung halamannya, Bukittinggi. Berkali-kali ia melihat mobil yang mengantarkan penumpangnya. Seperti yang bukan ditunggunya, ia kembali berdesah.

“Jangan tidak jujur dengan hatimu sendiri, Uni,” Ibu Uni seakan tahu apa yang ada di pikiran putrinya, “kalau memang berat hati, batalkan saja keberangkatan ini!”

Uni bergeming. Tatapannya kosong. Mengharapkan hapenya berbunyi. Kecewa, ia masukkan lagi hape itu ke tasnya.

“Kamu menunggu Icow?” tanya ibunya diiringi senyuman yang begitu sejuk.

Uni menggeleng. Tapi dalam gelengan yang ragu-ragu.

“Cinta itu, Uni, memang sulit dikatakan. Tapi yang namanya cinta selalu tak bisa disembunyikan. Akan selalu ada seseorang yang mengetahuinya,” Ibu Uni meneruskan, “cinta seperti cahaya. Manalah mungkin cahaya bisa ditutupi, dia akan terus bersinar. Selamanya. Meskipun ada saja yang menutupinya. Tapi ingat-ingatlah, akan ada waktunya cahaya itu akan berkemilau lagi.”

“Ibu sudah mengalami hal itu, Uni. Tahu benar persoalan cinta yang kamu alami sekarang,” Ibu Uni menatap sekilas suaminya.

“Benar apa yang dibilang ibumu, jangan egois dalam tindakan, jika tidak ingin menyesal di kemudian hari,” Ayah Uni turut menasehati.

“Uni tidak egois, hanya berpikir apa yang Uni lakukan saat ini yang terbaik. Semoga di Bukittinggi Uni bisa lebih tenang. Bisa mengintropeksi diri untuk hal-hal ke depannya lagi. Uni sudah dewasa, paham mana yang terbaik untuk Uni sendiri,” Uni membela diri. Seakan keputusannya sudat tepat.

Saling bertatapan, orangtua Uni tak mampu lagi membendung hasrat putrinya ke kampung halaman.

“Baiklah, kamu sudah mengambil keputusanmu sendiri. Doa kami senantiasa menyertaimu,” dipeluknya begitu erat Uni. Air matanya tumpah ruah, “jaga diri baik-baik, Uni.”

“Terimakasih, Bu,” balas Uni. Pelukannya tak kalah kuat. Matanya mengembun.

“Ah, ayah lupa putri ayah sudah dewasa sekarang,” Ayah Uni turut memeluk putrinya.

Pada detik-detik keberangkatannya, jadwal keberangkatan ditunda sampai 30 menit kedepan. Apakah informasi itu membuat Uni senang atau tidak, yang jelas dia masih punya kesempatan menunggu seseorang.

 

***

Entah siapa yang dikutuk Icow, mulutnya mengeluarkan sumpah serapah. Jalan Solo-Yogyakarta macet total. Hapenya berdering-dering sejak tadi tak dihiraukannya. Driver ojek  online itu pun merasa bersalah kepada penumpangnya, seolah-olah ia tak bisa memberikan pelayanan cepat. Meskipun harus diakui, itu bukan salahnya. Jalanan memang macet, siapa pula yang harus dipersalahkan?

“Bagaiman ini, Mas, sekarang jalan lagi macet. Kita tidak bisa cepat sampai ke bandara,” keluh driver  ojek itu ke Icow.

Icow yang menggaruk-garuk kepalanya seperti tak mendengar. Helm berwarna hijau itu tak lagi membungkus kepalanya. Ia membaca pesan dari Ali, lalu menelponnya langsung.

“Beribu-ribu minta maaf, Ali. Aku sekarang lagi di jalan terjebak macet mau ke bandara,” suara Icow begitu kuat di antara derungan kendaraan, “aku tidak bisa ikut menanam sekarang. Sekali lagi minta maaf.”

“Ke bandara? Jemput siapa?” tanya Ali dari suara hape Icow.

“Menjumpai Uni. Sekarang dia akan berangkat ke kampung. Setengah jam yang lalu aku dapat pesan dari ibunya.”

“Oh, begitu. Baik-baik, aku sampaikan ke kawan-kawan yang lain. Eh, jangan lupa sampaikan salam kami untuk Uni. Semoga bahagia dan selamat sampai tujuan.”

“Siap, akan disampaikan,” Icow mematikan hapenya.

“Kalau begini tidak akan sampai, Pak. Sini, Pak, saya saja yang bawa!” Icow turun dari motor.

“Maaf, Mas, tidak bisa seperti itu,” driver  tak sepakat usulan Icow.

“Sudah, Pak, tenang saja. Ini darurat, antara hidup dan mati,” Icow melepaskan sweater dan menukarkannya dengan jaket yang dipakai driver.

Bingung harus berbuat apa, driver itu hanya bisa menuruti perintah Icow.

“Sekarang bapak yang jadi penumpang saya,” Icow menyeringai dan langsung tancap gas motornya di antara kemacetan.

“Jarak yang sempit antara kendaraan ini belum seberapa, Pak,” kata Icow dengan sombongnya. Motornya menyalip-nyalip kendaraan di depannya. Zig-zag, ke kanan-kiri.

“Mas pembalap motor?” tanya driver ojek itu yang kini menjadi penumpang Icow.

“Bukan, Pak,” sahut Icow.

“Lha, terus?”

“Pembalap sepeda tepatanya, Pak,” Icow tertawa.

“Masya Allah,” driver  itu menepuk jidatnya. Tangannya memeluk erat pinggang Icow. Takut jatuh, “baru kali ini saya antara hidup dan mati di atas motor, Mas.”

Dengan kecepatan tinggi motor itu sudah menerobos kendaraan yang terjebak macet. Kini jalan yang ditempuhnya normal, hanya beberapa kendaraan saja di depan. Bandara Adisutjipto sudah mulai terlihat, tampak pula pesawat yang baru saja lepas landas dari sana.

“Bapak tahu siapa yang akan saya jumpai sekarang?” tanya Icow. Suaranya dikencangkan agar terdengar.

“Tidak, Mas,” jawabnya.

“Saya akan menjumpai seseorang yang sangat berharga bagi saya, Pak.”

“Oh, ya?” tanya driver itu lagi, “siapa, Mas? Kekasihnya?”

“Sangat sulit untuk menjelaskannya, Pak. Yang jelas dia sangat spesial dalam hidup saya. Adalah kerugian terbesar bagi saya jika tidak bisa berjumpa dengannya saat ini. Dia akan berangkat ke Bukittinggi. Ada kekhawatiran dari saya, Pak, batin saya berontak, kami tidak akan berjumpa lagi beberapa tahun yang akan datang.”

Driver  sekarang paham kenapa penumpangnya yang aneh itu begitu ngotot harus sampai ke bandara secepatnya. Bahkan, dia sendiri yang menggantikan posisinya sebagai driver ojek  online. Entah apa yang harus dijawab jika manajemen driver ojek online tempat dia bermitra tahu kejadian ini? Akunnya pasti di-banned.

 

Seperti sudah masuk di cerita Icow dan Uni, driver  itu larut dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

“Apakah Mas sangat mencintainya?”

“Nah, itu yang sejak dulu membingungkan saya. Sampai detik ini pun begitu kelu lidah saya mengucapkannya ke dia, Pak,” aku Icow yang sebentar lagi sudah tiba di Adisucipto.

“Oh, iya-iya, saya mulai mengerti. Itulah yang namanya cinta. Sangat sulit untuk dikatakan, apalagi dijelaskan, Mas. Dan sepertinya kalian sudah memahami satu sama lain soal cinta itu. Tapi apa daya, gengsi satu sama lain membatasi cinta itu,” driver yang mulai berambut putih itu tertawa.

Icow ikut tertawa terbahak-bahak, “Boleh jadi memang begitu, Pak.” Motor itu telah tiba di drop out  Bandara Adisucipto. Kata Icow kemudian yang buru-buru melepas jaketnya, “terimakasih banyak, Pak. Kembaliannya untuk Bapak saja.”

Icow buru-buru melangkahkan kakinya. Sebelum jauh  driver  itu meneriakinya.

“Mas, jika memang tak kuat lagi menahannya, lebih baik cinta itu diungkapkan saja. Tidak baik untuk kesehatan,”driver  itu menyeringai.

Icow tertawa lagi, mengacungkan jempolnya, “Oke, Pak!”

Dari kejauhan ternyata Uni sudah melihat Icow. Keningnya berkerut saat melihat Icow yang telah bertukar jaket dan helm. Dadanya berdebar-debar ketika Icow mencari-cari setiap orang yang duduk di sana. Uni jadi salah tingkah. Semakin dekat, dalam beberapa langkah lagi Icow akan menemukannya. Seperti ada yang menariknya, Uni langsung berdiri.

Dari kerumunan yang ada di sana, Icow langsung mengenali perempuan yang dicarinya. Kakinya terhenti, seperti terpaku. Dia diam, sulit untuk menyapa duluan. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya. Dan melangkah pelan mendekati Uni dengan memperbaiki dahulu ransel yang ada dipunggungnya. Tahu Icow sudah datang orangtua Uni juga ikut berdiri.

“Untung saja jadwal keberangkatan Uni ditunda setengah jam,” Ibu Uni mencoba mencairkan suasana, “apa kabarmu, Cow?”

“Sehat, Bu, saya sehat,” jawab Icow gelagapan. Lalu menyalami satu per satu orangtua Uni.

Giliran Uni, tangan Icow masih menggantung. Uni seolah tak mau menjabat tangan Icow. Mata mereka beradu pandang, jarak mereka hanya satu meter. Detak jantung Uni semakin kencang, tangannya gemetaran. Beberapa detik kemudian badannya mengahmbur ke pelukan Icow.

“Maafkan aku, Cow,” pecah tangis Uni membuat Icow merasa bersalah.

“Seharusnya aku yang meminta maaf,” tangan Icow mengelus kepala Uni, “kita belajar dari kesalahan.”

“Iya, Cow, seharusnya aku tak pernah mengeluarkan kata-kata itu,” Suara Uni tambah parau.

“Sudah-sudah, Uni. Kita sama-sama melupakannya,” Icow mencoba menenangkan Uni, “sekarang apa kamu tetap ingin berangkat? Yakin dengan keputusanmu?”

Uni hanya mengangguk, membersihkan air mata dan air hidung dengan tisu. Mereka sudah duduk.

“Kenapa?”

“Memperbaiki diri. Belajar dari masa lalu.”

“Perjalanan spritual, kah?”

Bahu Uni terangkat.

“Kapan pulang ke sini lagi?”

“Belum tahu.”

“Boleh aku menyusul kamu suatu hari nanti,” suara Icow terdengar pelan. Seperti berbisik.

“Bukittinggi tidak pernah melarang seseorang yang ingin menginjak tanah Minangkabau,” jawab Uni.

Icow tersenyum. Tahu apa maksud Uni.

“Bagaiman kabar teman-temanmu?”

Obrolan mereka melompat.

“Mereka tentu saja merindukanmu. Ali juga titip salam, juga kawan-kawan yang lain.”

“Oh, iya. Salam balik saja. Bilang ke mereka aku minta maaf tidak sempat pamitan.”

“Kawan-kawan sekarang lagi sibuk menanaman lidah buaya, Uni,” Icow melapor kegiatan mereka.

“Wah, hebat!” begitu antusias Uni mendengarnya, “di mana, Cow?”

“Di Desa Jepitu, sekitar Pantai Jungwok.”

“Iya-iya, semoga sukses, deh.”

Icow kembali membawa obrolan mereka ke awal.

“Di Bukittinggi kamu mau ngapain?”

“Ah, begitu klise pertanyaannmu. Tentu saja aku bisa melakukan banyak hal. Membuat resep masakan baru mungkin, traveling, mendaki gunung, atau apa saja yang bisa membuatku bahagia,” kedua tangan Uni mengembang.

Icow tertawa, “betapa bodoh pertanyaanku tadi,” lanjut Icow kemudian, “eh, andai saja aku bisa berangkat ke Bukittinggi sekarang. Aku siap menemanimu sampai ke sana.”

Mata Uni membulat, tak percaya apa yang baru saja didengarnya.

“Maksud kamu?”

Sepertinya Icow keceplosan, dan menarik kata-katanya tadi.

“Lupakan. Aku masih ada tugas di sini yang harus diselesaikan. Tapi aku janji, setelah ada masa tenang, aku bersungguh-sungguh menjemputmu ke Bukittinggi.”

Icow mengambil air minum dari ransel, lalu menenggaknya. Botol minum yang bergambar kucing itu menarik perhatian Uni.

“Masih kamu pakai ternyata. Aku kira sudah dibuang,” celetuk Uni.

“Tidak ada hubungannya antara barang dan pertengkaran,” sahut Icow.

“Ya, mana tahu, kan, benci sama orangnya, dibuang juga hadiahnya,” Uni tertawa.

Orangtua Uni tidak mau mengganggu detik-detik perpisahan mereka. Jadi membiarkan saja mereka mengobrol sepuasanya sampai pengumuman keberangkatan Uni tiba. Namun waktu terus berjalan, hingga akhirnya pengumuman keberangkatan itu pun seperti menusuk gendang telinga Uni. Air muka Uni berubah, seperti ada beban yang begitu berat dipikulnya. Beban menanggung perpisahan dari laki-laki yang dicintainya.

“Cow,” tangan Uni menyambar jemari Icow, “tidak adakah yang ingin kamu katakan lagi padaku?” mata Uni begitu tajam menatap Icow. Suaranya serius.

Ingat apa yang dikatakan driver ojek online beberapa menit yang lalu,  Mas, jika memang tak kuat lagi menahannya, lebih baik cinta itu diungkapkan saja. Tidak baik untuk kesehatan. Icow menggeleng, tetap memegang prinsipnya, meskipun ia sebenarnya sudah tak kuat lagi. Namun apa boleh dikata, dia begitu menyakini perjuangan akan terganggu oleh cinta pada seseorang. Meskipun prinsip yang diyakini Icow juga belum tentu benar.

“Cukup. Aku sudah mengatakan semuanya,” balas Icow.

“Baiklah, aku tidak memaksamu. Ternyata kamu masih seperti Icow yang dulu,” ujar Uni. Telunjuknya menjawil kepala Icow, “dasar keras kepala!”

Orangtua Uni berdiri memberi kode ke putrinya. Uni pun turut berdiri yang disusul dengan Icow. Orangtua Uni menciuminya dan memeluknya begitu lama. Setelah itu mereka berjalan ke arah pintu pemeriksaan. Dalam langkah-langkah kecil itu, Uni sempat berhenti, sekali lagi memandang Icow. Meminta kepastian perasaan yang selama ini digantung oleh lelaki yang amat disayanginya. Tatapan itu dibalas dengan wajah Icow yang sulit diterangkan.  Security memeriksa tas Uni. Dalam beberapa langkah lagi mereka akan terpisah. Yang terakhir kalinya Uni menatap Icow.

Sembari melambaikan tangan, ujar Icow, “Perasaan bisa mewakili segala kata dan perbuatan. Ini terlalu sederhana sebenarnya, Uni. Selamat jalan! Aku pasti menjemputmu.”

Tak kuat, setetes air mata itu mengambang. Buru-buru Icow menghapusnya. Malu pada orang-orang yang melihatnya.

“Dan perasaan itu terkadang sangat sulit dikendalikan,” sahut Uni pula. Air matanya lagi-lagi membasahi pipi. Kakinya buru-buru meninggalkan orang yang dicintainya.

Selamat tinggal, Cow. Berat sebenarnya untuk melakukan perjalanan ini. Tapi aku juga bingung harus bagaimana? Ah, ini mungkin sudah suratan bagi kita. Kalau memang langkah kita ringan, aku yakin suatu hari nanti janjimu dipermudah Yang Maha Kuasa, dan kita bisa bertemu lagi, kata Uni dalam hati.

Jaga dirimu baik-baik, Uni. Seorang aktivis tidak akan mengingkari janjinya. Aku pasti menjemputmu, sumpah Icow.

“Sebenarnya Uni sudah lama ingin berangkat ke Bukittinggi. Tapi selama ini ibu tahan, dan beberapa hari yang lalu dia sudah tak bisa menahan keberangkatannya. Ibu tidak tega melihatnya beberapa bulan ini. Uni mengurung diri di kamar, kecuali pergi untuk belajar memasak,” terang Ibu Uni ke Icow, “ibu juga tidak terlalu tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan kalian. Ibu cuma berharap, hubungan kalian baik-baik saja. Entah hubungan apa yang kalian sebut itu. Yang jelas ibu sangat menyayangi Uni dan kamu, Cow.”

Icow mengangguk tanpa melontarkan kata sepatah pun.  [Asmarainjogja.id/Asmara Dewo]

Baca cerita sebelumnya:

Icow 23:Masa Penanaman Lidah Buaya



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas